
Pagi hari berikutnya Niky bangun di sebuah kamar hotel. Dia membuka mata dan menyingkirkan tangan Sisca yang masih memeluknya erat dalam kondisi masih tertidur.
“Sett...” Niky menarik selimut yang menutupi tubuhnya dan membuat Sisca menjadi bangun.
Wanita itu membuka mata dan menarik kembali Niky dalam selimut.
“Sudah pagi... aku mau bersiap untuk berangkat kerja.” ucap Niky menolak dan melepaskan tangannya.
“Masih lama... sekarang masih jam 05.00 pagi.” balas Sisca menarik tubuh Niki dengan kuat dan membuatnya kembali berbaring disebelahnya.
Wanita itu mencium bibir Niky dan mendekapnya erat yang membuat lelaki itu tak bisa menolaknya mesti hati nuraninya berkata tidak namun tubuhnya terus membuat wanita merintih dan tak sabar lagi.
“Tiga puluh menit bagi ku sudah cukup...” bisik wanita itu di telinga Niky yang membuat darah di tubuhnya semakin terasa panas. Karena kesal dia pun merapatkan tubuhnya dengan kasar yang membuat wanita itu tak berdaya dalam sensasi super kenikmatan.
“Aah.... Niky... aah...” Sisca hanya bisa mendesah saat seluruh tubuhnya terasa seperti melayang dan terus mendekap Niky.
Empat puluh menit kemudian Sisca terkulai lemas di ranjang. Sementara Niky segera bangkit dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi.
Tak lama kemudian Niky keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ke pintu. Wanita itu berjalan dan menghampiri Niky.
“Nanti malam aku akan menunggu mu disini lagi...” ucapnya menyentuh bahu Niky dan menyandarkan kepalanya di sana.
“Aku hampir terlambat..” ucapnya menyingkirkan tangan Sisca dari bahunya dan segera keluar dari hotel.
“broom...” Niky meluncur dengan mengendarai maserati putihnya menuju ke tempat kerja. Beberapa saat kemudian dia tiba di tempatnya kerja.
“tap... tap... tap...” Karena waktu jam kerja masih 45 menit lagi, dia pun berjalan menuju ke kantin yang ada di sana untuk mengisi perutnya yang kosong.
Selama Niky duduk di kantin, banyak pasang mata dari pengunjung wanita yang mengamatinya dan membuatnya merasa risih dengan tatapan seperti itu.
“Lelaki keren itu dari departemen mana sih, aku belum pernah melihatnya...” ucap lirih seorang gadis pada temannya setelah menatap Niky.
“Aku juga kurang tahu. Pelan kan suaramu dia melihat kita.” jawab seorang gadis pada temannya yang juga terpesona pada Niky pada pandangan pertama.
Niky melirik beberapa gadis yang mencuri pandang padanya dan dia memasang sikap acuh pada mereka.
“Sepertinya aku harus segera pergi dari sini...” batinnya menghabiskan makanan dan minuman yang sudah dipesan nya.
Tak lama kemudian Niky berjalan keluar dari kantin dan masuk ke ruangan kerjanya.
__ADS_1
Lelaki itu duduk di kursi kerjanya setelah menaruh tas kerjanya kemeja. Dia kembali teringat pertemuannya dengan Selly kemarin.
“Sebenarnya apa keputusan dari Bu Selly ya... apa aku harus memastikan nya kembali. Aku butuh jawaban secepatnya...” gumamnya sambil berpikir sambil menusukkan lembut pena ke dagu nya.
Niky pun memutuskan untuk menanyakannya langsung pada Selly.
“Kring.... kring... kring...” Niky mengangkat gagang telepon di meja dan menghubungi nomor kantor Pelangi Group.
Telepon kembali diterima oleh petugas resepsionis kemudian disambungkan ke sekretaris Selly.
“Ya halo ada yang bisa di bantu ?” tanya Evi setelah telepon tersambung.
“Maaf.... aku Niky dari Atmaja Group apa bisa disambungkan dengan Bu Selly ?” tanya Niky di telepon karena tak sabar menunggu.
“Mohon di tunggu sebentar...” jawab Evi lalu bertanya pada atasannya apa kah mau menerima telepon dari Niky.
“Oh... Niky... ya sambungkan saja padaku.” jawab Selly singkat dan Evi kemudian menyambungkan nya.
“Ya Niky... ada apa menelepon ku ?” tanya wanita itu ketika telepon sudah tersambung dengan Niky.
“Maaf Bu Selly... aku mau menanyakan perihal proposal pengajuan ku kemarin apakah di terima ?” tanya Niky to the point tanpa basa-basi.
“Niky... aku sudah bilang padamu aku tidak bisa memutuskan itu sendiri. Tunggu tiga hari lagi, posisi proposal mu sekarang sudah ada di tangan Direktur. Utama.” jawab Selly menjelaskan yang sebenarnya pada lelaki itu.
“Baik kalau begitu terima kasih Bu Selly, aku menunggu kabar bagus dari ibu.” jawabnya kemudian mengakhiri panggilannya.
Setelah meletakkan kembali gagang telepon pada tempatnya Niky tampak senang dan tersenyum kecil.
“Semoga saja benar kabar bagus yang aku dapatkan...” batinnya kembali tersenyum mengingat perkataan dari Selly barusan.
Niky tak mau membuang waktu, meskipun dari Pelangi Group belum memberikan jawaban yang pasti dia kembali persiapkan proposal untuk dua investor berikutnya yang akan dia temui setelah urusannya dengan Pelangi Group mencapai kesepakatan.
“Selanjutnya pesan mana yang harus ku follow-up setelah ini ?” batin lelaki itu lalu segera membuka file data investor proyek Wonderland.
“klik... klik...” Niky menggerakkan Mouse naik dan turun, membaca data investor berikutnya.
“Sinar tech... B & J Group... bukankah ini anak perusahaan dari Aurora Group ?” batin Niky setelah mengingat nama dua perusahaan itu pernah tercantum di daftar majalah bisnis kota.
Karena penasaran dan untuk membuktikan keyakinannya dia pun memilih untuk search di Google.
__ADS_1
“Klik.... !” Ulasan mengenai dua perusahaan itu seketika muncul setelah Niki mengetikkan nama perusahaan tersebut. Dia lalu membaca beberapa ulasan tentang Star Tech dan B&J Group.
Lelaki itu tampak tersenyum setelah selesai membaca semua artikel yang terkait dengan dua perusahaan tadi.
“Kebetulan sekali... mungkin saja Sisca bisa membantuku...” batinnya lagi yang tampak berseri-seri seketika.
Malam harinya, Niky tidak pulang ke rumah. Dia menaiki Maserati putihnya menuju ke sebuah hotel di semua kamar bernomor 308. Kamar itu sudah di booking khusus oleh Sisca untuk dirinya jika bermalam dengan nya.
“tap... tap... tap...” Niky bergegas masuk ke hotel dan berhenti di depan kamar nomor 308.
“klik...” Niky membuka pintu kamar setelah dia membuka kuncinya. Tampak di dalam ada Sisca yang sedang santai dan melihat siaran televisi di kamar.
“Niky... kau sudah datang... ? Tidak biasanya jam segini kau sudah kemari...” ucap Sisca yang tampak terkejut saat melihat Niky masuk ke kamar dengan tersenyum lebar.
“Ah ya.. Sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan denganmu...” jawab Niky menghampiri Sisca yang sedang duduk di tempat tidur.
“Apa yang mau kau bicarakan ?” tanya wanita itu menatap Niky dan menggeser duduknya lebih dekat dengannya.
Niky mencium telinga Sisca dan berhenti di lehernya, membuat tanda merah di sana.
“Apa yang kau minta sebenarnya... ?” tanya Sisca memeluk Niky. Dan lelaki itu berinisiatif terus mencium ke bawah yang membuat Sisca tak bisa menahannya dan menarik tubuh Niky ke dalam pelukannya.
“Sisca... kau bilang sebelumnya padaku akan membantu ku. Kali ini aku butuh bantuan mu untuk membantu ku me-follow up Sinar Tech dan B&J Group.” ucapnya sambil melepas kancing baju Sisca.
“Jadi karena itu kau datang lebih awal pada ku ?” tanyanya sambil mengalungkan kedua tangannya ke leher Niky.
“Itu tergantung pada mu...” jawab Sisca mendekatkan wajahnya pada wajah Niky.
“Apakah ini cukup ?” tanya Niky yang kemudian membanting tubuh wanita itu kasar ke tempat tidur dan langsung menerkamnya.
“Aah... Niky... tiga kali... aku akan membantu mu setelahnya...” jawab Naomy memeluk erat tubuh Niky.
“Oke... tepati janjimu !” jawab Niky balas memeluk Sica dengan erat.
Niky membenamkan tubuhnya dalam - dalam dan membuat wanita itu menggeliat dalam ******* panjangnya.
BERSAMBUNG....
BERSAMBUNG...
__ADS_1