
Reza langsung membawa Andien ke dalam helikopter. Co-pilot mengajak keempat anak Andien ikut serta dalam helikopter itu.
"Kalian berdua langsung pulang ke rumah nyonya Andien dengan mobil ini." Ucap co-pilot lalu menggendong Calista dan Camilla dan kedua putra Andien mengikutinya dari belakang.
Setelah semuanya sudah di evakuasi, helikopter segera menuju ke rumah sakit Bogota dalam waktu tempuh sepuluh menit. Andien di turunkan di atas gedung rumah sakit lalu yang disambut oleh para dokter dan perawat atas perintah tuan penguasa.
Reza memeluk keempat anaknya sambil memohon pertolongan kepada Allah atas kesembuhan Andien.
"Ayah!" Sebenarnya mama sakit apa?" Tanya Fariz sedih.
"Mama menderita penyakit leukimia." Ucap Calista.
Deggg...!"
Reza bingung mendengar Calista yang sudah mengetahui penyakit ibunya." Calista, bagaimana kamu bisa mengetahui kalau mama Andien saat ini sedang menderita leukimia.
"Aku membaca semua nama obat yang di minum oleh mama. Setelah aku mencari tahu kegunaan obat itu, ternyata banyak menjurus pada leukimia.
"Penyakit leukemia atau lebih tepatnya leukemia adalah kanker darah akibat tubuh terlalu banyak memproduksi sel darah putih abnormal. Leukemia dapat terjadi pada orang dewasa dan anak-anak.
Sel darah putih merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh yang diproduksi di dalam sumsum tulang.
Ketika fungsi sumsum tulang terganggu, maka sel darah putih yang dihasilkan akan mengalami perubahan dan tidak lagi menjalani perannya secara efektif." Jelas Calista dengan sangat cepat, membuat Reza hanya bisa menatap kagum kecerdasan putrinya.
"Apakah mama bisa sembuh dari penyakit itu?" Tanya Camilla sambil mewek.
"Seiringnya perkembangan teknologi dan kemajuan ilmu pengetahuan, maka ada beberapa jenis Leukemia yang bisa diobati hingga sembuh, ada juga yang hanya bisa dikendalikan.
Jika menjalani pengobatan dengan baik dan benar, Leukemia Mieloid akut dan leukemia limfoblastik akut potensial bisa sembuh. Mama kita hanya mengalami leukimia mieloid akut dan insya Allah, bisa disembuhkan oleh Allah." lanjut Calista.
"Astaga!" Benar apa kata Fariz, jika ingin mengetahui sesuatu, tanya saja Calista karena Calista adalah google berjalan." Batin Reza mengingat lagi perkataan putranya.
"Apakah mama akan sembuh Calista?" Tanya Al.
"Hanya Allah yang maha tahu, tugas kita hanya berdoa dan tugas ayah untuk tetap membuat mama semangat untuk ikhtiar dalam pengobatan.
Dukungan dari orang-orang tercinta lebih menguatkan pasien daripada pengobatan itu sendiri." Timpal Calista.
__ADS_1
"Masya Allah!" Anak ayah. Maafkan ayah nak, sudah menelantarkan kalian selama ini." Tangis Reza kembali pecah.
Keempat anaknya memeluknya dengan erat. Kami tidak akan membenci ayah, walau apapun yang terjadi antara ayah dan mama...hiks.. hiks!" Tetaplah untuk kami ayah." Ucap Al.
Cek..lek!"
Dua suster keluar dari IGD dengan wajah panik. Reza mencegat dua suster itu." Apa yang terjadi dengan nona Andien?"
"Maaf tuan! Pasien mengalami mimisan terus menerus hingga jumlah trombositnya makin menurun. Kami membutuhkan banyak kantung darah untuk memulihkan kondisi pasien." Ucap suster itu lalu mengambil langkah seribu menuju ke ruang penyimpanan kantung darah.
Belum selesai rasa syok nya Reza dan keempat anaknya, dokter keluar menemui Reza.
"Tuan!" Tolong hubungi kedua orangtua pasien atau saudara kandungnya karena kami harus melakukan pencangkokan sumsum tulang belakang pada nona Andien.
Jika telat di lakukan tindakan pencangkokan sumsum tulang belakang, maka pasien tidak bisa tertolong!" Ucap dokter Remon membuat Reza menegang di tempatnya berdiri.
Deggg...
"Hiks... hiks...hiks!" Ayah!" Kami takut kehilangan mama." Ucap keempatnya dengan kompak.
"Baik ayah!" Ucap keempatnya.
"Ayah mau menghubungi keluarga mama, tapi ayah tidak punya kontak mereka?" Apakah kalian menyimpan nomor kontak paman dan Oma kalian?" Tanya Reza.
Calista langsung menyebut nomor ponsel kedua pamannya dan juga omanya tanpa melihat di kontak ponsel miliknya.
"Sayang!" Sebut nomornya pelan-pelan, ayah sulit memasukkan nomornya." Ucap Reza.
"Berikan ponsel ayah!" Calista mengetik ketiga nomor itu dalam waktu lima belas detik.
"Sudah ayah!" Calista mengembalikan ponsel ayahnya dan Reza hanya tercengang melihat gerakan jari jemari putrinya Calista.
"Ya Allah, apakah putriku ini robot?" Batin Reza.
"Terimakasih Calista!" Ayah hubungi paman kalian dulu." Reza menjauh sedikit dari anak-anaknya karena harus fokus bicara dengan dua adik iparnya.
Baru saja ia mau menekan nomor kontak Adam, malah ada panggilan masuk dari ibunya. Tanpa pikir panjang, Reza pun segera menerima panggilan itu.
__ADS_1
"Hallo Reza!" Kamu sudah sampai sampai mana, nak?" Tanya nyonya Susan.
"Mami, bagaimana keadaan ayah?"
"Ayahmu koma sayang!" Tolong cepat pulang!" Sebelum terjadi apa-apa pada ayahmu."
"Apa yang terjadi mami?" Mengapa ayah bisa kena serangan jantung lagi?"
"Ayah sangat syok ketika suami adikmu Ratih dipulangkan kembali ke rumah kita dan ia akan menceraikan adikmu nak....hiks...hiks!"
"Apa penyebabnya rumah tangga mereka jadi seperti itu?"
"Rama ingin menikah lagi karena ia ingin memiliki keturunan. Karena Ratih tidak ingin di madu membuat Rama menjadi murka.
Itulah sebabnya, Rama memilih menceraikan Ratih, jika Ratih tidak siap di madu." Ucap nyonya Susan.
"Ya Allah!" Mengapa rumah tangga saudaraku harus berakhir seperti ini?" Di saat aku sedang berjuang untuk mendapatkan lagi Andien dan anak-anakku." Ucap Reza lirih.
"Reza!" Kamu belum menjawab pertanyaan mami." Di mana kamu sekarang?" Tanya nyonya Susan makin senewen dengan putranya yang tidak memberikan kabar sama sekali pada mami. Dari tadi bolak balik lihat ponsel, tapi tidak ada satu pesan pun masuk ke ponsel mami.
"Mami!" Reza mohon maaf!" Awalnya Reza ingin pulang, tapi mendadak penyakit Andien kambuh lagi, saat ini Reza bersama dengan cucu mami sedang menunggu Reza karena keadaannya sangat menyedihkan.
Andien butuh banyak kantung darah untuk kesembuhannya." Ucap Reza terdengar frustasi.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuun!" Emangnya Andien sakit apa Reza?" Tanya nyonya Susan.
"Leukemia limfoblastik atau di sebut juga kanker darah. Reza tidak mungkin meninggalkan anak-anak di saat ibunya sakit parah, mami.
Ayah masih punya mami disampingnya, sedangkan Andien hanya bersama dengan keempat anak kami yang masih kecil.
Apakah mami tega aku meninggalkan cucu-cucu mami yang hebat ini?" Ucap Reza.
"Tidak sayang!" Temani saja cucuku Reza, mami doakan semoga nak Andien cepat sembuh.
Kalau tidak keberatan, tolong kirim foto mereka Reza. Mungkin ayah akan sembuh jika melihat mereka." Pinta nyonya Susan setengah memelas pada putranya.
"Baiklah mami!" Nanti saja Reza kirimkan. Sudah dulu ya mami karena Reza mau menghubungi keluarga Andien." Ucap Reza makin cemas dengan keadaan Andien.
__ADS_1