
Camilla hanya tercengang mendengar ucapan Davin padanya.
"Kak Davin baik-baik sajakan?" Sambil memastikan suhu tubuh Davin.
"Aku baik-baik saja Camilla." Sambil menepis tangan Camilla dari keningnya.
"Aku itu masih kecil. Kenapa dilamar sekarang?"
"Aku hanya melamarmu, bukan menikahimu. Bukankah Rosulullah meminang ibunda Aisyah saat usia bunda Aisyah masih berusia enam tahun dan menikahinya di saat usia beliau mencapai sembilan tahun.
Jodoh Rosulullah Ibunda Aisyah langsung dipilihkan Allah dengan mengutus Jibril untuk mengantarkan lukisan wajah Aisyah kepada Rasulullah melalui mimpinya.
Dan keesokan harinya, Rosulullah mendatangi sahabatnya Abu Bakar Shiddiq yang merupakan ayah kandungnya Ibunda Aisyah untuk melamar Aisyah berdasarkan petunjuk Allah. Apakah itu dosa?"
"Aku sudah mengetahuinya kak Davin, kisah cinta Rosulullah dengan sembilan istrinya yang sangat unik dan romantis. Dan tidak ada yang salah tentang itu." Timpal Camilla.
"Sementara putrinya Ali bin Abi Thalib, ummi Kulsum dilamar oleh Umar bin Khattab yang saat itu juga masih seusia mu dan menikahinya masih dalam usia muda. Dan itu bukan dosa Camilla." Lanjut Davin.
"Tapi, kesannya kak Davin itu..?"
"Kenapa?" Seperti pengidap pedofil?"
Camilla mengangguk ragu.
"Itu hanya pemikiran dangkal orang-orang yang ingin menjatuhkan Islam dengan menghina nabi kita dan para sahabatnya.
Aku menyukaimu bukan karena ketertarikan fisik tapi lebih kepada memintamu menjadi istriku suatu saat nanti, jika kamu sudah dewasa. Bukan saat ini." Imbuh Davin meyakinkan Camilla.
"Ya tunggu nanti saja, kenapa harus sekarang?" Ujar Camilla agak jengah pada Davin yang terlihat sangat serius.
"Baiklah. Aku tidak akan mengulangi perkataanku, tapi ingatlah kata-kataku hari ini dan tempat ini menjadi saksi bahwa aku pernah melamar kamu di sini."
"Iya, makasih kak Davin, tapi buatku, permintaan kak Davin terlalu berlebihan." Ucap Camilla datar.
Dretttt..
Bunyi ponsel milik Davin memanggil.
"Davin!"
"Iya mami!"
"Cepat pulang nak!" Kita harus ke bandara karena kakek kamu lagi sakit parah, dia memintamu untuk menemuinya nak!"
__ADS_1
"Apa..?" Maksudnya kita mau pulang ke Yunani?"
"Iya sayang."
"Baiklah." Ujar Davin terlihat lesu.
Davin mendekati Camilla dan ijin pulang ke rumahnya tanpa memberi tahu hal yang sebenarnya pada Camilla tentang apa yang dialaminya saat ini.
"Camilla!"
"Iya kak Davin."
"Aku pulang dulu ya, sepertinya ibuku kurang sehat." Ucap Davin berbohong.
"Baik kak Davin. Hati-hati!"
"Camilla!" Tolong ingat pinangan ku padamu hari ini."
Camilla mengangguk sambil tersenyum samar pada Davin.
Sementara itu, di istana pangeran Fatih, pria tampan ini di hadapkan pada hal yang sama. Ayah kandung pangeran Fatih, Raja Hassan meminta putranya pulang karena ada acara tradisi keluarga yang harus dilalui oleh pangeran Fatih sebagai calon raja berikutnya.
Pangeran Fatih tidak bisa menolak permintaan sang ayah, karena itu menyangkut masa depan negaranya.
"Calista, mohon maaf!" Hari ini aku akan berangkat ke Maroko karena ada urusan keluarga. Mulai besok, jangan datang ke rumahku, kecuali aku yang memintamu, setelah aku sudah berada lagi di Bogota Columbia." Selamat tinggal."
"Hati-hati pangeran!" Selamat Jalan, sampai jumpa lagi." Balas Calista sambil menarik nafas berat.
"Mungkin, setelah kamu kembali ke Bogota, kita tidak akan bertemu lagi pangeran Fatih." Calista memejamkan matanya setelah minum obat demam karena luka di lututnya cukup serius.
...----------------...
Semenjak kepergian dua pangeran yaitu Fatih dan Davin, ke negara asal mereka, Camilla dan Calista tidak pernah lagi bertemu dengan keduanya.
Seperti dugaan Calista, pangeran Fatih dan dirinya tidak akan pernah bisa bertemu lagi, karena belum mencapai tiga bulan, mamanya, Andien sudah memutuskan mereka akan segera kembali ke tanah air pasca keempat anak pertamanya ini, menyelesaikan pendidikan sarjana strata dua dengan nilai Cumlaude.
Andien dan Reza mengajak keempatnya untuk berdiskusi untuk kepulangan mereka sekitar tiga hari lagi.
"Anak-anak, surat pengunduran diri mama sudah resmi di tandatangani oleh tuan Edgar. Itu berarti kita harus meninggalkan negara ini dan segala kenangannya sampai disini dan tidak boleh ada yang membawanya ke Indonesia, kecuali barang pribadi kita dan ilmu pengetahuan yang sudah kalian raih.
Mama dan ayah sudah sepakat, untuk menggantikan nomor ponsel dan juga akun milik kalian. Tidak ada yang boleh berhubungan lagi dengan siapapun yang ada di negara ini terutama kalian berdua yaitu Camilla dan Calista.
Mama tidak ingin kalian menghubungi dua pemuda itu walaupun mereka sangat baik kepada kalian.
__ADS_1
Calista, blokir semua identitas pribadi milik kita dan masukkan virus jika ada yang berusaha meretas akun milik keluarga kita." Tegas Andien.
"Apakah akan berpengaruh pada kehidupan kita selanjutnya jika kita memutuskan akses dengan semua orang yang ada di Bogota termasuk mama dan ayah?" Tanya Fariz penasaran.
"Mungkin perkecualian ayah karena kerjasama perusahaan milik ayah dengan negara ini. Tapi akun ayah akan di ganti dan dapat digunakan untuk kalangan terbatas itupun harus ada ijin dari ayah."
"Mengapa mama menerapkan peraturan yang terlihat sangat kejam untuk kami?" Tanya Al kecewa.
"Karena tuan penguasa Indonesia yang memintanya. Keamanan keluarga kita akan terancam jika kita tidak hati-hati dalam bertindak.
Terutama mama dan Calista yang akan menerima resiko besar itu karena akan berhubungan langsung dengan keamanan negara kita. Jika mereka mengetahui keberadaan kita, negara kita juga dalam keadaan berbahaya.
Keberadaan mama akan diincar oleh negara manapun karena pernah bekerja di negara ini. Mereka akan mencari tahu rahasia negara ini terutama kestabilan keamanan nasionalnya. Jadi mama mohon pengertiannya." Imbuh Andien.
"Begini saja, suatu saat nanti jika kalian ingin berhubungan lagi dengan para sahabat yang ada di sini, lakukan itu secara alami.
Maksud ayah, cukup takdir yang akan mempertemukan kembali kalian dengan orang-orang yang berada di sini secara tidak sengaja. Bukan direncanakan. Itupun harus tetap waspada." Timpal Reza.
"Baiklah ayah. Kami mengerti." Ucap Calista berusaha tegar padahal hatinya sendiri tiba-tiba merasa mulai kehilangan. Begitu pula dengan Camilla.
"Calista!" Jangan lupakan tugasmu sayang!" Titah Andien.
"Iya mama!" Ujar Calista lalu mulai membuka ponselnya dan mulai melakukan pembersihan akun seluruh keluarganya dengan mengganti nomor ponsel dan akun baru dengan nama lain.
Keempat anaknya memasang kartu perdana mereka yang baru pada ponsel mereka masing-masing.
Tiga hari kemudian, sekitar pukul delapan malam, dengan menggunakan pesawat jet pribadi milik keluarganya, keluarga Reza bertolak kembali ke tanah air tercinta.
Dan ironisnya, pesawat milik keluarga Reza baru tinggal landas sementara dua pesawat jet pribadi milik dua pangeran baru melakukan landing di bandara setempat.
Kedua pemuda tampan itu, begitu lega setelah tiba di Bogota.
"Alhamdulillah, akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan Calista." Ujar pangeran Fatih lalu turun dari pesawatnya diikuti beberapa pengawal.
"Selamat tinggal Bogota Colombia." Ucap Andien sambil menangis.
"Apakah saat ini kamu sangat sedih meninggalkan kota ini, sayang?" Tanya Reza ketika pesawat mereka sudah berada di ketinggian beberapa ratus kaki di atas permukaan laut Bogota Kolombia.
"Aku melarikan diri darimu dan bersembunyi di sini sambil menuntut ilmu untuk bekal hidupku di masa depan.
Dan aku dipertemukan lagi dengan mas Reza karena kegigihannya anak-anak untuk menemukanmu dan menyatukan kembali kita berdua." Ucap Andien.
"Iya sayang, Bogota adalah sejarah terukir nya kembali kisah cinta kita." Ucap Reza lalu memeluk istrinya.
__ADS_1