PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
25. Kunjungan Profesor Brooklyn


__ADS_3

Seusai bertemu dengan mantan mahasiswanya Andien, nyonya Brooklyn menyesalkan perbuatan sahabatnya yang telah menelantarkan Andien dan keempat cucunya yang ternyata sangat jenius.


"Susan!" Andai saja kamu mengetahui bagaimana perkembangan cucumu yang kembar empat itu, maka kamu akan menyesal telah menolak keberadaan mereka.


Aku pun tidak ingin ikut campur atas apa yang kamu lakukan pada gadis malang itu yang sekarang sangat dibutuhkan negara ini karena kejeniusannya.


Lebih baik kamu tidak mengetahui kabar tentang mereka, karena itu adalah keinginanmu sendiri." Ucap Brooklyn sambil menatap foto wisudanya dulu bersama Susan, ibu dari Reza.


"Andien!" Sapa tuan Leonardo ketika Andien hendak masuk ke kantornya.


Andien berhenti sebentar, lalu menghampiri tuan Leo. " Ada apa tuan Leo?" Tanya Andien.


"Andien, apakah kita bisa bicara sebentar?"


"Baiklah!" Kalau begitu kita ngobrol di ruang kerjaku saja." Keduanya berjalan menuju ruang kerjanya Andien yang kini memiliki jabatan tinggi di perusahaan tersebut.


"Silahkan duduk Tuan Leo!"


"Tempat kerjamu sangat nyaman Andien, bahkan sekarang kamu sudah memiliki jabatan penting di perusahaan ini." Puji tuan Leo yang masih terobsesi pada Andien.


"Andien, apakah kamu masih menanti cintamu yang telah hilang?"


"Aku tahu anda masih mengharapkan aku untuk menjadi pendamping hidup anda tuan Leo, tapi aku tekankan bahwa aku tidak akan membuka hatiku untuk lelaki manapun." Ucap Andien dengan tegas.


"Apakah ini karena keyakinan kita berbeda, jadi kamu tidak mau hidup bersamaku?" Tanya tuan Leo.


"Walaupun kamu memeluk Islam, tetap saja aku sama sekali tidak mencintaimu tuan Leo. Aku sangat berterimakasih atas perhatian kamu untuk aku dan anak-anakku, tapi aku pun tidak akan menerima kamu sebagai ayah dari keempat anakku." Ucap Andien datar.


"Baiklah Andien!" Aku tidak akan pernah menikah sampai aku melihatmu menikah dengan ayah si kembar empat. Di saat dia tidak ingin menikahimu, aku akan memaksamu untuk menikah denganmu." Ucap tuan Leo.


Andien membalikkan badannya menghadap ke jendela karena dia tidak ingin melihat wajah tuan Leo setengah memelas.


"Aku harus bekerja, tolong tinggalkan ruanganku!" Ucap Andien tanpa membalikkan badannya.


"Selamat siang Andien!"


Tuan Leo kembali ke perusahaannya dengan perasaan kecewa." Jika kamu masih menolakku, aku akan menghamili dirimu agar kamu mau tidak mau menikah denganku, Andien!" Ucap tuan Leo yang sudah tidak sesabar dulu.


Andien kembali berkutat dengan pekerjaannya. Ia tidak begitu peduli dengan ucapan tuan Leo kepadanya karena apapun yang dikatakan tuan Leo, tidak menyentuhnya sama sekali.


Tidak lama telepon di mejanya berdering." Hallo nona Andien!"


"Hallo!"


"Ada yang ingin bertemu dengan anda." Ucap bagian resepsionis.

__ADS_1


"Kalau itu tuan Leo, bilang aku sedang sibuk!" Titah Andien.


"Bukan nona Andien, dia mengaku sebagai dosen anda, nyonya Brooklyn." Ucap petugas resepsionis itu.


"Oh my God!" Tolong antarkan bliau di ruanganku!" Titah Andien lalu merapikan dirinya sesaat sambil menunggu kedatangan dosennya itu.


Tok... tok...


Cek..lek.


"Selamat sore Andien!"


"Sore profesor!"


"Silahkan duduk!" Ucap Andien lalu meminta petugas OB untuk mengantarkan mereka minuman.


"Kenapa Profesor tidak menelepon aku saja?" Bukankah anda berjanji untuk menghubungi aku?" Tanya Andien.


"Tidak apa Andien!" Justru aku sangat senang bisa menyaksikan perusahaan hebat ini secara dekat." Ucap nyonya Brooklyn.


Keduanya bicara tentang tugas Andien di perusahaan itu. Andien pun menjelaskan secara garis besar tanpa membocorkan rahasia perusahaan.


"Oh iya, prof!" Bukankah anda ingin membahas putriku, Calista?" Tanya Andien langsung pada inti pembahasannya.


"Katakan saja nyonya Brooklyn!" Aku siap mendengarkannya, sekalipun itu pahit." Ucap Andien.


"Putrimu Calista menderita Autisme. Di mana Calista berada di zona aman walaupun dia menderita Autis, tapi dia diberikan kelebihan oleh Tuhan dengan kejeniusannya melebihi ketiga saudara kembarnya.


Banyak cara yang bisa dilakukan orangtua untuk memberikan dukungan dan pendampingan terhadap anak dengan kondisi autisme. Pemahaman yang tepat dan dukungan yang diberikan tentu orangtua dan anak dapat memiliki hidup yang lebih baik." Imbuh Profesor Brooklyn lebih lanjut.


"Ya Allah, kenapa aku baru menyadarinya?" Haruskah aku berkonsultasi hal ini dengan dokter nyonya Brooklyn?"


"Itu yang aku maksud, walaupun Calista tidak begitu kelihatan seperti anak yang menderita autis, tapi kalau di lihat lebih teliti prilakunya, gangguan autis ada pada dirinya. Jika mengetahui lebih dini, dengan berkonsultasi pada dokter ahli, mungkin bisa dilakukan dengan cara terapi. Gangguan autis biasanya dialami oleh anak-anak yang mengalami kesulitan dalam melakukan interaksi sosial. Tidak peka pada lingkungan dan tidak ingin dipeluk saat mereka tidak membutuhkan." Lanjut Profesor Brooklyn.


"Apakah putriku bisa sembuh dokter dengan cara terapi?" Tanya Andien sedikit cemas.


"Lakukan apa yang dibutuhkan oleh putrimu Calista dengan dokter pribadi yang direkomendasikan oleh rumah sakit terbaik." Ucap nyonya Brooklyn.


"Terimakasih atas informasinya Profesor Brooklyn, Insya Allah saya akan berkonsultasi dengan dokter terkait." Ucap Andien.


"Kalau begitu saya pamit dulu Andien, maaf sudah menyita waktumu."


Profesor Brooklyn mengakhiri pembicaraan mereka dan Andien hanya mengantar dosennya itu di depan pintu lift.


---------------

__ADS_1


Andien menemui anak-anaknya yang sedang belajar di kamar mereka. Semuanya terlihat serius dengan membaca buku kesukaan mereka masing-masing.


Andien tidak menerapkan kedisiplinan ilmu yang berlebihan pada usia mereka yang masih begitu dini untuk membaca buku yang berisikan ilmu pengetahuan yang bukan untuk usia mereka, namun anak-anaknya terlihat berbeda dengan anak-anak yang pada umumnya.


Andien mengetuk pintu yang terbuka itu.


Tok...tok..


Semua menatap Andien lalu menghampiri ibu mereka.


"Mamaaaa!" Keempatnya langsung memeluk Andien.


"Apakah kalian sudah sholat isya?"


"Sudah mama!"


"Alhamdulillah!" Apakah kalian ingin belajar sesuatu dengan mama?"


"Horeee!" Ucap keempatnya serentak.


Andien biasanya meminta keempat anaknya untuk menyetor hafalan Alquran setiap tiga hari sekali. Walaupun Calista sudah menghafalnya dengan baik dan benar, bahkan artinya pun ia bisa menterjemahkannya dengan baik dan benar.


Andien duduk di tempat tidur milik Calista dan meminta Fariz memulai terlebih dahulu menyetor hafalannya.


"Aku sudah menghafal surah al-kahfi." Ucap Fariz.


"Silahkan sayang!" Calista tolong ikut menilai bacaan Fariz!" Titah Andien pada putrinya yang istimewa ini.


Fariz menyelesaikan bacaannya dan sekarang giliran Calista menilai bacaan Fariz.


"Dari hafalannya sudah bagus, tapi masih ada yang kurang dari bacaan Fariz yaitu hukum tajwid yang tidak begitu di tekan pada huruf yang bertanda ghunah yaitu mim dan nun." Ucap Calista.


Tok....tok...


"Nyonya ada telepon dari Indonesia!" Ucap Salma.


Andien menerima sambungan itu dan ternyata dari Adam.


"Assalamualaikum mbak Andien!"


"Waalaikumuslam Adam!"


"Mbak Andien, tolong pulang mbak!" Ibu sedang sakit parah. Sudah tiga hari di rawat di rumah sakit." Ucap Adam terdengar sedih.


Duaaarrr....

__ADS_1


__ADS_2