
Niky membiarkan ponselnya terus berdering hingga akhirnya mati sendiri. Dia pun segera menyalakan masuk mobilnya dan melajukan nya menuju ke rumah.
Di tengah jalan ponselnya kembalik berdering dan membuatnya tidak tenang. Dengan terpaksa dia mengangkatnya.
“Ya halo.... ada apa...” jawab Niky sambil memelankan laju mobilnya.
Terdengar suara seorang wanita yang menelepon nya dan Niky hanya membalas sekedarnya saja.
"Ya baik Dian... nanti malam aku akan datang ke tempatmu. Sudah dulu aku masih di jalan.” ucap Niky lalu mengakhiri panggilannya.
Niky masuk ke riwayat panggilan dan menghapus semua daftar panggilan yang masuk di ponselnya. dia juga menghapus kotak masuk pesannya.
“Sudah aman kalau begini... jangan sampai Cassia tahu.” gumamnya setelah selesai menghapus semua history di ponselnya lalu memasukkannya ke dalam saku bajunya dan kembali menambah kecepatan laju mobilnya.
Tak lama kemudian lelaki itu tiba di rumah. Dia berjalan menuju ke rumah.
Di dalam rumah, Cassia yang mendengar suara mobil berhenti segera menuju ke pintu dan membukanya.
“Kakak...” panggilnya sambil melihat satu kantong tas yang dipegang oleh Niky.
“Cassia... aku membeli beberapa menu tadi di jalanan pulang. Semoga kau suka...” ucapnya sambil menyerahkan kantong yang di bawah itu pada kekasihnya.
Cassia menerima kantung plastik dari tangan Niky sambil tersenyum senang karena menurutnya lelaki itu tahu saja kalau dia belum makan.
“Ya ayo kita makan siang...” balas Cassia menggandeng Niky masuk ke dalam rumah.
Cassia menyiapkan peralatan makan dan membawanya ke meja makan lalu menuang semua menu makanan yang dipesan tadi ke suatu wadah.
“Kakak ayo kita makan...” ajak Cassia mengambilkan Niky seporsi menu dan menyerahkannya pada Niky.
__ADS_1
Mereka berdua makan dengan lahap dan Cassia tampak bahagia dengan kebersamaan mereka.
“Kakak... nanti sore aku pulang. mungkin minggu depan baru akan ke sini lagi saat ayah ke luar kota.” ucap Cassia di tengah-tengah makan.
“Hmm... jadi pas sekali nanti malam kau tidak ada di sini.” batin Niky merasa lega mendengar apa yang diucapkan Cassia barusan.
“Ya sayang... aku akan sangat merindukanmu.” balas Niky sambil meneruskan makan nya yang sempat terhenti.
Selesai makan Niky segera bersiap untuk kembali berangkat bekerja.
“Sayang... aku berangkat dulu...” ucapnya berpamitan pada Cassia.
Cassia yang merasa masih rindu pada Niky seakan tak rela lelaki itu kembali bekerja. Dia pun mencium bibir Niky dan memeluknya erat.
“Cassia... aku hampir terlambat...” ucap Niky segera mengakhiri ciuman mereka meski sebenarnya dia ingin tinggal lebih lama di sana.
Cassia melambaikan tangannya saat bikin mengajukan masalah di putihnya di jalanan dan masuk lagi ke dalam rumah.
“Cassia....” panggil Niky saat sudah masuk. Sepi, tak ada jawaban. Dia pun mencari ke gambarnya dan tidak menemukan nya. Dia kembali mencari ke seisi rumah namun masih juga tidak menemukannya.
“Sepertinya dia sudah pulang...” gumamnya dengan wajah sedikit kecewa dan duduk bersandar di sebuah sofa.
Niky mengeluarkan ponselnya dan akan menelepon Cassia namun dia mengurungkan niatnya itu.
“Mungkin sekarang dia sedang di jalan bersama Wardana...” gumamnya lirih lalu menelepon sama kemeja begitu saja dan masuk ke kamar untuk rebahan sebentar.
Di lain tempat Cassia sedang duduk di belakang dalam mobil hitam. Wardana duduk didepan dan meliriknya dari kaca.
“Cassia... kenapa wajah mu pucat nak, apa kau sakit ?” tanya Wardana yang merasa khawatir pada putrinya.
__ADS_1
“Tidak ayah... aku baik-baik saja. Aku hanya merasa sedikit kelelahan saja.” balasnya sambil tersenyum kecil.
Mobil hitam itu meluncur dengan cepat membawa mereka berdua menuju ke rumah Wardana.
Kembali pada Niky yang ternyata tertidur setelah merebahkan dirinya di kamar.
“Ahh... jam berapa sekarang...” gumamnya saat bangun dan melihat ke sekitar yang tampak gelap.
“Oh gawat... aku ada janji dengan Dian jam 19.00...” batinnya saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 18.00.
Niky segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tiga puluh menit kemudian dia selesai bersiap dan masuk ke maserati putihnya lalu meluncur ke jalan raya menuju ke sebuah hotel yang sebutkan oleh Dian.
“tap... tap... tap...” Niky turun dari mobilnya Setelah tiba di hotel dan masuk ke dalam menuju ke sebuah kamar yang sudah di booking oleh Dian.
“tok...tok... tok...” Niky mengantuk gambar bernomor 89. Tak lama kemudian seorang wanita membuka pintu dan segera menariknya masuk.
“Niky...” ucap Dian duduk di sebelah Niky di tempat tidur. Mereka berdua mengobrol ringan hingga akhirnya Dian merasa cukup dan mengakhiri obrolan mereka.
Wanita itu merebahkan tubuh Niki ke tempat tidur dan mulai menciumi nya hingga akhirnya pakaian mereka berdua menjadi alas.
Niky membalik tubuh Dian dan memeluknya. Namun belum melakukan apa-apa dia sudah terbayang pada Cassia dan teringat pada ******* kekasihnya. Dia pun berhenti dan entah kenapa dia tak bisa melanjutkannya lagi.
“Dian maaf... aku tak bisa meneruskannya. Pikiran ku sedang kacau.” ucap Niky duduk lalu segera mengenakan pakaiannya lengkap.
Dian ikut duduk dan menarik kembali Niky ke tempat tidur tetapi lelaki itu tetap menolaknya.
“Huft... maaf Dian bukan maksudku begini... tapi aku sedang ada masalah.” jawabnya menepis tangan wanita itu lalu keluar dari kamar dan meninggalkannya begitu saja.
Niky segera masuk ke maserati putihnya dan meluncur dengan cepat menuju ke rumah untuk menenangkan pikirannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...