PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
153. CALON ISTRI


__ADS_3

Malam itu Fariz baru bisa ke rumah sakit menjenguk keponakannya karena baru menyelesaikan suatu urusan pekerjaannya.


Setelah cukup dengan basa basinya pada kedua iparnya, ia pamit untuk melakukan ibadah sholat isya di mesjid yang ada di area rumah sakit tersebut.


"Maafkan saya Fatih, Davin karena baru sempet melihat keponakanku. Kapan mereka akan dibawa pulang ke rumah?" Tanya Fariz sambil meneguk minuman soda yang ada di tangannya.


"Insya Allah besok, Camilla dan Calista sudah di perbolehkan pulang oleh dokter." Ujar Davin.


"Apakah kalian langsung pulang ke negara kalian masing-masing dengan membawa saudaraku dan keponakanku?"


"Kemungkinan kami menunggu sampai usia bayinya hingga tiga bulan." Ujar Fatih yang sudah sepakat dengan Davin.


"Syukurlah! Kebetulan bulan depan Al mau menikah. Setidaknya masih ada kalian di sini ikut menghadiri pernikahan Al." Ucap Fariz senang.


"Ngomong-ngomong kapan nih uncle Fariz punya pendamping?" Tanya Davin sambil melirik Fatih.


"Masih dalam pencarian. Mohon doanya saja." Timpal Fariz sambil tertawa kecil.


"Banyak gadis Maroko yang Sholehah dan pastinya sangat cantik juga. Kalau mau nanti saya kenalkan." Ucap pangeran Fatih serius.


"Terimakasih untuk tawarannya Fatih, tapi saya rasa cukup dua saudaraku saja yang sudah mendapatkan jodoh mereka yang beda negara.


Aku ingin menikahi gadis asli Indonesia saja. Aku lahir dan besar selama sepuluh tahun di luar negeri. Aku ingin merasakan bumi Indonesia dengan Istriku yang akan melahirkan keturunanku di sini." Ujar Fariz bangga dengan tanah airnya.


"Oh iya, aku belum sholat isya. Aku pamit ke mesjid dulu."


"Silahkan! kami mau masuk ke kamar dulu." Pamit Fatih dan Davin.


"Aku nanti langsung pulang. Tidak usah di tungguin. Ini sudah larut malam."


Ucap Fariz sambil melirik jam tangannya yang kini sudah hampir pukul 12 malam.


Ketiganya berpisah di depan kamar inap milik Camilla dan Calista. Davin menemui istri dan ketiga bayinya yang sudah terlelap di dalam boks bayi mereka. Sementara itu Camilla juga sudah terbang ke alam mimpinya.


Davin tidur disebelah istrinya karena Camilla akan mengamuk kalau ia bangun tidak mendapati suaminya di sampingnya.


Camilla tersenyum dalam tidurnya kala merasakan pelukan lengan suaminya sudah berada di perutnya. Davin pun ikut memejamkan matanya menyusul sang istri yang sudah masuk ke alam mimpi.


Di mesjid itu terlihat sangat sepi, namun Fariz tetap menunaikan sholat dengan khusu hingga selesai. Di saat sedang berdoa usai sholat, sayup-sayup, Fariz mendengar tangis seorang gadis yang sedang memohon pertolongan pada Robb nya.


Fariz bisa mendengarkan ucapan doa gadis itu karena batas antara laki-laki dan perempuan hanya dipisahkan dengan kain pembatas.

__ADS_1


Fariz yang sedang bersandar di pilar mesjid mendengar gadis itu merintih dalam doanya. Merasa penasaran, Fariz ingin mendengarkan permintaan gadis itu dalam doanya.


"Ya Allah. Aku hanya mempunyai seorang ibu yang saat ini sedang sakit parah dan sangat membutuhkan pertolonganMu.


Bagaimana bisa aku membayar biaya operasi yang sangat mahal dalam waktu dua hari ini. Wahai Engkau yang maha kaya, aku datang mengetuk pintu Mu agar Engkau memberikan rejeki untuk hamba sesuai yang hamba butuhkan.


Dua ratus juta, hanya dua ratus juta ya Robb, bukankah itu sangat kecil bagiMu yang maha kaya?" Pinta gadis itu yang sedang merayu Tuhannya dengan rengekannya yang manja pada Tuhannya.


Fariz tersenyum sendiri mendengar doa gadis itu.


"Cih! Dia menangis sambil memohon pada Allah, tapi bisa-bisanya dia merayu Allah dengan perkataannya seperti itu. Dasar gadis aneh." Batin Fariz lalu mendengar lagi ucapan gadis itu yang ternyata hanya tangisannya saja yang terdengar.


"Apakah sesedih itukah, gadis itu? baiklah aku akan membantunya tapi, apakah dia mau aku bantu?" Tanya Fariz dalam diamnya.


Tidak lama gadis itu keluar dari mesjid dan kembali lagi ke rumah sakit. Fariz diam-diam mengikuti gadis itu dan ternyata ia hanya duduk di depan pintu kamar ICU.


"Ya Allah! berarti sakit ibunya sudah cukup parah hingga masuk ke ruang ICU."


Fariz ikut duduk di depan gadis itu dan ingin mengambil gambar gadis itu yang terlihat cuek dengan kehadiran Fariz.


Gadis berjilbab itu hanya memejamkan matanya sambil duduk. Sepertinya ia kelelahan menjaga ibunya dari luar sini.


Fariz menanyakan salah satu suster jaga di ruang ICU tentang ibu gadis yang duduk di depannya. Suster itu menjelaskan penyakit yang di derita oleh ibu gadis itu. Ibunya menderita kanker rahim dan harus segera dioperasi. Fariz ingin bertemu dengan dokter yang menangani penyakit ibu gadis itu.


Gadis yang bernama Zahra itu sangat terkejut ketika dokter menyampaikan akan melakukan operasi kepada ibunya.


"Dokter! Saya belum mendapatkan biaya operasinya bukankah...?" Kata-katanya terhenti dan langsung di jawab oleh dokter intan.


"Seorang dermawan yang baik hati telah melunasi administrasinya, jadi untuk ke depannya entah itu berobat jalan atau kemoterapi, tidak perlu bayar lagi nona karena pria itu sudah melunasinya." Ujar dokter Intan Malik.


"Apakah dia seorang pasien atau seorang dokter yang bekerja di sini?" Tanya Zahra penasaran.


"Sepertinya dia keluarga pasien."


"Apakah aku boleh bertemu dengannya, Dokter? Siapa namanya?"


"Ini kartu namanya." Ujar Dokter intan seraya menyerahkan kartu nama milik Fariz pada Zahra.


"Terimakasih dokter!"


Zahra segera menghubungi nomor ponsel milik Fariz, namun Fariz sudah terlelap di alam mimpinya.

__ADS_1


"Orang ini tidak mau mengangkatnya. Bagaimana cara aku berterimakasih, apakah aku mengirim pesan singkat untuknya saja?" Zahra sedikit bingung dan memilih untuk menemui secara langsung dengan Fariz.


Keesokan harinya, di saat ibunya sedang menjalani operasi, Zahra nekat menemui Fariz di perusahaannya. Zahra menyampaikan niatnya pada resepsionis perusahaan tersebut untuk bertemu dengan Fariz.


"Maaf nona! Tuan Fariz belum tiba di perusahaan, mungkin sebentar lagi. Sebaiknya anda menunggu saja di lobi. Biasanya tuan Fariz melewati lobi menuju ke ruang kerjanya."


"Baik! terimakasih mbak!"


Zahra menghenyakkan tubuhnya di salah satu sofa empuk yang ada di loby itu sambil membuka ponselnya. Tidak lama kemudian Fariz menghampirinya.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumuslam!"


Zahra segera bangkit berdiri sambil menatap wajah tampan Fariz. " Apakah tuan bernama Fariz?"


"Iya saya Fariz. Ada urusan apa anda ingin bertemu dengan saya?" Tanya Fariz pura-pura tidak tahu.


"Saya hanya mau menyampaikan terimakasih atas bantuan tuan pada ibu saya. Hari ini beliau sedang menjalani operasi. Semoga Allah membalas kebaikan anda dengan pahala yang setimpal." Ucap Zahra sambil menundukkan pandangannya.


"Dengan senang hati nona Zahra. Jika anda butuh lagi biaya atau apapun, jangan sungkan untuk menghubungi saya, Insya Allah saya akan membantumu." Ujar Fariz santun.


"Mohon maaf tuan Fariz! Jika aku butuh sesuatu dan bantuan apapun, aku tidak akan pernah mendatangi Anda atau menghubungi anda atau siapapun juga." Ujar Zahra tegas dengan tatapan yang sangat meyakinkan.


"Jika bukan saya atau orang lain, lantas siapa yang akan kamu minta tolong, nona?" Tanya Fariz sedikit geram dengan Zahra yang terlihat angkuh baginya.


"Aku akan mendatangi tempat sujudku dan memohon pertolongan pada Tuhanku dan Tuhan anda juga yaitu Allah SWT yang maha kaya dan maha berkuasa atas segala sesuatu. Terimakasih tuan Fariz saya permisi." Ucap Zahra tegas.


Degggg....


Fariz sangat terpukau dengan jawaban Zahra. Iapun segera menghentikan langkah gadis itu.


"Tunggu sebentar Nona Zahra!"


Zahra membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah Fariz tanpa menatap wajah pria tampan itu.


"Iya tuan Fariz!"


"Maukah anda menjadi istriku?"


Duaaarrr...

__ADS_1


...


Terimakasih untuk vote dan like nya 🤗🙏


__ADS_2