PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
92. Tangisan Perpisahan


__ADS_3

Setelah masa liburan dan cuti kerja usai, Reza memboyong lagi keluarganya kembali ke Bogota Kolombia.


Keluarga besar yang masih berkumpul di kediaman Tuan Handoyo pasca pernikahan ketiga pasangan pengantin yaitu Adam, Agam dan Ratih dengan pasangan mereka masing-masing.


Andien dan keempat anaknya harus meninggalkan lagi keluarga itu, setelah sekian lama bersama. Hampir dua bulan mereka berada di Indonesia dengan menoreh kisah suka dan duka sebagai bagian dari sejarah hidup mereka.


Ratih tidak kuat mengendalikan perasaan sedihnya melihat keempat keponakannya harus berpisah dengan mereka.


Iapun memilih menghindar dari kerumunan keluarganya yang mencium keempat keponakannya itu satu persatu.


Suaminya Rendy memeluknya dari belakang dan ikut merasakan kehilangan yang saat ini dirasakan oleh istrinya.


"Apakah kamu sangat takut akan kehilangan, sayang?"


"Siapa yang gembira menghadapi setiap perpisahan. Apa lagi aku yang belum sempat bercanda ria dengan keempatnya." Ujar Ratih sambil terisak.


"Apakah kamu mau kita berangkat dengan mereka ke sana, sekalian bulan madu?" Tawar Rendy.


"Awalnya aku berniat seperti itu, tapi mengingat paspor milikku belum sempat diperpanjang." Keluh Ratih makin sedih.


"Berarti kita masih punya kesempatan untuk menyusul mereka ke sana. Apakah kamu lupa aku masih asisten pribadinya mas mu Reza?" Aku harus mendampinginya bekerja di manapun dia berada.


Ratih tersenyum saat mendengar perkataan suaminya. Ia lalu berbalik menghadap ke arah suaminya.


"Benar juga, kenapa aku tidak memikirkan itu. Terimakasih mas Rendy!" Keduanya berpelukan mesra di taman itu.


"Ya Allah, Tante Ratih!" Bisa-bisanya pacaran disini, padahal dari tadi Calista mencari Tante." Omel Calista membuat pasangan pengantin baru ini cekikikan.


"Maafkan Tante sayang! sudah menyusahkan mu mencari Tante. Tante juga minta maaf karena selama kalian berlibur di Indonesia, perlakuan Tante kepada kalian tidak menyenangkan.


Tante Ratih sangat menyesali pada hari yang telah berlalu tanpa memberikan kesan manis untuk liburan kalian. Maafkan Tante Calista!" Ucap Ratih dengan suara parau.


"Tante Ratih sudah menebus setiap penyesalan dihati Tante, dengan mempertaruhkan nyawanya Tante demi menyelamatkan aku.


Jika aku tidak memiliki Tante Ratih ku yang sangat pemberani ini, mungkin aku tidak akan pernah bisa melihat Tante Ratih merasakan lagi kebahagiaan dengan om Rendy.

__ADS_1


Om Rendy sangat baik Tante, jika dengan ayahku saja, beliau bisa sangat setia dengan pekerjaannya, apa lagi menjaga hatinya untuk Tante seorang.


Tante Ratih pantas bahagia karena memiliki hati yang tulus tanpa orang lain menyadarinya dibalik wajah sinis ini ada cinta yang sangat besar yang dimiliki Tante untuk orang-orang terkasihnya." Puji Calista sambil mengusap air matanya Ratih lalu mengecup pipi Tantenya dengan lembut.


Terimakasih Tante Ratih!" Maafkan Calista!" I love you Aunt Ratih. We will definitely miss Aunt Ratih and all the family.


Titip kakek dan nenek ya Tante. Mengabdi lah kepada mereka karena keduanya adalah ladang amal Tante Ratih dan Tante Rania untuk menggantikan ayahku selama menemani kami di luar negeri. Om Rendy jaga tanteku!" Jangan biarkan dia bersedih lagi."


Keduanya berpelukan. Ratih dan Rendy mengantar Calista ke mobil yang sudah menunggunya.


Keluarga besar itu melambaikan tangan mereka kepada keluarga kecil Reza.


"Nanti jangan lupa telepon Oma!" Pinta nyonya Yuni.


"Jaga kesehatan Oma!" Ucap Fariz yang duduk di depan dengan ayahnya.


Mobil mewah itu sudah meluncur menuju bandara di mana pesawat jet pribadi milik mereka sedang menunggu.


Sementara di mansion tuan Handoyo, satu persatu keluarga saling mengucapkan perpisahan.


Adam harus menemani istrinya kembali ke Bali untuk mengurus surat pengunduran dirinya untuk ikut bekerja di rumah sakit di mana Adam mengabdi di Solo, sementara nyonya Yuni bersama Agam putranya dan Rani menantunya kembali ke Solo.


Sekarang tinggal kedua putrinya Rania dan Ratih yang akan menemani mereka.


...----------------...


Di dalam pesawat wajah sedih masih bergelayut di wajah keluarga kecil Reza.


Andien memeluk kedua putranya yang tidak kuat menahan air mata mereka, begitu pula kedua putrinya Reza yang begitu enggan kembali ke Bogota.


Rupanya tanah air leluhur telah mengikat hati dan jiwa mereka. Mereka sangat mengagumi setiap pesona keragaman budaya yang mereka rasakan diantara keramahan masyarakatnya dan saling tolong menolong satu sama lain yang mereka temukan hanya di Indonesia.


Ditambah lagi kehangatan keluarga dari kedua belah pihak yang mereka rasakan sendiri saat kakek dan kedua nenek mereka selalu memanjakan mereka selama berada di sana.


Rasa dibutuhkan keluarga orangtuanya menjadikan mereka sebagai belahan jiwa dan pelipur lara bagi keluarga yang saat ini mereka tinggalkan.

__ADS_1


"Ayah!" Camilla kangen sama kakek dan nenek." Rengekan manja Camilla makin membuat keluarga itu sedih.


"Semoga kita bisa kembali lagi ke Indonesia secepatnya, setelah urusan birokrasi mutasi tempat kerja mama sudah selesai.


Lagipula tahun depan kalian akan wisuda meraih gelar sarjana kalian sesuai dengan jurusan kalian masing-masing." Ucap Reza menghibur buah hatinya.


"Tapi, bagaimana kami bisa bekerja dengan orang dewasa di Jakarta dengan tubuh kami sekecil ini?" Tanya Al yang sangat tertarik di dunia bisnis seperti ayahnya.


"Kalau kamu tidak akan sulit menemukan pekerjaan Al karena kamu bisa bekerja di perusahaannya ayah." Ujar Reza yang sangat senang putranya Al mengikuti jejaknya.


"Calista mau jadi ahli forensik ayah." Ucap Calista membuat saudaranya bergidik ngeri.


Tapi mereka juga tidak mau membully jurusan yang Calista ambil.


"Kalau Fariz ingin seperti mama."


Tinggal Camilla yang saat ini sedang menekuni ilmu astronomi yang akan bekerja di lembaga Pusat Sains atau planetarium.


"Indonesia butuh kalian yang akan membangun negara ini dengan keahlian yang kalian miliki." Imbuh Reza.


Andien hanya tersenyum mendengar perbincangan hangat antara suami dan keempat anaknya.


Sementara di mansion tuan Handoyo, Ratih dan Rendy mengulangi lagi permainan panas mereka berkali-kali hingga keduanya menyerah setelah tubuh mereka tidak lagi diajak kompromi dengan gejolak birahi yang masih membakar jiwa mereka.


"Aku lelah mas Rendy!" Ujar Ratih dengan wajah memerah karena suhu tubuhnya mengeluarkan peluh yang sudah membasahi seluruh tubuh.


"Iya sayang! kita istirahat dulu." Ucap Rendy dalam keadaan tubuh telentang sambil menarik nafas panjang untuk menetralkan kembali tenaganya yang terkuras.


Setelah mulai reda lelahnya. Rendy ingin menanyakan sesuatu kepada istrinya bagaimana gadis itu nekat menyelam di kedalaman laut lepas tanpa pengaman saat itu.


"Sayang!" Kenapa kamu berani sekali masuk ke dalam laut gelap itu tanpa memasang atribut penyelam?" Tanya Rendy penasaran.


"Apakah kamu tidak tahu kalau penjahat itu sengaja melempar Calista di selat Bali di mana setiap selat sering terjadi perputaran arus bawah laut yang mengerikan?"


Jika aku tidak cepat-cepat menyelamatkan Calista, maka arus bawah laut akan menyedot tubuh Calista dan membawanya lebih dalam lagi mengikuti gelombang bawah laut yang maha dahsyat." Ucap Ratih mengisahkan lagi kronologi penyelamatan Calista di hari naas itu.

__ADS_1


"Semoga pengorbananmu yang sangat tulus itu akan Allah berikan hadiah terindah dalam hidup kita dengan hadirnya junior kecil kita di dalam sini." Ucap Rendy lalu mengecup perut rata istrinya.


"Aaamiin!"


__ADS_2