PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
60. Apakah Aku Menyakitimu?


__ADS_3

Reza memangku sang istri dengan posisi keduanya masih saling mengecap bibir.


Tidak sanggup lagi bertahan, karena sesuatu yang sedang mengacung dibawah sana dan makin mendesak untuk masuk pada tempat yang masih dianggap terlarang walaupun telah halal untuk keduanya.


"Sayang!" Maukah kau menuntaskannya?" Suara berat Reza makin mendominasi sambil meremas kedua bokong bulat milik sang istri.


"Kau ..!"


"Tapi...!" Ini sudah tidak bisa diajak kompromi, sayang. Kita masuk ya...!"


Reza berjalan sambil menggendong Andien yang sedang berkoala pada tubuhnya. Sementara para pelayan sudah kembali ke peraduan mereka tanpa ingin terganggu dengan pengantin baru itu.


Dunia di sekitar area mansion menjadi hening seakan membiarkan kedua sejoli ini merasakan bulan madu yang tidak bisa tertembus karena sakitnya Andien.


Di kamar milik Andien yang sudah menjadi tempat bernaung Reza, keduanya tidak sanggup lagi mengikuti saran dokter karena gairah birahi yang lebih menuntut untuk melakukan lebih dari sekedar sentuhan ringan.


Entah kain apapun yang menempel di tubuh keduanya telah raib entah ke mana. Andien merasakan kelembutan sentuhan suaminya dari lidahnya yang sudah menjalar di setiap tempat sensitif miliknya.


Erangan dan lenguhan Andien seakan menjadi melodi tersendiri untuk membakar gairah Reza yang sudah mengubun. Keduanya sepakat dalam seiya sekata untuk melakukan penyatuan, hingga akhirnya Reza memasuki milik sang istri yang terasa basah siap menerima peluncuran perdana milik sang suami pasca menikah.


"Andieeennnn....!"


Pekik keduanya dengan berjuta getaran watt menjalar ke seluruh tubuh hingga kompak mengeluarkan suara lenguhan panjang saat menggapai kenikmatan sempurna secara bersamaan.


Karena tidak terkontrol dengan kondisi yang ada, Andien merasakan pusing yang luar biasa. Tenaganya mulai melemah dan tidak ingin lagi ikut berpacu bersama dengan sang suami. Andien memegang hidungnya merasakan cairan kental sedang keluar dari hidungnya, bersamaan hentakan terakhir sang suami setelah mencapai titik kepuasan.


Tubuhnya terhempas di atas tubuh sang istri yang sedang menahan sakit pada kepalanya.


"Sayang!" Aku mau pipis." Andien berbohong untuk menghindari tatapan sang suami pada wajahnya yang terlihat pucat dengan darah yang makin lama makin mengucur deras.


Andien buru-buru masuk ke kamar mandi dengan pandangan mulai kabur.


"Ya Allah, tolong jangan sekarang!" Jangan biarkan suamiku merasa bersalah." Pintu kamar mandi di buka dengan cepat dan di kunci dari dalam.


Darah itu tidak ingin berhenti keluar dari hidungnya walaupun Andien sudah menenggak kepalanya dengan tubuh yang makin melemah.

__ADS_1


Semua tisu sudah penuh dengan darah. Andien menyalakan shower untuk segera menghentikan darah dari dari hidungnya.


"Tolong jangan keluar lagi!" Aku mohon!" Tangis Andien yang melihat darah sudah bercampur dengan air yang mengalir.


Tok...tok...!" Andien!"


"Sayang!" Kenapa dikunci pintunya?" Reza merasakan ada keanehan pada istrinya.


"Andien buka pintunya sayang!"


"Aku lagi sakit perut mas!" Bohong Andien yang sedang menunggu mimisan di hidungnya berhenti.


Reza yang percaya perkataan istrinya, mau tidak mau keluar dari kamar menuju ke toilet tamu. karena ia juga ingin pipis.


"Kenapa aku merasa Andien berbohong ya?" Apakah dia sedang baik-baik saja?" Perasaan tidak enak Reza mulai menghinggapi hatinya kini.


Ia pun buru-buru membersihkan dirinya lalu kembali ke kamarnya karena takut terjadi sesuatu pada Andien.


"Andieeennnn!" Pintu itu dibuka dengan cepat, sedangkan Andien sedang duduk manis di tempat tidur sambil memainkan ponselnya dengan baju piyama hitam berbahan sutra lembut menutupi tubuhnya.


Andien tersenyum pada suaminya setelah meneguk obat penghenti pendarahan mimisan dan pusing yang barusan menderanya.


"Mas Reza mandi di kamar mandi tamu?" Tanya Andien yang ingin mengalihkan perhatian Reza pada kondisinya.


"Iya sayang. Apakah kamu menikmati permainannya?" Apakah aku sangat kasar melakukannya?" Apakah aku menyakitimu?" Desak Reza yang belum puas mendengar jawaban Andien


Andien tersipu malu mendengar pertanyaan suaminya tentang kepuasan.


"Rasanya setengah beban ku lenyap setelah melakukannya." Ucap Andien membuat suaminya menghela nafas dengan lega.


"Aku sangat takut jika tubuhmu belum sanggup melakukan kewajibanmu sebagai istriku, sayang. Maafkan aku jika aku memaksakan kehendak ku karena kerinduanku yang tak tertahankan padamu." Ucap Reza seraya membawa tubuh Andien ke dalam pelukannya.


Andien membenamkan kepalanya lebih dalam di dada bidang sang suami. Rasa nyaman dengan wangi parfum maskulin dari tubuh Reza sangat menenangkan penciumannya.


Seperti aroma terapi untuk dirinya yang kini mulai merasa ngantuk menyapa manik mata hitam legam miliknya. Tatapan tajam miliknya begitu dingin kepada orang lain, kini makin meredup tatkala obat yang diminumnya menuntut tubuhnya untuk segera beristirahat.

__ADS_1


Reza merasakan hembusan nafas lembut nan teratur keluar masuk dengan tenang mengantarkan tidur sang istri. Reza membelai rambut panjang istrinya yang sudah keramas dengan wangi sampo terasa menggoda dirinya.


Kulit lembut Andien yang sangat terawat terasa begitu kenyal setiap kali Reza menyentuhnya. Pria tampan ini selalu merasakan penyesalan sampai saat ini walaupun sang istri tidak lagi mendebat dirinya.


Cara Andien memaafkan dirinya bagai hukuman tersendiri dan sangat menyakitkan hatinya. Hukuman yang begitu elegan dari seorang Andien mampu membuat Reza merasa tersiksa batinnya.


"Lelap..lelapkan tidurmu!" Sampai azan subuh memanggilmu sayang. Maafkan aku sayang...Aku menyesal...sangat menyesal... Aku tidak dapat menebus waktu yang terbuang.


Andai bisa mengulang, waktu yang telah lama terbuang...andai bisa ku perbaiki segala yang terjadi. Namun waktu tak akan pernah kembali, tapi harapanku untuk selalu bersamamu tak akan pernah berakhir hingga malam ini, kau nyata bagiku, Andien." Ucap Reza lirih sambil mendengarkan deru nafas lembut dari sang istri.


Reza ikut memejamkan matanya setelah lelah usai menunaikan tugasnya memberikan nafkah batin untuk sang istri.


Sementara di kamar anak-anaknya sudah terlelap dengan selimut yang menutupi tubuh kecil mereka.


Senyum kompak terlihat jelas saat mimpi indah bermain dalam tidur mereka. Memiliki keluarga utuh yang mereka dambakan kini melengkapi kebahagiaan mereka.


Entah apa yang terjadi di hari esok tak penting lagi mereka pikirkan, karena hari ini melihat kebahagiaan ayah dan mama mereka menjadi hadiah terindah selama melewati usia mereka.


Sementara di Jakarta, kesehatan ayah Reza, tuan Handoyo mulai berangsur membaik. Namun tidak dengan kerinduannya pada keempat cucunya makin menyiksa dirinya dan juga sang istri.


Penyesalan keduanya hanya tertuang dalam setiap sujud mereka agar Allah mau mengampuni dosa-dosa mereka. Seakan tak habis air mata penyesalan yang mereka tumpahkan kala rindu akan sosok keluarga kecil putranya Reza.


"Ya Allah berikanlah kebahagiaan paripurna untuk keluarga kecil putraku Reza. Ampunilah aku ya Allah telah merenggut kasih sayang seorang ayah dari keempat cucuku dan juga menantuku Andien yang begitu baik padaku namun keangkuhanku telah menghancurkan masa depannya.


"Ampunilah aku dan istriku ya Robby." Setiap kata dalam untaian doa selalu sama yang diucapkan tuan Handoyo bersama istri.


Ketika memasuki waktu subuh, Reza membangun istrinya yang masih terlelap.


"Andien..sayang!" Bangun!" Kita sholat subuh yuk!" Andien tidak bergerak sama sekali, menyulut kecurigaan Reza yang mulai kuatir.


"Andien.. Andien... Andien!" Astaga ada apa nih.. kenapa tubuhnya sedingin ini?" Pikiran Reza mulai kalut dengan tubuhnya yang sudah lemah tanpa daya.


"Tidak.... tidak... tidak Andien!" Jangan lakukan itu padaku..


Andieeennnn... Aaaaakkkkk!" Teriak Reza histeris.

__ADS_1


__ADS_2