Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 70 Memantau Sebentar


__ADS_3

Niky mempercepat laju kendaraan mobilnya dan ngebut di jalanan agar segera sampai di tempat kelahirannya.


“din...” Beberapa kali Niky terlihat sering membunyikan klakson mobilnya. Dia membunyikan klakson agar mobil lainnya yang ada depannya menepi sehingga dia bisa menyalip.


“whoosh... whoosh...” Niky bergerak dengan cepat di jalan dan mendahului beberapa mobil yang ada di depannya.


Beberapa saat kemudian dia berhenti di perempatan saat lampu merah.


“kring... kring...” ponsel Niky berdering.


Lelaki itu tanpa enggan mengambil ponselnya dari balik saku bajunya. Namun mendengar suaranya yang terus melengking dia pun segera mengambilnya dari saku baju dan mengangkatnya.


“Halo..” jawab lelaki itu tanpa melihat lebih dulu siapa penelponnya.


“Hai Mr. Big... nanti aku tunggu di tempat biasa ya...”


“Oh Diva... maaf sepertinya hari ini aku tidak bisa. Aku sedang keluar kota sekarang dan ada urusan.” jawab Niky memanggil penerapannya karena hafal dengan suaranya.


“Yah... berarti hari ini off dulu ya... oke deh kalau begitu...” jawab gadis itu dengan nada kecewa.


“tuut...” Niky segera menutup panggilan saat lampu menyala hijau dan menaruh ponselnya ke dasbor mobil begitu saja karena fokus mengendarai.


Lelaki itu kembali mengebut di jalanan. Tak beberapa lama kemudian dia tiba di kota kelahirannya. Dan dia melajukan mobilnya menuju ke rumah Induk yang tinggal puing-puing.


“ckiit...” Niky berhenti dan menatap rumahnya dari kejauhan dari balik kaca mobil yang dia buka sedikit.


Tampak rumah yang dulunya rumah paling megah di kawasan wilayah itu kini hanya tinggal menunggu bangunan itu dirobohkan saja.


Dadanya seketika terasa sesak saat teringat semua memori yang bersama ayah dan keluarganya di rumah itu.


“Tunggulah ayah... aku akan membangun rumah ini lagi nanti dan kembali ke sini.” gumamnya lalu menutup kembali kaca mobilnya karena tak mau larut dalam kesedihan.


Niky melihat ke sekitar, dia melihat aktivitas warga di sekitar sana masih berjalan normal seperti biasanya.


“Seandainya saja aku tidak datang terlambat saat itu pasti semuanya akan baik-baik saja...” ucapnya dengan penuh penyesalan sambil menundukkan kepala.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Niky kembali melajukan mobilnya menuju ke suatu makam tempat ayahnya dikebumikan di sana.


Dia turun dari mobil dan berjalan masuk menuju ke pemakaman. Di sana terlihat sepi hanya dirinya saja yang ada di waktu hampir petang di pemakaman saat itu.


Dia menuju ke tempat ayahnya dimakamkan dan duduk berjongkok di sebelahnya.


“Ayah....maaf baru bisa mengunjungi mu. Bagaimana kabar Ayah... Semoga ayah selalu tersenyum di surga sana.” ucapnya lirih sambil menyentuh nisan ayahnya dengan tatapan sedih.


“Ayah... Ibu dan adik baik-baik saja. Kami tinggal di luar kota untuk sementara waktu sampai aku bisa membuat ada kembali seperti semula dan mengambil kembali semua yang harusnya menjadi milik kita...” ucapnya sambil menyentuh tanah makam ayahnya seolah menyentuh ayahnya.


"Ayah... aku sekarang sedang berusaha mengumpulkan kekuatan untuk membalaskan dendam mu. Aku yang sekarang melakukan yang hina untuk menghidupi keluarga kita...” ucapnya lagi dengan mata yang berkaca-kaca menatap nisan ayahnya.


“Tapi ayah... aku janji aku akan berhenti dari pekerjaanku yang kotor dan hina itu setelah aku mendapatkan banyak modal...” ucapnya lagi sambil meremas tanah makam ayahnya.


Lelaki itu masih diam memandangi nisan ayahnya dan memanjatkan doa untuknya. Setelah melihat waktu yang hampir gelap, dia pun berdiri dan berjalan keluar dari makam.


Baru saja dia melangkahkan kakinya langkahnya terhenti saat melihat tiga makam baru yang ada di samping ayahnya. Karena penasaran dia pun berhenti sebentar untuk melihat makam siapa itu.


“Ini adalah makam...” ucap Niky tak kuasa melanjutkan ucapannya. Dia pun kembali duduk sambil memegang ketiga nisan itu secara bergantian.


Tak terasa dia pun menitikkan air matanya saat membaca nisan yang bertuliskan nama ibu dan dua adiknya.


“Terima kasih kalian ternyata masih mempedulikan keluarga kami...” gumam Niky berdiri sambil menghapus air matanya.


“Aku berjanji ayah... aku akan membalaskan dendam mu dan membuat Wardana merasakan penderitaan 100 kali lipat lebih sakit dari penderitaan yang kita rasakan.” gumam Niky menyentuh nisan yang bertuliskan namanya.


Dia pun kembali berjalan dan keluar dari makam itu.


Niky masuk ke mobilnya saat hari sudah nampak gelap. Dia kemudian melajukan mobilnya keluar dari area pemakaman.


Di jalanan dia merasa penasaran pada Wardana. Dia hanya ingin melihat bagaimana keadaan lelaki tua itu.


“Sebaiknya aku mencoba melihat aktivitas lelaki tua itu sekarang.” gumamnya lirih lalu memutar kendaraan melintasi jalanan di sekitar rumah lelaki tua itu.


Tak beberapa lama kemudian Niky tiba di daerah perumahan elite tempat Wardana tinggal. Dia pun berhenti di seberang jalan untuk melihat keadaan dari jauh dari balik kaca mobil.

__ADS_1


Dari pintu masuk rumah Wardana ada sebuah mobil hitam yang masuk setelah security membuka pagarnya.


“brak.... !” Pintu mobil terbuka dan turunlah seorang lelaki tua yang tak lain adalah Wardana. Lelaki tua itu terlihat tersenyum lebar entah apa sebabnya saat mengangkat ponselnya yang berdering.


“Tenarnya kau hidup damai dan tentram di sini tanpa rasa bersalah sedikitpun...” gumam Niky yang terus mengawasi dengan rasa kesal.


“brak...” dari pintu mobil sebelah kiri keluar seorang gadis dari mobil hitam itu yang berjalan masuk menyusul Wardana.


Niky memperhatikan sosok gadis yang berjalan menyusul Wardana.


“Siapa gadis itu... apa dia putrinya si tua bangka itu..” batin Niky menebak identitas gadis itu.


“Seandainya saja aku tahu siapa putrinya aku pasti akan menghancurkan gadis itu sekalian...” ucapnya terus mengamati gadis yang berjalan bersama Wardhana namun dia tak tetap tak mengetahuinya karena jaraknya terlalu jauh sehingga tak bisa melihatnya dengan jelas.


Niky mengamati putrinya Wardhana yang saat itu sedang menoleh ke samping.


“Kenapa gadis itu sepintas mirip dengan Cassia dari postur tubuhnya yang tinggi dan cara tersenyum nya. Tapi tidak mungkin Cassia yang lembut adalah anak lelaki biadab itu, pasti hanya mirip saja.” gumam Niky terus mengamati gadis itu hingga gadis itu menghilang dari pandangannya dan masuk ke rumah.


Beberapa petugas security yang berjaga di rumah itu berjalan ke depan dan menatap ke arah mobil Niky berhenti.


“Apa mereka menyadari keberadaan ku di sini...” gumam Niky yang melihat petugas security itu memanggil rekannya.


“Aku harus segera pergi dari sini sebelum ketahuan...” gumamnya. Niky segera menginjak gas nya dan melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan kawasan perumahan tempat Wardana tinggal.


Dua orang security berjalan menuju ke tempat Niky berhenti tadi.


“Kog kosong... aku yakin tadi ada mobil di sini dan sepertinya mobil itu mengawasi rumah bos kita.”ucap salah satu petugas security pada rekannya.


“Faktanya di sini tak ada siapa-siapa sekarang. Mungkin itu hanya mobil biasa yang berhenti dan bukan memata-matai rumah bos kita.” jawab rekannya tadi


“Sudah lah ayo kita kembali. Kau terlalu curiga berlebihan.” ucap salah satu security pada temannya.


Dua security itu segera berjalan kembali menuju ke rumah Wardana dan melanjutkan pekerjaan mereka menjaga rumah itu.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2