PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
52. Perdebatan Sengit


__ADS_3

Reza melakukan panggilan dengan saudara kembar Andien yaitu, Adam. Pria tampan yang merupakan paman dari keempat anak Andien nampak bingung melihat nomor kontak yang tidak ia kenal, namun ia tetap menerimanya.


"Hallo!" Sapa Adam disertai dengan salam.


"Hallo!" Reza menjawab salam itu dengan cepat.


"Maaf apakah saya sedang berbicara dengan Adam Rendra?"


"Benar!" Saya sendiri. Ini siapa?"


"Saya Reza!"


Degggg ...


Adam tercengang mendengar nama yang paling ia benci.


"Mau apa kamu?" Tanya Adam sinis.


"Aku mohon!" Tolong dengarkan aku dulu Adam karena ini menyangkut hidup mati Andien." Ujar Reza buru-buru.


"Apaa?" Apa maksudmu bicara seperti itu?"


"Keadaan Andien sangat kritis saat ini. Penyakit leukemia yang di deritanya saat ini sedang menggerogoti tubuhnya hingga imunnya makin melemah.


Ia harus mendapatkan pencangkokan sumsum tulang belakang dari keluarga yang sedarah dengannya dalam waktu dekat ini, jika tidak, nyawa Andien tidak bisa tertolong.


Aku hanya menyampaikan pesan dari dokter yang saat ini sedang menangani kasus penyakit yang diidap oleh Andien." Ucap Reza dengan nafas terengah-engah saking gugupnya bercampur sedih menghadapi calon adik iparnya.


"Sudah separah ini, kamu baru memberi tahu kami?" Beginikah caramu mendapatkan tempat di hati saudaraku?" Kamu kira kamu pantas untuk mendapatkan kembali Andien setelah sekian lama kamu terlantarkan dia demi ambisimu menjadi pengusaha sukses.


"Apakah kamu bisa membeli kebahagiaan Andien?" Hardik Adam terdengar murka di telinga Reza yang segera menjauhkan ponselnya dari pendengarannya.


"Maafkan saya!" Ini semua atas permintaan Andien, mengingat ibu sedang menderita sakit jantung." Jelas Reza.


"Jika terjadi sesuatu pada Andien, bukankah itu lebih membuat ibuku juga syok?" Balas Adam.


"Tolonglah Adam!" Kamu bisa memukul aku jika sudah tiba di Bogota, tapi saat ini, nyawa Andien lebih penting dari pada kemarahanmu padaku." Ucap Reza yang makin tambah setress menghadapi Adam.


"Ternyata saudara kembar ini sama saja ketusnya." Geram Reza membatin.


"Baiklah!" Hari ini kami akan berangkat. Siapkan tubuhmu, akan aku jadikan samsat. Assalamualaikum!" Ancam Adam lalu mematikan ponselnya secara sepihak.


Reza menggaruk kepalanya yang tak gatal lalu menghampiri lagi keempat anaknya yang sedang berzikir.


"Ayah!" Apakah paman-paman tampan kami akan datang?" Tanya Camilla dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Oh ya!" Apakah hanya dua paman kalian itu yang paling tampan?" Tanya Reza pura-pura ngambek.


"Tentu saja ayah yang tertampan sedunia." Senyum hambar anak-anaknya terlihat jelas dipaksakan depan Reza.


Reza menarik nafasnya dengan lembut." Insya Allah, keluarga mama akan berangkat hari ini." Mohon doanya agar mereka selamat sampai bertemu dengan kita." Ucap Reza yang berlutut di bawah kaki anak-anaknya.


"Calista tidak bisa membayangkan, jika tidak ada ayah d samping kita, bagaimana kita bisa mengatasi sakitnya mama?"


Tubuh kita sekecil ini tidak bisa mengendong mama hanya sekedar mengantarnya ke mobil. " Ucap Calista sedih.


"Sayang!" Di mansion mama banyak pelayan, bukankah mereka bisa membantu mama?" Tanya Reza.


"Apakah ayah rela mama digendong oleh lelaki lain yang bukan muhrimnya?" Timpal Camilla.


"Tentu saja tidak rela sayang. Tapi ayah juga bukan muhrimnya mama." Sahut Reza.


"Tapi sudah menjadi calon ayah kami kelak, yang akan menikahi mama." Balas Fariz.


"Ya Allah!" Anak-anak ayah sangat kritis menanggapi perkataan orang dewasa." Ucap Reza sambil mengacak rambut Fariz.


"Kami terjebak menjadi lebih dewasa karena tidak ada ayah di samping kami, saat kami butuh tangan ayah untuk memberikan kasih sayang dalam setiap pertumbuhan kami." Timpal Al sinis.


Reza terpaku mendengar kata-kata menohok dari sang putra.


Dokter keluar dari ruangan lalu mengabarkan kepada Reza bahwa saat ini Andien dikembalikan ke kamar ICU.


"Saat ini, keluarganya sedang melakukan perjalanan menuju Bogota, mungkin besok pagi pesawat mereka akan tiba karena perbedaan waktu antara Indonesia Colombia sekitar 12 jam. Kalau begitu, kami boleh melihat Andien sebentar saja dok? agar anak-anak tidak terlalu sedih memikirkan mama mereka." Pinta Reza pada dokter Remon.


"Silahkan Tuan!" Tapi jangan terlalu lama." Ucap dokter Remon.


Reza dan keempat anaknya hanya mengecup kening dan pipi Andien lalu pamit pulang.


"Mama!" Cepat sembuh!" Bisik mereka.


"Ingat Andien!" Cintaku begitu besar melebihi rasa kebencian mu padaku, jadi jangan pernah berpikir untuk meninggalkan anak-anak kepadaku karena aku tidak sanggup mengurus mereka tanpa dirimu. Kami menunggumu, sayang. Jangan terlalu lama mengembara di alam lain karena tempat ada di hatiku bersama anak-anak kita.


Semangat wanita hebat!" Aku makin kagum padamu. I love honey!" Puji Reza lalu mengecup kening Andien sambil menangis.


Reza membawa pulang anak-anaknya untuk beristirahat, namun Fariz mengingatkan ayahnya untuk sholat dan makan siang terlebih dahulu sebelum tidur siang.


Semuanya sepakat melakukannya hingga selesai dan berangkat tidur bersama di kamar tamu yang sudah disiapkan oleh pelayan untuk Reza.


**********


Kedatangan keluarga Andien di kediamannya membuat Reza sangat gugup. Ia meminta anak-anak untuk menyambut keluarga Andien.

__ADS_1


"Itu paman dan Oma sudah datang!" Kalian tidak menyambut mereka?" Tanya Reza yang melihat anak-anaknya kurang semangat menyambut tamu dari ibu mereka.


"Assalamualaikum ibu!" Reza menyalami ibu kekasihnya, namun tangannya langsung ditepis dengan kasar oleh nyonya Yuni.


"Oh, rupanya kamu sedang menjadi baby sitter sekarang." Ledek Adam.


"Adam jaga sikapmu!" di hadapan anak-anak." Pinta Agam.


"Bajingan ini harus di beri pelajaran!"


Bukkkk....


Sebuah bogem mentah mendarat di pipi Reza.


"Ayahhhh....!" Pekik anak-anak melihat tubuh ayah mereka jatuh terjerembab di lantai.


"Sini kau lelaki kurangajar!" Dulu kau campakkan Andien dan sekarang kamu hadir menjadi so pahlawan di hadapan Andien dan anak-anaknya!"


Bukkk..!"


Darah nampak mengalir antar sudut bibir dan hidung Reza.


"Paman sudah!!" Jangan sakiti ayah!" pinta Al dan Faris menghampiri ayah mereka yang sudah babak-belur di hajar Adam.


"Adam kendalikan dirimu!" Mbak Andien saat ini sedang sakit!" Ucap Agam mengingatkan saudara kembarnya yang sudah kesetanan.


"Paman Adam!" Jangan pukul ayah kami lagi!" Jangan sampai aku ikut membencimu, sebenci kamu pada ayahku." Ucap Camilla dengan mata mendelik tajam menatap wajah Adam.


"Camilla!" Untuk apa kamu membelanya karena ayahmu ini....!"


Plaakkkk!" Tamparan keras dilayangkan ke pipi Adam oleh Agam karena takut membuat keponakannya syok jika masalalu orangtua mereka diumbar di hadapan keponakannya.


"Diammm!" Apakah kamu tidak punya otak?" Hardik Agam sarkastik.


"Keluar kau dari rumah putriku, kau hanya lelaki pembawa sial!" Usir nyonya Susan.


"Tidakkkk!" Jangan usir ayah!" Calista tidak peduli ayah jahat pada mama, Calista butuh ayah, Calista sudah lelah mencari keberadaan ayah selama dua tahun.


Tolong jangan usir ayah!" Ayahhh..!" Jangan pergi!" Jangan tinggalkan kami!!" Teriak Calista dengan nada pilu membuat bulu kuduk para pelayan merinding mendengar jeritan tangis Calista menyayat hati mereka.


Ketiganya ikut menangis saat nyonya Susan meminta satpam untuk menyeret tubuh ayah mereka keluar dari rumah Andien.


🔥🔥🔥🔥🔥🔥


"Apakah Reza benar-benar pergi?" Apakah Calista bisa tenang setelah di peluk oleh pamannya Agam?" Bagaimana dengan operasi pencangkokan sumsum tulang belakang untuknya?" Berhasilkah?"

__ADS_1


Di tunggu komentarnya say!"


__ADS_2