Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 116 Molor Dari Jadwal


__ADS_3

Dua bulan kemudian perusahaan yang dibangun oleh Wardana sudah selesai dalam pembangunannya. Saat itu lelaki itu sedang berada di sana untuk memantau nya.


“tap... tap... tap...” suara langkah kaki Wardana yang berjalan mengitari gedung bangunan dan juga melihat ke dalam, memeriksa ruangan bagian dalam.


Setelah memeriksa lantai dasar dia pun menuju ke untuk menuju ke lantai berikutnya.


“Ding...” Wardana menekan tombol lift menuju ke lantai dua. sesaat kemudian pintu lift terbuka dan dia memeriksa semua ruangan yang ada di lantai itu.


Setelah puas melihat-lihat di lantai dua dia pun kembali naik ke lift dan menuju ke lantai berikutnya hingga lantai terbatas yang ada di gedung itu.


“Hmm.... sepertinya perusahaan ini sudah siap untuk beroperasi.” gumam Wardana setelah puas melihat-lihat semua bangunan dari lantai satu sampai lantai sepuluh.


Wardana yang merasa sudah cukup melihat bangunan di sana segera turun kembali ke lantai dasar dengan menaiki lift.


“Sepertinya aku harus segera menyampaikan hal ini pada Cassia.” batin Wardana yang ingin memberi surprise pada putri kesayangannya.


pesan kemudian dia sampai di area basement dan menuju ke mobil hitam yang terparkir di sana.


“Pak Rahmat ayo antar aku kembali ke kantor.” ucap Wardana membuka pintu mobil dan langsung duduk di sana kemudian menutupnya kembali.


“Ya tuan...” balas sang sopir kemudian segera meluncur keluar dari lokasi gedung dan menuju ke perusahaan Wardana.


Di lain tempat Niky sengaja izin tidak masuk satu hari dari tempat kerjanya untuk memantau lokasi pembangunan gedung perusahaannya yang ditargetkan hari ini selesai pembangunannya.


“broom....” Niky melajukan masalah putih menuju tempat pembangunan perusahaannya yang kedua.


Di tengah jalan dia berhenti Di Cassia Group untuk menjemput gadisnya.


“brak...” Niky menutup kembali pintu mobilnya setelah memarkirkannya di depan perusahaan.

__ADS_1


“tap... tap... tap...” dari dalam perusahaan keluarlah Cassia yang berjalan menuju ke luar.


“Kakak sudah lama menungguku di sini ?” tanya Cassia menghampiri Niky yang berdiri di samping mobil.


“Baru saja sayang... ayo masuk...” balas Niky menggandeng tangan Cassia kemudian membukakan pintu untuknya.


Setelah gadis itu duduk di sebelahnya dia pun segera melajukan mobilnya keluar dari perusahaan itu menuju ke lokasi pembangunan perusahaan kedua Niky.


Beberapa saat kemudian mereka tiba di sebuah gedung bangunan tinggi di tepi jalan.


“Ayo sayang kita turun...” ucap Niky mematikan mesin mobil kemudian keluar dari mobil.


Cassia segera turun dari mobil setelah Niky turun dari sana. Di pun menghampiri Niky kemudian berjalan bersama sambil menggenggam tangannya.


“Kenapa masih ada beberapa pekerja di sini yang masih membangun beberapa bagian...” ucap Niky setelah berkeliling dan melihat masih ada beberapa pekerja yang sedang bekerja di sana.


“Kita tanyakan saja pada mereka kakak...” balas Cassia menatap Niky sambil memberikan solusi. Mereka berapa berjalan menuju ke salah satu pekerja yang ada di sana.


Pekerja tadi menaruh kembali ember cat yang dipegangnya ke lantai dan berbalik menghadap Niky.


“Maaf pak... kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikannya namun ada kendala keterlambatan pengiriman bahan pembangunan yang mengakibatkan pembangunan ini sedikit terhambat.” balas pekerja Itu menjelaskan kondisi riil di lapangan yang terjadi saat ini yang menyebabkan pembangunan molor dari jadwal.


Niky berusaha mengerti keadaan saat itu meskipun sebenarnya dia sedikit kecewa.


“Jangan khawatir pak... maksimal satu bulan ke depan pembangunan gedung ini akan selesai dan dipastikan tidak akan molor lagi. Kami mohon maaf atas ketidaknyamanannya.” ucap pekerja tadi yang mengetahui kekecewaan Niky.


“Ya pak... ku harap sebelum satu bulan pembangunan ini sudah selesai.” jawab Niky memberikan batas waktu pembangunan.


Pekerja tadi mengangguk kemudian mengambil kembali zat yang ditaruhnya di lantai dan naik ke atas gedung untuk melanjutkan pekerjaan mengecatnya.

__ADS_1


“Ayo kakak kita lihat bagian dalamnya...” ajak Cassia yang tahu jika lelaki itu kecewa untuk mengalihkan perhatiannya.


“Ya sayang...” balas Niky kemudian berjalan mengikuti Cassia masuk ke dalam gedung.


Di dalam gedung rasa kecewa Niky terobati setelah melihat di dalam sudah selesai dan tampak rapi selain itu juga sesuai dengan apa dia rancang sebelumnya.


“Syukurlah untuk bagian dalam sudah selesai 100%...” ucap Niky tersenyum bunga setelah berkeliling melihat di dalam dan naik sampai ke lantai atas.


Niky dan Cassia akhirnya keluar dari gedung itu setelah puas melihat-lihat.


“Kakak... ayo kita kembali...” ajak Cassia setelah turun dari ini ke lantai dasar. Mereka pun kembali ke tempat parkir dan naik ke mobil kembali ke Cassia Group.


Sore harinya Cassia pulang mengendarai mobil kuningnya menuju ke rumah sedangkan Niky melajukan mobilnya menuju ke rumah ibunya.


Tak berapa lama kemudian Cassia di rumah. Tanpa diketahui sebelumnya ayahnya sudah menunggunya dari tadi.


“Cassia... akhirnya kau datang juga...” ucap Wardana saat melihat putrinya masuk ke rumah dan melewati dirinya yang sedang duduk di ruang tengah.


“Ayah... ?! Ayah menunggu ku... ada apa ?” tanya Cassia berhenti saat ayahnya memanggil dirinya. Dia pun segera duduk di sebelah ayahnya.


Tanpa banyak penjelasan, Wardana seketika mengeluarkan kunci dan menyerahkannya pada Cassia.


“Nak terimalah ini...”


“Kunci apa ini ayah ?” tanya Cassia menerima kunci tadi dan tak mengerti maksud ayahnya.


“Ayah memberimu satu perusahaan yang berlokasi tak jauh dari perusahaan mu berada. Terserah kau mau membuka bisnis apa...” ucap Wardana menerangkan pada gadis itu.


Cassia terkejut sekali dan merasa sangat senang sekaligus bingung menerima satu perusahaan dari ayahnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2