
Nyonya Yuni mundur beberapa langkah dari Reza yang sedang berlutut untuk melamar putrinya Andien." Mengapa baru sekarang kamu memohon padaku untuk menikahinya, haah?" Ke mana saja kamu selama ini?"
Saat di akhir hidupnya kamu baru ingin menebus kesalahanmu. Untuk apaaa?" Teriak nyonya Yuni begitu kesal dengan Reza yang terlalu lamban menyadari penyesalannya.
"Bu andai saja tidak ada terjadi kesalahpahaman antara aku dan Andien yang mengira Andien sudah menikah saat masih mengandung anakku, mungkin aku akan mencari dan menikahinya. Dan lebih parahnya, aku tidak mengetahui sama sekali kalau Andien mengandung bayi kembar empat. Kalau bukan karena putriku Calista, mungkin aku tidak pernah bertemu dengan keempat anakku, Bu.
Tidak muda bagiku untuk melalui semuanya. Aku juga sama tersiksanya seperti Andien setelah mencampakkan Andien karena begitu takutnya aku akan ancaman orangtuaku.
Padahal tanpa harta warisan mereka, aku bisa membahagiakan Andien dan anak-anakku, maafkan atas kekhilafan masa mudaku Bu...hiks .hiks!" Ucap Reza sambil terisak.
"Tidak!" Aku membencimu dan juga keluargamu. Aku kehilangan suamiku dan sekarang putriku...oh, betapa malangnya nasibmu Andien. Mengapa kamu harus bertemu dengan pria pembawa petaka ini...hiks...hiks!" Ratap nyonya Yuni begitu pilu hingga membuat Reza makin merasa tidak pantas mendapatkan kembali gadis itu.
"Ibu...!" Tenang ibu!" Mau sampai kapan ibu ingin menghalangi cinta mereka?" Inilah saatnya kita membahagiakan mbak Andien di akhir hidupnya.
Lagi pula, mas Reza melamarnya dengan cara terhormat kepada kita, sebagai keluarga mbak Andien. Apakah ibu mau menurunkan harga diri ibu di saat mbak Andien menemui Allah?" lalu meminta mas Reza untuk menikahinya?"
Agam memberi pengertian kepada ibunya, agar mau merima lamaran Reza untuk Andien.
Reza menatap wajah keduanya yang saling bicara dari kejauhan sambil melihat dirinya yang masih tidak bergeming ditempatnya, dengan posisi berlutut.
"Baiklah Agam, kalau ini memang jalan terakhir kita untuk membahagiakan Andien. Tolong hubungi Adam atau mungkin kamu yang akan jadi wali nikah untuk saudarimu, nak." Ucap nyonya Yuni lirih.
"Terimakasih ibu, sudah menerima mas Reza menjadi suami untuk mbak Andien. Anak-anak pasti bahagia mendengar kabar bahagia ini." Ucap Agam lalu memeluk ibunya penuh rasa syukur dan bahagia.
"Siapa yang bahagia?" Tanya Adam dengan suara bariton yang cukup keras hingga memecah kesucian di depan ruan ICU itu.
"Oh!" Kebetulan kamu datang Adam, padahal saya baru menyusulmu ke kamar inap anak-anak. Begini Adam, saya dan ibu sepakat menerima lamaran mas Reza untuk menikahi mbak Andien." Ucap Agam diselingi senyum ditengah kesedihannya.
"Saya tidak setuju!" Ujar Adam dengan wajah datar.
"Adaaam!" Sesal Agam menahan geram.
__ADS_1
Pintu ruang ICU di buka oleh dokter Remon. Wajahnya terlihat tegang membuat Reza langsung berlari menghampirinya." Ada apa dokter?"
"Kita akan kehilangannya." Ucap dokter Remon membuat Reza nekat masuk menemui kekasihnya tanpa permisi pada dokter Remon.
Semuanya ikut masuk ke dalam mengikuti Reza.
"Andien!" Buka matamu sayang!" Ucap Reza sambil menangis histeris.
"Oh!" Putriku Andien!" Ini ibu sayang!" Ibu sudah memaafkan semua kesalahanmu, apa kamu ingin meninggalkan ibu, nak?" Ratap nyonya Yuni di samping pipi putrinya.
Reza membisikkan sesuatu kepada Andien." Aku tidak akan merawat anak-anak kita, lebih baik aku mati bersamamu untuk menebus rasa bersalahku dari pada hidup tersiksa dikejar rasa bersalah setelah kehilanganmu dan itu akan membuatku gila.
Jadi, ku mohon padamu sayang!" Kembalilah kepadaku dan anak-anak kita karena saat ini mereka juga sedang sakit. Aku yang baru menjauh sebentar, membuat mereka jatuh sakit, apa lagi harus kehilanganmu, bukankah itu lebih membuat anak-anak kita makin terpuruk?" Ucap Reza sambil mengusap air matanya.
Tidak lama kemudian, frekuensi pergerakan grafik jantung Andien kembali berdetak mengikuti detakan jantung manusia normal.
Bukan hanya itu saja, jumlah detak nadinya mulai meningkat yang terdeksi melalui alat yang menjepit jari telunjuknya yang disebut pulse oxymetry, yaitu alat yang digunakan untuk mengetahui dan memantau saturasi oksigen dalam darah.
"Syukur Alhamdulillah!" Andien telah kembali kepada kita ibu." Ucap Adam yang lebih mengetahui keadaan Andien karena dia sendiri adalah dokter spesialis bedah jantung.
"Hei kamu!" Mengapa diam saja?" Bukankah kamu ingin menikahi saudara kembar kami?" Tanya Adam sinis namun di sambut pelukan oleh Reza.
"Terimakasih Adam!" Peluk Reza masih terus terisak hingga suaranya parau dan matanya bengkak karena terus menangis.
"Lepaskan pelukanmu!" Nafasku terasa sesak." Ujar Adam masih kelihatan dingin pada Reza, tapi hatinya sangat bahagia karena lelaki ini sudah memanggil kembali kakaknya yang ingin pergi jauh ke alam lain.
Reza segera pamit kepada calon ibu mertuanya dan juga dua calon adik iparnya untuk mempersiapkan pernikahan mereka.
Reza menghubungi pelayannya Andien pak Abdullah untuk meminta imam mesjid yang menjadi penghulu untuk bisa menikahkan dirinya dengan wanita pujaannya.
Ia juga langsung bergerak cepat menuju konter perhiasan untuk mencari cincin berlian dan seperangkat perhiasan sebagai mas kawin Andien dalam pernikahan mereka.
__ADS_1
"Rasanya ini sudah cukup karena sudah memenuhi rukun nikah." Gumam Reza lirih.
Ia pun menghubungi asistennya Rendy dan pak Abdullah untuk segera datang ke rumah sakit untuk menjadi saksi pernikahan mereka.
Sementara di rumah sakit, Andien sudah di pindahkan ke ruang inap VVIP bersebelahan dengan kamar anak-anaknya.
Nyonya Yuni merias putrinya dengan makeup seadanya agar Andien tidak terlihat pucat saat menikah nanti.
"Sayang!" Sebentar lagi kamu dan Reza akan menikah, jadi, ibu mohon tolong buka matamu nak!" Pinta nyonya Yuni.
Yang diajak bicara masih saja memejam matanya dan yang terdengar hanya bunyi alat rekam jantungnya yaitu EKG.
Sementara itu para suster yang dipinta dokter Remon untuk menghias kamar inap Andien agar terlihat lebih semarak.
Di kamar sebelah anak-anak sedang di suap oleh Adam dan Agam serta dua orang pelayan mereka.
"Kalian harus makan yang banyak karena paman akan memberikan kejutan untuk kalian." Ucap Agam pada keempat ponakannya yang terlihat tidak berselera makan.
"Calista ingin bertemu ayah!" Ujar Calista yang mulai mewek lagi karena tidak melihat ayahnya seharian di kamarnya saat mereka bangun.
"Calista sayang, ayahmu saat ini sedang mengurus sesuatu yang tidak bisa ia tunda demi kebahagiaan kalian." Ucap Agam lembut.
"Urusan apa paman?" Tanya Al lirih.
"Nanti juga kalian akan tahu sayang. Nah sekarang, kalian harus istirahat tapi jangan tidur lagi karena ayah kalian akan memberikan kalian kejutan." Ucap Agam.
Keempatnya saling menatap sambil mengedikkan bahu mereka seakan tidak mengerti dengan ucapan Agam yang penuh misteri.
Dalam satu jam semua orang yang berhubungan dengan acara pernikahan itu sudah hadir di kamar inap VVIP milik Andien, kecuali Reza yang masih belum datang. Anak-anaknya sengaja di tahan di kamar inap mereka sampai ayah mereka tiba di rumah sakit.
Rupanya di jalanan cukup macet karena menumpuknya salju di sepanjang jalan membuat jalan sangat licin untuk di lalui dengan cepat.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa jadi begini?" sesal Reza merutuki dirinya sendiri.
Di rumah sakit sudah hadir nyonya Brooklyn dan tuan penguasa yang di undang langsung oleh Reza. Reza juga mengundang tuan Leo, namun lelaki tampan itu sedang berada di Bali Indonesia karena ibunya sedang sakit parah.