
Percakapan antara dua dayang istana dan putri Ruqoya sudah direkam oleh seorang pelayan istana bagian laundry istana.
Usai pertemuan ketiganya, pelayan Rachel segera mencari cara untuk menggagalkan rencana putri Ruqoya untuk membunuh putri Calista.
"Ya Allah. Apakah yang harus aku lakukan untuk menyelamatkan putri Calista? apakah dia sudah makan atau belum?" Kecemasan Rachel ditambah tubuh gemetar membuatnya sulit untuk memulai untuk bertindak.
Jika ia harus menemui pangeran Fatih di tempat acara perjamuan istana, langkahnya cukup jauh untuk tiba di sana. Tapi, jika ia harus menggedor pintu kamar Calista, para pengawal istana akan interogasi dirinya terlebih dahulu dan itu akan memakan waktu yang cukup lama.
Pertentangan batin saat ini menderanya agar mengambil keputusan dengan cepat dalam menyelamatkan putri Calista.
"Ya Allah, aku serahkan semua perkara ini kepadaMu karena sesungguhnya Engkau yang paling dekat dengannya saat ini.
Lindung putri Calista dari ambang kematian." Ucap pelayan Rachel menuju ke taman samping, di mana, kamarnya pangeran Fatih memiliki jendela yang mengarah ke taman samping.
Sementara di kamar itu, Calista yang ingin menyicipi hidangan yang mengandung racun itu, dikejutkan dengan panggilan dari ponselnya. Calista yang baru saja menyuapkan makanan ke mulutnya, memaksanya untuk mengurungkan niatnya memakan makanan itu begitu melihat ada panggilan dari Camilla.
Calista meraih benda pipih itu sambil tersenyum. Ia segera menempelkan ke kupingnya dan mulai menyapa Camilla dengan salam dan menanyakan kabar masing-masing.
"Apakah kamu sedang merindukan aku?" Tanya Calista sambil mengaduk makanan di depannya tapi belum ingin memakannya.
"Entahlah Calista. Aku merasa perasaanku tiba-tiba tidak enak dan pikiran buruk terlintas begitu saja di benakku seolah kamu sedang mengalami masalah.
Apakah saat ini kamu baik-baik saja?" Tanya Camilla dengan suara tercekat seakan sedang menahan kesedihannya.
"Alhamdulillah Camilla, aku baik-baik saja. Mungkin hanya perasaanmu saja yang terlalu berlebihan." Ujar Calista sambil tersenyum.
"Calista! ingat kamu ada di mana saat ini, apa lagi kamu baru melakukan hal besar di dalam istana dan itu tidak akan selesai begitu saja permasalahan di dalam istana itu. Masih banyak penyusup berkedok bangsawan yang siap membunuhmu kapan saja dengan berbagai cara." Ucap Camilla mengingatkan saudaranya itu.
"Insya Allah, hanya Allah penjagaku. Aku yakin, Allah yang akan menyelamatkan aku." Ucap Calista penuh percaya diri.
"Calista. Jangan kelewat percaya diri karena cucu Rosulullah sendiri yang bernama Hassan tetap saja kecolongan saat ia harus makan makanan yang mengandung racun dari orang kepercayaannya, hingga ia harus memuntahkan ususnya sendiri saking kuatnya racun itu." Timpal Camilla memberi peringatan keras pada saudaranya.
Wajah Calista memucat mendengar ucapan saudaranya. Pandangannya mulai tertuju pada makanan didepannya. Bersamaan dengan itu, terdengar pecahan kaca berserakan di kamarnya yang membuatnya terperanjat.
"Allahu Akbar!" Jerit Calista tertahan.
Gadis itu segera menjauh dari jendela kamarnya.
"Calista! Ada apa? suara apa itu?" Tanya Camilla penasaran.
"Camilla. Nanti aku akan menghubungi kamu lagi. Sepertinya seseorang sedang menyerangku." Ucap Calista segera menjauh dari jendela kamarnya.
Ia buru-buru mengambil plastik dan memasukkan sedikit makanan dari ketiga wadah itu untuk dijadikan sampel. Sementara di luar sana, pelayan Rachel segera ditangkap oleh pengawal karena ia sudah menghancurkan kaca jendela kamar pangeran Fatih.
__ADS_1
Mendengar keonaran di kamar istrinya, pangeran Fatih segera berlari menuju kamarnya untuk memeriksa keadaan Calista atas laporan pengawal istana.
Dalam sekejap, istana mulai heboh dengan ulah Rachel yang menjadi perbincangan di kalangan istana karena aksi nekatnya melempar kaca jendela kamar pangeran.
Gadis itu segera diamankan oleh pengawal dan langsung di bawa ke hadapan raja Hassan atas perintah raja Hassan sendiri.
Pintu kamar itu dibuka dengan kasar oleh pangeran Fatih dikuti Ummi Julaikah dan adiknya Noralia.
Calista yang masih duduk di sisi ranjangnya terlihat syok dengan tubuh gemetar karena belum mengerti dengan kejadian barusan.
Pangeran Fatih langsung memeluk istrinya untuk menenangkan Calista. Dua orang dayang istana yang ingin masuk ke kamar Calista dicegah oleh pengawal.
"Calista. Kamu tidak apa sayang?" Tanya pangeran Fatih sambil memeriksa tubuh istrinya.
"Tidak apa sayang." Ucap Calista dengan gugup.
"Apakah pelakunya sudah ditangkap?" Tanya pangeran Fatih pada panglima Khalid yang ikut masuk ke kamar tersebut.
Ratu Julaikah duduk di samping menantunya, ikut menenangkan Calista. Sementara Noralia melihat salah satu makanan yang tidak tertutup mengundang tanya untuk menanyakan jenis makanan yang baru dilihatnya.
"Kakak Calista. Ini makanan apa?"
Calista baru ingat makanan itu. Ia pun beralih ke ibu mertuanya yang terlihat diam saja tidak menanggapi pertanyaan Noralia.
"Makanan?" Umi tidak meminta pihak dapur istana membawa makanan untukmu Calista." Ucap ratu Julaikah membuat putranya dan Calista terkejut.
"Sayang. Apakah kamu sudah memakannnya? Tanya pangeran Fatih sambil mencengkram kedua pipi Calista agar gadis itu membuka mulutnya.
Calista menggeleng kepalanya dengan cepat dan menepis kedua tangan suaminya.
"Aku belum sempat memakannya karena ada telepon dari Camilla di tambah ada lemparan batu itu di kaca jendela kamar ini." Ucap Calista menceritakan kronologinya.
"Alhamdulillah. Syukurlah kamu belum sempat makan makanannya." Ucap ratu Julaikah.
"Tahan makanan itu dan Jangan sampai dibawah keluar!" Titah pangeran Fatih pada panglima Khalid.
Panglima Khalid segera mengamankan makanan itu untuk di bawa ke Lab. istana untuk diteliti lebih lanjut. Mereka ingin mengetahui di dalam makanan itu ada zat apa saja yang terkandung di makanan itu.
"Cari tahu siapa yang dayang yang mengantarkan makanan ini ke istriku dan siapa dalangnya!" Titah pangeran Fatih murka.
"Sebaiknya pindah kamar dulu karena banyak pecahan beling di kamar ini, Calista bisa terluka nantinya." Ujar ratu Julaikah.
Pangeran Fatih menggendong istrinya pindah ke kamar lain yang sudah disiapkan oleh pelayan. Sementara di kediaman putri Ruqoya, gadis itu sedang tertawa riang karena berhasil membunuh Calista bersama calon bayinya.
__ADS_1
"Ha..ha..ha ..!" Sebentar lagi aku akan menjadi seorang ratu Maroko menggantikan almarhumah Calista yang saat ini mungkin sedang menghadapi sakratul maut." Ujar putri Ruqoya sambil menari seperti gaya penari balet.
Tapi tawa itu terhenti kala pelayannya memberitahu bahwa putri Calista baik-baik saja saat ini.
"Permisi putri!"
"Hmm!"
"Di istana utama sedang terjadi kericuhan karena ada seorang pelayan melempar batu ke arah kamar pangeran. Saat ini putri Calista sedang diamankan pangeran Fatih ke kamar lain."
"Apaaaa.... rupanya ada pelayan yang tidak suka dengan ratu abal-abal itu juga? apakah ratu Calista sudah mati atau lagi sakit perut?"
"Putri Calista baik-baik saja, putri."
Deggggg...
"Jadi makanan itu belum sempat ia makan? astaga, bagaimana ini?"
Wajah putri Ruqoya berubah pucat. Saat ini, dirinya sedang terancam hukuman pancung karena sudah berniat membunuh calon ratu Maroko.
"Tidak......tidak! Aku tidak mau tertangkap. Aku harus cepat kabur dari sini. Aku tidak mau mati sia-sia." Ucap putri Ruqoya dalam keadaan panik.
Di tempat berbeda, pelayan Rachel sangat bersyukur jika saat ini, ia berhasil menggagalkan rencana jahat putri Ruqoya usai mengetahui putri Calista baik-baik saja. Walaupun saat ini ia harus berhadapan dengan raja Hassan yang sedang melakukan interogasi padanya.
"Mengapa kamu melemparkan batu pada jendela kamar pangeran?"
"Saya hanya ingin menyelamatkan putri Calista dari niat jahatnya putri Ruqoya dengan mengirim makanan untuk putri."
"Mengapa harus memelpar jendelanya?" Kenapa tidak katakan secara baik-baik pada pengawal istana?"
Itu terlalu lama yang Mulia dan akan memakan waktu yang cukup lama, saya hanya melakukan sesuai dengan apa yang saya pikirkan saat itu agar putri Calista tidak memakannya." Jelas pelayan Rachel cukup masuk akal.
"Apakah kamu punya bukti atas tuduhan mu itu pada putri bangsawan, hmm?"
"Ada yang Mulia. Saya sengaja merekamnya dengan ponsel saya. Tapi saya sembunyikan ponsel saya itu saat ini."
"Ambilah ponsel milikmu itu, supaya aku bisa memberi hukuman pada putri Ruqoya dengan bukti yang kamu miliki!" Titah raja Hassan.
"Baik yang Mulia."
.....
Terimakasih untuk like dan vote nya cinta 🙏🤗
__ADS_1