Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 72 Rasa Yang Muncul


__ADS_3

Niky yang berada di toilet yang ada di rumah makan seafood, berjalan pelan dan kembali masuk ke rumah makan itu menuju ke meja yang telah dipesannya.


Dia menoleh ke sekitar mencari keberadaan Cassia di sana, namun dia tak melihat sosok gadis itu di sana.


“Aku sudah salah sudah berharap gadis itu menyusul ku...” batin Niky yang tampak kecewa


Niky duduk dan melihat menu makanan yang dipesannya tadi sudah ada di meja.


“Buat apa aku memikirkan gadis itu... terserah saja dia mau apa dengan siapa saja... itu tak ada urusannya dengan ku.” batinnya lagi mencoba mengalihkan pikiran dan mulai menyantap hidangan yang ada di depannya.


Meskipun lelaki itu berusaha melupakan apa yang barusan di lihatnya, namun gadis itu tetap saja menganggu pikiran nya dan membuat dadanya sesak.


“Ting...” suara denting sendok dan piring yang beradu dengan kasar. Niky tampak marah tanpa sebab dan alat makannya yang menjadi pelampiasan.


Bayangan Cassia yang sedang tersenyum bersama Ielaki lain tetap bercokol dalam ingatannya dan tak mau pergi dari pikirannya.


“Sial.... kenapa aku jadi kepikiran Cassia.... !?” gumamnya yang tampak kesal dan mengakhiri sesi makan siang. Dia kehilangan nafsu makan dan segera bangkit dari duduk.


“Jika aku terus berada disini maka aku akan terus teringat padanya...” gumamnya yang masih kesal dan tak ingin terus seperti itu.


“tap... tap... tap...” Suara langkah Niky yang berjalan keluar meninggalkan rumah makan. Dia menuju ke tempat parkir dan langsung masuk ke maserati putihnya lalu meluncur di jalanan menuju ke Wonderland.


Di lain tempat, Cassia yang berada di Dream Fantasy terlihat duduk sendiri di bawah air mancur. Dia terus menatap layar ponsel yang di pegang nya dengan erat.


“tut...” Cassia menelepon nomor Niky berulang kali namun belum tersambung dari tadi.


Gadis itu tampak cemas dan bingung karena tak tahu apa yang harus dilakukannya. Sedangkan yang dia tahu hanyalah nomor ponselnya saja.


“Apa dia marah... kenapa sedari tadi ponselnya belum aktif juga ?” gumamnya lirih sambil terus mencoba menghubungi nomor Niky.


Setelah berulang kali mencoba menghubungi dan belum tersambung juga akhirnya dia pun menyerah.

__ADS_1


“Ah sudahlah... kenapa aku tiba-tiba gelisah seperti ini...” gumamnya lagi lalu berdiri dan keluar dari area Dream Fantasy.


Di depan Dream Fantasy sudah ada mobil hitam yang menunggu Cassia. Gadis itu berjalan menuju ke mobil yang menjemputnya.


“klik...” Sopir membukakan pintu mobil.


“Ayo nona kita segera berangkat.” ucap sopir itu pada Cassia.


Gadis itu diam tak menjawab dan langsung duduk di belakang lalu menatap ke samping ke luar kaca jendela.


“broom...” mobil meluncur di jalanan menuju ke rumah Wardana.


Di jalanan sopir melirik Cassia dari kaca dan merasa heran pada gadis itu karena tak biasanya dia duduk di kursi belakang dan diam saat dia bertanya padanya.


“Sepertinya nona Cassia sedang tidak dalam mood yang baik. Mungkin dia sedang ada masalah...” batin sang sopir lalu kembali fokus ke depan melihat jalanan yang ramai.


Malam harinya di rumah, Cassia berada di kamar. Dia masih memikirkan Niky yang masih tak bisa lepas dari pikirannya dan terus mengusiknya.


“Apa aku coba untuk menelepon nya sekarang mungkin saja nomornya sudah aktif....” gumamnya lalu menekan nomor telepon Niky yang sudah dihafalnya.


“tuut... tuut....” suara panggilan telepon yang tersambung. Gadis itu tampak tersenyum kecil mendapati teleponnya yang terhubung.


Namun senyumnya kembali pudar setelah teleponnya tidak diangkat dan dia terlihat sedih. Namun dia tidak menyerah dan terus mengulang panggilannya meskipun tak di angkat dan dia baru berhenti melakukan panggilan setelah baterai ponselnya habis.


Di lain tempat Niky sedang berada di sebuah hotel bersama seorang wanita. Dia selalu membuat ponselnya dalam model silent saat malam hari agar tak ada yang mengganggunya.


Ada seorang wanita yang memeluknya erat di tempat tidur sambil mendesah. Di tengah-tengah lelaki itu peranti saat melihat ponsel yang ditaruhnya di meja bergetar.


Dia menjadi tidak konsentrasi karena ponselnya bergetar lama. Sejenak dia meraih ponselnya melihat siapa yang menelpon nya dimalam seperti ini.


“Apa ibu yang menelepon ku...?” batinnya menjadi cemas dan punya pikiran jika ibunya menelepon karena ada sesuatu yang penting.

__ADS_1


Niky melihat siapa yang meneleponnya dan dia tampak syok setelah mengetahui penelpon nya adalah Cassia.


“Cassia Kenapa kau menelepon di saat seperti ini... aku tak bisa menerima panggilan mu kali ini...” batin Niky dengan perasaan yang campur aduk menjadi satu dan membuatnya gagal fokus.


“Niky... siapa yang menelepon mu... apa itu customer mu lainnya ? Tidak bisa... kau menyelesaikannya dulu denganku baru kau boleh meninggalkanku.” ucap wanita itu yang merasa tak nyaman.


“Ah ya... maaf...” jawab Niky kikuk dan masih tak bisa konsentrasi karena tak ingat kembali pada Cassia dan menaruh ponselnya kembali ke meja dan hanya menatapnya saja meskipun ada panggilan masuk lagi dari Cassia.


Wanita tadi akhirnya menarik tubuh Niky dan memeluknya erat karena lelaki itu tampak tak bersemangat dan seperti ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.


“Niky... kau kenapa... ? Kau tidak seperti biasanya...” tanya wanita itu masih memeluk tubuh Niky.


“Ah tidak ada...” jawab Niky singkat.


“Aku harus segera mengakhiri ini...” batinnya lalu kembali fokus dan membuang sejenak Cassia dari pikirannya.


Dua jam kemudian Niky duduk dan segera mengenakan pakaiannya sementara wanita tadi masih tampak lelah dan menutupi tubuhnya dengan selimut.


Niky mencoba bertanya pada wanita itu tentang apa yang di rasakan nya, karena mungkin saja seorang wanita dewasa dan berpengalaman bisa mengerti apa masalahnya yang membuat pikirannya tidak tenang.


“Dinda... aku punya seorang teman lelaki. Sebut saja namanya Candra. Candra punya seorang teman wanita bernama bunga. Namun Candra tiba-tiba rasa marah saat melihat bunga bersama dengan seorang lelaki lain. Menurut mu kenapa hal itu terjadi ?” tanya nya sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


Wanita itu duduk dan mengenakan pakaiannya kembali lalu menghadap Niky.


“Teman mu si Candra itu sebenarnya jatuh cinta pada Bunga tapi dia belum menyadarinya.” jawabnya sambil tersenyum dan tanpa merasa curiga sama sekali jika nama yang di sebutkan oleh Niky hanyalah samaran saja.


Niky hanya diam dan tampak syok mendengar jawaban dari wanita tadi.


“Terima kasih... aku pergi dulu...” jawabnya singkat meninggalkan wanita itu sendiri.


Niky masih tak percaya jika dirinya telah jatuh cinta pada Cassia dan tak mau mengakuinya. Dia bertanya pada dirinya sendiri apa benar yang di ucapkan oleh wanita tadi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2