PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
155. Penyesalan Ayah!


__ADS_3

Seperti kedua saudaranya Camilla dan Calista, kedua putranya Reza yaitu Alfarizi dan Al-Ghifari harus melangsungkan pernikahan secara rahasia karena keduanya juga tidak bisa menggunakan nasab sang ayah bersanding dengan nama mereka karena status anak di luar nikah.


Bagi pihak keluarga kedua mempelai perempuan tidak mempermasalahkan status dari kedua putranya Reza tersebut.


Yang penting pernikahan kedua secara resmi yang akan disaksikan oleh keluarga besar dan juga para undangan yang terpilih menyaksikan acara sakral tersebut.


Tidak lupa hadir juga kedua keluarga kerajaan Maroko dan Yunani yang ingin melihat bagaimana prosesi pernikahan tradisi Indonesia yang berbalut nuansa religi.


Reza yang duduk di samping besannya nampak terpaku mendengarkan proses ijab kabul kedua putranya itu berlangsung.


Baik pernikahan kedua putrinya dan sekarang pernikahan kedua putranya, ekspresi wajah sedih Reza bukan karena bahagia tapi karena penyesalannya yang sampai saat ini ia bawa.


Wajah tampan itu terlihat murung seakan apa yang ia bangun selama ini tidak akan pernah merubah ketetapan Allah atas dirinya.


"Jika aku matipun, hartaku tidak bisa aku warisi untuk keempat anak pertamaku.


Ayah seperti apa aku ini. Selalu tampil ceria namun terkesan bersandiwara. Hakku sebagai ayah mereka benar-benar dicabut walaupun sebanyak apapun aku bertobat, hak itu tidak pernah diberikan kepadaku." Batin Reza lirih.


Usai prosesi pernikahan secara formal di adakan, kesehatan Reza terlihat tidak mendukung. Andien segera membawa suaminya ke kamar hotel karena pernikahan itu sendiri di adakan di room hotel.


"Mas Reza! kenapa wajah mas terlihat sangat pucat seperti ini? apakah mas merasakan sakit akhir-akhir ini sayang?" Tanya Andien yang sedang duduk menemani suaminya di kamar.


"Bukan tubuhku yang sakit sayang, tapi batinku yang sangat menderita."


"Apakah mas masih merasakan penyesalan sampai saat ini?" Tebak Andien.


"Andien! Apa yang aku dapatkan sebagai ayah dari keempat anak pertamaku?


Pernikahan mereka harus dirahasiakan, nama belakang mereka harus menggunakan namamu.


Dan jika aku mati, sepersen hartaku pun tidak bisa aku berikan kepada mereka karena hukum Allah sudah mutlak tidak bisa di ganggu gugat untuk anak dari hasil perbuatan zinah.


Aku tidak bahagia Andien, saat menyaksikan keempat anakku tumbuh dewasa dan menikah. Aku seperti orang bodoh di hadapan tamu. Aku malu dengan besanku. Aku tersiksa Andiennn. Aku hancurr....!! Hiks...hiks! Tangis Reza pecah mengingat kesalahan masa lalunya.


"Semuanya sudah terjadi mas! Apa yang bisa kita lakukan selain penyesalan tiada akhir seumur hidup kita."


"Bukan kamu Andien, tapi aku... Aku ...aku Andien!" Teriak Reza kesal.


Reza mengamuk seperti orang gila di dalam kamarnya. Ia merasa sangat tidak berguna dan menjadi ayah yang sangat buruk untuk keempat anak pertamanya.


"Anak-anak kita tidak mempersoalkan lagi status mereka sebagai anak zinah, tapi kenapa mas masih saja memikirkan hal yang tidak akan di ubah oleh Allah kecuali menggugurkan dosa mas melalui tobat."


Akhirnya Andien tersulut juga emosinya melihat suaminya tidak bisa lagi dibujuk dan memiliki semangat hidup.

__ADS_1


"Kalau mas sudah tidak bisa melakukan apapun untuk anak pertamamu, setidaknya pikirkan nasib keempat anakmu yang kedua yang sangat membutuhkan kamu saat ini.


Usia mereka baru dua belas tahun, mas Reza bisa menebus kesalahan mas melalui keempat anak kita yang lain, sayang!"


Andien berusaha merayu suaminya agar tidak larut begitu dalam penyesalan yang sama.


"Tapi aku..?"


"Apa..?!"


Mau merendahkan dirimu lagi..? Jadi ayah pecundang atau mau pingin cepat mati..? mau meninggalkan aku..? Jawab!!" Bentak Andien frustasi.


"Sayang...!"


Reza memeluk istrinya yang sedang mengamuk dengannya.


"Maafkan aku Andien!"


"Jangan biarkan setan masuk untuk membenarkan semua penyesalan mu itu menjadi sebuah kebodohan yang akan menyesatkan iman mu.


Dulu dia memperbudak mu dengan hasrat terlarang dan sekarang dia sedang memperbudak mu dengan penyesalan yang sesat. Silahkan menenggelamkan dirimu dalam rasa putus asa karena saat ini kamu tidak lebih dari seorang lelaki pecundang."


Ujar Andien lalu keluar dari kamarnya setelah merapikan riasannya usai menangis.


Calista menghampiri ibunya sambil menggendong satu bayinya yaitu Claudia.


"Mama...! Ayah kenapa?"


"Ayahmu kelelahan. Ayahmu butuh istirahat dan tolong jangan ganggu ayahmu Calista!" Cegah Andien.


"Tapi resepsi pernikahannya sebentar lagi akan di mulai mama, banyak tamu ayah yang sudah datang duluan dan menanyakan keberadaan ayah." Ujar Calista.


"Biarkan mama yang akan tangani mereka. Kasihan ayahmu! Kalau dipaksakan entar malah kesehatan ayah bisa drop."


Andien berjalan cepat menuju ruang resepsi dan di dalam sana acara resepsi yang diawali dengan tarian dan nyanyian tradisional untuk menyambut mempelai pengantin dan tamu undangan.


Banyak sekali tamu negara dan pejabat negeri serta pengusaha ternama yang hadir di acara tersebut.


Andien harus menjelaskan perihal suaminya yang saat ini sedang kurang sehat kepada para tamunya. Mereka memaklumi keadaan Reza saat ini.


Sementara di dalam kamar hotel, Reza mengalami muntah-muntah dan pusing karena terlalu setress. Reza akhirnya pingsan di kamarnya tanpa diketahui oleh keluarganya.


Di luar sana pesta makin meriah. Andien terlihat gelisah karena sudah satu jam menunggu suaminya belum keluar juga dari kamar untuk menemaninya menerima tamu.

__ADS_1


Andien memanggil putrinya Sheilla untuk melihat keadaan ayahnya di kamar mereka.


"Sheila! Mama minta tolong padamu untuk melihat ayahmu di kamar. Kalau ada apa-apa, langsung telepon mama tanpa balik lagi ke sini. Tapi kalau ayah sedang tidur, tolong jangan di bangunin karena ayahmu sedang sakit." Pinta Andien.


"Baik mama."


Sheilla mengajak Shena untuk ikut bersamanya melihat keadaan ayah mereka sambil membawa key card yang diberikan mamanya.


Ketika kedua putrinya memencet bel kamar tidak ada respon dari dalam kamar. Mereka akhirnya membuka pintu kamar dan betapa kagetnya mereka melihat sang ayah sudah terbaring lemah di atas lantai kamar.


"Ayahhhh...!" Pekik keduanya bersamaan sambil mengguncang tubuh ayahnya.


"Sheila..tolong telepon mama!"


Titah Shena panik.


Sheila menghubungi mamanya Andien yang langsung tersentak mendengar suaminya pingsan. Ibu delapan ini tetap bersikap wajar di depan para tamu undangan dengan menebarkan senyum walaupun ia sendiri saat ini ingin pingsan.


Jiwanya yang sudah terlatih sejak lama dari kesatuan militer sejak berada di Bogota Kolombia untuk tidak gampang panik di depan banyak orang, sekalipun gedung itu mau runtuh.


Andien menarik tangan adiknya Adam yang merupakan dokter untuk menemaninya ke kamar sang suami.


"Ada apa mbak Andien?"


"Kata Sheila mas Reza pingsan." Ujar Andien setengah berlari.


"Apaa.....?"


"Adam tolong periksa mas Reza!" Pinta Andien dengan tubuh gemetar.


Adam segera mengambil tas medisnya di kamarnya yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Andien.


Dalam sekejap Mereka sudah berada di kamar Reza dan Adam mengangkat tubuh Reza lalu dipindahkan ke atas tempat tidur.


"Mbak Andien! Tolong panggil mobil ambulans! Kita harus bawa mas Reza ke rumah sakit.


"Suamiku sakit apa Adam?"


"Sepertinya radang lambung tapi sebaiknya ditangani langsung oleh dokter terkait." Ujar Adam sambil memeriksa keseluruhan tubuh Reza.


.....


like dan vote nya cinta 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2