PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
64. Rencana Pulang kampung


__ADS_3

"Andien!" Maafkan aku!" Aku terlambat menyadari kebodohanku, bahwa betapa berharganya engkau, hingga lelaki lain seperti tuan Leo, rela melakukan kebodohan hanya untuk mendapatkan cintamu.


Ternyata bukan aku saja yang dibuat gila oleh pesona mu itu, tapi banyak yang sudah patah hati karena kecantikanmu dan aku tidak menyangka, akulah pemenangnya dari perjuangan mereka merebut hatimu." Ucap Reza lirih dengan mata berkaca-kaca.


Reza segera menemui istrinya. Ia langsung memeluk Andien yang masih berdiri di balik pintu ruang interogasi itu dengan wajah tercengang. Reza mengerti bahwa saat ini istrinya merasa sangat terpukul atas pengakuan tuan Leo yang menjadikan dirinya sebagai alasan untuk melakukan kejahatan.


"Sayang... Apakah kamu merasa lega saat ini?" Tanya Reza.


"Apakah kamu mendengarkan semuanya?" Tanya Andien dalam pelukan suaminya.


"Hmm!" Sangat menyentuh hingga aku tidak tahu harus berkata apa padamu, kecuali kata maaf dan terimakasih telah memilihku menjadi bagian dalam hidupmu dengan lara hati yang telah aku kecewakan." Ujar Reza dengan wajah sendu.


"Apakah kamu terus menyesalinya?" Tanya Andien dengan wajah tenang.


"Sampai aku mati, penyesalan itu tidak akan berhenti." Imbuh Reza.


"Menangislah di hadapan Allah, karena Allah yang akan melapangkan dadamu. Banyaklah beramal saleh sehingga jiwa kembali tenang dan lambat laun mas Reza bisa memaafkan dengan diri sendiri." Andien menasehati suaminya dengan kata-kata bijak.


"Terimakasih sayang!" Ayo kita pulang sayang!" Ucap Reza karena hari sudah menjelang malam.


Di mansion anak-anak sudah rapi dengan pakaian sholat mereka sambil menunggu Muazin mengumandangkan adzan magrib. Reza dan Andien segera membersihkan diri lalu mengambil wudhu dan menyusul anak-anaknya di Mushola.


Azan mulai di kumandangkan oleh pak Abdullah di dalam mushola kecil yang terdapat di dalam area mansion milik Andien.


Reza maju menjadi imam memimpin sholat untuk para jamaah yang sudah siap berdiri sempurna dibelakangnya.


Setelah menyelesaikan sholat dan tilawah Al-Qur'an, anak-anak mengajak kedua orangtuanya untuk berbicara serius.


"Ayah, mama!" Sini deh!" Kami ingin bicara penting dengan kalian berdua..


Andien dan Reza di giring ke ruang keluarga oleh anak-anaknya.


"Kelihatannya serius banget, ada rencana apa nih?" Tanya Reza penasaran.


"Ayah, mama, kami mau minta ijin untuk menjalani ibadah puasa ramadhan yang sebentar lagi akan datang." Ucap Fariz.


"Terus kenapa, bukankah kita sudah sering menjalani puasa ramadhan selama tiga tahun ini bersama walaupun tanpa ayah." Ujar Andien.


"Kami ingin puasa di kampung, di negara orangtua kami dan sekalian lebaran di sana. Lagi pula Fariz dan Al belum khitan, jadi kamu berdua ingin melakukannya di sana, bagaimana ayah, mama dengan rencana kami?" Tanya Al.

__ADS_1


Reza dan Andien saling menatap dan sibuk berpikir dengan pikiran mereka masing-masing.


"Jawab dong mama!" Desak Calista.


"Boleh sayang!" Tapi maka tidak bisa ikut dengan kalian karena mama sudah ambil cuti selama sakit kemarin, insya Allah mama akan pulang menjelang lebaran dan ayah yang akan menjemput lagi mama di sini, bagaimana?" Tanya Andien memberi solusi.


Keempat kembali menjauh dan saling berdiskusi. Andien dan Reza hanya saling menarik kan bibir mereka ketika melihat putra putrinya sedang serius mengambil keputusan.


"Emang kalian mau pulang tanpa mama?" Tanya Fariz


"Ya, nggak mau sih, tapi kasihan juga mama karena dapat jatah cuti lagi tahun ini.


Tapi, setidaknya kita lebih sibuk ibadah bersama kakek, nenek, Oma dan kedua paman tampan kita." Ucap Camilla.


"Tapi ada dua Tante kita dari saudara kembar ayah yang belum kita kenal." Timpal Calista.


"Sekarang gimana nih, keputusannya?" Desak Al.


"Setuju aja, setidaknya kita bisa merasakan suasana ibadah puasa ramadhan selama di Indonesia. Katanya lebih syahdu dan menyenangkan." Ucap Calista.


"Ok, kita kembali kepada ayah dan mama. Biar aku yang ngomong sebagai anak lelaki yang paling awal menghirup udara dunia." Ucap Fariz dengan bangga.


"Mama!" Kami sudah diskusi dan menemukan solusi. Kami siap pulang kampung tanpa mama kali ini, tapi kami juga akan mengembalikan suami mama, untuk menemani mama puasa ramadhan di sini, setelah mengantar kami pulang kampung. Bagaimana mama? bolehkah kami pulang dengan ayah?" Tanya Fariz sambil menunggu jawaban namanya.


"Boleh sayang tapi tetap jaga sopan santun kalian selama berada di kampung. Jangan mengecewakan mama dan lakukan aktivitas kalian seperti biasa." Ucap Andien mengijinkan keempat anaknya pulang tanpa dirinya karena pekerjaannya tidak bisa ia tinggalkan.


"Terimakasih mama cantik."


Keempatnya langsung memeluk mama mereka lalu ditimpa oleh lengan kekar milik Reza memeluk keluarga kecilnya.


Anak-anak masuk ke kamar mereka untuk merapikan buku kuliah yang sempat berantakan di kamar mereka. Walaupun ada pelayan, mereka tidak suka barang-barang mereka di sentuh oleh pelayan, kecuali kamar Camilla dan Calista yang selalu terlihat rapi karena Calista tidak senang ada yang berantakan ataupun sesuatu yang diatur tidak simetris.


"Terimakasih Andien!" Aku bahagia karena kamu mengijinkan anak-anak kita menemui kedua orangtuaku, nanti setelah dua pekan menjalani ramadhan bersama mami dan ayah, aku akan meminta Adam menjemput mereka di Jakarta untuk berlibur juga di kampung omanya, supaya adil." Ucap Reza.


"Terimakasih ayah!" Ucap Andien.


"Hahh?" Kamu panggil aku dengan sebutan apa sayang?" Aku kurang dengar tadi?" Goda Reza pada istrinya yang mulai bersemu merah wajahnya.


"Terimakasih ayah!" Ulang Andien langsung dikecup bibirnya oleh suaminya.

__ADS_1


"Permisi nona Andien !" Makan malamnya sudah siap." Ucap pelayan Debora.


"Terimakasih Debora!"


Reza memanggil anak-anaknya untuk makan malam bersama.


🌷🌷🌷🌷🌷


Dua bulan berlalu, satu pekan lagi bulan ramadhan akan tiba, hari itu keempat anaknya sudah siap berangkat ke bandara bersama ayah mereka yang diantar oleh Andien sendiri.


Wajah mereka begitu cerah dengan banyak rencana yang sudah mereka atur selama berada di Jakarta.


"Ayah?" Siapa nama dua saudara kembar ayah?" Tanya Calista.


"Kalian harus berkenalan sendiri dong kalau sudah bertemu dengan saudara kembar ayah." Ucap Reza.


Andien terlihat diam karena sebentar lagi ia harus berpisah dengan suami dan keempat anaknya untuk pertama kalinya.


Reza memeluk istrinya dan memahami saat ini Andien sedang sedih.


"Aku akan cepat kembali menemuimu sayang." Bisik Reza.


"Perjalanan ini akan lebih seru kalau mama juga ikut kami." Ucap Al.


"Jangan provokasi mama Al!" Omel Fariz.


Mobil mereka berhenti di depan pintu masuk untuk penerbangan luar negeri. Hati Andien dan Reza makin kembang kempis dan saling berlomba menghela nafas.


"Apakah kamu tidak apa sayang, saat aku tinggal?" Tanya Reza sambil menyisihkan sebagian anak rambut Andien ke samping kupingnya, saat maskapai penerbangan pesawat mereka memanggil.


"Titip salam kangen untuk ayah dan mami, juga kedua adik iparku. Sampaikan permohonan maaf kepada mereka karena kesibukan ku yang tidak bisa pulang bersama kalian." Ucap Andien menahan tangisnya.


Reza menatap dalam Wajah cantik istrinya." Aku akan kembali secepatnya. Reza mengecup bibir Andien sesaat lalu memeluknya dengan erat.


"Selamat jalan sayang!" Aku pasti merindukanmu." Ucap keduanya lalu melepaskan pegangan tangan mereka.


🔥🔥 Tolong Ikuti 2 novel baru Author berjudul:


Cinta di balik pengkhianatan dan Kerinduan terpendam sang pengacara 🔥🔥

__ADS_1


Terimakasih untuk para readers yang mengikuti Karya penyesalan ayah si kembar empat. Karena dukungan kalian Author naik level hari ini. Alhamdulillah terimakasih banyak sudah mendukung cerita tak berarti ini. Mohon maaf menyita waktu kalian untuk menyimak novel author. Salam sehat dan sukses slalu. Mohon like dan komen tulus dari kalian semua. I love you.


__ADS_2