
Andien ingin melepaskan dirinya dari pelukan Reza, namun ayah dari si kembar empat ini, makin mengeratkan pelukannya. Entah mengapa Andien merasakan kenyamanan berada dalam dada bidang prianya ini.
Pria yang sangat ia benci dan sekaligus ia cintai. Pria tampan yang tidak bisa ia tolak pesonanya, namun ia mampu menghukum pria ini dengan sangat elegan, hingga membuat Reza bertekuk lutut di hadapannya dengan segala penyesalan yang dirasakannya saat ini dan entah sampai kapan.
"Aku sangat mencintaimu Andien, kamu tidak tahu apa yang telah ku lalui setelah kamu pergi dari hidupku. Aku sangat menderita, aku menyesali kebodohanku sampai saat ini, bahkan aku merasa sangat tidak berarti di hadapanmu." Ungkap Reza sambil berurai air mata.
Sementara di luar sana anak-anak sudah siap dengan makanan mereka, hanya saja saat ini mereka sedang menunggu kedua orangtua mereka yang belum juga kunjung keluar dari tenda.
"Mengapa ayah dan mama lama sekali di dalam?" Tanya Camilla lalu beranjak dari tempatnya untuk memanggil kedua orangtuanya, namun tangannya langsung di cekal oleh Al.
"Itu urusan orang dewasa, mengapa kamu ingin sekali kepo dengan kedua orangtua kita." Omel Al pada Camilla.
"Berilah mereka kesempatan untuk memperbaiki semuanya, kalau kamu ingin kita memiliki keluarga yang utuh" Imbuh Fariz.
Kedua asisten RT, saling menatap dan mengulum senyum melihat kedewasaan si kembar empat dalam menyikapi perang dingin antara kedua orangtua mereka.
"Yah!" Baiklah!" Terserah padamu. Tapi aku sudah lapar...Mamaaa!" Ayahhh!" Kami laparrrrr...Cepatan keluarnya!" Teriak Camilla yang sudah mulai merajuk.
"Huuuuh...!" Kamu aja kali, kita nggak!" Ucap ketiganya bersamaan seraya menjulurkan lidah mereka ke arah Camilla.
"Hahhh!" Kalian semuanya jahat!" Rengek Camilla yang tidak ingin diledek seperti itu dari saudara kembarnya sendiri.
"Mas!" Anak-anak bertengkar." Ucap Andien lalu melepaskan diri dari pelukan Reza.
Keduanya keluar dari tenda menemui anak-anak mereka.
"Al!!" Kenapa Camilla menangis?" Tanya Andien dengan wajah kesal.
Reza menggendong putrinya dan berusaha menenangkan Camilla.
"Cup..cup..anak gadis ayah, nggak boleh cengeng!" Hibur Reza pada putrinya Camilla.
"Itu mama Camilla nya ...!" Kata-kata Al terhenti langsung di sela oleh Calista
"Tadi mereka sedang berebutan daging, mama!" Ujar Calista berbohong.
"Andien melihat daging itu masih utuh dan memahami Calista sedang berbohong.
"Ayo!" Minta maaf semuanya pada Camilla!" Titah Andien pada ketiganya dengan wajah tegas namun penuh kelembutan.
Ketiganya mendekati Camilla yang sedang di pangku ayahnya, Reza.
"Camilla, maafkan kami ya!" Ucap ketiganya serentak.
"Iya, sama-sama!" Camilla juga salah, memanggil ayah dan mama dengan teriakan karena terlalu lama pacarannya." Ucap Camilla polos.
Andien dan Reza merasa salah tingkah sendiri. Namun wajah Andien kembali datar menghadapi keempat anaknya saat ini sedang menerapkan hukuman dalam setiap peraturannya.
__ADS_1
"Sekarang kembali lagi ke tempat duduk kalian dan kita mulai berdoa sebelum makan." Mas Reza mau pimpin doa?" Pinta Andien lembut.
"Oh, iya!" Reza terperangah lalu mengambil sikap berdoa.
Kedua pelayan mereka hanya tertawa adegan lucu keluarga kecil bos mereka.
Mereka pun menikmati hidangan lezat berupa ikan panggang dan juga daging panggang dilengkapi nasi putih dan juga roti.
Pak Ronald dan pak Ansel turut serta menikmati hidangan itu walaupun lauk mereka sudah di pisahkan tersendiri karena tidak ingin mengambil bagian dari makanan majikannya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Ketika malam tiba, selepas isya. Keluarga ini duduk mengelilingi api unggun. Keempat anak mereka duduk di antara ayah dan ibu mereka sambil bernyanyi.
Masing-masing diantara mereka menyumbangkan lagu diiringi petikan gitar oleh pak Ronald yang jago bermain alat musik.
Setelah cukup melelahkan, mereka masuk ke dalam tenda dan membaca buku komik kesukaan mereka masing-masing.
Di depan api unggun, hanya ada Reza dan Andien. Reza merangkul pundak Andien agar lebih dekat padanya supaya merasa lebih hangat karena udara mulai dingin dengan salju satu persatu mulai turun ke bumi.
"Andien!" Apakah kamu banyak menemukan kesulitan saat mengandung dan membesarkan anak-anak kita?" Tanya Reza ingin mencairkan suasana yang hampir membunuh keduanya karena sama-sama bungkam.
"Untuk apa kamu mau mengetahuinya?" Apakah kamu ingin mengungkit kembali luka lama atas kesedihanku yang telah kamu torehkan dan rasa putus asa yang ku alami saat mengandung mereka.
Kalau bukan karena mereka, mungkin aku lebih memilih mati karena menanggung rasa malu seumur hidupku yang hamil di luar nikah karena tergila-gila kepada pria tampan nan angkuh seperti dirimu.
Yang lebih mirisnya, aku tidak ingin dekat dengan siapapun semasa kuliah karena begitu takut mereka akan banyak bertanya tentang hidupku, kecuali nyonya Brooklyn dan tuan Leonardo yang selalu ada di saat aku membutuhkan uluran tangan mereka." Ucap Andien dengan wajah sendu.
"Apakah kamu mencintai tuan Leo?" Pertanyaan bodoh yang dilontarkan oleh Reza terdengar garing di telinga Andien.
"Jika aku mencintainya dan menerima pinangannya, apakah kamu masih punya nyali untuk bertemu dengan keempat anakmu yang sudah kamu tolak kehadiran mereka untuk dilahirkan di muka bumi ini?"
Kamu bahkan sudah bertemu dengan mereka di bandara Changi Singapura, tapi kamu tidak mengenali darahmu sendiri." Ucap Andien dengan suara mulai bergetar menahan amarahnya yang sudah bergejolak.
Rasanya ia ingin mengumpat dan mengusir lelaki dihadapannya ini, jika dia tidak mengingat bagaimana perjuangan anak-anaknya untuk bisa bertemu dengan ayah mereka.
Lagi nyali Reza menciut. Tapi ia menekannya sedemikian rupa, agar hatinya tidak termakan oleh cibiran sinis Andien pada dirinya yang habis dilalap oleh kata-kata Andien yang terdengar sarkastik.
"Baiklah sayang!" Kalau begitu, kita ganti topik yang lain saja." Ucap Reza sambil menghembuskan nafasnya lembut.
"Tapi, aku sudah ngantuk." Ujar Andien lalu masuk ke tenda bersama Reza tanpa peduli dengan perasaan lelaki tampan ini.
Andien melihat dua tempat tidur yang sudah diatur sedemikian rupa untuk mereka berenam.
Dua tempat tidur untuk tiga orang. Andien tidur bersama dengan dua putrinya dan Reza tidur bersama dengan dua putranya. Keduanya kompak tidur diantara anak-anak mereka supaya adil.
Lampu tenda di padamkan, hanya ada cahaya terang dari mobil karavan. Sementara pak Iwan dan pak Ronald sedang berjaga di sekitar tenda sambil duduk depan api unggun yang dibiarkan terus menyala agar di dalam tenda tetap terasa hangat.
__ADS_1
Keesokan harinya, keluarga kecil ini mulai lagi dengan acara masak memasak untuk menyiapkan sarapan pagi. Diantara mereka sudah bergantian mandi di dalam toilet karavan.
Andien yang terlihat lebih segar duluan pagi itu. Ia memasak dengan dibantu oleh kedua putrinya. Andien sengaja membuat nasi goreng pagi itu dengan roti panggang coklat di lengkapi susu coklat hangat.
Mereka duduk lagi di atas tikar sambil menyiapkan sarapan.
"Ok, kita makan lagi setelah itu kita jalan-jalan di sekitar hutan mencari bahan sayuran yang bisa kita manfaatkan untuk makan siang." Ucap Fariz.
"Ok, siap pak komandan!" Ujar ketiga saudaranya.
"Habiskan makan kalian!" Titah Andien saat mereka sedang menikmati makanan penutup berupa roti hangat rasa coklat.
Tidak lama ponsel Reza berdering, pria tampan ini melihat panggilan dari maminya.
Reza langsung menerima panggilan itu.
"Hallo mami!"
"Reza, cepat pulang nak!" Ayahmu masuk rumah sakit, jantung ayah kambuh." Ucap nyonya Susan dari seberang telepon.
Andien yang mendengar rengekan ibu dari Reza sempat syok. Ia pun segera menghubungi markas angkatan udara untuk mengirim helikopter ke tempat mereka untuk menjemput Reza.
"Astaga!" Bagaimana mungkin aku mencapai bandara dengan cepat?" Reza terlihat gelisah.
"Ayah!" Apakah kakek sakit?" Tanya Calista yang lebih memahami bahasa kedua orangtuanya.
"Iya sayang!" Maaf ya, ayah harus meninggalkan kalian karena kakek kalian sedang membutuhkan ayah saat ini." Ucap Reza dengan berat hati.
Tidak lama, helikopter datang ingin melakukan pendaratan darurat di wilayah tersebut.
Reza bingung melihat helikopter sudah datang ke tempat itu.
"Kenapa helikopter ada di sini?" Tanya Reza.
"Aku meminta mereka untuk menjemputmu dan mengantarkanmu sampai ke bandara." Ujar Andien membuat Reza sangat terharu.
"Astaga!" Ternyata memiliki kekasih berpengaruh, sangat menyenangkan. Bisa melakukan apapun dengan menggunakan otoritasnya sebagai bagian dari orang penting di negara ini.
Co-pilot menghampiri Andien untuk melaporkan diri. Diantara mereka terjadi komunikasi sesaat. Reza memeluk keempat anaknya dan wanitanya secara bersamaan.
Anak-anaknya melambaikan tangan mereka kepada ayahnya untuk melepaskan kepergian Reza begitu mendadak sambil berurai air mata dan tiba-tiba Andien pingsan dengan hidung yang sudah keluar mimisan.
Reza begitu kaget melihat itu dan langsung berteriak histeris.
"Andieeennnn!" Reza menangkap tubuh Andien saat Reza hendak melangkah menuju helikopter yang sedang menunggunya.
"Siapa yang harus Reza utamakan?" Ayahnya kah atau Andien?" Ibu dari keempat anaknya?" Ditunggu komentar kalian!"
__ADS_1