
Tiga jam kemudian Cassia yang baru saja bisa tertidur sekitar dua jam bangun dan melihat jam dinding.
“Ternyata aku kesiangan...” pekiknya saat melihat jam dinding dan segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Cassia mandi dengan cepat dan segera keluar dari kamar mandi. Dia bergegas keluar dari kamar. Di tengah jalan dia berpapasan dengan sopir pribadi ayahnya.
“Nona... pagi-pagi begini mau pergi ke mana... ?” tanya Pak Rahmat saat melihat gadis itu pergi dengan terburu-buru.
“Emm... ada urusan sebentar ke rumah Alda...” balas Cassia berhenti sebentar kemudian kembali berjalan.
Sementara Pak Rahmat percaya begitu saja pada ucapan majikan nya itu karena selama ini Cassia sering menginap di rumah temannya itu dan terlalu begitu saja.
Di luar rumah Cassia berlari saat mobil yang di pesannya sudah datang menunggunya di luar pagar.
“klik....” Cassia menutup kembali pintu mobil setelah masuk dan duduk.
“Ayo jalan pak...” ucapnya pada sopir taksi sambil menunjukkan tempat tujuannya. Sopir itu segera melajukan mobilnya menuju alamat yang disebutkan oleh Cassia.
Cassia terlihat tidak tenang dan sedari tadi sering melirik arloji di tangan kanannya.
“Lama sekali... kapan sampainya jika terus begini ?” gumamnya sambil melihat ke luar jendela dan tak sabar ingin segera sampai.
“Pak... bisakah lebih cepat sedikit ?” tanya Cassia pada supir.
“Ya nona...” balas sang sopir. Lelaki itu melihat dari kaca spion dan mendapati jalanan yang masih lenggang di pagi buta dan menambah kecepatan laju mobilnya.
Empat puluh lima menit kemudian Cassia tiba di tempat tujuan.
“Terima kasih pak...” ucap Cassia setelah turun dari mobil dan memberikan tips tambahan pada supir tadi.
Cassia bergegas mengambil kunci dari dalam tasnya.
__ADS_1
“klik...” pintu terbuka dan dia segera bergegas masuk ke dalam rumah. Tanpa memanggil nama Niky dia pun segera mencarinya di kamar.
“Oh Syukurlah... kakak Niky ternyata tidur pulas di kamarnya. Berarti dia mungkin kecapekan saja.” gumam Cassia merasa lega dan duduk di samping Niky.
Dia hanya menatap Niky dari dekat dan tak membangunkannya.
“tap...” Cassia berdiri dan akan berjalan menuju ke pintu.
Niky mendengar ada suara seseorang yang berjalan di kamarnya dia pun membuka paksa matanya yang terasa masih berat.
“Cassia... ? Apa aku tidak salah lihat... ?” ucapnya sambil mengucek mata karena masih tidak yakin ada apa yang dilihatnya.
Cassia terbalik dan kembali duduk di samping Niky.
“Cassia... kenapa kau pagi-pagi sekali ke sini...?” ucapnya kemudian duduk.
“Dari semalam aku menghubungi nomor kakak tapi tidak aktif... makanya aku ke sini.” balas Cassia sembari tersenyum kecil.
“Oh ya... aku lupa memberitahu mu. Ku pikir kau sudah tidur.”
“Semalam aku mendapat teror dari nomor tak di kenal... dan sangat mengganggu ku. Maka dari itu aku mematahkan sim card ku.” jelas Niky.
Cassia mengerutkan dahinya mendengar penjelasan Niky. Dia merasa aneh kenapa lelaki itu mendapatkan teror ? Dan dari siapa ? Namun semua pertanyaan itu dia simpannya rapat-rapat karena melihat Niky yang tidak kenapa-napa.
“Kakak... aku rindu padamu...” ucap Cassia lalu memeluk Niky dari samping dan mencium pipinya.
“Cassia... aku belum mandi...” balas Niky sedikit memundurkan tubuhnya karena merasa tak percaya diri dalam keadaan belum mandi.
“Bagi ku mandi atau pun tidak kakak tetap sama bagiku... tak ada yang berubah.” balasnya.
Niky mengecup dahi Cassia dan memeluknya sebentar. Dia lalu mengalihkan topik pembicaraan.
__ADS_1
“Cassia ku rasa aku mau membangun sebuah bisnis. Tapi aku belum ada gambaran mau membangun bisnis apa...” ucap Niky tiba-tiba.
Cassia lagi-lagi dibuat terkejut dengan Niky. Dia hanya tersenyum menanggapinya.
“Menurut mu bisnis apa yang cocok untukku ?” tanya Niky lagi dengan wajah serius.
“Bagaimana kakak menjalankan bisnis... bukankah sekarang masih bekerja ?” balasnya dan membuat Niky terdiam.
“Ya... mengenai masalah itu bisa ku atur nanti. Aku kita bisa menjalankan keduanya.” balas Niky dengan mantab.
Cassia diam sejenak dan berpikir karena Niky tampak tidak bercanda.
“Bagaimana jika kakak membuka wedding organizer saja ?” ucap Cassia setelah menemukan ide.
“Ah... ku rasa itu bukan fak ku. Jujur aku sebenarnya ingin mempunyai usaha di bidang elektronik.” jawab Niky mengutarakan idenya. Karena memang dia bermaksud mau menghidupkan kembali salah satu bisnis ayahnya yang telah hancur.
“Ya... menurutku di bidang apa saja tak masalah. Yang terpenting kakak yakin dan bisa menjalankannya maka bisnis itu akan jalan sendiri.” balas Cassia.
“Bagaimana jika aku membuka sebuah restoran ?” tanya Niky setelah terlintas sebuah ide.
“Kau sama sekali tidak punya pengalaman di bidang kuliner... ku rasa itu tidak cocok untukmu.” balas Cassia kembali tersenyum kecil pada Niky dan merasa lelaki itu konyol.
Tak terasa waktu berjalan begitu cepat dan yang kita sadar terjadinya harus segera berangkat ke kantor.
“Sayang... aku harus bersiap ke kantor.” ucap Niky mengakhiri diskusi seru mereka dan keluar dari kamar ?
Cassia ikut berdiri dan mengikuti Niky keluar dari kamar. Dia melihat lelaki itu masuk ke kamar mandi dan menyusulnya.
“Cassia... kenapa kau menyusul ku... aku terburu-buru.” balas Niky saat melihat Cassia mengunci pintu kamar mandi.
“Kakak... aku rindu sekali padamu dan aku tak bisa melupakan nya...” balasnya.
__ADS_1
Cassia ikut membasahi tubuhnya. Dia kemudian memeluk Niky di bawah shower dan mencium bibirnya. Tak berapa lama kemudian terdengar ******* Cassia di kamar mandi.
BERSAMBUNG...