
Niky yang saat ini merasa penat dan frustasi mencoba untuk memejamkan matanya sejenak dan mengistirahatkan pikirannya sebentar dari identitas Cassia yang yang sangat memukul dirinya. Satu jam kemudian Niky tertidur.
Di lain tempat Cassia yang menaiki mobil hitam bersama Wardana tiba di Dream Fantasy.
“klik...” Cassia semoga pintu mobil dan turun dari sana. Sementara itu Wardana meneruskan perjalanannya ke luar kota telah menurunkan Cassia di depan Dream Fantasy.
“Dah ayah... hati-hati di jalan.” ucap Cassia sambil Melambaikan tangan saat mobil hitam itu meluncur meninggalkan dirinya.
Setelah mobil hitam itu hilang dari pandangannya Cassia tak masuk ke Dream Fantasy. Dia berjalan ke tepi jalan raya dan menunggu taksi lewat.
“Taksi... !” teriak Cassia saat ada semua taksi yang melintas di depannya.
Sebuah taksi berhenti di depan Cassia. pengemudi taksi itu membukakan pintu dan Cassia segera duduk manis di dalamnya.
“Tolong antar aku ke alamat... bla-bla...” ucap Cassia memberitahukan tempat tujuannya.
Supir taksi itu mengemudikan taksinya menuju ke alamat yang ditunjukkan oleh gadis itu.
Lima belas menit kemudian taksi orange itu berhenti di depan rumah Cassia. Gadis itu segera turun dan menyerahkan beberapa lembar uang pada pengemudi taksi tadi.
“klik...” Cassia membuka pintu rumah dan menutupnya kembali. Dia melihat jam tangannya sebelum masuk ke kamar Niky.
“Jam segini dia pasti masih di kantor. Aku tunggu kakak Niky pulang saja.” gumamnya saat melihat jam menunjukkan pukul 14.00.
Cassia berjalan masuk ke kamar Niky dan merebahkan tubuhnya di sana sambil menghirup aroma khas parfum Niky yang tersisa di sana sambil memeluk bantal yang biasa dipakai Niky tidur.
Sore hari kemudian Cassia duduk di tepi tempat tidur Niky. Dia kembali menatap arloji di tangan kanannya yang menunjukkan pukul 16.20 dan dia segera keluar dari kamar Niky dan mencarinya di luar kamar.
“Kenapa jam segini dia belum pulang juga... ?” gumam Cassia setelah mencari Niky di semua tempat di rumah itu.
Dia lalu duduk di sofa dan mengeluarkan ponselnya dari tas dan menelpon Niky.
__ADS_1
“kring....kring...kring...”
Ponsel Niky yang ada di meja di sebelah laptop Fiona berdering. Namun lelaki itu tak mendengarnya.
“kring... kring... kring...” Cassia mengulangi panggilannya karena tak diangkat.
Niky yang kali ini bangun mendengar ponselnya yang berdering, enggan untuk mengangkatnya dan pura-pura tidur sambil menutupi kepalanya dengan bantal.
Karena masih belum diangkat juga Cassia terus menelepon. Suara dering yang keras itu terdengar sampai ke kamar Fiona. Gadis itu merasa berisik mendengarnya.
Fiona masuk ke kamar Niky dan mengambil ponsel Niky yang ada di meja dan masih berdering.
“Kakak... ada telepon untuk mu.” ucap Fiona menyerahkan ponsel yang berdering itu pada Niky, namun kakaknya itu tak kunjung bangun juga.
“Aneh sekali... kakak masih tertidur pulas setelah mendengar ponsel yang berdering keras seperti ini.” batin Fiona lalu keluar dari kamar Niky masih memegang ponsel itu.
Di luar agak jauh dari kamar, Fiona akhirnya menganggap telepon Niky karena khawatir jika itu adalah telepon penting.
“Ya halo...” jawab Fiona.
Cassia terkejut mendengar suara seorang gadis yang menerima teleponnya dan pikirannya jadi kemana-kemana.
“Oh maaf kakak Niky masih tidur. Ada perlu apa nanti aku sampaikan pada kakak.” jawabnya.
“Maaf... dengan siapa aku bicara saat ini ?” tanya Cassia untuk memastikan pikiran negatif nya tidak terbukti.
“Aku Fiona... adiknya kakak Niky.” jelas gadis itu.
“Jadi hari ini kakak Niky tidak masuk kerja... ?” batin Cassia terkejut karena lelaki itu tidak memberitahu nya sebelumnya.
“Salam kenal ya Fiona... aku Cassia...” ucap Cassia memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
“Jadi kakak Cassia ini...” ucap Fiona bertanya. Fiona dan Cassia akhirnya bercakap-cakap di telepon dan baru berakhir setelah satu jam kemudian.
Setelah percakapan berakhir Fiona masuk kembali ke kamar Niky dan ternyata kakaknya sudah bangun.
“Kak... maaf aku mengangkat ponsel mu tadi.” ucapnya sambil menyerahkan ponsel Niky.
“Ya tak apa, telepon dari siapa tadi ?” tanya Niky saat menerima ponselnya.
Fiona tersenyum menatap kakaknya dan berbisik kecil di telinganya.
“Telepon dari kekasih kakak, kak Cassia...” ucap Fiona sambil menggoda kakaknya.
“Anak ini... darimana kau tahu dia adalah kekasih ku... ?” tanya Niky heran bagaimana Viona bisa tahu hubungannya dengan Cassia.
“Rahasia.... tapi benar kan kak ?” ucap Fiona lagi dan berlari keluar dari kamar kakaknya karena Niky berlari mengejarnya.
Niky kembali ke kamar setelah gagal mengejar Fiona dan dia berharap semoga adiknya itu tidak memberitahu ibunya jika dia mempunyai seorang kekasih.
“Cassia... kenapa semuanya semakin rumit seperti ini...” gumamnya sambil duduk di kursi dan terus menatap ponselnya.
“Lebih baik aku memberinya kabar terlebih dulu.” gumam Niky lagi.
Dia membuka kunci layar ponselnya dan mengetik sebuah pesan untuk Cassia.
Saat malam hari Cassia masih ada di rumah itu dan menginap di sana karena ayahnya ke luar kota selama tiga hari. Dia duduk termenung di dekat jendela sambil memegang ponsel dan membaca pesan dari Niky lagi.
“Kenapa kakak Niky tidak meneleponku... apa dia masih sibuk di rumah ?” gumam Cassia yang merasa cemas pada kekasihnya.
Di lain tempat Niky duduk termenung bersandar ke dinding menghadap ke jendela sambil menggenggam erat ponselnya. Dia bermaksud menghubungi Cassia namun dia urungkan kembali karena pikiran dan perasaannya masih kacau balau dan dia butuh waktu untuk sendiri.
BERSAMBUNG....
__ADS_1