PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
46. Jangan Katakan Itu Lagi


__ADS_3

Reza tidak segera menjalani mobilnya. Awalnya ia sudah merasa sangat bahagia bisa berduaan saja dengan Andien, tapi malah Andien merusak mood nya hari ini.


"Andien!" Aku baru bertemu lagi denganmu dan jarak kita sudah sedekat ini. Anak-anak sangat bahagia dengan kehadiran aku ditengah mereka dan sekarang kamu ingin pamit dari kehidupan mereka setelah mereka ingin menghadirkan aku menjadi pelengkap kebahagiaan mereka.


"Aku tahu penyakitmu sangat berat, tapi pengobatan ini tidak akan efektif jika kamu menyerah seperti ini. Kamu ingin membahagiakan anak-anak itu dengan menjadi ibu yang hebat untuk mereka. Kamu memenuhi semua kebutuhan mereka tanpa aku yang seharusnya menjadi tanggung jawabku untuk membahagiakan kalian. Dan sekarang tubuhmu terserang penyakit, tidak berarti kematian kamu sudah dekat Andien." Ucap Reza dengan mata berkaca-kaca.


"Aku hanya menitip pesan saja untuk berjaga-jaga jika aku...?"


Reza langsung membekap bibir pucat itu dengan bibirnya. Andien begitu terkejut mendapat serangan itu tiba-tiba dari ayah anak-anaknya.


Reza mengu*m bibir itu sesaat lalu kembali ke tempatnya." Tolong jangan katakan itu lagi, sayang!" Aku sangat mencintaimu Andien dan juga membutuhkanmu.


Jadi, ku mohon jangan pernah menyerah pada penyakitmu itu!" Aku akan datang ke ibu dan kedua saudaramu untuk melamarmu agar kita segera menikah agar aku bisa merawatmu tanpa rasa canggung." Ucap Reza dengan bibir bergetar.


Andien mengusap air matanya berulang kali, menahan kepedihannya karena ia merasa hidupnya tidak pernah terlepas dengan cobaan.


Hati Reza tergetar melihat wanitanya menangis dalam keadaan kesakitan. Ia menarik tubuh Andien dan membawanya dalam pelukannya.


"Menangislah sayang!" Supaya hatimu yang lelah akan merasa lebih ringan." Ucap Reza mengeratkan pelukannya pada tubuh Andien yang makin menyusut beberapa kilo selama dirawat di rumah sakit.


Tangis Andien makin kencang di pelukan Reza. Logikanya meminta untuk menjauh dari lelaki yang telah menghancurkan hidupnya ini, namun tidak sejalan dengan kata hatinya yang sangat membutuhkan lelakinya itu.


Reza pun ikut menangis mengenang kebodohannya yang telah menyia-nyiakan wanita yang ia kejar sebelumnya tapi berakhir dengan perbuatan yang sangat memalukan.


Setelah puas mengeluarkan kepedihannya melalui air mata, Andien baru berhenti dari tangisnya, dan ia kembali ke tempat duduknya.


"Apakah kamu sudah merasa lebih baik sayang?" Tanya Reza sambil menghapus sisa air mata Andien dengan tisu.


Andien mengangguk perlahan dan Reza menjalankan mobilnya menuju kediaman Andien sambil menggenggam tangan Andien hingga tiba di mansion mewah itu.


Reza segera turun untuk membuka pintu mobil untuk Andien dan menggendong wanitanya masuk ke dalam rumah.


Anak-anaknya yang sedari tadi sibuk menyiapkan pesta penyambutan ibu mereka di panggil oleh tuan Abdullah.


Calista yang lebih dulu keluar mengintip kedatangan orangtuanya begitu kaget melihat ibu mereka di gendong ayahnya.


"Al, Fariz, Milla, sini!" Lihat, mama Andien di gendong ayah." Teriak Calista sambil berjingkrak.


"Mana...mana!" Ketiga saudaranya ikut mengintip kedua orangtua mereka yang terlihat sangat mesra.


"Apakah mereka akan segera rujuk?" Tanya Camilla dengan wajah berbinar.


"Eh, mana bunganya Al?" Tugasmu memberikan bunga untuk mama Andien dan kamu Fariz, cepat mainkan pianonya.

__ADS_1


"Ayo Calista kita nyanyi ya!" Pinta Camilla yang sudah menyiapkan segalanya untuk menyambut kepulangan ibu mereka.


Reza melangkah masuk ke dalam melewati ruang tamu sambil menggendong Andien.


"Mengapa terlihat sepi?" Di mana anak-anak kita?" Tanya Reza yang di sambut dentingan piano yang sangat indah sedang di mainkan oleh Fariz.


Keduanya melihat anak-anak itu sedang mempersembahkan sesuatu untuk mereka. Lagu itu mulai dinyanyikan keempatnya dengan pembagian suara sopran dan alto.


Reza berdiri sesaat dengan tetap menggendong wanitanya sambil menonton pertunjukan anak-anaknya untuk menyambut kepulangan ibu mereka dari rumah sakit.


"Apa yang kuberikan untuk mama


Untuk mama tersayang


Tak kumiliki sesuatu berharga


Untuk mama tercinta


Hanya ini ku nyanyikan


Senandung dari hatiku untuk mama


Hanya sebuah lagu sederhana


Lagu cintaku untuk mama


Untuk mama tersayang, oh


Tak kumiliki sesuatu berharga


Untuk mama tercinta


Hanya ini ku nyanyikan


Senandung dari hatiku untuk mama


Hanya sebuah lagu sederhana


Lagu cintaku untuk mama


Walau tak dapat selalu ku ungkapkan


Kata cintaku 'tuk mama

__ADS_1


Namun dengarlah hatiku berkata


Sungguh, ku sayang padamu, mama


Hanya ini ku nyanyikan


Senandung dari hatiku untuk mama


Hanya sebuah lagu sederhana


Lagu cintaku untuk, oh, mama


Lagu cintaku untuk mama


Mama."


"Selamat datang mama Andien tersayang, mama kami tercantik, semoga selalu sehat dan bahagia, terimakasih sudah membesarkan kami dengan penuh kasih sayang"


Kata-kata ucapan yang di tulis oleh anak-anaknya di sebuah kertas karton yang tempelkan di dinding ruang keluarga menyentuh hati Andien dan Reza.


Keduanya menangis haru ketika Al memberikan satu ikat buket bunga tulip merah dan kuning dan biru untuk mamanya.


"Tetap semangat mama sayang!" Ucap Al-Ghifari lalu mencium tangan mamanya dengan lembut.


Reza mendudukkan Andien di sofa panjang agar bisa bercengkrama dengan keempat anaknya. Keempatnya memeluk mama mereka serempak.


Reza merangkul kelimanya dengan lengannya yang cukup panjang menjangkau tubuh keempat anaknya dan wanitanya secara bersamaan.


Pelukan itu berlangsung dua menit diselingi tangis haru antara mereka dan menguraikan kembali pelukan itu.


"Apakah mama dan ayah ingin makan sesuatu?" Tanya Fariz.


"Calista sudah meminta chef kita untuk membuat bubur abalone kesukaan mama kalau mama lagi sakit." Ucap Calista.


"Apakah mau Al, yang suapin mama?"


"Camilla sudah membuat susu jahe hangat untuk mama."


Keempat ini sudah terbiasa melakukan itu kala ibu mereka sedang jatuh sakit.


Apa yang dilihat Reza hari ini membuatnya makin takjub karena keempatnya tampil lebih dewasa dari usia mereka. Sikap tanggung jawab dan perhatian yang diberikan keempat anaknya untuk ibu mereka perlu diacungi jempol karena seumur keempat anaknya, ia tidak pernah memperlakukan ibu dan ayahnya saat kedua orangtuanya sakit.


Lagi-lagi momen berharga ini yang mungkin sudah berlangsung lama yang telah terlewatkan oleh Reza dan itu sangat membuatnya terus menyesali dirinya atas kebodohannya meninggalkan wanita hebat seperti Andien.

__ADS_1


"Ya Allah, apa yang aku cari selama ini?" Menjadi pengusaha hebat atau pundi-pundi uang untuk memperkaya diri?" Ternyata itu tidak membuat aku bahagia. Justru kebahagiaanku sesungguhnya ada di dalam rumah ini.


Rumah yang menawarkan surga dunia yang pernah aku tolak untuk membangunnya bersama wanita yang sangat aku cintai ini. Dasar kamu benar-benar lelaki bodoh Reza. Ayah macam apa kamu ini?" Sesal Reza merutuki dirinya sebagai lelaki bre*gsek untuk Andien dan ayah yang payah untuk keempat buah hatinya.


__ADS_2