Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 38 Terbayang Pada Niky


__ADS_3

Naomi perjalanan menuju ke rumah makan yang ada di sebelah mini market. Wanita itu tampak menetap di sekitar mencari seseorang sana.


“Aku seperti melihat XL barusan di sini.” batin Naomi saat berada di depan rumah makan dan melihat ke sekitar namun tak menemukan Niky di sana.


“Atau hanya perasaanku saja...” gumamnya lagi. Wanita itu lalu berjalan keluar dari rumah makan dan mencoba melihat ke jalan raya.


“Hya benar itu mobil nya XL...” pekik Naomi saat melihat ke jalan raya dan mendapati maserati putih milik Niky yang sudah meluncur jauh di jalanan.


“Ihh... sial... dia sudah hilang !” umpat wanita itu lagi tampak kesal melihat mobil milik Niky sudah tak terlihat lagi di jalanan dan dia segera kembali ke mobil merahnya majunya ke jalan raya mengejar mobil Niky, meninggalkan bunga kering yang di pesanannya tadi.


“broom... !” Naomi mempercepat laju Mobilnya di jalanan untuk mengejar Niky.


“Aku harus bisa mengejarnya kali ini...” ucap Naomi menginjak gas lagi dan semakin ngebut di jalanan.


Tak beberapa lama kemudian dari arah depan ada sebuah bus yang membawa banyak penumpang dan melaju dengan cepat dan tak seimbang membuat Naomi harus menghindari itu atau dia akan tertabrak.


“ckiiit....” Naomi menginjak rem sekencang mungkin dan memutar haluan menghindari tes dengan kecepatan tinggi akan menubruk mobilnya.


“dash... !!” Naomi berhasil menghindari bus yang hampir menabraknya namun dia tak bisa menjaga keseimbangan dan membuatnya menabrak kendaraan lain di jalanan.


Seketika jalanan menjadi macet dengan adanya kecelakaan itu. Terlihat setelahnya polisi dan ambulans datang ke lokasi kejadian kecelakaan dan mengevakuasi korban kecelakaan.


Mobil yang bertabrakan mengalami kerusakan berat, namun pengemudi mengalami luka sedang dan di larikan ke rumah sakit segera.


Di lain tempat, Niky sudah sampai di kantor. Dia segera masuk ke ruangan setelah absen.


“Huft... Untung saja aku selamat dari kejaran Naomi...” ucap Niky duduk di kursinya sambil mengendorkan dasinya yang terasa ketat agar memudahkan untuk bernafas.


“Hey Niky... kenapa kau pagi-pagi begini sudah ngos-ngosan, seperti di kejar hantu saja...” ucap Joey yang melihat Niki masih tersengal nafasnya dan tersenyum melihatnya.


“Oh Joey... aku hampir terlambat tadi jadi aku buru-buru dan berlari setelah keluar dari lift...” jelas Niky sambil mengambil sebotol air mineral yang ada di meja dan menenggaknya sampai sampai habis.


Beberapa saat kemudian Joey kembali menatap layar laptopnya begitu pula dengan Niky.

__ADS_1


“srak...” Niky membuka kembali berkas data investor yang sudah diambilnya dari laci lalu membuka file yang telah dia kerjakan untuk investor keduanya, Pelangi Group.


“Tik... tik...” Niky menggerakkan jemarinya pada keyboard mengetik kembali dan merevisi beberapa bagian proposal yang menarik yang masih perlu diperbaiki.


“Aku belum siap bertemu dengan Pelangi Group...” batinnya yang masih merasa lelah setelah kejadian bersama Sisca sebelumnya.


Dia pun membaca semua informasi terkait dengan Pelangi Group dan mempelajarinya sebelum dia mengajukan proposal nya ke sana dan me-follow up nya.


“kring... kring...” telepon diam aja Niky berdering saat tengah asyik membaca profil Pelangi Group.


“Siapa ya...” batin Niky lalu segera mengangkat gagang telepon.


“Halo... Niky Bagaimana progres proyek Wonderland yang kau tangani...?” tanya seorang wanita yang berbicara melalui telepon dan membuat lelaki itu seketika menegakkan badannya.


“Bu Sherli... aku sudah mendapatkan satu investor kemarin untuk proyek Wonderland nanti.” jawabnya mencoba bicara dengan nada tenang karena hal itu kembali mengingatkannya pada kejadian semalam bersama Sisca.


“Ouw.... benarkah ?? Ternyata kau memang bisa diandalkan. Bagus lanjutkan kerjamu dan aku tunggu kabar bagus selanjutnya.” ucap Sherli dengan tertawa renyah di telepon lalu mengakhiri pembicaraan mereka.


Niky menaruh kembali gagang telepon yang dipegangnya ke tempatnya semula.


Sesaat lelaki itu tampak termenung dan merasakan beban moral yang menghimpitnya. Ingin rasanya dia berhenti dan menyerah mencari investor lagi untuk proyek Wonderland.


“Tidak bisa....aku harus memberi pelajaran si Wardana itu !!” batinnya lalu tampak bersemangat setelah menepis semua rasa yang mampu menghalangi niatnya untuk balas dendam. Dia pun tampak mencoba bersemangat menatap file yang sudah dicetak nya untuk Pelangi Group.


Di lain tempat di sebuah kantor.


Tampak Sisca yang duduk sendiri di ruangannya dan melamun sambil terus tersenyum. Ingatannya melayang pada kejadian semalam di sebuah kamar hotel bersama Niky.


“Aku benar-benar puas semalam bersama mu... kau sangat panas.” gumamnya lagi sambil tersenyum dan tampak memerah wajahnya membayangkan lagi kejadian semalam.


“tok... tok...” suara pintu ruangan Sisca di ketuk.


“tok... tok...” kembali terdengar suara ketukan pintu dari luar ruangan. Karena tak ada jawaban, seorang wanita masuk ke ruangan Sisca.

__ADS_1


“Nona Sisca... ini laporan yang tadi nona minta.” ucap sekretaris wanita menyerah kan seberkas laporan pada Sisca. Namun Sisca tak meresponnya.


“Ehm... ehm... nona Sisca... maaf... ini laporan yang nona minta tadi.” ulang sekretaris itu mengulangi memanggil Sisca karena wanita itu tampak melamun.


Sisca tampak terkejut sekali dan seketika tersadar dari lamunannya setelah mendengar panggilan berulang kali dari sekretarisnya.


“Ya Deby... ada apa ?” tanya Sisca kemudian mencoba untuk menutupi keterkejutannya pada bawahannya.


“Ini berkas lamaran yang nona Sisca minta tadi.” jawabnya menyodorkan berkas laporan yang dipegangnya pada wanita itu.


“Ah ya... ya... letakkan saja di meja dan aku akan membacanya setelah ini.” balas Sisca memerintahkan pada sekretarisnya.


“Baik nona...” jawab sekretaris itu yang masih berdiri di depannya dan tampak menatapnya.


“Apa ada lagi yang perlu disampaikan ?” tanya Sisca saat melihat sekretarisnya tak kunjung keluar dari ruangannya.


“Ahh... tidak ada nona...” jawab sekretaris itu dengan tatapan takut.


“Baiklah jika memang tak ada yang perlu disampaikan lagi kau boleh pergi sekarang.” ujar wanita itu dengan tegas yang membuat sekretarisnya segera pergi dari ruangannya.


Deby berjalan keluar dari ruangan Sisca. Dia tampak tak percaya pada apa yang dilihatnya. Dia melihat ada bekas kissing mark di leher atasannya tadi.


“Bukannya bu Sisca masih janda... tapi aku melihat ada tanda cinta di lehernya. Apa dia semalam... ” gumam sekretaris itu sambil tertawa kecil menuju ke ruangan kerjanya kembali.


Kembali ke Sisca yang sedang membaca berkasih barusan diberikan oleh Deby padanya. Dia meletakkan kembali berkas itu ke meja setelah sedikit membacanya.


“Aku penasaran... bagaimana dengan Niky sekarang ? Apa dia mengingat kejadian semalam bersama ku...” gumamnya lagi yang masih tak bisa lepas dari bayangan Niky.


“Sebaiknya aku coba kirim pesan ke dia dulu...” Sisca mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan mulai mengetikkan pesan.


“Selesai....” Sisca langsung mengenai mengirim pesan pada Niky begitu selesai menulisnya.


“Ding...” ponsel Niky berdering, tanda ada sebuah pesan yang masuk.

__ADS_1


Lelaki itu segera mengambil ponsel yang ditaruhnya di meja dan membukanya. Matanya tampak terbelalak kaget saat membaca pesan yang diterimanya barusan.


BERSAMBUNG...


__ADS_2