
Dokter Mala yang merupakan dokter spesialis kandungan yang sekaligus sahabat nyonya Susan sedang memeriksa keadaan Rania.
Dengan melakukan tes sederhana melalui urine dan hasilnya bisa dilihat melalui testpack yang menunjukkan dua garis merah.
"Selamat Jordy dan nak Rania, Alhamdulillah akhirnya kalian dikaruniai calon bayi tepat di bulan ramadhan. Ini suatu berkah yang luar biasa dari Allah untuk kalian.
Karena usianya baru dua Minggu, kita belum tahu pembuahannya ada berapa kantong janin, mengingat keluarga Rania merupakan keluarga keturunan kembar, bisa jadi bayinya juga kembar, tapi untuk lebih jelasnya, besok pagi temui saya di rumah sakit karena saya besok ada jadwal praktek pagi, sekitar jam sembilan pagi." Ucap dokter Mala.
"Baik dokter. Besok pagi kami akan mengunjungi anda. Mohon maaf dokter! karena sudah menganggu ibadah tarawihnya." Ucap Jody suaminya Rania.
Saya doakan semoga kandungannya selalu sehat dengan tetap makan makanan yang bergizi dan jauhi setress. Selebihnya tetap beraktivitas seperti biasa karena orang hamil bukan orang sakit.
Nanti kalau sudah berusia tiga bulan, kita akan melakukan pemeriksaan USG rutin setiap bulan untuk mengetahui perkembangan janin di dalam ibunya."
Dokter Mala menuliskan resep untuk vitamin dan obat penambah darah untuk mencegah anemia pada ibu hamil muda.
Sepeninggalnya dokter Mala, Jody dan Rania berpelukan sambil menangis haru.
"Ya Allah mas!" Aku tidak menyangka dan juga tidak percaya kalau saat ini aku benar-benar hamil.
Kita sudah berjuang sedemikian rupa dengan melakukan inseminasi buatan, tetap saja hasilnya nihil dan itu membuatku sangat kecewa.
Sejak kehadiran kembar empat terutama Calista, yang mengatakan aku sebentar lagi akan hamil sambil mendoakan perutku. Dia mengusapnya tiga kali dan setelah itu, bilang nanti dua Minggu lagi Tante Rania akan hamil dan ternyata aku benar-benar hamil.
Mas aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin menunggunya pulang tarawih. Aku ingin dia yang pertama tahu aku saat ini hamil..horee!" Teriak Rania di atas tempat tidurnya.
"Sayang, ayo kita sholat isya dulu baru tunggu kembar empat pulang.
Kehadiran mereka benar-benar membawa berkah untuk kita. Kenapa bukan dari dulu saja mereka datang dalam kehidupan kita.
Aku sangat menyukai kembar empat, selain mereka jenius, akhlak mereka sangat terpuji, semoga menular kebaikan mereka pada calon anak kita." Ucap Jody dengan wajah sumringah.
"Baiklah sayang. Ayo kita sholat sebelum mereka pulang, supaya nanti ngobrolnya enak." Ucap Rania.
"Kamu harus hati-hati sayang!" Saat masuk kamar mandi." Pinta suaminya penuh perhatian pada istrinya Rania.
"Aduh tuan suami, belum apa-apa sudah posesif begini pada calon baby." Ucap Rania sambil terkekeh.
__ADS_1
"Harus sayang! demi kebaikan sang buah hati." Canda Jody sambil menunggu istrinya yang terlebih dahulu mengambil air wudhu.
Jody dengan setia memakaikan mukena pada Rania dan membentangkan sajadah untuk ratunya itu. Keduanya mulai melakukan sholat isya berjamaah dengan penuh khusu.
...****************...
Anak-anak seperti biasa saling berlarian untuk mendapatkan tempat duduk utama di ruang keluarga setelah melakukan lomba lari tercepat diantara mereka.
Keempatnya tertawa lepas hingga membuat mansion itu menjadi sangat ramai dengan tawa dan ocehan mereka.
"Mas!" Calista pulang." Ucap Rania begitu mendengar suara tawa keponakannya, seraya membuka mukenanya, lalu menghampiri Calista yang masih saja bercanda.
"Hati-hati sayang!" Jangan buru-buru turun tangganya." Tuan Jody mulai kewalahan menjaga istrinya yang terlalu centil saat ini.
"Calista sayang!" Panggil Rania lalu memeluk gadis itu dengan perasaan haru biru.
Dalam sekejap tubuhnya didekap dengan erat oleh Rania. Calista sebenarnya tidak terlalu suka dipeluk dalam waktu yang lama kecuali yang memeluk itu ayah dan mamanya.
Ia pun mendorong perlahan tubuh Tantenya. Rania akhirnya menguraikan pelukannya pada Calista lalu menyampaikan kabar baiknya pada Calista.
"Benarkah Tante Rania hamil?" Tanya Calista pada Tantenya yang sedang bahagia saat ini.
"Iya sayang!" Benar Tante Rania saat ini sedang hamil dua Minggu. " Ujar Rania dengan penuh haru.
"Apakah Tante Rania bahagia?" Kalau begitu bagikan makanan buka puasa pada anak yatim di yayasan panti asuhan terdekat.
Insya Allah, anak-anak Tante Rania tumbuh menjadi anak yang sholeh sholehah." Ucap Calista.
Rania mengangguk cepat lalu memeluk keponakannya lagi. Ketiga saudaranya ikut memberikan selamat kepada Tante mereka dengan banyak doa di dalamnya.
"Rania!" Benarkah kamu hamil sayang?" Tanya nyonya Susan terharu dan setengah tidak percaya bahwa putrinya saat ini sedang hamil.
"Iya mami, terimakasih untuk doa-doa mami." Peluk Rania penuh haru.
"Selamat sayang. Tolong dijaga dengan baik berkah dari Allah untuk keluarga kecilmu." Nyonya Susan mengecup pipi putrinya sambil mengelus perutnya Rania.
"Mami!" panggil Ratih kesal.
__ADS_1
"Ada apa Ratih?"
"Tolong suruh keempat cucu mami jangan berisik atau Ratih akan tidur di hotel.
"Ya namanya masih anak-anak, selalu saja berisik." Timpal tuan Handoyo.
"Wah, ada bayi gorila, kabuuuur!" Ledek Al pada tantenya dan kembali berlari bersama ketiga saudaranya.
"Mungkin lebih aman, kamu tidur di kuburan, Ratih. Karena itu tempat yang paling nyaman buat loe!" Jawab Rania ketus.
"Kenapa kalian kompak memusuhiku, hah?" Ratih menghentakkan kakinya lalu kembali ke kamarnya dengan wajah masam.
"Sulit sekali bicara dengan orang yang sedang setress berat. Apa pun yang orang lakukan selalu salah di hadapan dia." Omel Rania.
"Tidak usah di tanggapi saudaramu, sayang!" Nasehat Jody pada istrinya.
"Aku mau main dengan kembar empat di kamar mereka." Rania kembali menaiki anak tangga dengan cepat."
Jody ikut berlari menjaga sang istri menjadi lebih periang malam ini. " Ya Allah, jangan sampai anakku jadi pecicilan juga nantinya ini, melihat tingkah Rania." Batin Jody yang sudah bergabung dengan kembar empat di kamar mereka yang ternyata sudah duduk rapi sambil membuka Alquran siap tadarus.
Sebenarnya Ratih sedang sedih saat mengetahui saudara kembarnya Rania hamil dan keluarganya mulai lebih perhatian pada Rania saat ini.
Di Bogota Kolombia, Andien dan Reza sibuk mempersiapkan diri mereka untuk pulang kampung sekitar dua hari lagi.
Akhir-akhir ini, kerinduan mereka pada anak-anaknya mulai terasa juga.
"Apakah kamu sedang merindukan anak-anak kita sayang?" Tanya Reza sambil memeluk istrinya.
"Iya sayang!" Rumah ini menjadi sangat sepi karena tawa dan canda mereka hilang.
"Bagaimana kalau kita menambah anggota baru lagi, pasti makin ramai," Ucap Reza sambil menjelajahi bagian bokong istrinya.
"Mas Reza!" Desis Andien saat titik tumpunya sudah mulai tersentuh dengan tangan nakal sang suami.
"Kita melakukannya sampai menjelang sahur, sayang!" Bisik Reza dengan suara menggebu mengusai area panggung yang terasa lebih hangat di atas ranjang mereka.
Keduanya mulai larut dalam permainan panas mereka dengan tubuh yang sudah menyatu.
__ADS_1