
Berlalunya waktu, Calista sudah lebih siap membenahi lagi hatinya yang sempat berantakan karena perpisahan yang dirasakannya dengan berbagai kenangan yang ada di Bogota, khususnya kenangan dirinya dengan pangeran Fatih.
Begitu juga saudaranya Camilla berubah menjadi gadis pendiam yang saat ini sedang berproses untuk memasuki masa transisi dari usia anak-anak menjadi usia remaja.
Saat ini, atas permintaan Calista pada neneknya, untuk berkumpul bersama keluarga besar ayahnya untuk melakukan rukyah pada Ratih.
Calista yang sudah memakai mukena dan juga Ratih mulai membaca ruqyah pada Ratih. Lantunan ayat suci Alquran yang dibacakan Calista pada Ratih, membuat ibu dari si kembar Dewa dan Dewi ini menjerit dan juga memuntahkan apa yang dirasakan di dalam tubuhnya, cukup membuatnya tersiksa hingga Ratih pingsan.
"Baringkan Tante Ratih di tempat tidurnya!" Insya Allah dia akan segera sembuh. Saat ini Tante Ratih sedang berada di dalam kegelapan. Kita hanya memanggil kembali jiwanya untuk kembali ke ke dunia nyata." Ucap Calista di depan keluarga besar ayahnya.
"Calista!" Apakah saat Tante Ratih sadar, apakah dia akan langsung sembuh dan mengenali dirinya sendiri?" Tanya om Rendy, suami dari Tante Ratih.
"Maaf ya om Rendy!" Calista hanya membantu Tante Ratih dengan pertolongan Allah melalui ayat-ayat suciNya.
Kalau seandainya Allah mengijinkan Tante Ratih secepatnya sembuh, itu sangat membahagiakan kita. Tapi, kalau masih belum sadar juga, itu bukan berarti pengobatan ini tidak berhasil, melainkan semuanya butuh proses. Apa pun yang ada di dunia ini baik itu ciptaan Allah maupun buatan manusia, butuh proses.
Yang instan itu cuma mie instan rebus pakai telur di makannya selagi hangat dan ditambahkan cabe rawit di dalamnya, om Rendy." Ucap Calista mengundang gelak tawa keluarga besar itu.
"Ada-ada saja jawabanmu Calista. Kami semua sedang tegang mendengarkan penjelasanmu, malah di buat becanda." Ucap ayahnya Reza.
"Kalau serius tidak bagus untuk ayah, nanti ayah cepat tua sementara mamaku makin bersinar." Balas Calista makin membuat semuanya terkekeh.
"Terimakasih Calista, semoga Tante Ratih cepat sembuh. Kasihan Dede Dewa dan Dewi yang tidak mendapatkan kasih sayang dari ibunya.
"Sabar ya om Rendy!" Manusia itu di ciptakan Allah untuk menjalani ujian dariNya karena itu bentuk kasih sayang Allah pada hambaNya.
Dengan kita diberi ujian, kita akan mengerti makna kehidupan. Jadi pandai-pandai lah bersyukur dari setiap ujian yang datang, entah apapun itu supaya kita tidak kufur nikmat." Timpal Calista.
Semuanya terdiam dan meresapi perkataan Calista yang begitu menyentuh. Rasa bangga tuan Handoyo pada cucunya yang satu ini membuatnya ia makin meningkatkan ibadahnya.
"Calista sayang!" Suatu keberuntungan dalam hidup kakek memilikimu menjadi cucuku. Syukur ku tanpa batas kepada Allah karena Allah menitipkan hambaNya yang begitu bersih jiwanya pada salah satu keturunanku.
Andien!" Terimakasih nak, sudah melahirkan Calista dan ketiga saudaranya yang hebat ini. Semoga semua anak, cucu dan menantuku berada dalam lindungan Allah. Aamiin." Ucap tuan Handoyo penuh haru.
Andien dan Reza hanya mengangguk haru ketika mendengar pujian tuan Handoyo.
...----------------...
Sebulan kemudian,
Di mansion tuan Handoyo, Rendy sudah menunggu kedatangan Ratih dengan si kembar Dewa dan Dewi.
"Bagaimana dengan terapinya, Ratih, mami?" Tanya Rendy hati-hati kepada ibu mertuanya yang menemani Ratih menjalani terapi di rumah sakit.
__ADS_1
Ratih duduk di taman belakang dan pandangannya tertuju pada air kolam renang.
"Berdoa saja nak Rendy, insya Allah Ratih akan cepat sembuh." Ucap nyonya Susan lalu meninggalkan pasangan itu.
Rendy yang baru pulang dari luar negeri, memang memiliki sedikit waktu dengan keluarga kecilnya karena kesibukannya yang sejibun. Jadi, hanya ibu mertuanya yang bisa dia andalkan untuk menemani Ratih menjalani terapi dengan dokter psikiater.
Rendy membiarkan istrinya berbuat sesukanya tanpa merasa sakit hati.
Ratih yang duduk di pinggir kolam dengan aktivitas diamnya sambil menatap si kembar tanpa ekspresi.
"Bunda!" Dewi mau renang." Ucap Dewi yang sudah berusia satu tahun ini. Ia menghampiri bundanya yang tidak mendengarkan perkataan putrinya karena masih dengan sikapnya yang sama.
Rendy meninggalkan si kembar sebentar karena ia ingin mengambil makanan untuk si kembar. Tidak disangka Dewi sudah masuk ke kolam renang dan seketika tubuh balita itu langsung megap-megap.
Ratih yang melihat itu kembali mengingat kejadian dua tahun lalu saat ia melihat Calista tenggelam di dalam laut.
Memory menyakitkan itu seakan merangsang otaknya untuk berpikir cepat melihat lagi peristiwa yang sama walaupun kasus dan tempatnya berbeda.
Ia melihat putrinya yang dikira itu adalah Calista yang sedang meminta pertolongannya. Tanpa pikir panjang Ratih menyemburkan diri ke dalam kolam renang untuk menyelamatkan nyawa putrinya.
"Calista!" Pekik Ratih lalu menghampiri putrinya yang sudah tenggelam di dalam kolam renang dan berusaha membawa tubuh mungil itu ke atas permukaan kolam.
Rendy buru-buru keluar dan melihat putrinya pingsan karena sempat tenggelam.
"Apa yang kamu lakukan pada putrimu, hahh!" Bentak Rendy sangat keras di depan istrinya membuat Ratih mulai kembali mengingat dirinya antara samar dan nyata saat ini. Ia sangat gugup dan panik melihat putrinya yang sedang pingsan.
Rendy menampar wajah Ratih sekencang mungkin hingga gadis itu jatuh tersungkur ke lantai dan kepalanya terbentur tempat duduk yang terbuat dari marmer di sekitar kolam renang.
"Ahk!" Ratih merasakan sakit pada bagian kepalanya yang berdarah.
Ia melihat Rendy sudah berlari keluar membawa putrinya ke rumah sakit sementara Dewa di gendong oleh salah satu pelayan.
"Dewi sayang!" Ucap Rendy ketakutan melihat putrinya tidak sadarkan diri ketika sudah berada di mobil.
Pelayan berteriak histeris memanggil majikan mereka ketika melihat Ratih yang sudah berdarah pada kepalanya sambil meringis kesakitan.
Tuan Handoyo dan nyonya Susan segera keluar menemui putri mereka dengan wajah panik.
Ratih ditolong oleh ibu dan ayahnya lalu mengantarkan istrinya Rendy itu ke rumah sakit.
Dalam perjalanan darah Ratih tidak berhenti membuat gadis itu tiba-tiba pingsan.
"Cepatlah!" putriku pingsan." Ucap nyonya Susan pada sopir pribadinya dengan wajah ketakutan.
__ADS_1
"Iya ini sudah ngebut, nyonya." Ujar Arif.
Tidak lama Ratih di bawa ke ruang IGD yang langsung ditangani oleh dokter. Melihat pendarahan yang dialami oleh Ratih, dokter langsung melakukan operasi karena terjadi penggumpalan darah pada otak bagian belakang. Tapi sebelumnya mereka harus meminta izin kepada walinya.
Kebetulan Rendy ada di ruang IGD dan pelayannya memberi tahukan apa yang terjadi pada Ratih, Rendy begitu kaget dan menemui dokter yang sedang menangani istrinya.
"Dokter bagaimana dengan istri saya?" Tanya Rendy gugup karena dia yang menyebabkan istrinya terjatuh.
"Kebetulan anda di sini Tuan, kami minta tanda tangan anda untuk melakukan tindakan operasi pada pasien Ratih." Ucap dokter seraya menyerahkan berkas yang perlu ditandatangani oleh Rendy.
Rendy segera menandatangani berkas pernyataan untuk tindakan operasi pada kepala Ratih.
Tidak lama suara tangis putrinya sambil memanggil namanya.
Rendy segera masuk ke tempat putrinya yang sedang dirawat.
"Dewi sayang!" Gumam Rendy lirih.
"Ayah!" Panggil Dewi.
"Sayang, putri cantik ayah." Rendy memeluk putrinya. Ia berusaha tidak menangis di hadapan putrinya.
"Ayah, Dewi nggak bisa berenang seperti bunda."' Ucap Dewi dengan ocehan cadelnya.
Balita satu tahun ini sudah mulai segar kembali ketika dokter melakukan penyelamatan secepatnya pada tubuhnya yang sempat minum air kolam.
"Dewi mau belajar berenang, sayang?" Tanya Rendy sambil menatap wajah cantik putrinya sambil tersenyum.
"Iya, tapi sekarang Dewi takut." Ucap Dewi polos.
"Nanti kalau Dewi sudah besar baru belajar berenang jangan sekarang ya." Rendy mencium pipi putrinya.
Sementara di dalam ruang operasi, Ratih sedang ditangani oleh dokter untuk menyelamatkan gadis malang ini.
Rendy sangat menyesali perbuatannya karena sudah menyakiti istrinya secara spontan karena melihat keadaan putri mereka.
"Ratih!" Maafkan aku sayang. Tadi aku sangat panik melihat putri kita yang tidak sadarkan diri." Gumamnya lirih.
Nyonya Susan menanyakan kronologi peristiwa yang menimpa putri dan cucunya.
Rendy menceritakan keadaan sebenarnya membuat nyonya Susan sangat kecewa dengan sikap menantunya yang begitu ringan tangan pada putrinya yang sedang mengalami goncangan jiwa yang masih dalam taraf pemulihan.
Iapun harus bersikap bijak pada keadaan ini." Doakan saja supaya kejadian ini bisa mengembalikan Ratih kepada kita." Ucap nyonya Susan dengan kearifannya.
__ADS_1
......
Hari ini ada vote gratis dari NT. Tolong vote untuk author ya!" 🙏🤗