
Kembar empat menatap wajah dokter Manuella sambil menunggu dokter itu membuka suara. Sekilas wajah itu berubah cerah sambil memperlihatkan senyumnya yang mengembang sempurna.
"Ibu kalian sudah siuman dan melewati masa kritisnya dan keempat adik masih berada di dalam inkubator." Ucap dokter Manuella ikut berbahagia.
Sontak saja keempatnya berpelukan dengan perasaan haru lalu sama-sama sujud syukur karena bahagia. Davin dan pangeran Fatih hanya menarik nafas lega sambil mengucapkan hamdalah.
"Dokter!" Terimakasih atas kerja keras anda menyelamatkan mama kami." Ucap Al.
"Dengan senang hati."
"Kapan mama kami dipindahkan ke ruang inap, dokter?"
"Tunggu saja sebentar lagi!" Aku tinggal dulu." Ucap dokter Manuella kembali ke dalam ruang bersalin.
Pangeran Fatih dan Davin memberi selamat pada kembar empat atas kelahiran adik-adik mereka.
"Selamat untuk kalian karena sudah dikaruniai adik kembar lagi seperti kalian." Ucap Davin diikuti oleh pangeran Fatih.
"Terimakasih kak Davin."
"Calista!" Aku lapar." Rengek Camilla manja.
"Baiklah kita ke kantin rumah sakit." Ajak Calista tapi Al dan Fariz menolak karena ingin menunggu ayah mereka.
"Kalian berdua duluan saja bersama pangeran Fatih dan kak Davin." Biar kami tunggu ayah keluar dulu dari dalam sana." Ujar Al.
Kedua gadis ini setuju lalu berjalan beriringan bersama dua pangeran mereka.
"Lebih baik kita cari restoran halal di luar." Pinta pangeran Fatih.
Ketiganya mengangguk setuju dan Calista mengirim pesan pada ayahnya untuk minta ijin. Dalam dua menit, ijin itu di dapatkan dari sang ayah.
Fatih meminta ketiganya menaiki mobilnya saja menuju restoran.
"Tuan Fatih!" Apakah anda tidak takut berada di luar sendirian, tanpa pengawal?" Tanya Calista.
"Ada pengawal ku yang sedang mengikuti kita. Perlakukan aku seperti orang biasa nona Calista agar tidak mengundang tanya dari perhatian orang nanti dan tolong panggilkan namaku saja jangan ada tuan maupun pangeran."
"Baiklah kak Fatih."
Di restoran mewah itu para pengawal Fatih berkoordinasi dengan pemilik restoran karena mereka harus memeriksa makanan untuk pangeran Fatih dan ketiga temannya.
Pihak restoran mengerti dan memberikan kesempatan untuk para mengawal itu melakukan protokol kerajaan karena mereka tidak mau mengambil resiko berat jika terjadi sesuatu kepada pangeran Maroko itu.
Keempatnya tampak tenang menikmati makanan mereka. Davin mulai menanyakan kondisi kesehatan mamanya Camilla.
"Apakah mama kalian sudah lama mengidap penyakit kangker darah?"
"Sekitar dua tahun lalu, penyakit mama baru terdeteksi." Ujar Camilla.
"Apakah perawatannya belum maksimal?"
"Dokter sudah melakukan semampu mereka, tinggal mama saja yang harus menjaga fisiknya, tapi mama keburu hamil keempat adik kami dengan menantang maut." Ujar Camilla sedih.
"Ujian kalian cukup berat, tapi aku salut pada Tante Andien yang mau berjuang untuk menyelamatkan keempat bayinya. " Puji Davin.
__ADS_1
"Semua orang punya ujiannya masing-masing. Ada yang bersabar dengan ujiannya karena ingin mendapatkan hadiah dari Allah. Ada yang pasrah pada ujiannya karena ingin mendapatkan derajatnya yang akan Allah tinggikan.
Yang paling penting bagi hamba Allah adalah menerima setiap ujian untuk pembersihan dosanya agar kembali kepada Allah dalam keadaan suci. Lebih baik di uji di dunia dihapus dosanya dengan segala ujian yang ia dapatkan di dunia.
Jika nanti sudah di akhirat ia tidak akan mendapatkan siksaan berlipat ganda dari Allah karena dosanya sudah terhapus dengan ujian yang menimpanya dengan penuh kesabaran." Timpal Calista membuat Davin terdengar syok.
"Jangan menanyakan hal apapun lagi pada nona Calista, atau kamu akan mati kutu di sini.
Ia berbeda dari saudara kembarnya, jadi berhentilah menanyakan keadaan ibunya." Bisik pangeran Fatih pada Davin yang mengangguk paham.
...----------------...
Reza menyuapi istrinya makanan agar tenaga Andien kembali pulih.
"Kamu harus cepat sehat sayang, karena mereka membutuhkan Asi eksklusif darimu."
"Iya sayang!"
Andien meminum susu dan makan beberapa potong roti dan juga potongan buah yang sudah disiapkan oleh pihak rumah sakit.
"Aku mau lihat baby dulu sayang, kamu di temani Al dan Fariz dulu."
"Di mana Calista dan Camilla?"
"Tadi pamit makan di luar bersama pangeran Fatih dan Davin."
"Apa..?" Pangeran Fatih datang ke sini?" Ya Allah mas, kita bisa kena masalah kalau ayahnya sampai tahu putra mahkota itu berkeliaran dengan putri kita.
Minta mereka segera pulang atau mama yang akan mendapatkan masalah." Ujar Andien cemas.
Kamu baru siuman sayang, tolong jangan tegang seperti ini atau kamu akan drop lagi. Calista bisa mengatasi pangeran Fatih. Memang putriku masih kecil, tapi pikirannya sangat dewasa dalam menyikapi masalah."
Setelah berkata begitu Reza meninggalkan Andien dan meminta kedua putranya untuk menjaga mamanya.
Reza menatap wajah keempat bayinya di dalam inkubator usai mengumandangkan adzan pada keempat bayinya.
"Selamat datang sayang!" Kalian harus tahu jika ibu kalian hampir meregang nyawa untuk melahirkan kalian." Ucap Reza sambil memasukkan tangannya untuk mengelus kaki putri bungsunya yang mirip dengan Calista.
Sementara di depan loby rumah sakit, pangeran Fatih menurunkan Calista tanpa mengantar gadis itu ke dalam lagi karena sudah ada peringatan keras dari panglima kerajaan.
Sementara Davin bicara sebentar dengan Camilla dan berjanji akan berkunjung lagi.
"Kasihan pangeran Fatih, ia selalu dijaga ketat oleh pihak istana hingga ia tidak bisa melakukan apapun sesuka hatinya.
Beruntunglah kak Davin tidak seperti pangeran Fatih, jadi bisa berteman denganku tanpa ada rasa takut diawasi oleh pengawal kerajaan."
Degggg...
Davin hanya menelan salivanya gugup. Kata-kata Camilla barusan membuatnya makin bingung menentukan sikap.
Iapun buru-buru pamit pada Camilla setelah mengantar Camilla ke ruang bayi di mana keempat adik Camilla saat ini berada.
"Jaga dirimu Camilla!" Aku akan menemani kalian saat Tante Andien pulang dari rumah sakit. Selamat menjadi kakak." Senyum manis Davin membuat Camila sangat terbuai.
"Hati-hati kak Davin!" Camilla menunggu sesaat saat Davin sudah menghilangkan dari pandangannya.
__ADS_1
Gadis ini melihat dari balik kaca ada ayahnya sedang menemani salah satu adik bayinya.
"Ayo Calista, tuh ada ayah di dalam." Keduanya membuka pintu ruang bayi itu dan menyapa ayah mereka.
"Ayah!" Apakah kami boleh memegangnya?" Tanya Camilla.
"Nanti saja sayang!" Kalau mereka sudah diperbolehkan pulang oleh dokter."
"Bolehkah kami yang memberikan nama untuk mereka?"
"Kita tanya mama dulu, apakah kalian bisa memberi nama untuk adik-adik kalian.
Sebaiknya kita ke kamar mama, kalian karena kalian berdua belum sempat bertemu dengan mama."
"Hmm"
Dalam lima menit ketiganya sudah masuk ke kamar Andien.
"Assalamualaikum mama!"
Maaf tadi kami makan dulu, apakah mama sudah sehat?" Tanya Calista seraya mengecup wajah ibunya dengan komplit. Begitu pula Camilla.
"Apakah kalian sudah melihat keempat adik bayi?"
"Alhamdulillah, terimakasih mama sudah melahirkan mereka untuk menemani kami. Mereka sangat cantik dan tampan mirip dengan kita semua. Calista ingin menggendong mereka tapi masih di dalam inkubator. " Ucap Calista terlihat sedih.
"Nanti juga kalian bisa menggendong mereka sayang." Hibur Andien lalu mengecup kedua pipi putrinya.
Dreeettt...
Ponsel Reza berdering, Reza segera menerima panggilan dari ibunya.
"Sayang!" Ini mami!" Aku terima dulu ya.
Andien mengangguk lalu bicara lagi dengan dua putrinya.
"Hallo Mami!"
Suara nyonya Susan terdengar sedang menangis.
"Reza...hiks ..hiks!"
"Ada apa mami, kenapa mami menangis, padahal Reza mau kasih mami kejutan."
Dari seberang Reza mendengar cerita ibunya dengan tubuh gemetar.
"Apaaa...?"
....
Maaf hari ini episode sebelumnya review nya lama Lolosnya dari sistem NT.
Episode barusan baru terkirim karena Author lagi sakit.
Mohon doanya say. Mksh untuk vote, like dan hadiahnya..🙏😔
__ADS_1