
Wajah kedua orangtuanya Reza sudah terlihat di layar ponselnya. Reza meminta ijin kepada keempat anaknya untuk menerima panggilan video call itu. Reza tidak ingin memperlihatkan wajah anak-anaknya sebelum memberikan penjelasan kepada kedua orangtuanya agar tidak gagal paham pada dirinya.
"Assalamualaikum Reza!"
Reza menjawab salam ayahnya dengan gugup." Reza!" Apakah benar pemberitaan yang ditayangkan di media saat ini?" Tanya nyonya Susan.
"Benar mami!" Semuanya serba mendadak untuk Reza."
"Reza, ayah kangen dengan Calista dan saudara kembarnya yang lain." Ujar tuan Handoyo menahan tangisnya.
"Apakah kalian siap menerima mereka sebagai cucu kandung kalian?" Tanya Reza ragu-ragu.
"Ayah tidak memikirkan lagi masa lalu, nak karena tidak ada yang lebih penting dan berharga untuk kami adalah bisa melihat keturunan darimu, nak." Ujar tuan Handoyo lirih.
Tuan Handoyo terlihat mengatup kedua tangannya memohon dengan sangat pada putranya agar mempertemukan keempat anaknya dengan mereka walaupun hanya melalui kamera ponsel.
Reza mengusap air matanya lalu mengarahkan ponselnya ke arah anak kembar empatnya.
"Hiks..hiks!" Mereka sudah lebih tinggi saat ayah bertemu dengan mereka." Ujar tuan Handoyo sambil menangis pedih.
"Ayah sedang bicara dengan siapa?" Tanya Al yang tidak begitu paham dengan bahasa Indonesia.
"Itu kakek dan nenek kita, Fariz." Ucap Calista yang sangat paham dengan bahasa ibunya.
"Apakah kalian ingin bicara dengan kakek dan nenek?"
"Sambungkan saja melalui televisi ayah, jadi gambarnya lebih besar. Gunakan bluetooth nya." Ucap Fariz.
Aku segera mengambil ponselnya ayahnya dan langsung di alihkan ke televisi. Reza duduk lagi bersama keempat anaknya dan mulai bicara santai dengan kedua orangtuanya.
Keempatnya menyapa kakek dan nenek mereka dengan salam." Lho bukannya itu kakek yang pernah kecopetan dompetnya?" Bagaimana bisa dia adalah ayah dari ayahku?" Tanya Calista yang masih ingat wajah kakek yang ingin memberinya uang atas jasanya.
"Calista apa kabar!" Apakah kamu tidak ingat dengan kakek?"
"Hemm!" Calista mengangguk.
__ADS_1
"Apakah ibu kalian sedang sakit?" Tanya Nyonya Susan.
Keempatnya mengangguk dan terlihat canggung dengan obrolan itu. Reza memahami kondisi perasaan anak-anaknya, ia pun meminta pengertian kepada kedua orangtuanya untuk tidak banyak bicara saat ini.
"Apakah kakek dan nenek yang telah menolak kami untuk dilahirkan ke dunia ini?" Tanya Calista dengan sakartis.
Degggg...
Wajah nyonya Susan terlihat menegang dan bingung harus menjawab apa.
Reza langsung mematikan ponselnya karena tidak ingin ada kesan yang tidak mengenakkan dari pertemuan pertama ini.
Nyonya Susan menghela nafas dalam." Setidaknya Reza menyelamatkan kita dari serangan pertanyaan Calista ayah." Ujar nyonya Susan tertunduk malu.
"Mami!" Ayah kangen dengan cucu ayah. Kata Reza, Calista adalah seorang penghafiz Al-Qur'an." Ucap tuan Handoyo membuat wajah istrinya tercengang tak percaya.
"Kita lihat saja nanti, jika kita diijinkan untuk bertemu dengan mereka." Ucap tuan Handoyo penuh harap.
"Apakah Andien bersedia menerima kita ayah?" Bagaimana kalau gadis itu memperlihatkan surat pernyataan yang menyatakan anak yang dia kandung saat itu hanya miliknya bukan milik Reza apa lagi untuk mengakui mereka sebagai cucu kita, apakah ayah lupa akan hal itu?" Sungut nyonya Susan yang menyesali perbuatan mereka delapan tahun yang lalu.
"Entahlah ayah. Sebaiknya kita banyak berdoa agar menantu kita Andien segera sembuh dan mau memaafkan kita." Nyonya Susan masuk ke kamarnya dengan tangis yang sudah ingin meledak.
🌷🌷🌷🌷🌷
Beda halnya dengan kedua orangtuanya Reza, ternyata nyonya Yuni merasa geram dengan pertemuan keempat cucunya dengan ayah kandung mereka.
"Apa maksudnya itu?" Mengapa anak-anak itu nekad mencari ayah mereka dengan melakukan hal bodoh itu memperkenalkan diri pada dunia tentang aib ibunya." Ucap nyonya Yuni makin kesal.
"ibu, mau sampai kapan kita harus menyembunyikan fakta kepada keempat anak malang itu demi harga diri kita?" Ujar Agam yang ikut bahagia melihat pertemuan keponakannya dengan ayah kandung mereka.
"Apakah kamu lupa, kalau ayah kandungnya lelaki bajingan itulah yang telah membuat ayah kalian kena serangan jantung mendadak?"
"Jika kita menghalangi pertemuan ayah dan anak itu, apakah ayah bisa bangkit lagi?" Emangnya di dunia ini hanya mbak Andien yang telah berzina dengan lelaki itu?" Yang salah kedua orangtuanya, bukan keponakan Agam, ibu.
"Agam!" Dasar anak nakal!" Teriak nyonya Yuni yang melihat Agam langsung berangkat kerja tanpa pamit pada dirinya.
__ADS_1
Tidak lama Agam pergi, Adam baru tiba di rumahnya dalam keadaan lelah. Adam yang sekarang ini sudah menjadi dokter spesialis bedah jantung bertugas di salah satu sakit mewah di kota Solo.
Wajah Adam yang terlihat lelah di sambut hangat oleh ibunya.
"Adam!" Ayo sarapan dulu!" Titah ibunya lalu meletakkan nasi kuning kesukaan Adam.
"Ibu, nanti saja Adam makan, Adam ingin tidur karena baru menyelesaikan operasi bypass pada dua orang pasien sampai pagi ini." Ucap Adam dengan mata berat menahan ngantuk.
"Tapi Adam, ibu ingin bicara padamu tentang ayah kandung dari keponakanmu." Ucap nyonya Yuni di sambut dengkuran Adam.
"Mengapa anak-anak ini tidak bisa diajak kompromi?" Sesal nyonya Yuni lalu bersiap-siap berangkat kerja karena saat ini beliau sudah menjadi penilik sekolah.
Setibanya di kantor banyak mata melihatnya dengan tatapan sinis bahkan tidak sedikit yang mencibirnya dengan terang-terangan.
"Aku kira anaknya berangkat menuntut ilmu dengan menjadi orang penting di negara orang, nggak tahunya hanya melahirkan anak hasil zinahnya di sana.
Sejenius apapun anak kembar empat itu, tetap saja lahir tanpa ayah." Ucap salah satu rekan kerja nyonya Yuni yang memang tidak menyukai nyonya Yuni karena kehadiran nyonya Yuni telah menggeser jabatannya di kantor itu.
Tanpa menanggapi perkataan Ibu Rodiyah, nyonya Yuni langsung duduk di meja kerjanya dan melakukan panggilan dengan cucunya yang saat ini sedang terlelap di seberang negeri yang nun jauh di sana.
"Kalau merasa diri dari keturunan malaikat jangan menghuni di bumi ini yang penuh dengan orang pendosa." Balas nyonya Lydia yang tidak suka mendengar penghinaan nyonya Rodiyah pada sahabatnya nyonya Yuni.
Nyonya Rodiyah adalah ibu kandungnya Reni sahabat akrab Andien dari usia dini hingga mereka mencapai SLTA.
Di mansion milik Andien, Reza tidur bersama keempat anaknya di kamar tamu yang cukup besar kasurnya hingga memuat mereka berlima.
Reza yang merasa kedua lengannya terasa kebas, melihat anak-anaknya menjadikan lengannya sebagai bantal mereka.
"Oh indahnya menjadi seorang ayah." Gumamnya lirih sambil membebaskan kedua lengannya dari kepala keempat anaknya. Reza bangkit dari tempat tidur hendak ke kamar mandi namun ponselnya berdering dengan nada getar membuat ia mengurungkan niatnya.
Reza melihat layar ponsel itu yang ternyata dari suster jaga kamar ICU di mana Andien saat ini di rawat.
"Selamat malam suster!" Sapa Reza ketakutan.
"Maaf tuan!" Tolong segera ke rumah sakit karena nyonya Andien sudah tidak bisa bertahan." Ucap suster Gabriel.
__ADS_1
Duaaarrr..