
Berlalunya waktu akan meninggalkan kenangan. Entah kenangan baik ataupun kenangan buruk. Davin yang masih trauma dengan keluarga besarnya, memilih untuk tidak membawa pulang istrinya ke istana, melainkan ke kediaman pribadinya di istana kecil tepatnya di pinggir pantai Yunani.
"Sayang!"
"Hmm!"
"Kenapa kita tidak balik ke istana?"
"Aku punya kediaman pribadi yang sudah lama aku bangun untuk keluarga kecilku. Apakah kamu tidak ingin tinggal di istana suamimu sendiri?"
"Apakah kamu membangun istana itu untukku?"
"Tentu saja sayang. Apapun milikku semuanya menjadi milikmu." Ujar Davin.
"Itu lebih baik sayang. Karena aku ingin ketenangan dalam menjalani kehamilanku tanpa ada gangguan dari siapapun." Ujar Camilla.
"Iya sayang. Ketenangan itu sangat mahal, jadi kita harus mencari ketenangan itu sendiri."
Tidak lama mobil mewah milik Davin sudah melintas sepanjang pantai Santorini Yunani yang menawarkan keindahan lautnya dengan beberapa bangunan kokoh di sekitarnya.
Yunani disebut juga negeri 1001 dongeng, negeri para dewa, serta terkenal juga sebagai bumi Alexander The Great, salah-satu pemimpin perang terhebat sepanjang masa.
Setibanya di istana kecil milik sang suami, Camilla melebarkan senyumnya karena istana itu berdiri tepat di pinggir pantai sehingga ibu hamil ini bisa menikmati keindahan pantai dari istananya.
Camilla berdiri sesaat memandang hamparan laut seakan ingin melepaskan semua beban hati yang menghimpit pikirannya mengenai salah satu bayinya yang masih bermasalah.
"Sayang! Ayo masuk dulu ke dalam, kamu bisa menatap laut dari kamar kita tanpa berdiri lama di situ." Ajak Davin.
"Iya sayang."
Camila mengikuti langkah kaki jenjang suaminya memasuki istana milik mereka. Di dalam sana sudah ada beberapa orang pelayan yang siap melayani pasangan ini.
"Selamat datang Prince Devino dan Princess Camilla." Ucap mereka serentak.
Camilla memberikan senyuman terbaiknya pada pelayan di istana barunya, sementara suaminya tetap memasang wajah datar memasuki istananya yang sudah lama ia tinggalkan. Semuanya masih terawat dengan baik. Gaya arsitektur bangunan kokoh itu tidak terlepas dengan sentuhan klasik yang kental dengan nuansa Romawi.
Camilla lebih memilih masuk ke kamarnya dari pada melihat sudut ruangan lainnya. Benar saja apa yang di katakan oleh suaminya, bahwa ia bisa menikmati panorama laut melalui kamar mereka.
Pintu kaca tebal yang langsung berhadapan dengan laut yang menjadi pesona tersendiri untuk pasangan ini.
"Sayang! Ini kamar yang paling romantis yang pernah aku temui. Kamu pintar mendesainnya sesuai dengan keinginanku. Aku akan betah tinggal di sini daripada harus kembali ke istana dan berhadapan dengan keluarga besar mu yang berwajah culas itu." Ujar Camilla apa adanya.
"Itulah yang menjadi pertimbangan ku sayang, kalau kita lebih tenang tinggal di kediaman pribadi kita sendiri tanpa gangguan penghuni istana." Ujar Davin.
"Bukankah istananya sudah kak Davin hancurkan? Dengan cara apa kak Davin hancurkan? Seperti siluman saja bisa menghancurkan istana dalam sekejap. Lagi pula ada masalah apa kak Davin dengan keluargamu?" Selidik Camilla merasa sangat penasaran.
Degggg.
"Aku hanya tidak suka saja dengan ucapan mereka tentang aku. Lebih baik jangan bahas mereka lagi di dalam rumah ini. Kita cukup menikmati kebersamaan kita berdua saat ini sayang." Ujar Davin sambil mencopot sepatu boots milik Camilla dan membuka Coat biru yang masih menempel di tubuh gadis itu.
"Aku memang tidak menyukai mereka sayang, tapi demi kamu aku membuang perasaan itu. Tapi mereka tidak berniat jahat padaku, bukan?" Tanya Camilla yang belum tahu cerita sebenarnya insiden kecil yang dialaminya.
Deggggg...
"Tidak ada sayang. Tapi untuk menghindari niat jahat mereka padamu, lebih baik kita tinggal di sini." ucap Davin sambil menanggalkan dress Camilla berserta pakaian dalamnya.
__ADS_1
"Sayang! kenapa di buka semua? Bukankah pakaiannya baru di pakai dari rumah sakit tadi mau pulang ke sini?" Tanya Camilla yang masih belum mengerti niat suaminya.
"Menurutmu kenapa aku membukanya?" Goda Davin sambil tersenyum mesum.
"Kau ..!"
"Perutmu tidak sakit lagi kan, sayang?"
"Apa tidak bisa dilakukan nanti malam..?" Protes Camilla.
"Nanti malam, ya untuk nanti malam." Acuh Davin.
Lelaki tampan ini sudah mulai memberikan kecupan kecil di setiap jengkal tubuh istrinya.
"Kak Davin! Bukankah kamu ingin memberitahukan kelebihan ku mengapa kamu memilihku menjadi istrimu?"
"Layani aku dulu sayang! Setelah itu aku akan memberitahumu." Ujar Davin dengan suara serak lagi berat.
Camilla melihat tiang pancang itu sudah mulai membesar. Iapun mulai melakukan tugasnya untuk memberikan hak pada suaminya. Davin menikmati setiap sentuhan pelayanan istrinya yang sangat ia rindukan.
Tapi di saat Davin menginginkan permainan yang lebih dahsyat dari itu, justru Camilla menghentikannya.
"Sayang! Lakukanlah seperti biasanya, kenapa kamu diam?"
"Beritahukan apa kelebihan ku dulu, setelah itu aku akan membuatmu mabuk." Ujar Camilla sedikit menggoda.
"Sayang! Ini sangat tanggung. Ayo cepat lakukanlah setelah itu aku akan menyampaikan semuanya." Pinta Davin yang sudah panas dingin karena menahan gejolak hasrat yang sudah memuncak namun Camilla menghentikannya di tengah permainan panas mereka.
"Benarkah?"
Camilla menaiki tubuh suaminya. Memegang kendali dengan menyatukan milik mereka. Davin mengurai senyumnya kala merasakan kedutan miliknya yang sudah terbenam sempurna pada milik istrinya.
Camilla mengayunkan tubuhnya merasakan sensasi yang luar biasa pada siang hari itu. Davin tersenyum puas saat bisa melepaskan hasratnya yang sempat mengubun tadi.
Camilla menjatuhkan tubuhnya di atas dada bidang Davin kala lelah mendera tubuhnya. Davin memeluk tubuh polos dengan perut besarnya sang istri yang makin terlihat se*si.
"Terimakasih sayang! Maafkan aku sedikit memaksamu!" Davin memagut bibir ranum istrinya sesat.
"Sekarang katakan!" Titah Camilla dengan nafas yang masih tersengal.
"Kau ini tidak sabaran sekali."
"Cepat katakan!" Desak Camilla dengan mimik serius.
Keduanya tidur saling berhadapan. Davin mengusap peluh istrinya sambil tersenyum.
"Jika seorang pria hanya memilih wanita berdasarkan visualnya saja, itu sangatlah mudah karena gadis cantik itu sangat banyak seperti yang kamu katakan di negara ini yang lebih cantik darimu juga ada.
Tapi aku tidak melihat nilai lebih dari mereka. Saat pertama kali aku mengetahui bahwa kamu adalah gadis kecil yang sangat jenius bersama dengan ketiga saudara kembarmu, di situlah aku mulai tertarik untuk mengenalmu lebih jauh."
"Apakah karena itu saja?"
"Tidak sayang. Kamu berasal dari keluarga besar dengan keturunan kembar sementara aku adalah anak tunggal yang terlahir dari hasil inseminasi buatan.
Aku ingin punya keturunan yang banyak dan aku inginkan kamu yang melahirkan anak-anakku dan sekarang tercapai.
__ADS_1
Dan di atas dari semua itu, kamu sangat baik, perhatian dan sholehah. Berasal dari keluarga hebat. Memiliki saudara yang sama jeniusnya dan yang terpenting, kamu sangat menjaga dirimu walaupun kamu sempat menjalin hubungan dengan buaya darat itu." Ujar Davin
"Dan satu hal lagi, kamu....!"
Davin sengaja menjedah perkataannya membuat Camilla rasanya ingin menggigit bibir suaminya.
"Katakan sayang!"
"Kita bercinta lagi yuk!" Goda Davin makin membuat Camila keki.
"Katakan! Atau aku tidak mau makan." Camilla membalikkan tubuhnya memunggungi suaminya.
Davin merapatkan tubuhnya ke tubuh polos istrinya.
"Karena kamu sangat garang di atas tempat tidur. Itulah sebabnya aku menjadi posesif padamu. Kamu sudah melengkapi kebahagiaanku dan juga ekspektasi ku sebagai lelaki dewasa yang ingin mendapatkan istri sempurna sepertimu, yang tidak pernah aku temukan pada wanita manapun." Jawab Davin memenuhi janjinya pada sang istri.
Camilla tersenyum puas dan merasa bangga karena dirinyalah yang memenuhi kriteria sebagai ratu dihati suaminya. Ia lalu membalikkan tubuhnya lagi menghadap suaminya.
"Terimakasih sudah memilihku menjadi istrimu sesuai dengan keinginanmu, sayang. Tapi, apakah kamu tidak ingin menjadi seperti buaya?"
"Cih! Bukankah sebutan lelaki buaya itu adalah bermakna konotasi yang lebih identik dengan pemain wanita? Aku tidak seperti itu Camila." Ujar Davin dengan bahu bergidik.
"Memang faktanya yang selama ini kita dengar pria yang suka dengan banyak wanita lebih identik dengan sebutan buaya darat tapi fakta unik dari buaya itu sendiri yang tidak dipahami oleh masyarakat kita yang minim dengan pengetahuan tentang binatang buas satu ini." Ucap Camila membuat Davin penasaran.
"Apa yang unik dengan binatang buas itu?" Tanya Davin.
"Kasihan sekali binatang yang bernama buaya itu. Entah siapa yang menghembuskan fitnah keji pada binatang hebat itu hingga namanya disandingkan dengan pria hidung belang atau tukang selingkuh.
Padahal di habitat aslinya, buaya justru tergolong hewan yang setia.
Buaya jantan bisa dibilang sebagai hewan paling setia dan cukup menyayangi pasangannya.
Bila sang betinanya mati, buaya jantan tak akan mencari betina lain. Mereka lebih memilih menghabiskan sisa hidupnya sendirian.
Reptil satu ini juga dikenal sebagai hewan yang cukup protektif.
Ketika si betina sedang bertelur, buaya jantan akan dengan siap siaga menjaga mereka dari predator. Bahkan jika harus mengorbankan nyawanya sendiri.
Biasanya buaya jantan akan meninggalkan anak dan pasangannya pada waktu tertentu. Sehingga tak selalu menghabiskan waktu bersama
Namun meskipun begitu, saat musim kawin berikutnya tiba, buaya jantan hanya akan memilih betina yang sama." Ucap Camilla dengan ilmu yang dimilikinya.
"Pantas roti buaya selalu ada dalam setiap acara pernikahan suku betawi ya, karena buaya memang dilambangkan sebagai wujud kesetiaan" Lanjut Camilla.
"Sayang! Kamu benar-benar istriku yang sangat hebat. Kamu mengetahui segalanya sampai seputar binatang yang bernama buaya itu.
Jika kamu menginginkan aku seperti buaya dengan sifat setianya, insya Allah aku akan memenuhi janjiku itu Camilla, tanpa kamu harus memintanya." Ucap Davin bangga dengan istrinya yang bisa meluruskan kembali persepsi orang pada buaya itu sendiri.
Istana Davin dan Camilla
.....
vote dan like nya cinta 🙏🤗
__ADS_1