Pembalasan Sang Penakluk

Pembalasan Sang Penakluk
Eps. 101 Kejutan Untuk Ibu


__ADS_3

Dua minggu berlalu dan setiap akhir pekan Niky selalu menyempatkan diri ke tempat pembangunan perusahaannya untuk melihat perkembangannya.


Pagi hari di akhir pekan Niky keluar dari rumah dan menuju ke tempat kelahirannya. Dia singgah sebentar ke makam ayahnya baru kemudian pergi ke lokasi pembangunan gedungnya.


“ckiit...” Niky menghentikan mobilnya di dekat lokasi pembangunan.


“klik...” Niky turun dari mobil dan mengunci kembali pintu mobilnya. Dia berjalan dengan semangat menuju ke lokasi pembangunan.


Terlihat di sana beberapa alat berat yang menurunkan bahan bangunan juga banyaknya para pekerja yang sibuk membangun. Bangunan sudah terlihat 30% jadi.


“Tak ku sangka pembangunan ini sudah sepertiga bagian...” gumamnya tersenyum kecil saat berkeliling melihat hasil pembangunan para pekerja.


Siang harinya setelah lelah berkeliling meskipun kembali masuk ke maserati putihnya dan menuju ke rumah ibu dan adiknya berada.


Seperti biasa mereka selalu menyambut kedatangan Niky begitu mendengar suara mobil masuk ke garasi rumah.


“Kakak datang... !” ucap Devan pada Fiona yang saat itu sedang berada di kamar Fiona meminjam laptop kakaknya untuk mengerjakan tugas sekolah.


Fiona yang saat itu duduk di tempat tidur dan dekat dengan jendela mengintip dari sana.


“Ya benar... kakak pulang.” ucap Fiona tersenyum lebar lalu menutup kembali gorden yang dia buka.


Devan dan Fiona pun melompat turun dari tempat tidur dan berlari keluar untuk menyambut kedatangan kakaknya.


“Kakak Niky...!!!” teriak Fiona dan Devan bersamaan.


Di luar rumah dua adik Niky menarik tangannya dan mengajaknya masuk ke rumah.


“Kakak... tumben baru dua minggu kakak sudah pulang ?” tanya Fiona mengajak kakaknya untuk duduk.


“Ya kakak agak santai makanya bisa pulang.” jawabnya sambil duduk dan mengusap rambut Fiona.


Niky pun menghabiskan waktunya bersama keluarga tercintanya di sana.

__ADS_1


Satu bulan berlalu. Di tempat kerja Niky duduk di kursinya. Dia bersandar deh gosip sambil memegang ponsel.


“tik...” Niky layar ponselnya dan menuju ke galeri.


Beberapa waktu yang lalu salah satu pekerja yang membangun gedungnya mengirimkan beberapa foto bangunan yang sudah 70% jadi pada Niky.


Dia melihat kembali gambar yang sudah berulang kali dilihatnya sebelumnya dan tampak tersenyum.


“Bagus... sesuai dengan desain yang kuberikan pada mereka. Mungkin beberapa waktu lagi bangunan itu akan selesai.” gumam Niky menutup kembali ponselnya dan menaruhnya ke meja. Dia berani menatap kalender yang ada di depannya.


“Oh ya... dua minggu lagi adalah hari peringatan kematian ayah. Sudah saatnya bagiku untuk menunjukkannya pada ibu.” batin Niky sambil memegang kalender dan melihat tanggal yang sudah di tandainya agar tidak lupa.


Niky mengembalikan kalender meja ke tempatnya. Dia pun kembali fokus ke pekerjaannya dan memeriksa beberapa laporan yang sudah masuk padanya.


Dua minggu berikutnya.


pagi-pagi sekali Niky berangkat dari rumah dan pulang ke tempat keluarganya berada.


“Ckiit... !” Niky menghentikan mobilnya saat tiba di rumah.


“Kakak... pulang... !” teriak Devan dengan lantang dan membuat kakak dan ibunya yang berada di belakang bergegas ke depan.


Niky masuk bersama ibu dan dua adiknya ke dalam. Dia ibunya tampak sedih dan duduk di sampingnya tanpa banyak bicara.


“Ibu...ada apa dengan ibu ?” tanya Niky menatap ibunya yang kelihatan tak bersemangat.


“Niky... hari ini adalah hari kematian ayahmu. Seandainya Ayah mu masih ada tentu saja dia akan senang melihatmu.” balas ibunya menatap Niky memaksakan senyum di wajahnya.


“Iya bu... aku tahu jika hari ini adalah hari kematian ayah. maka dari itu aku ke sini.” balas Niky berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Ibunya dan memeluknya dari samping.


“Ibu... aku punya kejutan untuk ibu dan adik-adik.” tambah Niky menatap ibunya lalu beralih menatap kedua adiknya bergantian.


“Kejutan apa maksud mu, nak ?” tanya ibunya Niky terkejut dan penasaran.

__ADS_1


“Baiklah... ibu akan tahu setelah ini. sekarang ayo kalian bertiga ikut aku.” balas Niky menatap ibu dan adiknya bergantian sambil tersenyum lebar.


Ibu dan dua adik Niky perjalanan mengikuti Niky keluar dari rumah dan masuk ke mobil.


“Kalian sudah siap... ?” tanya Niky sebelum berangkat pada anggota keluarganya, dan mereka bertiga mengganggu.


“Baiklah kita berangkat sekarang...” balas Niky lalu menyalakan mesin mobil dan meluncur menuju ke lokasi tempat gedung barunya dibangun.


Ibu menoleh ke samping melihat dari kaca jendela pada jalanan tempat perusahaan milik suaminya yang masih berdiri kokoh meskipun sekarang sudah tak terawat. Tanpa sadar wanita itu menitikkan air matanya dan segera mengusap nya sebelum yang lain mengetahuinya.


“Sayang... ku harap kau bisa melihat putra mu tumbuh dengan baik setelah kepergian mu.” batin ibunya Niky masih memandangi jalanan dan mengingat rumah memori bersama suaminya itu.


Tak lama kemudian mereka tiba di tempat tujuan.


“Ayo turun...” ajak Niky pada ibu dan adiknya.


Mereka berempat turun dari mobil dan melihat bangunan tinggi dan besar di hadapan mereka.


“Niky... apa ini nak... ?” tanya ibunya menatap bangunan gedung yang hampir jadi itu.


“Ibu... ini hadiah dariku untuk ibu.” ucap Niky menarik tangan Ibunya dan mengajaknya melihat lebih dekat.


“Nak... ibu tak mengerti maksudmu.”


“Ibu... ini adalah perusahaan yang aku dirikan untuk menggantikan perusahaan ayah, Sun Group.” ucapnya menjelaskan pada ibunya dengan tersenyum lebar.


Ibu Niky seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia tak menyangka putranya bisa mendirikan perusahan baru.


“Tapi bagaimana bisa kau membangunnya...?” tanya ibu yang tampak gembira dan takjub melihat bangunan yang berdiri di depannya.


“Aku menggunakan seluruh tabunganku untuk membangun nya, bu.” jelas Niky.


Mereka berempat kemudian berkeliling melihat bangunan itu. selama di sana ibu yang awalnya tampak sedih kini terlihat senang dan sering tersenyum setelah melihat gedung megah itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2