
Kedua orangtua Reza cukup syok mengetahui Calista mengerti ucapan mereka.
"Reza!" Apakah Calista mengerti bahasa kita?" Tanya maminya.
"Bukankah dia adalah google berjalan mami?" Jawab Reza.
Tidak lama kemudian, terdengar kumandang azan disekitar mansion. Al meminta ayahnya untuk sholat di mesjid. Jadi pertanyaan Calista menjadi ambigu untuknya.
"Ayah!" Kami ingin sholat di mesjid." Pinta Al.
"Baiklah, kakek juga mau sholat di masjid." Kakek Handoyo bangkit dari duduknya dan mempersiapkan diri untuk berangkat sholat di mesjid.
Empat lelaki itu sudah berangkat ke mesjid yang tersisa tiga perempuan yang ada di mansion itu, yang menunaikan sholat dhuhur di mushola rumah mereka.
Ratih dan Rania yang baru tiba di mansion itu, tidak mengetahui ada tamu. Keduanya duduk di ruang keluarga tanpa menghiraukan pelayan yang sedang menunggu perintah mereka.
"Ko tumben sepi." Di mana Ayah dan mami?" Tanya Rania pada pelayan.
"Sedang sholat di mushola bersama cucu mereka, nona." Jawab salah satu pelayan itu.
"Cucu...?" Oh maksudnya anak-anak dari mas Reza datang dari Colombia?" Tanya Ratih.
"Iya nona!"
"Seperti apa ya mereka sekarang. Enak banget bang Reza, punya anak di luar nikah langsung dapat empat, kita yang menikah selama sepuluh tahun, belum di karuniai anak sampai suamiku ingin menikah lagi hanya untuk punya keturunan." Ujar Ratih nyinyir.
Calista dan Camilla berlarian usai melakukan sholat dhuhur, begitu pula dua saudara mereka Al dan El tampak riang seperti bocah yang lain ikut berlarian ketika masuk rumah sambil berteriak mengucapkan salam.
"Assalamualaikum nenek!" Teriak mereka kompak yang di sambut salam mereka oleh Calista dan Camilla.
Keempat bocah ini, langsung terdiam melihat dua Tante mereka. Ratih dan Rania memperhatikan keempat wajah keponakan mereka yang sangat tampan dan cantik.
"Apakah kalian anak kembar empat?" Tanya Rania ramah.
"Iya Tante!" Ujar mereka sambil mengangguk.
"Kenalkan, nama Tante Rania dan kalian siapa namanya cantik?"
"Calista, Camilla, Fariz dan Al." Keempatnya salim sambil menyebutkan nama mereka masing-masing.
__ADS_1
"Wah, kalian pasti paling pintar di sekolah." Keempatnya mengangguk dan Ratih terlihat tidak begitu peduli.
"Apakah Tante Rania dan Tante Ratih belum punya anak?" Tanya Calista.
"Belum sayang. Tolong doain Tante biar bisa punya anak ya." Ucap Rania basa-basi.
"Berdirilah!" Sini Calista doain." Ucap Calista sambil mengusap tangan mungilnya diperut Rania sambil membaca doa dengan khusu. Rania yang merasa itu adalah lelucon Calista, hanya menurut saja.
"Dua Minggu lagi Tante Rania akan hamil, tapi Tante harus kuat berdoa dan keras berusaha." Ucap Calista lalu menyambut ayah dan kakeknya yang baru muncul.
Sementara Rania hanya bengong tak percaya dengan ucapan bocah ingusan ini yang sedang bercanda dengannya.
"Tante Rania harus yakin karena perkataan Calista selalu benar." Bisik Camilla pada Rania yang terlihat cuek.
"Hah, dasar bocah!" Sinis Ratih.
"Wah, Ratih, Rania!" Kalian sudah datang?" Reza menyalaminya kedua saudara kembarnya sambil menanyakan kabar mereka masing-masing.
"Apakah kalian sudah saling kenal dengan dua Tante kalian anak-anak?" Tanya Reza.
"Sudah!" Ujar Calista.
"Jaga mulutmu Ratih!" Ancam nyonya Susan dengan amarah yang memuncak.
Keempat anaknya langsung memeluk ayah mereka karena ketakutan. Reza yang terlihat syok mendengar pernyataan Ratih tidak bisa bicara apapun kecuali memeluk anak-anaknya.
"Keluar dari rumahku!" Pergi kamu dari sini!" Usir tuan Handoyo yang terlihat kecewa dengan ucapan putrinya yang saat ini sedang setress karena baru diceraikan oleh suaminya.
Hanya Calista yang mengerti bahasa Indonesia. Ia juga tidak ingin ketiga saudaranya mengetahui perkataan Tante mereka pada ayahnya.
Ratih tidak langsung pergi, ia malah masuk ke kamarnya sambil menangis.
"Ayah, ada apa ayah?" Mengapa Tante Ratih di tampar nenek?" Apakah dia sedang menyakiti ayah?" Tanya Camilla.
"Calista! apa yang di katakan Tante Ratih pada ayah?" Tanya Fariz penasaran.
"Itu urusan Tante Ratih dan ayah. Tante Ratih hanya sedang setress saat ini." Sebaiknya kita bermain bersama kakek dan nenek." Ucap Calista yang melihat nenek dan kakeknya sedang termenung dan juga ayah mereka Reza.
"Nenek!" Apakah kami boleh tahu di mana kamar kami?" Tanya Calista.
__ADS_1
"Oh iya sayang, sini nenek antar ke kamar kalian." Nyonya Susan menggandeng tangan kedua cucunya menuju ke lantai atas di ikuti oleh dua cucunya yang lain.
Dua kamar tidur tamu sudah disiapkan untuk cucu-cucunya. Koper mereka juga sudah di masukkan ke dalam kamar mereka masing-masing.
Keempat cucunya ngobrol dengan nenek mereka di kamar saudara perempuan mereka.
Sementara dibawah sana wajah Reza dan tuan Handoyo masih terlihat syok.
"Ayah!" Apakah Reza salah membawa keempat anak Reza di rumah ini untuk berlibur?" Tanya Reza sedih.
"Tolong jangan dipikirkan perkataannya Ratih!" Akalnya lagi kusut jadi bicaranya terdengar ngaco." Ucap tuan Handoyo menghibur putranya.
"Tapi kasihan Calista ayah, karena hanya dia yang mampu mengerti bahasa Indonesia."
"Iya Reza!" Ayah mengerti kecemasanmu saat ini. Tapi anak-anak cepat lupa dengan masalah orang dewasa."
"Ayah masih ada kejutan yang lainnya. Al dan Fariz ingin sunat terlebih dahulu sebelum bulan ramadhan dan saya akan menghubungi dokter dan juga keluarga Andien untuk bisa hadir untuk menyaksikan acara sunat Al dan Fariz. Lagi pula Reza tidak bisa berada lama di Jakarta, ayah karena Reza harus menemani Andien yang sendirian di sana, apa lagi saat ini anak-anak pada liburan di Jakarta." Ucap Reza.
"Tidak apa Reza, temani saja istrimu, lagi pula nak Andien belum begitu pulih dari penyakitnya, dia lebih membutuhkanmu. Biarkan keempat cucuku bersama dengan kami di sini.
Ayah merasa sangat sehat saat bertemu dengan keempat cucu ayah yang ayah kira sebelumnya itu seperti khayalan bisa memiliki keempat anak itu yang ternyata cucuku sendiri.
Kenapa pertemuan pertama dengan mereka yang saat itu dengan tubuh mereka yang masih kecil-kecil tapi ayah tidak mampu mengenali mereka. Namun pesona mereka begitu membekas di ingatan ayah, Reza. Siapa yang menyangka kekaguman ayah saat itu pada mereka menjadi jawaban tersendiri dari Allah bahwa itu adalah cucu kandungku.
Sampai sekarang ayah seakan sedang berada di alam mimpi Reza." Ucap tuan Handoyo sambil menangis.
"Sudahlah ayah!" Jangan terus disesali, nanti ayah bisa sakit lagi, padahal saat ini Reza butuh ayah untuk mengawasi keempat anak Reza yang begitu antusias ingin puasa di rumah kita. " Ucap Reza.
"Iya nak. Ayah akan kuat dan sehat untuk menjalani puasa Ramadhan tahun ini dengan keempat cucu ayah untuk pertama kalinya. Berkah Allah sangat luar biasa untuk kami di usia kami yang sudah tua ini." Ucap tuan Handoyo.
Sementara itu nyonya Susan yang ingin meninggalkan cucu-cucunya yang ingin istirahat diikuti oleh Calista.
"Nenek!" Calista ingin bicara dengan nenek sebagai wanita sesama wanita." Ucap Calista mulai dengan jiwa dewasanya.
"Calista butuh sesuatu?" Tanya nyonya Susan.
"Apakah anak zina itu adalah anak yang di kandung tanpa ada ikatan pernikahan terlebih dahulu?" Apakah ayahku menghamili mama sebelum menikahinya?" Apakah karena itu, nenek dan kakek ingin menyingkirkan kami untuk hadir ke dunia ini?" Itukah yang membuat kakek merasa paling menyesal?" Setelah mengetahui kami adalah keempat cucunya yang sangat hebat, itukah yang membuat kalian menyesal?" Tanya Calista membuat neneknya hanya termangu di tempatnya.
Degggg.....
__ADS_1
Deggg..