
Sekitar dua jam Andien sedang berjuang dengan segenap jiwanya untuk membebaskan keempat bayinya dari alam rahimnya.
"Seharusnya persalinan nona Andien dilakukan secara sesar, tapi keadaan bercerita lain. Bayinya seakan ingin cepat hadir melalui jalur normal.
Nona Andien harus punya tenaga ekstra untuk bisa mengejan dengan situasi sulit yang sedang ia hadapi saat ini.
Ia harus melahirkan bersamaan dengan kambuh penyakitnya." Keluh dokter Manuella.
"Andien!" Apakah kamu bisa melakukannya sayang?" Tanya Reza sambil mengusap peluh yang membasahi wajah dan leher Andien yang melihatnya dengan wajah pucat lagi sendu.
"Mungkin tenagaku tidak cukup kuat untuk mendorong mereka keluar. Tapi cinta mas Reza dan anak-anak yang memampukan aku untuk berjuang melahirkan mereka secara normal atas ijin Tuhanku.
Doakan aku dan ridhoi aku mas Reza." Lirih Andien begitu lemah.
Belum lagi mimisan yang terus menerus keluar dari hidung Andien seakan berlomba dengan pendarahan yang keluar melalui jalur lahirnya.
"Ya Allah aku ridho istriku berjuang di jalanMu dengan ijin Engkau, Tolong selamatkan Istriku dan keempat bayi kami." Ucap Reza sambil berlinang air mata.
Usai berdoa seperti itu, Reza ******** bibir istrinya, seakan memberikan kekuatan untuk Wanitanya yang sedang berjuang dalam keadaan payah yang bertambah- tambah.
Kontraksi mulai datang lagi, kali ini lebih hebat hingga membuat Andien berteriak histeris menyebut nama Tuhannya sambil menggenggam erat tangan Reza.
Reza membaca doa sebisanya dengan peluh yang sama banyaknya dengan sang istri.
"Andien, aku sangat mencintaimu sayang!" Bisik Reza bersamaan dengan Andien mengejan dengan sekuat tenaga.
"Bismillahi Allahuakbar!"
Tangis bayi pertama laki-laki, lima menit kemudian bayi kedua perempuan, tiga menit kemudian bayi laki-laki dan terakhir sedikit bandel untuk diajak keluar, seakan memberikan waktu kepada ibunya untuk mengumpulkan kembali tenaga.
"Satu lagi nona Andien." Ucap dokter Manuella sambil memotong tali pusar putra ketiga kembar empat itu.
"Mengapa masih lama keluar bayiku berikutnya, dokter?" Keluh Reza yang tidak tega melihat istrinya hampir seperti mayat hidup.
"Dia sedang berdandan didalam sana sebelum keluar sayang." Ucap Andien kocak ditengah perjuangannya untuk melahirkan satu lagi bayinya.
"Bagaimana mungkin dia dandan sayang, bukankah dokter Manuella bilang bayinya laki-laki?" Tukas Reza membantah perkataan istrinya.
"Aku yang meminta kepada Allah agar mereka sepasang-sepasang sesuai dengan kelahiran pertama keempat kakaknya."Ucap Andien sambil tersenyum samar membuat Reza begitu gemas dengan wanita hebat ini.
__ADS_1
Tidak lama kemudian kontraksi kembali terjadi dan Andien berhasil melahirkan bayinya yang keempat sesuai harapan mamanya yaitu perempuan."
Namun sayang, Andien harus pingsan karena tenaganya sudah terkuras semua untuk menyelamatkan keempat bayinya.
Reza yang fokus pada kelahiran putrinya yang ke delapan begitu kagum hingga tidak memperhatikan istrinya.
Ia baru menyadari genggaman Andien terasa lemah di tautan tangannya.
"Sayang..!" Andien!" Bayi terakhir kita perempuan." Suara Reza terdengar parau melihat kondisi istrinya yang sudah sangat lemah.
"Tuan Reza!" Anda seorang muslim bukan?"
Reza mengangguk sambil terisak. Tunggulah di luar dan persiapkan diri anda untuk azan kembar empat," ujar dokter Manuella yang paham ritual Islam dalam menyambut setiap kelahiran bayi mereka.
"Tapi dokter, istriku pingsan." Keluh Reza ketakutan.
"Biarkan kami yang mengurusnya!" Saya yakin nona Andien bisa bertahan karena cinta tulus anda yang begitu besar untuknya." Ujar dokter Manuella menguatkan suami pasiennya ini.
"Tolong dokter!" Selamatkan istriku dokter!" Pinta Reza sambil mengusap air matanya lalu keluar menemui keempat anak pertamanya.
Setibanya di luar, Reza tidak menemukan keempat anaknya bersama teman Camilla, Davin.
"Maaf suster! apakah anda melihat keempat anak saya?" Tanya Reza sambil menyebutkan ciri-ciri fisik keempat anaknya.
"Tadi mereka minta ijin kepada kami menggunakan aula rumah sakit ini untuk berdoa dan kami mengijinkannya. Salah satu teman saya mengantar mereka berlima ke aula." Ucap suster itu.
Reza yang mengetahui letak Aula nya, segera berlari menemui keempat anaknya. Setibanya di sana Keempatnya sedang duduk khusu di atas sajadah mereka masing-masing sambil berdzikir usai menunaikan sholat ashar di imami oleh Davin.
Reza mendekati keempat anaknya dan memanggil mereka dengan suara parau. Keempatnya menengok kompak bersama Davin yang ikut menemani mereka.
"Ayah!" Bagaimana proses persalinan mama?" Tanya Camilla.
Reza menceritakan proses persalinan Andien kepada anak-anaknya dan keempatnya langsung syok walaupun hati mereka sedikit terhibur karena keempat adik bayi mereka selamat.
"Ayo kita sholat Sunnah mutlak dua rakaat untuk mama." Pinta Calista.
Masing-masing diantara mereka melakukannya lagi sholat tersebut yang biasa di lakukan di luar sholat fardhu dan kapan saja untuk bermunajat dengan penuh ketulusan agar Allah menolong mereka menyelamatkan mamanya dari situasi mencekam saat ini.
Salat Sunnat Mutlaq adalah salat sunnat yang dapat dilakukan tanpa memerlukan sebab tertentu dan kapan saja kecuali waktu-waktu yang diharamkan untuk mengerjakan salat. Jumlah rakaatnya tidak terbatas dan dilakukan dengan seri 2 raka'at.
__ADS_1
Reza segera mengambil wudhu karena dia juga belum sholat ashar.
Sementara di luar sana, pangeran Fatih sedang mencari informasi tentang ibunya Calista. Seorang satpam mengantarkannya ke ruang bersalin. Di sana iapun tidak menemukan Calista maupun saudara Calista yang lain.
"Mengapa terlihat sepi?" Tanyanya lirih.
Ia pun menghubungi Calista tapi dari tadi ponsel gadis itu tidak aktif. Pangeran Fatih duduk menunggu di depan ruang bersalin karena informasi yang terakhir yang ia dapatkan bahwa ibunya Calista masih berada di dalam ruangan itu karena masih ditangani oleh dokter spesialis kandungan yang membantunya melahirkan.
Tidak lama kemudian keluarga itu datang lagi ke ruangan itu untuk mencari tahu informasi selanjutnya. Reza masuk lagi ke ruangan itu untuk mengumandangkan adzan untuk keempat bayinya.
Pangeran Fatih berdiri dengan gagahnya menyambut Calista yang sedang terlihat murung saat ini.
"Nona Calista!" Panggilnya dengan seulas senyum menghiasi wajah tampannya. Tapi yang ia panggil justru tertukar kalau itu adalah Camilla membuat Davin menatap wajah pangeran Fatih tak suka.
"Calista!" Ulang pangeran Fatih membuat Davin mendekati pangeran Maroko itu.
"Apakah kamu belum mengenal betul kedua gadis kembar itu?" Lihatlah siapa yang kamu panggil, bukankah dia tidak mau menyahut panggilanmu?" Tanya Davin menahan geram.
"Menyadari kekeliruannya, pangeran Fatih buru-buru minta maaf sambil mencari guru kecilnya itu yang sedang berjalan bersama ketiga saudara kembarnya Al dan Fariz.
Iapun berlari menghampiri Calista." Nona Calista!" Teriaknya.
Calista mengangkat wajahnya lalu tersenyum hambar pada sang pangeran yang mengerti suasana hati gadis ini sedang tidak baik.
"Nona Calista!" Apakah kamu baik-baik saja?"
Calista menggeleng sedih.
"Apa yang terjadi pada mamamu dan juga keempat adikmu?" Tanya pangeran Fatih ingin mengetahui lebih banyak informasi tentang ibunya Calista.
Tidak lama kemudian dokter membuka pintu ruang persalinan itu. Wajah dokter tanpa senyum menatap keluarga pasiennya membuat Calista dan Camilla tercekat namun dua pangeran mereka menggenggam tangannya.
Al dan Fariz menahan nafas mereka seakan ikut terhenti saat ini.
"Dokter tolong katakan sesuatu pada kami!" Pinta Davin ikut cemas.
Alih-alih menjawab pertanyaan Davin, dokter Manuella malah berkaca-kaca.
.....
__ADS_1
"Hari ini ada vote gratis dari NT, mohon vote untuk author ya!🙏🤗