
Reza dan Andien memutuskan untuk makan malam di luar. Andien tampak cantik malam itu saat sudah siap berangkat ke restoran yang di tuju. Reza yang sedang menunggu di ruang tamu, masih sibuk dengan ponselnya, sehingga kehadiran Andien yang sudah berdiri di depannya tidak menganggunya sama sekali.
"Mas Reza!" Apakah jadi makan malamnya?" Tanya Andien dengan sedikit membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangannya bertautan di belakang punggungnya sambil berkata setengah berbisik.
Reza pun tersentak lalu mendongakkan wajahnya perlahan menatap istrinya dari ujung kaki hingga ujung rambutnya sang istri lalu mengunci tatapannya pada wajah sempurna sang istri.
"Sayang!" Kenapa hanya mau makan malam saja secantik ini?" Tanya Reza yang tidak tahan melihat wajah bening itu, seakan menahan langkahnya untuk tidak usah keluar rumah malam ini.
"Aku lapar sayang!" Ketus Andien lalu berjalan sendiri menuju pintu keluar.
"I....iya sayang, tunggu!" Kita makan di luar." Reza mengambil Coat coklat milik Andien dan membalut tubuh cantik itu agar tidak menjadi pusat perhatian pengunjung restoran.
Dalam beberapa menit ke depan, restoran mewah yang merupakan langganan Andien sudah menunggu mereka dengan menu yang sudah dipesan Andien terlebih dahulu. Keduanya menikmati hidangan mereka sambil merencanakan kapan mereka bisa menyusul anak-anak untuk puasa bersama di Jakarta.
Tampilan Andien saat makan malam T
...****************...
Hari pertama puasa Ramadhan.
Malam pertama Ramadhan, keempat anak Reza ini sudah siap berangkat ke mesjid terdekat untuk menunaikan shalat tarawih bersama kakek dan nenek mereka.
Karena ini malam pertama tarawih, anak-anak hanya tercengang melihat banyak sekali orang yang berbondong-bondong berangkat ke mesjid dengan peralatan sholat mereka dengan wajah yang sudah bersuci dengan air wudhu.
"Kakek!" Apakah seperti ini suasana Ramadhan di Indonesia?" Tanya Fariz begitu kagum dengan umat Islam yang ada di komplek perumahan kakeknya keluar dari rumah mereka menuju mesjid.
__ADS_1
"Iya sayang!" Indonesia adalah penduduk Islam terbanyak di dunia, jadi tidak heran mereka sangat antusias jika datangnya bulan Ramadhan dengan menghadiri mesjid-mesjid untuk menunaikan ibadah ramadhan. Walaupun lambat laun mesjid akan berkurang jamaahnya karena banyak yang sibuk lagi mengejar dunianya.
"Kenapa bisa begitu kakek?"
"Ada yang sibuk mempersiapkan lebaran dengan beli baju lebaran, memikirkan kue apa saja yang akan disiapkan untuk lebaran dan lebih umumnya lagi acara rutin pulang kampung untuk menemui sanak saudara mereka untuk merayakan lebaran bersama setelah mencari nafkah selama setahun penuh." Ucap tuan Handoyo pada kedua cucunya saat mereka sudah menunaikan ibadah tarawih.
"Wah keren!" Al tidak sabar ingin pulang kampung juga supaya bisa lebaran bersama keluarga mama di kampung. Apakah kakek dan nenek mau ikut?"
Deggg....
Tuan Handoyo merasa sangat sedih dengan kejadian masalalu di mana dirinya tega membuat ayahnya Andien meninggal dunia karena dosa lisannya.
"Kita lihat saja nanti sayang, karena kakek juga belum tentu kuat saat menempuh perjalanan yang cukup berat karena kemacetan di sepanjang jalan menuju setiap kampung yang ada di pulau Jawa ini dengan arah yang berbeda." Tuan Handoyo berdalih.
"Yah!" Padahal Fariz dan Al akan melakukan khitan di rumah Oma. Yah sudah, tidak apa ko, kakek dan nenek tidak ikut juga tidak masalah." Ucap Al terlihat sedih.
"Waalaikumuslam!" Ucap ketiga lelaki ini serentak.
Calista menghampiri kakeknya lalu duduk bersimpuh di bawah kaki kakeknya seraya mengambil tangan kakeknya dan mencium punggung tangan itu penuh takzim.
"Kakek maafkan Calista pernah membuat kakek kecewa atau sakit hati. Karena mama dan ayah tidak ada di sini, Calista mewakili mereka untuk minta maaf kepada kakek, jika kedua orangtua kami pernah menghancurkan impian kakek." Ucap Calista sambil menatap raut wajah tua itu dengan linangan air mata penyesalan.
"Sayang!" Apa yang kamu lakukan Calista?" Justru kakek dan nenek lah yang harus minta maaf kepada kalian." Ucap kakek yang terasa sentimentil saat ini.
"Terlepas itu kesalahan siapa yang salah, Calista mohon maaf kepada kakek sebagai gadis muda yang merupakan keturunan kakek.
Kini ketiga saudaranya ikut melakukan ritual yang sama seperti Calista untuk meminta maaf kepada sesama sebelum memasuki Ramadhan pertama.
__ADS_1
Kini giliran Calista beralih pada neneknya yang duduk di sebelah kakek dengan linangan air mata menunggu gilirannya untuk disalim keempat cucunya.
"Nenek!" Maafkan Calista dan terimakasih sudah melahirkan putra hebat seperti ayah untuk kami. Tolong maafkan ayah jika selama hidupnya kurang berbakti pada nenek dan pernah membuat nenek malu dan kecewa." Ucapan Calista makin membuat kedua orangtua ayahnya, merasa makin sesak dengan kalimat yang sangat menyentuh hingga ke dalam jiwa raga mereka.
Nenek Susan memeluk cucunya yang paling istimewa ini.
"Calista, andai saja Allah mengembalikan waktu, mungkin nenek akan menunggu kehadiran kalian saat pertama kali hadir di dunia ini." Ucap nenek Susan penuh haru.
"Tidak usah kuatir nenek, masih ada kesempatan kedatangan cucu kembar berikutnya dari mama dan Tante Rania yang saat ini sedang otw untuk hadir di rahim mereka." Ucap Calista mencairkan lagi suasana yang hampir membuat mereka larut dalam kesedihan.
Semuanya terkekeh lalu duduk di hadapan kakek dan nenek mereka.
"Fariz!" Apakah mama juga menerapkan ritual minta maaf sebelum masuk ramadhan?" Tanya tuan Handoyo.
"Iya kakek!" Ketika usia kami tiga tahun, kami sudah diajarkan oleh mama seperti itu walaupun kami belum menjalani ibadah puasa tapi, nilai-nilai pembentukan akhlak yang baik sudah mama tanamkan pada kami. " Jawab Fariz.
"Kata mama, Setiap orang memiliki dosa di masa lalunya, tapi Allah selalu memberikan kesempatan kepada hambaNya untuk memperbaiki dirinya setiap saat dengan banyak melakukan ibadah untuk bertaubat salah satunya adalah menunaikan ibadah puasa ramadhan sebaik mungkin agar dosa di masa lalunya diampuni oleh Allah hingga datang hari kemenangan, walaupun suatu saat nanti hambaNya yang beriman itu akan kembali jatuh tergelincir dengan mengulangi dosa yang sama, tapi tetaplah bertobat lagi sebelum datangnya ajal.
Jika nyawanya sudah di ujung lehernya, kesempatan bertobat itu tidak ada manfaatnya lagi." Ucap Camilla.
Jadi selagi sehat, kuat dan masih memiliki kelapangan rejeki dan sehat akalnya, maka teruslah bertobat, insya Allah Rahmat Allah lebih besar dari MurkaNya.
Jangan pernah putus asa dengan tobat kalian, karena dosa yang paling besar yang tidak bisa diampuni oleh Allah adalah orang yang putus asa atas rahmat-Nya salah satunya orang yang mau mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri." Timpal Calista.
Nyonya Susan dan tuan Handoyo, sekarang menjadi murid dari keempat cucunya sendiri yang sedang memberikan tauziah kepada mereka saat ini.
"Masya Allah!" Andien!" Mami makin merindukan kamu nak, cepatlah pulang sayang, kami menantikan mu. Kamu adalah seorang ibu yang hebat melebihi kami dari orangtuanya suamimu, yang mendidik keempat anakmu tanpa kehadiran seorang ayah yang saat itu mereka tumbuh dan butuh sosok ayah yang telah menelantarkan mereka." Ucap nenek Susan dalam bahasa Jawa agar Calista tidak mengerti apa yang dia sampaikan.
__ADS_1
"Kakek, nenek, ayo kita tadarus bersama malam pertama ini." Ajak Calista.