
"Reza!" Satpam itu yang pernah menolong ayah, mengambil dompet dari tangan pencopet. Mungkin dia sesuatu tentang keluarga Calista dan saudara kembarnya." Ucap Tuan Handoyo ketika hendak masuk ke lobi rumah sakit.
Reza mendekati satpam itu menanyakan gadis kecil yang pernah memberitahukan tentang seorang pencopet yang pernah mencopet dompet ayahnya seminggu yang lalu.
"Maaf pak!" Apakah anda mengetahui keluarga dari gadis kecil yang pernah menolong menyelamatkan dompet ayahku?" Tanya Reza sambil memperkenalkan ayahnya pada Pak Amir, satpam rumah sakit itu.
"Oh iya, barusan mereka pulang dari sini tuan. Sepertinya mereka menemani nenek mereka yang baru saja menjalani operasi bypass." Ucap pak Amir.
"Astaga!" Kita kalah cepat ayah." Ucap Reza kecewa.
"Apakah kami bisa mengetahui nama pasien dari keluarga gadis kecil itu?" Tanya tuan Handoyo.
"Maaf tuan, saya tidak boleh ikut campur urusan anda dengan membocorkan rahasia data pasien rumah sakit ini, walaupun anda memiliki niat yang baik. Resikonya saya bisa dipecat." Ucap pak Amir.
Reza menarik lengan pak Amir agak menjauh dari teman-temannya.
"Begini saja pak Amir, jika anda di pecat, anda bisa bekerja di perusahaan saya, bukan menjadi satpam tapi menjadi karyawan perusahaan saya dan gaji anda akan saya bedakan dengan gaji karyawan lain." Ucap Reza.
"Maafkan saya Tuan!" Itu namanya menyogok. Urusan kalian orang kaya hanya dengan memudahkan apapun masalahnya dengan uang dan itu tidak membuat saya tergiur.
Semua orang pasti menyukai uang, tapi tidak semua orang menjaga amanah yang diberikan perusahaan padanya. Saya tidak mau berkhianat. Tawaran jabatan dan uang sangat penting untuk hidup orang lain, tapi tidak selamanya akan menjadi berkah dalam hidup ini." Ucap pak Amir mempertahankan prinsipnya.
Reza merasa putus asa karena tidak bisa melobi satpam itu.
"Satpamnya saja sudah tidak bisa kita pengaruhi, bagaimana dengan orang dalam?" Gumam Reza lirih.
Keduanya memutuskan untuk pulang ke mansion karena tidak bisa melacak keberadaan Calista bersama dengan ketiga saudara kembarnya.
"Andai saja saat itu, ayah mengikuti mereka menemui ibunya, mungkin kita bisa silaturahim ke tempat mereka, nak." Ujar tuan Handoyo.
"Sudahlah ayah, berjalannya waktu, perasaan sentimentilnya kita berdua akan berubah menjadi lebih baik." Ucap Reza menghibur ayahnya.
"Semoga saja Allah mempertemukan ayah lagi dengan Calista. Ayah akan selalu berdoa agar bisa bertemu lagi dengan gadis kecil itu." Ucap tuan Handoyo penuh harap.
Sementara di hotel, Andien sedang merayakan ulang tahun anak kembarnya empatnya yang ke lima tahun. Andien sengaja pindah hotel di kawasan Ancol karena suasana lebih nyaman dan bersih. Mereka tidak bisa langsung pulang kampung karena ibunya harus melakukan kontrol lagi pasca operasi.
__ADS_1
Andien memesan empat kue ulang tahun, nasi tumpeng lengkap dengan lauknya dan beberapa makanan dan minuman ringan untuk mereka.
Lagu ulang tahun dinyanyikan dengan meriah oleh keluarga itu. Suasana terasa sangat meriah ketika pihak hotel menembakkan kembang api bertuliskan nama keempat anaknya.
Semuanya bersorak kegirangan melihat di atas udara, tepat di bawahnya terbentang lautan luas nama itu terukir indah.
Di sisi lain Reza yang kebetulan sedang ada meeting dengan para relasi perusahaannya sedang membahas bisnis mereka. Temannya seketika berdiri memperhatikan kembang api yang terlihat sangat indah mengukir setiap nama itu.
"Apakah ada yang sedang berulang tahun di hari yang sama?" Tanya Raffi pada temannya yang ikut berdiri memperhatikan kembang api itu.
"Mungkin saja ada yang merayakan ulang tahun anak kembar empat," Ucap Asril.
Mendengar perkataan Asril, kuping Reza mulai terganggu. Ia pun membalikkan tubuhnya menghadap ke arah tembok bening itu dan melihat kembang api itu sudah berakhir.
"Apakah kalian membaca setiap nama itu?" Tanya Reza.
"Tidak cukup jelas dari sini, tapi kembang api itu membentuk setiap nama pemiliknya yang sedang merayakan ulang tahun.
Ponsel Reza berdering, iapun mengambil ponselnya dan melihat nama panggilan penelpon itu.
"Waalaikumuslam bro! Aku ucapkan selamat ulang tahun untuk putramu dari Andien karena hari ini putranya berulang tahun yang ke lima tahun." Ucap Wildan.
"Astaga Andien, putraku!" Ok terimakasih Bro untuk ucapan dan doanya. Aku harus menemui mereka." Ucap Reza lalu buru-buru menghubungi Reni yang mungkin mengetahui kepulangan Andien ke Solo.
Reza menyapa Reni sambil basa-basi pada gadis itu. Reni yang sudah mengetahui keperluan Reza, langsung menanyakan kepentingan lelaki tampan itu.
"Apakah mas Reza ingin mengetahui tentang Andien?" Tanya Reni.
"Begini Reni, beberapa Minggu yang lalu aku bertemu dengan Andien di bandara Jakarta. Aku sempat mengantarkannya ke hotel. Apakah kamu mengetahui tentang Andien saat ini?" Tanya Reza.
"Maksudnya bang Reza, Andien mau pulang ke Solo?"
"Iya!" Apakah dia ada di Solo bersama putraku dan suaminya?"
"Rumahnya saja kosong, tidak ada orang di rumah mereka dan tetangga tidak tahu keberadaan keluarga itu. Bagaimana mungkin Andien pulang ke sini?" Reni balik bertanya kepada Reza.
__ADS_1
"Jadi Andien tidak pernah muncul di kampung?"
"Saya belum pernah melihatnya, lagi pula kapan Andien menikah?" Kenapa saya bisa tidak mengetahuinya ya." Ucap Reni bingung.
"Kenapa jadi serba bingung begini." Reza mengakhiri pembicaraan mereka karena tidak ada informasi tentang Andien.
"Astaga!" Jangan-jangan, Andien memang belum menikah? dan bagaimana dengan anak kami kalau memang dia belum menikah. Pasti Andien tidak akan meninggalkan putraku di Kolombia sendirian." Ucap Reza lirih.
"Satu-satunya cara yaitu mengetahui keberadaan Andien di Kolombia. Aku ingin mengambil anakku yang saat ini bersamanya." Ucap Reza.
"Selamat ulang tahun, sayang." Ucap Andien pada keempat anaknya.
Keempatnya meniup lilin ulang tahun bersama, lalu memotong kue ulang tahun untuk disuapkan kepada masing-masing anggota keluarga.
Calista memberikan potongan kuenya untuk ibunya. Camilla untuk neneknya, Fariz untuk pamannya Adam dan Al untuk pamannya Agam.
Mereka memberikan kado untuk keempat bocah itu, berarti kado yang mereka terima untuk tiap anak sebanyak empat kado dan semuanya terkumpul menjadi enam belas kado.
"Terimakasih untuk kadonya mama, Oma dan paman-paman tampan." Ucap Calista diikuti ketiga saudaranya.
Kini Camilla minta kepada pamannya kalau dia ingin bernyanyi.
Adam memberitahu kepada MC acara yang merupakan karyawan restoran hotel tersebut.
"Salah satu dari saudara kembar ini, ingin menyanyikan lagu untuk mama tercinta. Kami persilahkan kepada nona cantik Camilla untuk maju ke depan." Titah MC tersebut.
Musik di dendangkan Camilla menyanyikan lagu dengan judul mother how are you today. Suara indah Camilla yang begitu merdu menyentuh hati ibu dan Omanya.
"Terimakasih mamaku yang hebat telah melahirkan dan membesarkan kami. Terimakasih untuk Oma kami tercinta karena melahirkan mama kami yang super hebat ini.
Tanpa ada seorang ayah di sisi kami, namun kami tidak merasa kehilangan kasih sayang darinya.
Dia bisa menjadi mama dan sekaligus ayah untuk kami, walaupun ibuku sangat hebat, namun kami masih sangat merindukan sosok ayah yang belum pernah kami lihat fotonya apalagi wujudnya.
Semoga ayahku selalu sehat di manapun dia berada. Terimakasih ayah telah memilih kami menjadi anak-anakmu." Ucap Camilla sambil berurai air mata.
__ADS_1
Hati Andien bagai disayat sembilu ketika mendengar perkataan putrinya yang sedang merindukan sesosok ayah. Tubuhnya langsung lemas dengan air matanya yang jatuh luruh menetes di pipi mulusnya.