PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
156. BERAKHIR!


__ADS_3

Kedua pengantin itu, harus menghabiskan malam pengantin mereka dengan menunggu ayah Reza di rumah sakit.


Camilla dan Calista tidak bisa menjenguk ayahnya karena Reza saat ini dirawat di ruang ICU. Lagi pula mereka tidak bisa menunggu di rumah sakit karena ada bayi yang tidak bisa mereka tinggal.


Hanya Davin dan Fatih yang menemani Faris dan Al. Dua pangeran itupun tidak sendirian. Masing-masing pengawal mereka tetap berada tidak jauh dari keduanya duduk.


Sementara Andien di apit oleh kedua adik Adam dan istrinya, Ayu. Mereka hanya bisa berzikir untuk kesembuhan Reza.


Tidak lama dokter yang menangani penyakit Reza keluar dari kamar ICU ingin bicara dengan Andien. Istri Reza ini terlihat tegar saat dokter memintanya duduk di hadapannya.


Dokter mulai memaparkan penyakit yang diderita Reza.


"Nyonya Andien!"


"Iya dokter!"


"Tuan Reza mengidap kangker lambung. Karena setress yang berlebihan makin memperparah kondisinya.


Ini bukan kali pertamanya, tuan Reza datang ke rumah sakit. Sudah hampir tiga bulan ini, tuan Reza sudah melakukan kemoterapi dan meminta saya untuk merahasiakan penyakitnya dari anda." Ujar Dokter Lukman Hakim.


Deggggg...


Andien terhenyak mendengar penuturan dokter tentang penyakit suaminya.


"Seberapa parah dokter?"


"Sudah stadium lanjut."


"Apakah masih bisa di obati dan sembuh..?"


"Kita hanya berdoa agar Allah memberikan keajaiban pada tuan Reza. Beliau hanya butuh dukungan dari keluarga terdekatnya."


Andien mengepalkan kedua tangannya sambil memejamkan matanya menahan bulir bening yang hampir tumpah saat ini.


Wajah datar itu tetap memperlihatkan ketegarannya seperti biasa. Dokter Lukman cukup salut dengan keteguhan hati istri pasiennya ini.


"Baiklah dokter. Kalau begitu saya permisi dokter!"


Andien buru-buru keluar dari ruang ICU. Ia meminta kedua putranya Fariz dan Al untuk pulang kembali ke hotel karena kedua istri mereka sedang menunggu.


"Kalian berdua bisa datang besok pagi untuk gantian dengan mama. Sekarang kalian bisa kembali ke hotel. Penyakit Ayah kalian tidak berapa parah."


Andien ingin menyimpan berita buruk ini sendirian. Adam bisa menangkap kebohongan kakaknya ini.


Untuk meyakinkan kedua keponakannya, Adam juga ikut berbohong kalau Reza baik-baik saja, tapi tidak dengan Davin yang sangat paham dengan gestur orang berbohong walaupun sudah terlatih.


"Baiklah mama. Tapi tolong konfirmasi terus keadaan ayah entah baik ataupun buruk supaya kami merasa tenang." Ujar Fariz.


"Iya sayang! Temui lah istri kalian karena ini adalah malam istimewa untuk mereka." Senyum Andien terlihat teduh.


"Fatih, Davin kalian juga harus pulang. Mengurus bayi kembar tidak bisa ditangani oleh istri kalian sendirian, apa lagi masih berada di hotel." Lanjut Andien.


"Iya mama, tapi biarkan pengawal kami tetap stay di sini."


"Tapi pengawal mama sudah banyak nak Davin!"


"Ini untuk ayah, bukan untuk mama." Sela Fatih.


"Baiklah terimakasih dan hati-hati!"


Sepeninggal menantu dan putranya, Andien menangis dalam pelukan Adam.


"Adam! Aku sudah terbiasa dengan mas Reza! Aku tidak sanggup jika dia harus pergi meninggalkan aku untuk selamanya."

__ADS_1


"Mbak Andien!"


Dulu kami hampir putus asa karena mbak tidak punya lagi harapan untuk hidup, tapi rencana Allah lebih indah untuk hambaNya dan yakin akan kekuatanNya. Kembalikan ujian itu kepada Allah.


Katakan kepada ujian, bahwa Allah ku lebih besar daripada kamu. Insya Allah, Allah yang mengangkat penyakitnya mas Reza. Semangat mbak!"


Adam menghibur saudara kembarnya ini, untuk lebih kuat dan yakin atas pertolongan Allah.


"Astaghfirullah ya Rabb, kenapa aku menjadi lemah seperti ini?" Sesal Andien lalu pamit pada Adam dan Ayu untuk mengambil air wudhu.


Dalam lima menit, ia sudah membaca Alquran untuk mengobati hatinya.


Sekitar pukul satu malam, Andien menuju mesjid untuk melakukan sholat qyamul lail karena ia tidak tidur jadi tidak terhitung sebagai sholat tahajud.


"Ya Allah! Tolong hibur aku. Aku tidak pernah kufur atas nikmat dan Rahmat Mu pada kehidupanku selama ini ya Rabb.


Aku dianugerahi banyak keberkahan baik untuk diriku sendiri maupun pada anak dan Suamiku. Saking banyaknya keberkahan itu hingga aku begitu takut jika suatu hari nanti Engkau akan mengambil apa yang pernah Engkau titipkan kepadaku.


Ya Allah, suami dan anak adalah titipan Mu dan Engkau hanya meminjam mereka padaku, tapi Ijinkan aku mengabdi padanya untuk menghuni surgaMu kelak dengan ridhonya, tolong jangan ambil suamiku dulu ya Rabb." Air mata Andien kembali luruh di dalam sujud panjangnya.


...----------------...


Dua pekan berlalu, Reza sudah berada lagi di kediamannya. Semua besannya sudah kembali ke tempat mereka masing-masing. Tapi Reza masih terhibur dengan adanya tujuh cucunya yang masih bertahan di rumahnya.


Camilla dan Callista akan kembali ke negara suami mereka bulan depan. Andien mengundurkan diri dari pekerjaannya untuk merawat sang suami.


Sementara kedua putranya Fariz dan Al sudah memiliki mansion dan perusahaan sendiri. Namun Reza tidak diam begitu saja, ia menghibahkan dua perusahaannya pada kedua putranya yang saat ini masih dikelola oleh keduanya.


Begitu juga dengan Rendy sudah memiliki perusahaan sendiri. Keluarga mereka makin bahagia dengan anak kembar mereka.


Waktu terus bergulir hingga akhirnya Calista dan Camilla kembali ke Maroko dan Yunani dengan membawa bayi kembar mereka. Pangeran Davin memilih tinggal di istananya sendiri, sementara itu, pangeran Fatih ingin membesarkan anak-anaknya di villa keluarga.


Tiga bulan kemudian, istri dari Faris dan Al, akhirnya mengandung bayi kembar empat. Reza mengajak istrinya Andien untuk menetap di Madinah usai melakukan ibadah haji.


Walaupun sudah tinggal berjauhan, namun setiap dua bulan sekali mereka saling berkunjung satu sama lain.


Baginya, kemoterapi yang paling afdhol untuk penyakitnya adalah dengan memperbaiki ibadah dan memperbanyak amal Sholeh, jauh lebih ampuh daripada bergantung pada alat medis yang hanya mempertanyakan hidup.


"Mengapa tidak mau menjalani perawatan sayang? Tanya Andien sedih.


"Nabi Ayub, di uji oleh Allah dengan penyakit yang begitu parah yang tidak pernah di alami manusia sebelum dirinya dan tidak akan pernah dialami lagi manusia sesudahnya.


Ia lebih banyak mendekatkan dirinya kepada Allah dengan beribadah dan Alhamdulillah sembuh dan kembali muda lagi." Ujar Reza membuat istrinya tersenyum.


"Apakah mas Reza terinspirasi pada nabi Ayub?"


"Allah memberikan semua ujian pada nabinya untuk menjadi contoh untuk umat manusia untuk ditiru perilaku mereka, dan sekarang aku sedang meniru perilaku nabi Ayub."


"Aamiin..!"


"Sayang, terimakasih untuk cinta dan kesetiaan mu untukku selama ini, bidadari ku tercinta, Andien." Reza memeluk istrinya.


...----------------...


Lima tahun berlalu, anak-anaknya Calista dan Camilla tumbuh dengan didikan agama yang kuat. Seperti ibu mereka, anak-anak itu sudah bisa menghafal Alquran sejak dini dan bisa membaca di usia tiga tahun.


Kejeniusan ibu mereka sudah diwariskan kepada anak-anaknya. Namun yang menarik di sini adalah, putrinya Davin Cyra. Gadis kecil ini bukan hanya jenius, tapi ia juga mampu mengendalikan benda-benda yang ada di hadapannya.


"Cyra!" Panggil Camilla yang sejak tadi tidak melihat putrinya itu keluar dari kamarnya.


"Iya mami!"


Camilla membuka kamar putrinya dan melihat kamar itu sangat berantakan seperti kapal pecah.

__ADS_1


"Astaghfirullah, ya Allah Cyra! Kenapa kamarnya sampai berantakan seperti ini, sayang?"


Wajah Camilla sudah seperti kepiting rebus sambil menatap wajah cantik putrinya yang terlihat santai sedang menyusun lego.


"Nanti Cyra akan merapikannya lagi mami. Tidak usah marah seperti itu mami, nanti mami cepat tua." Ujar Cyra santai.


"Mana mungkin tubuhmu sekecil itu bisa merapikan semuanya dengan cepat.


Tunggu sebentar! biar mami panggilkan pelayan untuk membersihkannya." Ujar Camilla sambil bertolak pinggang di hadapan putrinya.


"Mami...! Tante Calista itu sangat lembut bicaranya dan selalu tenang menghadapi keempat anaknya. Lagi liburan kemarin ke Maroko, Cyra melihat bagaimana Tante Calista tidak semarah mami kalau anak-anaknya nakal." Ujar Cyra so dewasa.


"Itu Tantemu Calista dan mami bukan Tantemu. Aduh mana lagi ini pelayan, dipanggil nggak datang." Camilla makin ngedumel.


Dengan kekuatannya, Cyra memindahkan semua barang yang berantakan pada tempatnya masing-masing dalam sekejap.


Camilla tersentak melihat putrinya melakukan hal aneh di depannya


"Astaghfirullah! Cy...Ra..?"


Brukk....


Camilla langsung pingsan.


"Ya Allah, kenapa mami pingsan!" Ujar Cyra sambil menepuk jidatnya.


Davin yang sedang mencari istrinya, membuka lamar putrinya dan melihat Camilla tergeletak di atas lantai.


"Astaga Camilla, sayang! Cyra..sayang! kenapa dengan mami?"


"Mami pingsan ayah!"


"Kenapa bisa pingsan?"


Cyra tidak bisa menjawab pertanyaan Daddy-nya karena melihat buku yang jatuh dari rak itu di kembalikan dengan cepat oleh Cyra dengan matanya.


Davin tersentak melihat putrinya mewarisi kekuatan darinya.


"Apakah kekuatanmu itu yang menyebabkan mami mu pingsan, sayang?"


Cyra mengangguk sambil tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang putih bersih.


"Masya Allah! putri Daddy."


Camilla membuka matanya perlahan dan melihat lagi keadaan kamar putrinya yang sudah rapi.


"Ya Allah, apa yang aku lihat tadi, putriku Cyra....?"


"Mungkin kamu sedang mimpi sayang..!" Ucap Davin sambil mengedipkan sebelah matanya pada Cyra.


...


Cerita pun selesai...


**TAMAT...


GOOD BYE READERS ...


Nantikan pengumumannya besok ya...


Wassalamu'alaikum Wt. Wb..


Terimakasih**...

__ADS_1


__ADS_2