
Selly menunggu teleponnya terhubung dengan Direktur Utama. Wanita itu tempat menyiapkan kata-kata sebelum telepon tersambung.
“tuut... tuut..” Telepon tersambung dan Selly segera berbicara.
“Siang Bapak Direktur Utama, maaf mau menanyakan bagaimana keputusan Bapak mengenai proposal proyek Wonderland ?” ucap Selly bertanya sambil menggenggam sebuah pen berwarna putih untuk menghilangkan kecanggungan nya saat bicara.
“Oh Selly... sepertinya untuk proposal itu lain kali saja karena masih ada penawaran yang lebih bagus dan lebih menjanjikan dari itu.” jawab direktur utama yang saat itu sedang menghisap rokoknya.
“Bukankah beberapa waktu yang lalu tidak terutama bilang tertarik, kenapa sekarang justru menolak ?” batin Selly yang tak menyangka sesuai dengan apa yang diharapkannya.
“Bapak Direktur Utama kenapa tiba-tiba berubah pikiran secepat itu ?” tanyanya kembali seolah tak terima dengan keputusan pimpinan nya itu.
“Sebenarnya aku suka pada konsepnya tapi aku tidak yakin karena di derek ini ada Dream Fantasy.” jawabnya menjelaskan.
“Kring....” tiba-tiba ponsel Direktur Utama berbunyi dan dia pun mengakhiri percakapannya dengan Selly.
“Selly aku masih ada panggilan lain. Kau bisa kesini nanti untuk bicara lagi denganku.” jawab Direktur utama mengakhiri panggilan nya dengan selly dan menerima panggilan dari ponselnya.
Selly menutup gagang teleponnya setelah selesai berbicara lalu menarik nafas dalam-dalam.
“Aku akan membantu Niky kali ini.” batinnya lalu Menatap layar laptop dan mencari informasi tentang Dream Fantasy.
Tiga puluh menit kemudian wanita itu sudah bisa mencari kelemahan dan kelebihan dari Dream Fantasy dan menuliskannya pada catatan kecilnya.
Satu jam kemudian Selly keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ke ruangan Direktur Utama sambil membawa beberapa lembar kertas berisikan kelemahan dan kekurangan dari fantasi yang sudah di-print.
“tok... tok...” Selly segera mengetuk pintu setibanya di depan ruang Direktur Utama.
“Ya masuk...” jawab direktur utama dari dalam. Selly segera masuk dan menghadap pimpinannya itu.
“Selly... ya duduklah...” ucapnya saat mendapati wanita itu masuk ke ruangannya dan Selly pun duduk.
“Bapak Direktur Utama mohon maaf ini mengenai proyek Wonderland.” ucap Selly mengawali pembicaraannya sambil menyerahkan beberapa lembar kertas yang dibawanya pada pimpinannya.
“Apa ini...” ucap direktur utama mengambil berkas yang diberikan oleh Selly padanya.
__ADS_1
“Bapak Direktur Utama ini adalah Catatan kecil dariku mengenai kelemahan dan kekurangan Dream Fantasy.” ucapnya menjelaskan saat lelaki itu mulai membaca berkas darinya.
“Dan ini adalah jalan kecil yang aku buat tentang kelebihan dan keuntungan jika berinvestasi pada Wonderland.” ucap Selly menyerahkan berkas lain pada Direktur Utama.
Lelaki itu menerima berkas dari Selvi setelah selesai membaca berkas tentang Dream Fantasy. Tampak dia membandingkan dua berkas itu dan terlihat berpikir mendalam.
“Bapak Direktur Utama kita tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku yakin Wonderland akan berkembang pesat nantinya. Jika saja kita baru berinvestasi saat Wonderland sudah di titik puncak mungkin mereka akan menolak.” ucap Selly lagi untuk mempengaruhi pikiran Direktur Utama dan berubah pikiran buruknya sebelumnya pada Wonderland.
“buzz.....” asap putih tampak memenuhi ruangan Direktur Utama saat lelaki itu menghisap kembali rokoknya. Lelaki itu selalu mengisap rokoknya jika sedang berpikir mendalam.
Setelah habis lima batang rokok, dia pun mengambil kembali dua berkas yang diberikan oleh Selvi dan memberikan pada wanita itu.
“Begini saja Selly aku setuju menjadi investor proyek Wonderland tapi jika ada apa-apa kedepannya, kau yang akan bertanggung jawab.” jawab Direktur Utama mengambil keputusan.
“Terima kasih banyak Bapak Direktur Utama.” ucap Selly sambil senyum lebar mendengar jawaban dari Direktur Utama yang melegakan hatinya.
“Baiklah besok kau urusi proyek Wonderland ini besok. Informasikan padaku perkembangannya nanti.” ucap lelaki itu menatap Selly dengan serius.
“Baik Bapak Direktur Utama...”jawabnya lalu keluar dari ruangan itu telat ada yang perlu dibicarakan lagi.
“Kring...” ponsel Niky berdering di sela-sela kesibukannya di tempat kerja.
“Selly... ?” gumam Niky saat mengambil ponselnya dari saku dan mengetahui penelpon nya adalah Selly.
“Halo ya Selly ada apa...” ucap Niky dengan rasa penasaran tingkat tinggi.
“Aku hanya mau menyampaikan kabar bagus ini pada mu. perusahaan kami bersedia menjadi investor dan besok kau datanglah kemari.” ucap Selly dengan nada riang.
“Ahh... benarkah... ? Terima kasih selingkuh sudah membantu ku.” balesnya dengan nada yang tak kalah riang dari wanita itu.
Niky tampak lega setelah berhasil mendapatkan satu investor lagi dan dia kembali memeriksa berkas laporan yang akan dikirimkan kepada beberapa perusahaan lainnya.
Keesokan paginya Niky datang ke Pelangi Group menemui Selly. Tampak mereka berdua ada di ruang tamu di perusahaan dan sedang berbicara mengenai pekerjaan.
“Terima kasih Selly... aku tahu kau pasti yang membantuku. Aku akan membalas kebaikanmu.”ucap Niky sebelum dia rancak keluar dari ruang tamu perusahaan.
__ADS_1
“Ya tak apa... sampai ketemu nanti siang di tempat biasa...” jawab wanita itu Juga ikut keluar dari ruang tamu kemudian masuk ke ruangan kerjanya.
Siang harinya Niky berangkat menuju ke Rumah Makan Bambu Kuning saat jam istirahat. Tak Berapa lama kemudian lelaki itu tiba di sana.
“tap... tap... tap...” Niky berjalan masuk ke rumah makan. Dari kejauhan Selly melambaikan tangan memanggilnya dan Niky menghampiri wanita itu yang ternyata sudah menunggu kedatangannya.
“Selly kali biar aku yang mentraktir mu... kau mau pesan apa ?” tanya Niky ada Selvi setengah duduk didepannya dan membaca daftar menu.
“Ini saja...” jawabnya menyerahkan pesanan yang dihapuskan pada Niky lalu menyerahkan daftar menu yang mereka pesan pada pramusaji.
“Oh ya Selly kali ini aku akan menuruti satu permintaan mu, apa pun itu sebagai rasa terima kasihku karena telah membantuku.” ucap Niky tersenyum sambil menyantap hidangan yang mereka pesan.
“Benar aku boleh meminta apapun padamu ?” tanya wanita itu dan Niky mengangguk.
“Katakan pada ku...” ucap Niky tak sabar.
Selly membungkukkan badannya ke depan dan berbisik di telinga Niky.
“Aku ingin kau menemaniku malam ini...” ucap wanita itu lirih karena ya tak pernah bisa melupakan kejadian bersama Niky saat di hotel.
“Apa...” pekik Niky menelan ludah karena telah termakan oleh omongannya sendiri.
Malam harinya Niky memenuhi janjinya. Dia meluncur menuju ke hotel tempat Selly menginap.
Dia jalan menuju kamar Selly.
“tok.. tok...” Niky mengetuk pintu kamar Selly sesampainya di sana.
“kriek....” Selly segera membuka pintu dengan cepat sebelum ketukan ketiga kalinya.
“Niky...” ucap Selly lalu menarik tangannya untuk segera masuk ke kamar dan segera menutup pintunya.
Di dalam kamar mereka berdua mengobrol ringan hingga tengah malam tiba Selly berinisiatif menarik Niky ke tempat tidur.
“Oh Tuhan... aku tidak tahu aku sedang beruntung atau sial. lagi-lagi aku mengalami kejadian seperti ini...” batinnya saat Selly mencium bibirnya dan entah siapa yang memulai duluan, sekarang mereka berdua sudah bergulat di ranjang dengan suara ******* yang saling bersahutan menghiasi malam kala itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG...