PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
75. Hadian Pertama Untuk Istri


__ADS_3

Sebelum pulang kampung, Reza membayar gaji dan bonus lebaran untuk semua pelayan istrinya yang ada di mansion itu. Ada beberapa pelayan muslim yang mengambil cuti untuk pulang kampung ke negara mereka yang ada di timur tengah.


Untuk pembayaran zakat dan infak akan dikeluarkan setelah keduanya tiba di Jakarta.


Ada yang berbeda di hari itu. Reza yang terlihat gelisah sedang menunggu sang istri yang sudah terlalu lama berada di ruang walk in closet.


"Sayang!" Kamu sudah terlalu cantik, jangan terlalu lama dandannya!" Teriak Reza di depan pintu itu.


"Iya, sebentar sayang sedikit lagi." Ucap Andien terdengar lirih dari dalam.


"Tapi ini sudah hampir satu...?" Reza tidak bisa meneruskan perkataannya ketika istrinya membuka pintu kamar itu dan mata Reza tak bisa berkedip saat menyapu pandangannya pada makhluk ciptaan Allah yang ada di hadapannya saat ini hampir mendekati sempurna.


"Sayang!" Masya Allah, apakah aku sedang mimpi?" Tanya Reza saat melihat penampilan baru istrinya yang mengenakan hijab dengan dress longgar berwarna nevi.


Senyum Andien tersipu malu saat manik Reza sedang menikmati kecantikan wanitanya. Andien mencubit lengan suaminya karena wajahnya sudah seperti tomat saat ini.


"Auggth!" Sakit sayang." Pekik Reza sambil mengusap lengannya.


"Berarti mas lagi berada di alam dunia. Apakah kita jadi berangkat?" Tanya Andien tidak sabaran.


"Untung puasa sayang, kalau tidak habis kamu hari ini." Ucap Reza lirih.


"Ayo sayang, cepatan!" Desak Andien sambil menarik lengan suaminya menuju mobil yang sudah menunggu mereka.


Kini keduanya menuju bandara, tapi bukan bandara di mana setiap pesawat komersil sedang berbaris menunggu penumpang mereka dengan maskapai yang berbeda-beda yang terdapat di Bogota Kolombia, melainkan bandara khusus untuk pesawat jet pribadi.


"Sayang!" Kamu harus menutup matamu dulu ya sampai bandara karena aku akan memberikan kejutan untukmu." Ucap Reza sembari mengikat kain penutup dibelakang kepala istrinya.


"Kejutan apa sayang?"


"Kalau dikasih tau bukan kejutan namanya. Tunggu saja, nanti juga kita sampai." Ujar Reza menahan geli melihat istrinya bingung.


Mobil mewah itu sudah berada di depan pesawat jet pribadi yang menjadi hadiah pertama dari Reza untuk Andien, sebagai kado pernikahan mereka.


Hadiah itu merupakan bentuk syukur Reza yang telah mendapatkan lagi wanitanya setelah delapan tahun berpisah karena keangkuhannya saat itu.


Reza melepaskan ikatan penutup mata sang istri dan Andien membuka matanya secara perlahan.


"Hahh!" Andien menutup mulutnya seakan tidak percaya mendapatkan hadiah pertama dari sang suami menjadi kado pernikahan mereka.

__ADS_1



Reza menggenggam tangan istrinya lalu menaiki tangga pesawat yang langsung di sambut oleh empat orang pramugari,


co-pilot dan juga pilot itu sendiri.


"Bismillahirrahmanirrahim!"


Assalamualaikum!" Sapa Andien pada kru pesawat jet pribadi suaminya yang merupakan orang asli Indonesia dan pramugarinya juga menggunakan hijab.


Andien menyalami mereka semua lalu melangkah masuk ke dalam pesawat itu di mana gaya interior di dalam pesawat begitu memukau hatinya.


Andien menyapu pandangannya disetiap sudut, lalu melangkah lagi ke kabin yang lain untuk melihat suguhan interior kamar pribadi di dalamnya yang sudah di lengkapi kamar mandi yang hanya di tutup sekat kaca bening yang tertutup oleh sliding rolling.


"Apakah kamu suka dengan gaya interiornya, sayang?" Reza ingin memeluk istrinya tapi Andien selalu mengingatkan dirinya sedang puasa.


"Aku hanya memeluk pinggang mu saja sayang, bukan yang lainnya.


"Awalnya pinggang, lama-lama merambat ke yang lain." Sungut Andien menahan geli, namun wajahnya kembali datar membuat Reza sulit menebak isi hati wanitanya.


Reza mengacak rambutnya kesal karena Andien selalu memperlakukan dirinya semaunya.


Andien selalu menggodanya dengan penampilannya yang menawan namun saat Reza mulai lemah untuk meraih tubuhnya, seketika mengingat dirinya,


"Puasa sayang!" Jaga mata, hati, tangan dan pikiran!" Kata-kata Andien yang membuatnya seperti layang-layang, kadang di tarik dan kadang di ulur.


"Yang goda siapa?" Yang ngingetin siapa. Hmm!" Keluhnya mendengus nafas kesal.


"Kenapa bilik toiletnya menggunakan kaca?"


"Supaya aku bisa melihatmu sedang mandi." Ujar Reza asal.


Andien hanya menarik sudut bibirnya, walaupun saat ini hatinya sedang bermekaran mendengar godaan suaminya.



Pesawat segera berangkat. Reza menarik tubuh sang istri untuk duduk sebentar saat pesawat melakukan lepas landas. Keduanya berdoa sebentar.


Reza melepaskan hijab istrinya dan mengajak Andien untuk tidur atau baca buku.

__ADS_1


"Terimakasih mas?" Ini sangat membuatku bahagia. Aku suka semuanya termasuk pembelinya." Ujar Andien.


"Lama sekali pujiannya sayang." Sindir Reza yang sedari tadi menunggu kata manis itu dari istrinya.


"Baru kepikiran, karena terlalu terpukau dengan pesona pesawat ini." Ujar Andien.


"Apakah dia lebih tampan daripada ku?" Tanya Reza galau.


Andien menatap wajah Reza, mengusap wajah cemburu suaminya." Kamu adalah ciptaan Allah dengan Maha karya tak tertandingi.


Bagaimana bisa aku mencelamu dan membandingkan mas Reza dengan ciptaan manusia?" Ungkap Andien dengan tetap menatap wajah tampan yang tak bisa membuatnya berpaling, walaupun seribu luka pernah diberikan lelaki ini padanya.


Duaaarrr.....


Kata-kata Andien, mampu meruntuhkan tembok keangkuhan yang pernah dibangunnya kala muda.


Tapi hari setiap saat wanita ini selalu punya cara untuk membuat hatinya memuja tanpa batas. Membawanya tinggi dan takut untuk jatuh.


"Apakah karena itu, kamu sulit melupakanku?"


"Karena kau sulit membuatku benci sekalipun aku sudah mengusirmu dari hatiku, namun kau tak pernah mau meninggalkan pikiranku.


Bagaimana bisa aku membuka hatiku untuk cinta yang lain. Membencimu adalah bentuk penyiksaan bagiku. Semakin kuat aku mendorongmu pergi, namun yang ada aku sedang menyakiti diriku sendiri.


Pilihanku hanya ada satu, memaafkanmu yang membuat hatiku damai dan tenang. Hanya itu obatnya dengan satu kata, aku sangat mencintaimu mas Reza!"


"Andien!" Aku kehilangan kata-kataku setiap kali, rangkaian kata puitis yang kau ucapkan seakan mengunci otakku hingga. tidak bisa berpikir.


Tiap kalimat mu terlalu indah untukku dengar, terlalu dalam untukku menelaah semuanya. Namun hanya satu kalimatku yang terdengar klise olehmu, tapi harus ku tetap ucapkan ini hingga maut menjemputku kelak.


Aku sangat menyesal mengabaikan mu selama delapan tahun, istriku.. Andien!"


Jika kamu sangat mencintaiku, aku lebih dari kata itu. Terimakasih telah memaafkan ku, terimakasih sudah melahirkan putra putriku dalam satu waktu dengan membesarkan mereka tanpa ada aku di sampingku.


Mohon maaf atas setiap air matamu yang sering tertumpah olehku, mohon maaf karena tidak pernah ada saat sakit mendera mu dan juga keempat anak kita dan mohon maaf telah melewati setiap masa sulit mu tanpa aku meringankan beban mu."


"Aku mencintaimu Andien ku!"


Reza memeluk istrinya lalu menarik selimut tebal itu menutupi tubuh mereka dan tidur untuk melewati waktu hingga datang waktu berbuka puasa.

__ADS_1



__ADS_2