PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
97. Rahasia Calista


__ADS_3

"Apakah ada masalah dengan itu, Hamid?" Aku bahkan tidak menemukan kekurangannya selain yang kutemukan di dalam diri nona Calista adalah kecantikan dan ketulusannya yang terlihat olehku pada gadis kecil itu.


Mungkin bagimu dia cacat, justru aku menemukan kesempurnaan ciptaan Allah ada pada dirinya. Dan aku harap coret kata bodoh itu dalam catatan informasi tentang dirinya. Simpan dokumen tentang nona Calista di dalam brangkas milikku."


"Baik Tuan muda."


Pengawal Hamid meletakkan laporan dokumen identitas tentang Calista di dalam brankas.


Sementara itu Davin yang tidak bisa memejamkan matanya hanya menatap wajah Camilla di dalam ponselnya.


"Ada apa denganku?" Mengapa aku memikirkan Camilla sedari tadi hingga membuatku sulit untuk tidur?" Keluh Davin lalu menatap jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul satu pagi.


Seminggu kemudian, Reza mengantarkan istrinya terlebih dahulu ke rumah sakit sebelum keduanya berangkat ke perusahaan. Rasa penasaran keduanya tentang jenis kelamin bayi kembarnya yang ingin mereka ketahui.


Dokter Manuella memperlihatkan perkembangan janin kembar empat Andien yaitu jenis kelamin bayinya yang ternyata memiliki tiga diantaranya berjenis kelamin laki-laki dan satu lagi berjenis kelamin perempuan.


Reza menggenggam tangan istrinya ketika memperhatikan layar monitor tiga dimensi tampilan USG itu, dengan rasa haru. Keduanya terlihat bahagia mengetahui tiga jagoan dan satu bidadari yang akan melengkapi kebahagiaan mereka.


"Keempatnya tumbuh dengan baik nona Andien. Mungkin kita akan menjalani operasi sesar satu bulan lagi." Ucap dokter Manuella.


"Berarti saya masih bisa menemani keempat anak saya wisuda dokter?"


"Silakan nona Andien!" Tapi tetap hati-hati di tempat acara yang menyita waktu cukup lama itu."


"Siap dokter!" Keduanya pamit lalu berangkat ke perusahaan mereka masing-masing.


"Hari ini aku akan mengajukan cuti melahirkan mas Reza, untuk mempersiapkan wisuda kembar empat."


"Syukurlah sayang!" Jadi aku bisa menemanimu selama masa tunggu menjelang persalinan sesar nanti.


"Terimakasih sayang!" Andien duduk bersandar di dalam pelukan suaminya.


Reza hanya bisa mengusap perut besar itu sambil merasakan gejolak keempat calon bayinya yang bergerak kian kemari dalam ruang kecil itu.


Di kediaman pangeran Fatih, Calista mengajari pangeran dengan memintanya mengulangi lagi dasar undang-undang agraria dalam mengatur pembagian tanah antar tetangga.


Pangeran Fatih mengulanginya dengan sangat lamban padahal sudah diberi kesempatan oleh Calista agar pemuda itu membacanya sekitar setengah jam.


"Apakah tuan tidak bisa mengulanginya dengan lancar?" Padahal materi ini sangat mudah untuk disimak." Protes Calista.


"Maaf nona Calista! aku sudah menghafalnya tadi tapi tidak bisa mengulanginya lagi secara terperinci."


"Padahal ini materi dasar Tuan."


"Apakah kamu masih ingat dengan setiap buku yang kamu baca sebelumnya padahal kamu sudah menyelesaikan kuliahmu?" Tantang pangeran Fatih.


"Aku bisa mengulanginya dengan sangat mudah. Sekarang pegang bukunya dan lihat setiap poin yang akan aku sebutkan dengan mudah dihadapanmu." Ucap Calista seraya menyerahkan buku tebal itu kepada pangeran dengan halaman buku yang sudah ditandai Calista.


Calista mengambil nafas dalam lalu melafalkan satu persatu dengan sangat cepat.

__ADS_1


"Dasar hukum:


Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek, Staatsblad 1847 No. 23).


 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria


 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 51 Prp. Tahun 1960 tentang Larangan Pemakaian Tanah Tanpa Izin yang Berhak atau Kuasanya


 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung


 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman."


Hanya satu tarikan nafas, Calista menyelesaikan hafalannya tentang dasar hukum tersebut, tanpa terlewatkan setiap kata dan nomor undang-undang dan tanggal serta tahunnya membuat pangeran Fatih hanya menatapnya bengong dan kagum.


Sesuatu yang sulit sedari tadi ia hafalkan namun dengan mudahnya Calista mengucapkan itu semua tanpa ada kesalahan sedikitpun, seakan setiap lembar buku sudah tersimpan di memorinya dengan rapi.


"Bagaimana bisa kamu mengingatnya, sedangkan materi itu sudah kamu pelajari sejak lama?" Tanya pangeran Fatih penasaran.


"Membaca setiap buku sama saja menghafalkan tiga puluh juz Alquran. Jika kamu mampu menjaga dirimu dari kemaksiatan maka apapun yang kamu pelajari akan tetap terpelihara saat kamu ingin mengulanginya lagi materi bacaan itu seakan semua lembaran itu terbentang di depan matamu tanpa kamu perlu mengingatnya.


Mata manusia adalah kamera terbaik untuk merekam segala sesuatu yang kita baca seperti kita melihat pemandangan indah di suatu tempat yang terus terbayang walupun kita sudah berada di tempat lain.


Jika satu saja kesalahan yang kamu buat tanpa meminta tobat nasuha kepada Allah maka, semua yang kamu pelajari seperti terseret semua dari memori mu." Ucap Calista memberitahu cara menjaga hafalannya.


"Jadi kamu sudah menghafal Alquran tiga puluh juz itu?"


"Hmmm!"


"Nanti saja nona Calista, kapan-kapan kita bisa melakukannya." Tolak pangeran Fatih yang tidak ingin lebih malu di depan Calista.


Tubuh tuan Fatih seperti kaku di tempatnya, rasanya sifat sok tahunya yang menganggap dirinya paling hebat diantara para putra bangsawan lainnya selama ini, dijatuhkan oleh Calista dengan kehebatannya.


"Ya Allah, aku sedang berhadapan dengan malaikat atau manusia sehingga membuatku begitu hina didepannya.


Bagaimana bisa aku bersanding dengannya suatu saat nanti, kalau otakku saja hanya sepuluh persen dari kecerdasanku dibandingkan dengan dirinya." Batin pangeran Fatih sambil menenangkan dirinya agar tidak terlihat gugup di depan Calista.


Tok..tok..


"Tuan muda sudah saatnya makan siang, apakah anda mau makan siang sekarang?" Tanya pengawal Hamid.


"Kami akan makan siang sekarang."


"Baik."


"Ayo nona Calista!" Kita istirahat dulu!"


Keduanya menuju meja makan dan menikmati makanan mereka tanpa bersuara. Usai makan siang pangeran Fatih mengajak Calista untuk duduk di taman.


"Apakah kamu pernah lupa akan pelajaran mu saat kamu berbuat kesalahan atau dosa lainnya?"

__ADS_1


"Usiaku baru mau memasuki sembilan tahun dan dosa ku belum dicatat oleh malaikat karena aku belum mendapatkan haid pertamaku sebagai tanda memasuki usia remaja." Jawab Calista membuat pangeran Fatih malu sendiri dengan pertanyaannya.


"Oh iya, aku lupa nona Calista, tapi kamu akan mendapatkan banyak ujian nantinya saat memasuki usia Akil baliq. Pasti kamu mulai mengenal dosa."


"Dosa adalah bagian fitrah kita sebagai manusia berdasarkan bahan ciptaan kita yang terbuat dari sari patih tanah.


Malaikat tidak pernah mengenal dosa dan iblis serta setan tidak pernah mengenal amal baik. Hanya manusia dibebankan dengan amal saleh dan amal salah sehingga ia mendapatkan dua pilihan surga atau neraka dari ketetapan Allah untuknya."


"Bagaimana jika dosa itu kamu lakukan juga nantinya?"


"Sholat taubat dan perbanyak amal sholeh itu kuncinya. Allah tidak akan membebani hambaNya dengan berbagai ujian kecuali manusia yang ingin menzalimi diri mereka sendiri.


Makanya aku meminta tuan agar banyak sholat taubat agar noda hitam yang ada di memori mu akan hilang. Dengan begitu anda mudah mempelajari apa yang anda usahakan.


Lakukan karena Allah niscaya Allah akan memelihara dirimu dari kemaksiatan. Hatimu akan tenang sekalipun solusinya belum ditemukan."


"Terimakasih nona Calista. Kamu seperti dokter, mengetahui sakit seorang pasien melalui penyebabnya dan memikirkan obat apa yang harus diberikan untuk mengobati penyakitnya." Ucap pangeran Fatih bijak.


"Nah, itu tuan!" Manusia itu harus seperti dokter yang cepat peka dengan dirinya sendiri. Jika hidupnya terus di selimuti banyak masalah, pikirkan dosa apa yang sedang ia perbuat dan segeralah bertobat dan beramal saleh insya Allah masalahnya akan terpecahkan." Timpal Calista dengan tersenyum manis pada pangeran Fatih.


"Apakah kamu pernah melihat anggota keluargamu menemukan kesulitan melakukan pekerjaannya karena perbuatan dosanya?" Tanya pangeran Fatih ingin mengetahui contoh konkrit dari perbuatan dosa yang berdampak langsung dengan hilangnya ilmu pengetahuan seseorang saat menghadapi tantangan pekerjaannya.


Calista mengetuk dagunya mengingat kesalahan kedua orangtuanya yang berdampak langsung dengan ilmunya.


"Oh iya, aku baru ingat tapi aku tidak mengetahui penyebab pastinya. Dan sampai saat ini aku masih penasaran tentang hal itu.


"Sekitar empat tahun lalu, mamaku di jemput paksa oleh prajurit angkatan darat saat kami berkunjung ke Indonesia.


Saat itu tuan penguasa memintanya untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pekerjaannya.


Tapi disaat itu mamaku begitu bingung melakukannya padahal sudah berulang kali ia memasukkan kode rahasia untuk mengetahui siapa peretas yang berani masuk ke zona rahasia negara ini.


Disaat itu aku yang sedang bersama mama melihat setiap angka yang sangat rumit yang ada di keyboard raksasa itu di ruang rahasia keamanan negara ini.


Aku mencoba membantu mamaku untuk menangkap orang yang sudah berani meretas dokumen rahasia negara. Dalam sekejap aku mengunci dokumen itu hingga tidak lagi mudah diretas oleh siapapun atas ijin Allah.


Saat itu aku hanya memikirkan maksiat apa yang telah mamaku perbuat hingga ilmu pengetahuannya seakan dicabut oleh Allah dalam sekejap padahal dia adalah Ahli IT yang sangat jenius." Ucap Calista sambil mengenang betapa ibunya saat itu hampir putus asa karena tidak bisa menemukan solusinya.


"Apakah sampai saat ini kamu tidak penasaran mengapa mamamu yang hebat itu bisa hilang ilmunya karena dosanya?"


"Cukup mamaku dan Allah yang mengetahuinya, karena manusia tidak diwajibkan untuk mengakui dosa maksiat yang pernah dilakukannya pada manusia lain.


Karena itu dilarang oleh Rosulullah kecuali orang itu datang untuk mencari solusi pada orang yang berilmu dan dapat menjaga amanah." Ujar Calista membuat pangeran Fatih manggut-manggut.


"Wah!" Kamu hebat Calista, ilmu pengetahuanmu sangat luas, aku bangga memilikimu sebagai guruku." Puji pangeran Fatih.


...........


Episode ini berkaitan dengan episode ke 28 yaitu kerinduan yang sering mendapat komentar pedas dari pembaca. Itulah sebabnya author menjadikan Andien sebagai contoh konkrit untuk diambil hikmahnya oleh kita semua.

__ADS_1


Terimakasih vote dan like nya 🤗🙏


__ADS_2