Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 76 Mencari Rumah


__ADS_3

Suatu sore sepulang kerja Niki menerima pesan text dari seorang klien nya yang maju janjian di sebuah hotel satu jam kemudian.


“tik... tik....” Niky membalas pesan dari kliennya dan mengirimnya.


Setelah pesannya terkirim dia segera menghapus laporannya, bahkan dia juga mengosongkan inbox-nya karena khawatir jika suatu waktu Cassia akan membaca pesan masuk dari para wanita yang pastinya akan membuat hubungan mereka berantakan.


Malam harinya sebelum Niky pergi menemui seorang wanita di sebuah hotel dia kembali mendapatkan panggilan.


“kring...kring...” bunyi ponsel Niky yang berdering. Dia pun segera mengangkatnya.


“Oh... ternyata Cassia...” batinnya dan segera menjawabnya.


“Halo... Cassia...” jawab Niky sambil menyandarkan tubuhnya ke maserati putihnya.


“Kakak Niky ada di mana sekarang... aku mau ke Dream Fantasy. Kita bertemu di sana ya...” ucap Cassia di telepon yang duduk dalam mobil dan bersiap berangkat.


“Cassia... aku sedang perjalanan pulang ke rumah, di luar kota. Maaf aku tak bisa menemui mu hari ini.” balas Niky yang bohong dan merasa bersalah.


Cassia tampak kecewa saat mendengar jawaban dari lelaki itu. Karena sudah beberapa waktu mereka berdua tidak bertemu.


“Kakak Niky... padahal hari ini aku sangat ingin bertemu denganmu, apa kau tak rasa rindu padaku ?” tanya Cassia duduk tegak dan menahan rasa kesalnya.


Niky kena Kapan mendengar pertanyaan rahasia dan bingung mau menjawabnya apa.


“Cassia... aku merindukanmu... tapi aku harus pulang ke rumah. Karena di sini aku tidak punya rumah...” jawabnya beralasan dan berharap gadis itu bisa mengerti.


Kali ini gadis sabar itu bisa mengerti kondisi Niky. Dia seketika tanggap setelah mendengar penuturan Niky.


“Kakak... baiklah... hati-hati di jalan. Ku harap besok kita bisa bertemu meskipun cuma sebentar.” ucap gadis itu tanpa bisa memaksanya.


“Terima kasih Cassia... kau selalu bisa mengerti kondisiku. Aku janji besok kita akan bertemu.” jawabnya mencoba menutupi rasa sedihnya karena terus-menerus berbohong pada gadis itu.


“Kakak... tunggu... menurut muslimah ini lebih baik kau kau menyewa atau membeli rumah di daerah sini, agar kau tidak capek setiap hari perjalanan ke luar kota.” ucap Cassia sambil menyandarkan kembali punggungnya ke kursi.


“Iya... kita bisa bahas itu besok...sampai ketemu besok... ” balas Niky singkat lalu cara mematikan ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku bajunya.

__ADS_1


“brak... !” Niky membuka pintu mobilnya kemudian masuk dan menutupnya kembali.


Lelaki itu segera melajukan mobilnya ke jalanan menuju ke sebuah alamat yang dikirimkannya melalui pesan tadi sore.


Cassia memasukkan ponselnya ke dalam tas dan menatap ke depan.


Supir yang sedari tadi menunggu sampai jadi situ selesai bicara, akhirnya angkat bicara juga.


“Nona... bagaimana apa kita jadi berangkat ke Dream Fantasy sekarang ?” tanya lelaki itu menoleh kebelakang dan bicara dengan sopan pada atasannya.


“Ku rasa kau tak perlu mengantarku ke Dream Fantasy kali ini...” jawab Cassia. Dia lalu turun dari mobil dan kembali masuk ke rumah.


Sementara sang sopir hanya diam mengetahui putri bos nya yang sedang tidak mood dan memutar balik mobilnya kembali ke rumah.


Beberapa saat kemudian Niky tiba di sebuah hotel. Dia menuju ke kamar di mana seorang wanita sudah menunggunya.


Lelaki itu berhenti di depan pintu kamar yang dituju dan teringat jika ponselnya belum dimatikan.


“Sebaiknya aku matikan ponselku dulu. Bisa gawat kalau Cassia telepon di tengah-tengah.” batinnya dan segera mengeluarkan ponselnya dari balik saku bajunya lalu menonaktifkan ponselnya. Tepat setelah dia mematikan ponselnya pintu kamar itu terbuka.


“kriek...”


“Ayo... masuk...” ajak wanita itu. Niky tak menjawab dan segera melangkahkan kakinya masuk ke kamar itu dan segera mengunci pintunya rapat-rapat.


Di dalam kamar, wanita tadi sudah bersiap dan berganti pakaian dengan lingerie. Dia menarik Niky yang masih diam sedari tadi berdiri di dekat tempat tidur untuk duduk di sebelahnya.


Niky tersadar dari lamunan nya yang terus memikirkan Cassia dan teringat pada senyumnya yang membuatnya goyah dan ingin pergi dari kamar hotel dimana dia berada sekarang.


Sementara Nina yang sudah tidak kuat lagi menahan hasratnya, segera menarik Niky berbaring di tempat tidur bersamanya.


Wanita itu melepas satu persatu kancing baju Niky dan tak Berapa lama kemudian lelaki itu sudah dalam keadaan bugil.


Karena Niky dingin, maka wanita itu agresif dan naik ke tubuh Niky lalu memeluknya erat.


“Nina kau... tidak sabaran sekali hari ini...” ucapnya dan berusaha menyingkirkan tubuh Nina, namun wanita itu malah memeluk tubuhnya erat dan segera membenamkan dirinya saat tahu Niky mau menghindar darinya.

__ADS_1


“Aah...” wanita itu mulai mendesah di tengah keringatnya yang mulai bercucuran. Di saat dia sudah merasa kelelahan dia membalik tubuh Niky berada di atas tubuhnya.


Niky berulang kali memejamkan mata saat menggerakkan tubuhnya dan membuat wanita itu terus mendesah panjang. Dia terus teringat pada Cassia dan di tengah dia sempat berhenti.


“Niky...jangan berhenti... pikiran mu ke mana ?” tanya Nina yang kembali memeluk erat tubuh Niky. dan menyadarkannya pada tugasnya yang belum selesai.


“Tidak... aku hanya sedikit kelelahan...” jawabnya lalu segera mempercepat gerakan nya agar segera berakhir.


Dua jam kemudian Niky segera turun dari tempat tidur dan memakai pakaiannya. Dia tak mau menginap di sana meskipun Nina sudah menawarinya.


“kriek...” Niky membuka pintu kamar dan keluar dari sana kemudian menutupnya kembali.


Keesokan harinya.


Di pagi hari Cassia yang saat itu tak ada jam kuliah karena memang semester akhir dan hanya beberapa mata kuliah yang dia ambil dan itu pun tidak setiap hari dia masuk ke kampus, sudah selesai bersiap dan masuk ke mobil yang sudah lama menunggunya.


“Kita mau kemana non Cassia ?” tanya supir pribadinya itu saat Cassia baru menutup pintu mobil dan duduk di depan.


“Pak Rahmat... tolong antar aku ke daerah di sekitar Dream Fantasy dan mencari rumah yang di sewa kan atau di jual.” ucap Cassia menoleh ke samping kanan menatap sopirnya.


“Non Cassia mau beli rumah untuk di tinggali ?” tanya balik sang sopir yang penasaran.


“Ehm... tidak Pak Rahmat... mungkin hanya sesekali saja aku akan menempatinya saat bosan terus berada di Dream Fantasy.” balasnya lagi sambil tersenyum kecil.


Tak ada pertanyaan lagi dari sang sopir. Dan lelaki itu segera melajukan mobilnya menuju ke luar kota ke daerah yang di sebutkan Cassia.


Beberapa jam kemudian mereka tiba di kawasan Dream Fantasy dan masuk ke jalanan yang ada di sekitarnya untuk mencari rumah yang disewakan atau dijual.


“Berhenti dulu Pak Rahmat.” ucap Cassia saat melihat ada sebuah rumah bertuliskan "rumah di sewakan".


Sopir Cassia berhenti,namun Cassia tidak berhenti dan diam sambil menatap rumah tadi.


“Sepertinya jika aku tak perlu menyewa sebuah rumah. Lebih baik aku beli rumah baru saja, karena bisa aku jadikan investasi juga nantinya.” batinnya.


“Pak Rahmat... tolong jalan lagi. Kita cari perumahan atau rumah yang di jual di sekitar sini.” ucap Cassia pada sopirnya.

__ADS_1


Pak Rahmat memulihkan kembali mobilnya mengitari daerah itu sampai menemukan rumah baru yang cocok untuk Cassia.


BERSAMBUNG...


__ADS_2