
Pangeran Fatih mendudukkan Calista di sofa ruang keluarga dan meminta pelayan untuk mengambil kotak P3K dan perlengkapan lainnya seperti waslap dan air dingin karena lutut Calista sedikit memar.
"Tuan biarkan saya memang ...?" Ucap pengawal Hamid terhenti saat mata pangeran Fatih hanya menatapnya dingin.
"Baik Tuan." Pengawal Hamid mundur lalu menghilang diri dari pandangan mata tuannya karena tidak diperbolehkan untuk memanggil dokter untuk mengobati luka Calista.
Calista masih saja menangis saat pangeran Fatih sedang mengobati lukanya dengan hati-hati.
Calista mulai terlihat tenang walaupun bekas air matanya masih menempel dipipinya. Dengan telaten, pangeran Fatih mengusap pipi Calista dengan ibu jarinya.
Ia juga mengelap hidung Calista yang merah dengan nafas Calista yang berangsur tenang, dengan tarikan ingus yang menggemaskan membuat pangeran Fatih tersenyum pelit merapikan rambut Calista yang sedikit berantakan.
"Apakah masih sakit Calista?"
"Sudah mendingan."
"Mau makan es krim?"
Calista kembali berbinar dan mengangguk setuju. Pangeran Fatih menemui pelayannya untuk membawakan es krim untuk mereka.
Dalam sekejap kedua sudah melahap es krimnya masing-masing. Calista tidak segan bersandar ke dada pangeran Fatih sambil menjilati es krim miliknya.
"Apakah enak?"
"Hmm!"
"Dasar anak kecil!"
Saat mengajari aku, lagaknya melebihi orang dewasa yang tahu segalanya, tapi kalau sudah jatuh dan kesakitan seperti ini, ia kembali lagi kepada usia sebenarnya.
Kamu membuatku semakin gemas dengan tingkah mu seperti bunglon, Calista." Gumam pangeran Fatih menahan tawanya saat mengingat kembali Calista jatuh memanggil nama ayahnya.
Calista merapikan lagi duduknya usai melahap es krimnya. Ia berusaha bangkit dan kembali meringis karena lututnya terasa nyeri.
"Apakah kamu bisa berjalan?"
"Tidak!" Ucapnya terdengar manja.
"Baiklah!" Naiklah ke punggungku, aku akan mengantarkanmu pulang."
"Tidak perlu Tuan, sebentar lagi ayahku akan menjemputku." Cegah Calista.
"Kakimu sedang sakit, jadi sebaiknya kamu cepat pulang dan aku akan menceritakan kepada keluargamu."
"Ini hanya luka sepele tuan, jadi nggak usah di permasalahkan."
"Ayo naik ke punggungku dan jangan membantahku!" Ini titah sang pangeran. Apakah kamu masih menolakku?"
"Tapi, aku bukan rakyatmu ataupun dayang-dayangmu tuan."
"Tapi kamu guruku."
"Bukankah guru lebih mulia dari raja?"
"Tetap saja aku seorang pangeran bagimu karena kamu berada di wilayah istanaku, paham!"
"Baik. Terimakasih atas perhatiannya. Tapi kenapa anda mau menggendongku?" kalau Anda adalah seorang pangeran?" tanya Calista yang sudah berada di gendongan pangeran Fatih.
__ADS_1
"Aku sedang menolong guruku dan itu adalah bagian bentuk penghormatan ku padamu sebagai seorang murid."
"Sepertinya perkataan seorang pangeran, terdengar sah-sah saja padaku, apakah seperti itu perlakuan pangeran?"
"Pengecualian aku."
"Calista!"
"Hmm!"
"Jika kamu sudah dewasa nanti, apakah kamu mau menjadi istriku?"
"Apakah tuan sedang melamar ku?"
"Anggap saja seperti itu."
"Tapi, Tuan cukup tua untuk menjadi suamiku."
"Tapi kalau sudah dewasa, wajah kita terlihat sama, tidak ada perbandingan dengan itu."
"Usiaku masih terlalu muda untuk membahas hal-hal yang berbau dewasa."
"Tapi, aku yakin kamu mengetahui segalanya seputar dunia dewasa."
"Hanya sekedar mengetahui teorinya, tanpa ingin menelaahnya, karena itu bukan ranah ku karena usiaku yang masih haram untuk dibahas."
"Kita tidak bahas hal ilegal, kenapa kamu merasa takut?" Aku hanya menanyakan, apakah kamu mau menjadi istriku suatu saat nanti?"
"Jawabannya nanti saja, tunggu aku sampai dewasa. Kalau dijawab sekarang, kesannya terlalu mengikat dan itu akan membuatku canggung saat berhadapan denganmu Tuan. Sekarang aku gurumu, perlakukan aku layaknya seorang guru."
"Sekarang, pikirannya kembali berubah lagi menjadi seorang dewasa." Batin pangeran Fatih sambil tersenyum.
Keduanya sudah berada di mobil menuju kediaman Calista.
"Tuan!" Tolong maafkan aku!" Aku jadi merepotkan anda.
"Jangan berkata seperti itu!" Aku tidak suka mendengarnya.
"Calista!"
"Iya Tuan!"
"Tiga bulan lagi, aku sudah menjadi mahasiswa, apakah kamu masih kuliah?"
"Aku sebentar lagi sudah mengikuti sidang tesis untuk meraih sarjana S2."
"Berarti, kamu tidak kuliah lagi untuk ambil gelar Doktor?"
"Nanti saja, kalau usiaku sudah cukup dewasa." Ujar Calista sambil menarik nafas dalam.
Calista tidak tega mengatakan kepada pangeran Fatih kalau mereka akan pulang kampung dan menetap di Indonesia untuk selamanya.
"Maafkan aku pangeran Fatih!" Aku tidak bisa mengatakan kalau sebentar lagi kita akan berpisah. Aku tidak mau, perasaanmu terpengaruh dengan kepulanganku.
Perpisahan memang sangat menyakitkan, apa lagi berpisah dengan orang yang kita sayangi. Kamu harus sukses Tuan, untuk memimpin sebuah negara butuh pemimpin yang cerdas, sepertimu." Batin Calista.
"Calista, aku dengar, keluargamu selalu mengadakan liburan keluar kota, terus membangun kemah dan membuat api unggun?" Tapi selama kita dekat aku tidak melihat kegiatan itu?"
__ADS_1
"Apakah pangeran lupa, kalau ibuku kemarin sedang hamil terus melahirkan dan keempat adikku sekarang masih bayi, tidak mungkin kami melakukan perjalanan liburan keluar kota. Paling kami akan mengadakannya di halaman belakang rumah."
"Kalau begitu, apakah aku boleh ikut nanti camping di rumahmu?"
"Nanti aku tanyakan ayahku dulu?"
"Semoga beliau mengijinkan aku turut serta."
"Hmm."
Sementara itu, di kampus, Camilla sedang berkutat dengan banyak buku di perpustakaan untuk menyusun tesis dengan laptop miliknya dan terlihat sedang serius.
Davin yang sedang memperhatikan Camilla hanya bisa duduk di depan gadis itu dan ikut membaca buku miliknya, padahal ia sendiri sudah bosan berada di perpustakaan.
"Camilla!"
"Hmm!"
"Apakah kamu tidak tidak ingin istirahat?"
Camilla melirik jam tangannya, lalu kembali menatap laptopnya.
"Kak Davin kalau mau rehat, silahkan duluan saja karena aku masih sibuk." Ucap Camilla tanpa melihat ke arah Davin.
"Dasar anak kecil!" Apakah dia tidak tahu sedari tadi, aku menunggumu bodoh!" Umpat Davin menahan kesal.
"Apakah perlu bantuan?" Agar tesis mu aku yang mengetik nya."
"Tidak perlu, kak Davin!" Karena bahasa dalam penyampaian tesis ku akan berubah dengan cara berpikir mu. Ini hasil pemikiran ku, dan aku butuh buku ini sebagai catatan kaki lebih banyak agar tesis milikku tidak dapat terbantahkan oleh dosen penguji karena banyak sekali buku referensi yang menguatkan penelitian ku.
"Oh, jadi jika diperbanyak catatan kaki, skripsi, tesis maupun disertasi kita akan sulit ditolak oleh dosen penguji?" Tanya Davin yang belum paham.
"Iya kak Davin!" Itulah sebabnya aku dan tiga saudaraku mendapatkan nilai Cumlaude. Karena penelitian kami bisa dibuktikan secara empiris, berdasarkan setiap buku ilmu pengetahuan yang menjadi dasar referensi yang menguatkan hasil penelitian kami, baik itu metode penelitian kualitatif maupun kuantitatif, tergantung metode apa yang akan kita pilih untuk menyusun skripsi, tesis maupun disertasi sesuai jenjang pendidikan yang akan kita raih.
"Sekarang metode apa yang kamu gunakan Camilla?"
"Dari awal aku menggunakan metode kualitatif, karena lebih banyak menggunakan bahasa yang muncul dari nalar kita sendiri."
"Apakah setelah ini kamu akan kuliah lagi untuk S3?"
Degggg...!"
"Ya Allah!" Apakah aku harus memberitahu kak Davin, kalau keluargaku akan kembali lagi ke Indonesia?" Kata mama, nggak ada yang boleh mengetahui kami akan pindah ke Indonesia."Batin Camilla.
Camilla menarik nafasnya berat.
"Sepertinya tidak!" Aku mau rehat dulu dan bekerja."
"Dengan usiamu semuda ini?"
"Kenapa tidak?" Bukankah dunia kerja membutuhkan skill ku?" Bukan melihat tubuhku. Jika kehadiranku lebih berguna untuk suatu perusahaan atau institusi, kenapa mereka menolakku karena tubuhku masih kecil." Jelas Camilla santai.
"Berarti aku juga boleh dong melamar kamu kepada ayahmu sekarang dan nikahnya setelah kita dewasa?"
"Apaaa...???" Suara Camilla begitu keras hingga semua mata yang ada di perpustakaan itu menatapnya nyalang.
"Sssstttt!" Pelan kan suaramu, Camilla!"
__ADS_1