
Di malam lebaran takbir menggema di seantero negeri. Andien sibuk membantu ibunya menyiapkan hidangan untuk mereka.
Seharian ini, ia hampir tidak pernah istirahat karena keluarga suaminya akan datang menjemput keempat anaknya untuk berangkat ke mesjid mengikuti takbir bersama warga kampung.
"Andien!" Ibu kangen suasana seperti ini setiap kali datang malam kemenangan ini.
Sejak kamu merantau, ibu hanya bertiga dengan Agam dan Adam menikmati lebaran yang terasa hambar tanpa kamu dan ayahmu.
Sekarang ibu bahagia kamu, cucu dan menantu sudah berkumpul di sini merayakan bersama hari kemenangan ini." Ucap Nyonya Yuni penuh haru.
"Ibu ada yang ingin Andien katakan, tapi Andien takut ibu akan marah." Ucap Andien sambil menatap ibunya yang lagi membereskan toples kue nastar.
Nyonya Yuni menghentikan kegiatannya lalu menatap wajah putrinya.
"Katakan saja Andien!" Ibu tidak akan marah sayang." Ucap ibunya dengan senyum yang mengembang sempurna.
"Ibu!" Sebentar lagi keluarga mas Reza akan mengunjungi kita."
Deggg ...
Nyonya Yuni terlihat tidak suka mendengarnya. Kenapa kamu baru bilang Andien, sementara hati ibu belum siap untuk menerima kedatangan mereka terutama tuan Handoyo." Ucap nyonya Yuni sedih.
Andien langsung bersimpuh di kaki ibunya.
"Ibu!" Tolong Andien ibu!" Andien sangat mencintai mas Reza, itu berarti Andien juga harus mencintai seluruh keluarga mas Reza." Tangis Andien sambil mengiba.
"Andiennn!" Kenapa kamu selalu memaksa kehendak mu sendiri, hah!"
"Andien tidak memaksa ibu, Andien hanya memohon lakukan ini demi Andien dan anak-anakku, Bu!"
Reza yang melihat istrinya sedang memohon pada mertuanya, ikut meneteskan air mata. Ingin rasanya ia menghampiri istrinya tapi takut ibu mertuanya malah kalap padanya dan akan merusak suasana malam takbir ini.
Belum usai keduanya sedang berargumentasi, keluarga Reza sudah datang memberikan salam.
Andien dan ibunya langsung terkesiap dengan jantung yang sudah tidak menentu detakan nya.
Andien Menatap ibunya dengan tatapan mengiba seraya mengatupkan kedua tangannya untuk memaafkan ayah mertuanya.
Nyonya Yuni seakan tidak tersentuh dengan permohonan putrinya sementara di depan sana keluarga besar itu sudah disambut oleh Agam dan Adam begitu ramah.
Keempat anaknya Andien memeluk satu persatu keluarga ayahnya sambil mengoceh apa saja pada kakek dan neneknya.
Gelak tawa terdengar renyah mendengar lawakan keempat anak itu yang tidak pernah kehabisan kata.
"Tante Ratih mana nenek?" Camilla kangen lho sama Tante Ratih." Ucap Camilla yang baru sadar tidak ada Tantenya yang bermuka masam itu.
"Tante di hotel sayang tidak bisa ke sini karena lagi kurang sehat." Ucap nenek Susan.
"Emangnya Tante Ratih mabuk naik pesawat?" Tanya Fariz yang tidak mengerti kalau Ratih belum bisa membuka diri dengan siapapun.
"Tidak sayang, hanya sakit saja." Ucap Rania tersenyum manis pada semuanya.
Reza memperkenalkan kedua saudara kembarnya Andien pada keluarganya. Adam dan Agam menyalami lagi keluarga itu sambil menyebutkan nama mereka secara formal.
"Ngomong-ngomong, mana ibunya Andien dan Andien nya, Reza.
Reza terlihat panik lalu masuk ke dalam untuk memanggil istrinya terlebih dahulu.
"Andien!" Reza melihat istrinya sedang duduk di depan kamar ibunya dalam posisi berlutut dengan wajah yang tertunduk menahan kesedihannya.
__ADS_1
"Astaga!" Andien sayang!" Ayo bangun, jangan menyiksa dirimu seperti itu sayang!"
"Biarkan saja mas Reza!" Aku ingin ibu memaafkan ayah mertua." Ucap Andien kembali menangis.
"Tidak apa sayang kalau ibu belum bisa memaafkan ayahku. Ayah pasti mengerti perasaan ibumu." Reza memeluk istrinya dengan posisi duduk.
"Tidak mas Reza!" Andien tidak ingin ibu menjadi seorang pendendam. Andien tahu ibu sakit hati, tapi Andien tidak ingin hubungan keluarga kita hancur karena terus terikat dengan masa lalu." Protes Andien pada suaminya.
"Tapi jangan menyiksa dirimu seperti ini!"
"Tidak apa mas!" Demi mendapatkan maaf ibu, aku rela duduk seperti ini sampai pagi." Ucap Reza tanpa sadar sudah mengeluarkan mimisan.
Wajahnya makin pucat dengan tubuh terasa dingin.
"Andien!" Hidungmu sayang. Astaga!"
Andien meraba hidungnya dan memperhatikan ujung jarinya terdapat darah segar.
"Calista! Calista!" Ambil obat mama sayang!"
"Andien!" Andieeennnn!" Jerit Reza hingga membuat keluarga yang ada di ruang tamu berhamburan ke dalam ruang keluarga itu.
"Mamaaaaaa!" Teriak kembar empat syok melihat ibunya berdarah.
Nyonya Yuni langsung membuka pintu kamarnya dan melihat Andien sudah di bawah Reza ke dalam kamar.
"Putriku!" Ucap nyonya Yuni panik dan ikut masuk ke dalam kamar putrinya.
Reza membaringkan tubuh istrinya dengan posisi tubuh di letakkan di punggung Andien tanpa alas kepala.
"Sayang bertahanlah!"
"Ya Allah!" Mana obat-obatan itu?"
Anak-anak tolong cari obat mama." Titah Reza makin frustasi.
"Ayah!" Darah maka ayah!" Camilla makin menjerit melihat mamanya.
Keluarga sudah mengelilingi tempat tidur Andien dan membantu sebisanya.
Nyonya Yuni merangkul tubuh putrinya yang makin melemah.
Adam langsung menerobos dengan peralatan dokternya.
"Andien!" Di mana obatnya kamu simpan sayang.
Rania dan Jody ikut membongkar semua barang bawaan kakak iparnya itu, tapi tidak di temukan.
"Andien!" Maafkan ibu, nak!" Tangis nyonya Yuni terdengar pilu karena membuat putrinya merasa tertekan.
Reza memangku istrinya saat tidak menemukan obat milik Andien.
Setelah diperiksa oleh Adam, Andien mulai siuman dan mengerjapkan matanya.
Adam menatap wajah pucat saudaranya itu dengan perasaan aneh.
"Mbak Andien!" Apakah kamu sedang menyembunyikan sesuatu pada kami?"
"Maksudnya apa Adam?" Tanya Reza penasaran.
__ADS_1
"Mbak Andien!" Apakah Adam boleh mengatakan kepada mereka semua yang ada di sini tentang mbak Andien?" Tanya Adam meminta ijin terlebih dahulu pada saudara kembarnya itu.
"Adam, Andien!" Kalian mau ngomong apa?" Tanya nyonya Yuni menahan geram karena jantungnya saat ini hampir meledak.
Andien hanya memberikan isyaratnya dengan matanya.
"Dengar semuanya!" Dua keluarga ini akan datang anggota baru dengan jumlah yang sama.
Mbak Andien saat ini sedang hamil calon bayi kembar empat." Ucap Adam dengan intonasi yang cukup tinggi hingga membuat semua yang ada di kamar itu terkesiap dengan senyum bahagia.
"Benarkah itu sayang?" Tanya Reza.
Andien tersenyum hambar dan mengangguk lemah.
"Horeee!" Akhirnya kami punya adik kembar empat teriak anak-anak bersamaan. Keluarga besar itu terkekeh melihat tingkah kembar empat yang sedang kegirangan menyambut kedatangan adik-adik mereka dari rahim mamanya.
Satu persatu diantara mereka mengucapkan selamat kepada Andien. Andien merasa sangat bahagia keluarga itu merasa kehamilannya disambut suka ria tapi tidak dengan Reza yang terlihat kuatir dengan kondisi Istrinya yang tidak memungkinkan Andien meneruskan kehamilannya.
Jody dan Rania mengajak keempat ponakan mereka keluar dari kamar orangtuanya, di ikuti Adam dan Agam.
Nyonya Susan membisikkan sesuatu kepada suaminya ketika melihat nyonya Yuni yang terlihat murung.
Tuan Handoyo yang baru teringat dengan niat awalnya datang ke sini ingin meminta maaf kepada besannya.
Ia pun mendekati nyonya Yuni lalu duduk berlutut di hadapan nyonya Yuni yang sedang berdiri di samping putrinya.
"Nyonya Yuni!" Saya minta maaf atas perbuatan saya kepada mendiang tuan Rendra hingga beliau meninggal." Ucap tuan Handoyo penuh penyesalan.
"Bangunlah Tuan!" Jangan seperti ini, tidak enak di lihat anak-anak kita dan cucu!" Pinta ibunya Andien.
"Saya tidak akan berdiri kalau nyonya belum memaafkan saya." Ucap tuan Handoyo didampingi istrinya yang ikut berlutut bersama suaminya.
Sudahlah Tuan, nyonya!" Demi anak-anak dan cucu-cucu kita, aku ikhlas memaafkan tuan Handoyo." Ucap nyonya Yuni dengan hati lapang.
Nyonya Susan memeluk besannya itu sambil menangis. Ketiganya sudah saling memaafkan satu sama lain.
"Alhamdulillah." Batin Andien lalu menghela nafasnya lega.
"Ayo jeng!" Kita tinggalkan nak Andien untuk istirahat!" Ucap nyonya Susan pada besannya.
Keduanya tersenyum lalu pamit kepada Andien dan Reza sambil berpegangan tangan meninggalkan kamar Andien.
Reza menatap wajah pucat istrinya yang masih tetap cantik lalu menanyakan keberadaan obat itu.
"Sayang!" Apakah kamu sudah mengetahui kalau kamu hamil?"
Andien mengangguk lemah.
"Apakah itu sebabnya kamu menyimpan atau membuang obat itu hingga sulit aku temukan?"
"Sayang?" Aku tidak ingin kamu melanjutkan keham...?" Andien menutup mulut suaminya dengan dua jarinya.
"Aku menginginkan mereka datang dalam hidupku sekalipun aku harus mati. Jika kamu tidak menginginkan mereka, aku akan menggugat cerai mu mas Reza!"
Degggg...
......................
Vote dan like nya sayang 🙏🤗
__ADS_1