
Camilla mengangguk menjawab pertanyaan Davin.
"Ia kemudian pamit dan mengucapkan terimakasih kepada davin yang sudah mentraktirnya hari ini.
"Terimakasih ya kak sudah mentraktir aku." Camilla lalu berjalan menuju kelas Calista.
"Hei tunggu Camilla!" Panggil Davin yang ingin meminta kontak gadis kecil itu.
"Sial!" Padahal aku ingin bicara banyak dengannya. Gadis itu membuatku penasaran."
Tidak lama ponsel milik Camilla yang saat ini dipegang Davin berdering.
Nama di kontak itu adalah Calista.
"Calista?" Perasaan aku tidak menyimpan nomor kontak ini dengan nama Calista.
"Hallo!" Camilla kami bertiga sudah selesai sidang skripsinya, apakah kamu masih lama?" Tanya Calista membuat Davin baru paham ponselnya tertukar dengan gadis kecil itu.
Ia pun tersenyum." Rejeki tidak akan ke mana, sekarang aku bisa memasukkan nomorku ke ponsel gadis ini." Senyumnya mengembang sempurna.
"Maaf dek!" Kamu saudaranya Camilla?"
"Iya ini siapa?"
"Aku temannya Camilla, ponsel kami tertukar saat jatuh tadi." Ucap Davin.
"Kalau begitu tolong hubungi Camilla kalau saudaranya sudah menunggu di depan taman, tempat kami biasa bertemu." Ucap Calista lalu menutup ponselnya tanpa memberi kesempatan Davin untuk bertanya.
Davin membuka galery photo milik Camilla dan ia melihat foto Camilla dengan keluarganya dan juga saudaranya.
"Apakah mereka kembar empat?" Batin Davin, lalu menghubungi nomor ponselnya yang sedang di pegang oleh Camilla.
Camilla melihat ponsel itu yang bukan miliknya sendiri.
"Astaga!" Jangan-jangan ponselku tertukar dengan kakak tadi.
"Hallo kak Davin!"
"Hallo!"
"Dek ponsel kita ketukar. Aku akan menghampirimu, kamu di mana sekarang?"
"Aku mau ke taman."
"Tunggu disitu!" Biar aku yang menghampirimu."
"Baik. Camilla tunggu ya kak."
"Camilla!" Kamu ke mana saja?" Ponselmu tertukar dengan temanmu." Ucap Calista.
"Iya. Aku sedang menunggunya di sini, dia yang akan mengantarkan ponselku.
Davin berlari menghampiri kembar empat yang menunggunya. Ia menatap takjub melihat wajah keempatnya sama persis.
"Camilla!" Ini ponselmu." Keduanya bertukaran ponsel.
"Untunglah masih di kampus jadi bisa dikembalikan dengan cepat." Ucap Camilla.
Ketiga saudara kembarnya Camilla hanya menatap wajah tampan Davin begitu pula Davin kepada keempatnya.
"Apakah kalian kembar?"
Ketiganya mengangguk kompak.
__ADS_1
"Kak Davin!" Kenalkan ini Calista, Fariz dan Al.
"Davin!" Keempatnya saling berjabat tangan sambil menyebutkan nama mereka masing-masing.
"Kalian semuanya kuliah di sini, di usianya yang masih sangat muda?" Hebat!" Senang berkenalan dengan kalian." Ucap Davin kagum dengan keempat bocah yang ada dihadapannya.
"Terimakasih kak Davin!" Kami pulang dulu ya." Camilla melambaikan tangannya.
Mobil Reza sudah menunggu keempat anaknya.
"Bagaimana dengan sidang kalian?"
"Alhamdulillah. Lancar ayah!" Dan nilai kami semuanya Cumlaude ayah." Ucap Calista.
"Wah, hebat anak-anak ayah!" Selamat ya sayang. Kita harus merayakan keberhasilan kalian." Ucap Reza.
"Alhamdulillah." Sekarang kita jemput mama ya!" Mobil itu menuju ke kantor Andien.
Sementara di kantor, Andien sedang ngobrol dengan tuan Edgar.
"Nona Andien!" Apakah Calista sudah menyelesaikan kuliahnya?"
"Sudah Tuan!" Hari ini mereka berempat mengikuti sidang skripsinya.
"Nona Andien!" Aku mau minta tolong. Aku sudah merekomendasikan Calista pada salah satu petinggi Maroko untuk mengajari pangeran negara itu, apakah boleh?"
"Kenapa harus Calista tuan?"
"Karena Calista yang bisa membungkam pangeran yang sangat so tahu itu."
"Apakah pangeran mau diajarkan oleh putriku Calista?"
"Kita coba mempertemukan keduanya setelah itu kita lihat hasilnya. Jika dalam satu bulan Calista menyerah, kita bisa hentikan belajar mengajarnya." Ucap tuan Edgar.
"Tidak apa, tergantung Calista saja. Terimakasih sebelumnya nona Andien.
"Dengan senang hati, Tuan!" Kalau begitu saya pamit pulang dulu.
Andien melangkah keluar dari lobi kantor dan melihat suaminya sudah berdiri di depan pintu lobby.
"Apakah mas sudah menjemput anak-anak?" Andien mencium punggung tangan suaminya lalu mengecup bibir Reza.
"Mereka menunggumu di mobil.
Kita langsung ke restoran saja untuk merayakan keberhasilan anak-anak. Hari ini mereka mendapatkan nilai Cumlaude."
"Benarkah?" Andien terlihat berbinar dan berjalan lebih cepat ke arah parkir.
"Hati-hati sayang!" Reza menggenggam tangan Andien dengan erat.
"Mama!" Keempatnya memeluk mamanya lalu mencium pipi ibu mereka lembut.
"Kita menuju restoran ok!" Reza menambah kecepatan mobilnya mencari restoran halal yang menjadi favorit mereka.
Andien mulai menyampaikan pesan dari tuan Edgar pada putrinya Calista saat sudah berada di restoran.
"Calista!" Tuan Edgar memintamu untuk mengajar pangeran Maroko apakah kamu mau sayang?"
"Apa?" Kenapa harus Calista mama?" Banyak guru hebat yang bisa mengajar pangeran.
"Tuan Edgar yakin kalau hanya kamu yang bisa mengajar pangeran itu karena yang lain tidak sanggup menghadapi pangeran itu. Tapi kalau kamu tidak siap tidak apa sayang."
Calista terlihat tercenung lalu menerima tantangan itu.
__ADS_1
"Aku siap mama. Kapan aku bisa bertemu dengannya?"
"Dua hari lagi karena harus dipersiapkan semuanya oleh pihak kerajaan."
"Apakah mereka menetap di sini?"
"Hanya pangerannya saja yang sedang dipersiapkan oleh kerajaan untuk bisa masuk ke universitas yang sama dengan kalian."
"Ok baiklah."
Pesanan mereka datang dan keluarga itu seketika diam dan menikmati makanan mereka.
...----------------...
Sesuai dengan hari yang dijanjikan Andien mengantarkan putrinya menuju kediaman pangeran.
"Sayang!" Apakah kamu sudah siap?" Tanya Andien sambil melirik Calista yang terlihat tenang membaca bukunya.
"Insya Allah mama!"
Setelah melewati beberapa pemeriksaan Andien meninggalkan putrinya sendirian menuju kamar pangeran yang diantar oleh kepala pelayan.
Ia pun kembali lagi ke mansion dan berdoa kepada Allah agar putrinya baik-baik saja di istana itu ketika berhadapan dengan pangeran.
"Silahkan ikuti saya nona!"
Calista mengangguk sambil berjalan lurus ke depan dengan terus bezdikir agar Allah memberinya kekuatan saat bicara dengan pangeran itu.
Calista diminta menunggu dan kepala pelayan memberitahukan kedatangan Calista pada pangeran sebagai guru privatnya.
"Tuan!" Guru anda sudah disini!" Ucap pengawalnya pangeran Fatih Al-Biru.
"Suruh dia masuk!" Titah pangeran Fatih.
Pangeran itu menyeringai sambil memikirkan sesuatu untuk mengerjai guru barunya.
"Aku mau lihat, apakah kali ini guru itu betah menghadapi aku?" Ucap pangeran yang berusia lima belas tahun ini dengan congkak.
Calista masuk sambil menundukkan pandangannya.
"Assalamualaikum pangeran!"
Betapa terkejutnya pangeran Fatih saat melihat gurunya masih kecil dan seorang wanita. Rupanya ia tidak diberitahukan identitas gurunya oleh ayahnya untuk memberikan sok terapi pada putranya yang susah di atur.
"Kau..?" Tubuhmu sekecil itu mau mengajar aku? Apakah nggak salah ayahku mengirimmu mengajar ku atau aku yang salah paham?" Tanya pangeran terlihat syok.
"Tubuhku memang kecil Tuan!" Tapi otakku lebih besar daripada tubuhku." Ucap Calista cuek.
"Tidak...tidak..!"Ini hanya lelucon untukku."
"Namaku Calista dan aku baru menyelesaikan kuliah sarjana strata satu dengan dua jurusan yaitu ahli forensik dan akan menjadi seorang pengacara.
Aku juga mengusai ilmu lainnya, entah apapun yang ingin anda tanyakan kepadaku." Ucap Calista dengan cepat sambil menatap ke tempat lain untuk menghindari kontak mata dengan pangeran secara langsung.
Pangeran itu langsung tercengang mendengar prestasi gadis kecil yang ada dihadapannya ini.
"Hahh?" Sekecil ini kamu sudah sarjana dan mengusai ilmu lainnya?" Tanya pangeran yang nampak tertegun sambil menelan salivanya dengan gugup menghadapi pesona yang sangat kuat dari aura yang dimiliki Calista.
"Katanya anda sulit diatur dan keras kepala hingga membuat orangtuamu cukup pusing mengendalikan dirimu, apakah kamu pantas menyandang status pangeran yang kurang beradab itu?"
Bagaimana kamu bisa menjadi panutan untuk negerimu yang berjumlah 36, 91 juta jiwa saat ini, dengan sikapmu seperti preman jalanan?" Sindir Calista makin membuat pangeran itu keki didepan gadis ini.
"Kau...!"
__ADS_1