
"Ayah!" Benarkah ayah yang menyebabkan kematian ayah Andien?" Tanya Reza dengan wajahnya makin memerah.
Tuan Handoyo akhirnya mengangguk pelan. Reza terhenyak dengan wajah makin berkabut menahan malu dan sedih bercampur jadi satu.
"Tidak cukupkah penolakan dariku hingga membuat gadis itu hengkang dari tanah air dan membawa lukanya bersama dengan kehamilannya." Gumam Reza membatin.
"Apakah pertunangan ini akan dilanjutkan?" Tanya MC yang terlihat sudah tidak sabar.
Reza melonggarkan dasinya dan maju ke depan menghampiri Monika yang terlihat menahan geram.
Reza memohon maaf kepada keluarga calon tunangannya dan meminta acara pertunangan dilanjutkan. Reza yang lebih dulu menyemaikan cincin tunangan ke jari manis Monika dan sebaliknya Monika pada tunangannya Reza.
Semuanya bertepuk tangan menyaksikan adegan mengharukan itu yang awalnya dianggap akan gagal oleh sebagian para undangan.
Monika tersenyum bahagia karena mendapatkan Reza, lelaki tampan yang hampir membuatnya gila karena sulit mendapatkan Reza saat mereka masih SMA.
Keduanya bersalaman dengan para tamu dan Monika menatap wajah Reza yang terlihat datar saat ini.
"Terimakasih Reza!" Ucap Monika lalu mengecup pipi sang tunangan.
"Maaf Monika, tolong jaga sikapmu karena pertunangan ini tidak menjamin kita akan menikah." Ucap Reza sinis.
Ia pun menghampiri meja prasmanan untuk mengisi perutnya yang sudah terasa lapar.
Monika mengepalkan kedua tangannya dengan mengatupkan rahangnya." Sialan!" Aku dicuekin." Monika meneguk air putih dengan wajah cemberut.
"Kalau tidak mengingat saat ini aku sedang hamil, aku tidak akan Sudi menerima pertunangan ini." Ucap Monika.
Reza duduk diantara para tamu undangan dengan menikmati makanannya. Pikirannya tidak terlepas sedikitpun dari sosok Andien." Apa kabarmu, Andien. Bagaimana dengan pertumbuhan bayi kita di dalam kandunganmu saat ini?" Gumam Reza lirih.
Setelah makan, Reza meninggalkan keluarganya yang masih bercengkrama dengan keluarga Monika. Ia sudah tidak tahan lagi berada di tempat itu kelamaan.
"Pak Rendi, biarkan saya bawa mobilnya. Saya ingin ke suatu tempat." Ujar Reza yang ingin pulang ke rumahnya.
Setibanya di rumah, Reza mengganti bajunya dan berniat ingin berangkat ke solo dengan menumpangi pesawat.
Reza menghubungi nomor Reni yang masih ada di daftar kontaknya.
__ADS_1
"Reni, aku ingin berangkat ke Solo, sekarang aku sudah berada di bandara." Ucap Reza.
"Bang Reza, Andien tidak ada di sini. Ia masih berada di luar negeri. Mengapa Abang mau ke sini?"
"Aku tidak berniat menemui Andien tapi aku ingin ziarah ke makam tuan Rendra." Ucap Reza.
"Apakah Abang sudah bicara dengan Andien?"
"Belum, gadis itu memblokir nomor ponselku, aku tidak punya akses untuk bisa menghubunginya." Ucap Reza.
"Baiklah!" Kalau begitu aku menunggu Abang di bandara." Ucap Reni.
"Apa yang terjadi antara kalian berdua?" Semua ini semakin rumit. Keluarga Andien sendiri seakan menutupi diri dari para tetangga sejak ayahnya Andien meninggal. Sebenarnya apa yang terjadi Andien dengan dirimu?" Tanya Reni bingung.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Di Kolombia, Andien sedang mempersiapkan baju-baju bayinya di dalam koper karena sebentar lagi ia akan melakukan persalinan secara sesar.
Tuan Leo masih tetap setia membantu Andien karena saat ini, Andien tidak memiliki siapapun kecuali dirinya di negara itu.
Tidak lama ponsel Andien berdering, Andien melihat nomor Reni yang sedang memanggilnya.
"Hallo Andien!"
"Apa kabar Andien!" Mengapa kamu tidak pulang saat ayahmu meninggal?" Tanya Reni.
"Saya tidak bisa melakukan perjalanan karena bandara tertutup oleh salju." Ucap Andien.
"Oh iya!"
"Terus, kapan kamu mau pulang ke Indonesia?" Tanya Reni.
"Entahlah, aku belum pikirkan itu Reni karena tugas kuliahku sangat banyak." Ucap Andien.
Reza merebut ponsel milik Reni karena dia ingin bicara dengan gadisnya.
"Hallo Andien!" Sapa Reza.
__ADS_1
Andien tersentak mendengar suara Reza dan iapun muak dengan lelaki itu.
"Andien, tolong jangan dimatikan ponselmu. Aku saat ini sedang ziarah makam ayahmu. Aku bersama dengan Reni saat ini. Aku sangat merindukanmu, Andien. Aku ingin ke Kolombia untuk menjemputmu dan menunggu anak kita lahir." Ucap Reza tanpa sadar ada Reni sebelahnya.
"Dasar lelaki bodoh!" Setelah ayahmu menyiksa batin keluargaku hingga meninggal, apakah saat kamu ingin orang sekampung mengetahui aku hamil anakmu, hahh!" Kamu tahu kalau tidak ada satupun yang mengetahui kehamilanku kecuali kedua keluarga kita dan sekarang kamu bicara di depan Reni. Dua memang teman akrabku, tapi tidak menjamin kalau dia akan tutup mulut dengan aib ini." Ucap Andien sengit.
"Astaga!" Aku sangat bodoh!" Ucap Reza sambil menepuk jidatnya.
"Tapi, aku akan...?" Hallo...hallo!" Andien sudah mengakhiri pembicaraan mereka secara sepihak.
"Bang Reza!" Apakah Andien saat ini sedang hamil anak kamu?" Tanya Reni setengah tak percaya.
"Reni, dengar dulu!" Aku mohon jangan pernah kamu bicarakan ini kepada siapapun karena kehidupan keluarga Andien benar-benar sangat terpuruk sama halnya dengan Andien." Pinta Reza pada sahabat kekasihnya ini.
"Bang Reza!" Insya Allah, aku bisa jaga rahasia bang, apa lagi ini mengenai Andien. Aku bukan orang suci, mungkin saat ini, Andien yang diuji oleh Allah, siapa tahu keluargaku akan mendapatkan ujian walaupun dengan kasus yang berbeda. Yang penting kita saling menjaga aja, bang Reza." Ucap Reni dengan kata-kata bijak.
"Terimakasih Reni, aku sangat mengandalkanmu. Aku janji akan menebus kesalahanku di masa lalu bersama Andien. Aku ingin melihat anakku tumbuh besar dalam pengawasan kami berdua.
Aku yakin suatu saat kamu akan bertemu dengan pasangan ideal untuk mendampingi hidupmu kelak." Ucap Reza lalu pamit untuk kembali ke Jakarta.
"Apakah bang Reza tidak ingin bertemu dengan keluarga Andien?" Tanya Reni.
"Jika kedatanganku ke sana akan membawa petaka selanjutnya, aku tidak akan melakukan itu Reni. Biarlah waktu yang akan menyembuhkan luka hati mereka karena ulahku, aku tidak ingin menambah masalah." Ucap Reza di maklumi oleh Reni.
Keduanya kembali ke bandara dengan motor milik Reni.
Sementara di Kolombia, Andien tiba-tiba merasa perutnya kontraksi hebat. Ia pun mengeluh kesakitan pada tuan Leo.
"Tuan Leo, sepertinya aku mau melahirkan." Ucap Andien dengan tangan gemetar menahan sakit pada perutnya.
"Apakah kamu masih kuat berjalan?" Tanya tuan Leo.
Andien mengangguk dan berjalan perlahan menuju mobil. Pelayan wanita membantu membawakan koper milik Andien.
Keduanya segera berangkat ke rumah sakit." Andien!" Kamu harus kuat karena keempat bayi itu sangat mengandalkan mu saat ini." Ucap tuan Leo yang ikut tegang menghadapi Andien yang kesakitan.
Tidak berapa lama, Andien sudah di sambut oleh dua suster dengan kursi roda. Andien duduk di kursi roda itu menuju kamar operasi untuk melakukan persalinan bayi kembarnya.
__ADS_1
Detik-detik menegangkan saat Andien mulai menjalani operasi sesar bayi kembarnya saat ini.