PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
73. Kesedihan Ratih


__ADS_3

Memasuki puasa pekan kedua. Ditengah kebahagiaan Reza dan Andien yang kini sedang melaksanakan ibadah puasa ramadhan pertama mereka, tidak dengan saudara kembarnya Reza, yaitu Ratih yang saat ini sedang menangisi kemalangan hidupnya karena secara tidak sengaja ia bertemu dengan mantan suaminya sedang menggandeng istri barunya yang saat ini sedang hamil muda.


Sore tadi Ratih berjalan sendiri menuju pusat penjualan kuliner untuk membeli beberapa makanan kesukaannya untuk berbuka puasa.


Saat sudah membayar belanjaannya, ia berbalik hendak menuju ke mobilnya. Tanpa di sangka di hadapannya sedang berdiri sepasang suami-istri yang sedang menatapnya dengan wajah terkejut.


"Ratih...!" Ujar Ramah yang melihat mantan istrinya yang terlihat lebih kurus namun masih sangat cantik.


Yeni yang melihat suaminya nampak tidak berkedip menatap mantan istrinya, langsung berseru manja pada sang suami untuk memanasi Ratih.


"Sayang, aku mau kue itu!" Babynya pingin makan kue itu!" Ucapnya dengan suara mendayu-dayu hingga membuat Ratih ingin melemparkan makanannya ke wajah wanita itu.


"Cih!" Dasar pelakor murahan!" Sindir Ratih dengan senyum sinis yang diperlihatkan olehnya pada pasangan ini.


Ratih buru-buru masuk ke mobilnya dan mengendarai mobilnya sambil menangis.


"Sialan!" Kenapa aku harus bertemu dengan pasangan terkutuk itu." Umpatnya sepanjang jalan.


Iapun segera masuk ke kamarnya, melewati keluarganya yang sedang duduk menyaksikan acara ramadhan di televisi.


"Tante Ratih kenapa?" Pulang-pulang ko nangis?" Tanya Fariz pada sang nenek.


"Ada apa dengan tante mu?" Nenek juga tidak tahu. Sebentar ya!" Nenek menemui tante mu dulu.


"Ratih!" Sayang, ada apa, hmm?" Tanya nyonya Susan dengan penuh kelembutan.


"Ratih bertemu dengan bajingan dan pelakor itu mami....hiks..hiks!"


"Cobalah ikhlaskan saja Ratih, siapa tahu Allah punya rencana sendiri untuk jodoh lain yang lebih baik dari pada mantan suamimu.


Apakah kamu ingin menertawakan dirimu yang saat ini masih belum move on dengan lelaki yang sama. Bagaimana pun juga dia sudah milik orang lain, kaku hanya sebatas mantannya." Ucap nyonya Susan memberikan pengertian pada putrinya.


"Tapi mami, Ratih sangat sakit hati melihat mereka lagi. Kalau saja pelakor itu tidak menggoda suamiku, mungkin mas Rama masih bersama dengan Ratih saat ini mami. Ini pertama kalinya Ratih menjalani puasa tanpa dirinya.


"Hidup memang seperti itu Ratih, bisa berubah kapan saja. Ada yang baru bermesraan dengan suaminya tahu-tahu salah satu dari mereka ada yang meninggal, ada yang minta cerai dan itu sudah biasa dengan permainan takdir.

__ADS_1


"Apa yang harus aku lakukan mami?" Sementara hatiku masih sangat sakit mengenang pengkhianatan mas Rama padaku?"


"Bukankah kamu tadi melihat mereka berdua sangat bahagia?" Apakah pantas mereka bahagia diatas lukamu?" Tunjukkan bahwa kamu punya segalanya dan tidak bisa ditindas begitu saja oleh mantan suamimu itu.


Tunjukkan kepada sang mantan bahwa dia menyesal telah meninggalkan kamu. Lihatlah Andien ibu dari si kembar empat, betapa gigihnya gadis itu bertahan dengan segala ujian yang ada hingga akhirnya dua menjadi wanita mandiri dan hebat dengan membesarkan keempat anaknya tanpa saudara kembarmu.


Akhirnya apa yang terjadi, Reza sangat menyesali perbuatannya pada Andien dan berusaha mendapatkan lagi ibu dari keempat anaknya." Ucap nyonya Susan menasehati putrinya dengan menjadikan putranya sebagai contoh konkrit yang sudah mereka rasakan sendiri.


Ratih tampak tercenung dengan nasehat ibunya. Dalam hatinya membernarkan perkataan ibunya namun gengsinya lebih tinggi dari pada kebenaran yang nyata yang sudah ia saksikan sendiri.


"Kenapa harus mencontohkan wanita pembawa sial itu mami?" Apa tidak ada contoh yang lain yang lebih membangun. Mana ada pasangan berzina yang tidak pernah dibenarkan dalam agama menjadi contoh." Sanggah Ratih ketus.


"Memang perbuatan mereka salah tapi Allah tidak pernah meninggalkan mereka saat mereka berusaha bangkit dan terus memohon ampunan dari Allah.


Setiap hamba yang beriman masuk surga karena Rahmat Allah bukan karena berat amal baiknya. Jadi, berhentilah menghakimi kehidupan orang lain dan fokuslah pada dirimu sendiri.


Jika kamu ingin Allah mengubah takdirmu, ubahlah perilaku burukmu untuk menerima segala kebaikan orang lain dengan nuranimu bukan dengan egomu. Lagi pula ini bulan puasa Ratih, bulan untuk umat Rosulullah untuk mengintrospeksi dirinya dari setiap dosa yang pernah ia lakukan.


Jangan pernah merasa benar sendiri dan membenarkan setiap apa yang baik menurut penilaian mu. Hiduplah sesuai dengan maunya Allah bukan menuruti kemauan mu. Mami tinggal dulu sebentar lagi mau buka puasa . Bersiaplah!"


Drettt...


Bunyi ponsel milik Calista berdering. Gadis itu mengambilnya lalu melihat layar pipi itu ternyata panggilan video call dari ayahnya.


"Assalamualaikum ayah!"


Reza menjawab salam semua keluarga besarnya.


"Selamat berbuka puasa!"Ucap Reza sambil melambaikan tangannya.


"Kapan ayah dan mama pulang?" Camilla kangen ayah." Ucap Camilla dengan wajah sendu.


"Satu pekan lagi sayang, ayah dan mama pulang kampung. Cepatlah pulang ayah, supaya kita bisa buka puasa bersama dengan kakek, nenek, kedua Tante cantik dan satu om tampan." Ucap Calista.


"Reza!" Mana nak Andien?" Tanya nyonya Susan.

__ADS_1


"Lagi mandi mami. Kami mau berangkat kerja bareng." Ucap Reza.


"Titip salam untuk nak Andien, mami menunggu kalian pulang."


"Iya mami!" Insya Allah."


Kumandang adzan Maghrib mulai menggema.


"Bye...bye ..ayah!" Kami buka puasa dulu ya." Ucap Calista.


Doa buka dipanjatkan oleh tuan Handoyo. Mereka memulainya dengan meneguk air putih dan makan buah kurma.


Setelah itu menikmati makanan ringan lainnya yang mengandung rasa manis untuk mengembalikan tenaga, kecuali Rania yang sedari tadi tidak bisa menikmati makanannya.


"Kamu kenapa sayang?" Ko tangan kamu sangat dingin Rania?" Apakah kamu baik-baik saja?" Tanya Jody cemas.


"Entahlah mas!" Rania tidak selera makan, rasanya perut Rania mual." Ucap Rania sambil menahan rasa mual di perutnya padahal ia hanya minum air dan makan beberapa butir kurma.


"Nak Jody, bawah saja Rania ke kamar, biar kepala pelayan yang hubungi dokter keluarga." Titah nyonya Susan.


"Ayo sayang!" Kita berangkat ke mesjid!" Ajak kakek Handoyo pada keempat cucunya.


"Maaf ayah!" Jody tidak bisa ikut karena Rania lagi kurang sehat, Jody sholat di rumah saja dengan Rania.


"Tidak apa Jody!" Urus Rania dulu!" Ayah berangkat ke mesjid dengan anak-anak.


"Rania!" Mas gendong ya!"


"Tante Rania!" Selamat ya!" Tante saat ini sedang hamil." Ucap Calista sambil mengelus perut Rania lalu mengejar ketiga saudaranya yang sudah duluan berangkat ke mesjid.


"Apa maksudnya dengan perkataan Calista sayang?" Tanya Jody tidak mengerti.


"Semoga saja perkataan gadis kecil itu benar adanya karena dia sudah mengatakan itu ketika baru tiba di rumah ini." Ucap Rania penuh harap.


🔥Mohon maaf atas keterlambatan update bab sebelumnya karena sistem NT lagi penuh. Jika telat masuk ke beranda dasbor karya ini, semata-mata dari sistem NT bukan dari Author 🔥

__ADS_1


__ADS_2