
Di tengah-tengah permainan tiba-tiba ponsel Niky yang ada di tepi tempat tidur berdering. Lelaki itu berhenti sejenak dan memutar badannya ke belakang untuk mengambil ponselnya.
“Telepon dari Sisca... ah ya aku lupa jika sekarang waktunya aku ke sana...” batinnya saat menatap layar ponsel dan mendapati ada panggilan masuk dari Sisca.
“tut...” Niky me-reject panggilan dan mengalihkan ke mode silent lalu kembali menaruh ponselnya ke tempat tidur.
“Telepon dari siapa...” tanya Selly yang merasa tak nyaman saat Niky berhenti bergerak.
Wanita itu tak ingin Niky berhenti barang sejenak pun dan dia menarik kembali tubuh Niky merapat ke tubuhnya.
“Ah... telepon dari rekan kerjaku di kantor, biar nanti ku hubungi.” jawabnya agar Selly tidak tersinggung. Pikiran Niky sempat teralihkan karena panggilan dari Sisca namun dia kembali fokus setelah Selly terus mendekapnya.
Selly membalik tubuh Niky. Kini wanita itu bereksplorasi liar saat berada di atas.
“Aah... ahh...” Selly menggerakkan tubuhnya pelan dan mempercepat gerakannya saat merasakan semakin nikmat. Karena tak tahan pada sensasi saat itu, dia mencengkeram erat bahu Niky.
“Apa kau mau lebih... ?” tanya Niky menatap Selly yang matanya menjadi merah. Wanita itu mengangguk dan menunggu instruksi selanjutnya dari Niky.
Niky duduk dengan posisi masih memeluk Selly dengan erat. Dia kemudian berdiri dan merapatkan tubuh Selly ke dinding dengan memeluknya erat.
“Aah... Aah... Aah... Niky....” Selly berteriak kencang dan mempererat pelukannya.
Niky merasakan sekujur tubuh wanita itu gemetar dan dia pun merasakan hal yang sama hingga dia tak kuat menahannya dan mencium leher Selly, membuat banyak tanda merah di sana.
Beberapa saat kemudian Niky membawa kembali tubuh Selly dan membaringkannya ke tempat tidur. Wanita itu tampak terkulai lemas di samping Niky yang masih duduk.
“Selly kau berbaringlah dulu, aku mau ke depan sebentar.” ucapnya lalu memakai kembali pakaiannya dan mengambil ponselnya yang ada di tempat tidur.
Niky berjalan keluar kamar hotel dan menutup pintunya.
“Kring... kring...”
Di lain tempat tampak Sisca yang duduk di sebuah kamar hotel terus menatap ponselnya dan menunggu seseorang meneleponnya.
“Halo... Niky... aku aku menelepon mu tadi.” ucap Sisca setelah mengetahui penelpon nya adalah Niky.
“Ya maaf aku ada sedikit urusan, sebentar lagi aku akan menyusul mu.” jawabnya singkat lalu segera mengakhiri panggilan khawatir jika Selly mendengarnya.
Niky masuk lagi ke dalam kamar Selly dan duduk di tempat tidur.
__ADS_1
“greb...” Selly yang masih tampak polos menarik tubuh Niky agar berbaring disampingnya sambil memeluknya.
“Maaf Selly aku masih ada urusan di rumah dan aku harus pulang sekarang.” ucap Niky bangun setelah menyingkirkan tangan wanita itu dari tubuhnya.
“Selly aku pergi dulu...” ucapnya berjalan menuju ke pintu.
“Ya Niky... hati-hati...” jawabnya dengan berat hati melepas kepergian lelaki itu.
Niky segera meluncur menaiki maserati putihnya kamu tahu tempat Sisca berada. Tak berapa lama kemudian dia tiba di hotel yang di booking khusus oleh wanita itu.
“tok...” Niky mengetuk pintu kamar Sisca berada.
Wanita itu segera membuka pintunya dan tampak tersenyum lebar mendapati Niky berdiri di balik pintu.
“Kau lama sekali...” ucap Sisca lalu segera menarik tangan Niky dan mengajaknya masuk ke dalam.
“klik...” Sisca mengunci pintu dan Mengajak Niky Duduk ditempat tidur.
Sisca mencium bibir Niky dan menarik tubuh Niky ke tempat tidur. Tak beberapa lama kemudian tubuh mereka berdua sudah terlihat polos dan wanita itu mendesah berulang kali dalam pelukan Niky.
Satu jam setelah nya Niky merebahkan dirinya di samping wanita itu dan memejamkan matanya sejenak sebelum Sisca meminta lagi tengah malam.
Pagi harinya Sisca bangun terlebih dulu daripada Niky.
“Niky... sudah pagi...” bisik Sisca lirih di telinganya dengan menggoda.
Niky segera bangun setelah mendengar suara Sisca.
“Hah... jam berapa ini... ?!” pekiknya sambil menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 06.00 pagi.
“Aku harus segera kembali sekarang atau aku akan terlambat.” ucapnya sambil duduk dan mengenakan kembali semua pakaiannya. Dia pun segera keluar dari kamar hotel dan bergegas menuju ke tempat parkir setelah berpamitan dengan Sisca.
“broom...” Niky memacu Maserati putihnya dengan cepat menuju ke kantor karena takut terlambat. Sambil mengemudi lagi itu mengeluarkan beberapa roti yang dia siapkan sebelumnya jika mendadak lapar seperti yang selama ini terjadi lalu menggigit roti tadi sambil terus menatap jalan di depan.
“Huft.... untunglah aku tidak terlambat.” gumamnya setelah turun dari mobil dan absen.
Dia pun berjalan dengan cepat menuju ke ruang kerjanya. Tampak di sana dia masuk yang terakhir meskipun masih jam delapan kurang.
“haah...” Niky menarik nafas panjang setelah duduk. Dia melihat ada beberapa air mineral di meja dan meminumnya.
__ADS_1
“glek... glek...” Niky yang merasa sangat kehausan setelah beraktivitas malam menghabiskan tiga botol air mineral sekaligus.
Setelah merasa dahaganya hilang barulah dia membuka laptopnya.
“klik...”
Niky melihat jadwal yang sudah dia tulis sebelumnya agar dia tidak lupa pada janji yang dia buat dengan client.
“Oh... jadi hari ini aku harus pergi ke tiga perusahaan untuk menanyakan jawaban mereka...” batinnya.
“Baiklah... lebih baik aku bersiap sekarang.” batinnya lalu kembali membuka profil data investor yang akan ditemui dan membacanya ulang agar lebih memahami mereka.
Satu jam kemudian lelaki itu keluar dari ruang kerjanya dan menuju ke beberapa perusahaan. Di tengah jalan, dia kembali merasakan perutnya yang lapar. Dia pun mampir sebentar ke rumah makan sekedar untuk mengisi perutnya.
Tak lama kemudian Niky kembali meluncur di jalanan menuju ke perusahaan Sahabat Group.
“Selamat pagi... maaf aku dari Atmaja Group ingin menanyakan proposal mengenai proyek Wonderland yang sudah ku ajukan sebelumnya dan bertemu dengan pimpinan yang mengurusi hal ini.” ucap Niky setelah masuk ke perusahaan itu dan menemui resepsionis yang ada di sana.
“Baik mohon di tunggu sebentar.” jawab petugas resepsionis yang kemudian menghubungi bagian terkait.
“Mohon di tunggu sebentar. Bu Adya yang mengurusi bagian itu sebentar lagi akan menemui anda.” jawab petugas resepsionis itu lalu kembali meletakkan gagang telepon ke tempatnya.
“Terima kasih...”
Niky kemudian duduk di ruang tamu setelah petugas resepsionis mengantarnya.
Tak lama kemudian datanglah seorang wanita berusia 40 tahunan yang terlihat energik dan tetap terlihat awet muda di usianya itu masuk ke ruang tamu.
“Saudara Niky... aku Adya.” ucap wanita itu sambil menjabat tangan Niky sambil tersenyum.
“Jadi bagaimana Bu Adya apa sudah ada keputusan terkait dengan proyek Wonderland yang ku ajukan sebelumnya ?”
Wanita itu tampak tersenyum dan menatap Niky sambil menunjukkan proposal nya.
“Perusahaan sendiri sebenarnya tertarik dengan konsep dari Wonderland hanya saja untuk saat ini perusahaan kami belum ingin investasi di bidang itu.” jawabnya tegas agar tidak memberikan harapan palsu pada Niky.
“Apa tidak bisa dipertimbangkan lagi... By Adya...” tanya Niky tak percaya pada apa yang barusan didengarnya.
“Maaf saudara Niky... untuk saat ini tidak, mungkin lain kali.” jawabnya sambil tersenyum ramah dan langsung menusuk ke hati Niky mendapat penolakan.
__ADS_1
Niky keluar dari perusahaan itu dengan kecewa lalu dia mencoba move on dan menuju ke perusahaan selanjutnya.
BERSAMBUNG....