PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
29. Karma


__ADS_3

Reza tidak mengerti dengan jalan pikiran Andien yang begitu cepat berubah dalam sekejap.


"Andien, mengapa kamu mengusirku?" Bukankah kita baru saling melepaskan rindu?" Tanya Reza.


Andien bangkit lalu membuka pintu kamarnya." Apakah kamu lupa kalau aku sudah menikah?" Dulu saat aku masih gadis kamu merenggut kesuciaku secara paksa dan sekarang saat aku sudah menikah, kamu malah mengajariku untuk selingkuh dari suamiku?" Apakah tidak ada cara yang lebih beradab untuk bisa memiliki seorang wanita yang sangat kamu cintai?"


Aku mohon maaf telah terbawa suasana saat bersamamu, tapi aku tidak mau mengingkari janjiku saat aku menandatangani banyak sekali surat pernyataan dalam perjanjianku dengan kedua orangtuamu untuk tidak mempersulit hidupmu karena itu aku mengambil uang mereka untuk membiayai hidupku selama mengandung anakku." Ucap Andien sambil menggerakkan kepalanya untuk mengusir Reza dari kamarnya.


Seperti biasa, Reza tidak kuat menatap mata milik Andien saat menatapnya dengan tatapan begitu tajam hingga menusuk relung hatinya.


Reza melangkah keluar dari kamar Andien lalu berkata sebelum meninggalkan kamar wanitanya." Aku tidak akan pernah menikah hingga aku merebut kamu dan anak kita lagi dari suamimu itu." Ucap Reza lalu berjalan menyusuri koridor kamar hotel itu menuju pintu lift.


Andien menutup pintu kamarnya dan menangis di balik pintu itu sambil menjatuhkan tubuhnya hingga terduduk.


"Harusnya aku membencimu, mas Reza. Jika aku tidak bisa mengendalikan diriku, maka perasaanku akan menenggelamkan aku ke dalam lumpur dosa yang sama. Dapatkan aku secara terhormat, dengan begitu nilaiku akan lebih baik di mata Allah dan dunia, aku tidak akan memaafkan dirimu sederhana itu." Ucap Andien sambil terisak.


Reza tiba di rumahnya tanpa ucapan salam pada kedua orangtuanya yang sedang makan siang bersama.


"Reza!" Panggil ibunya.


"Maafkan Reza mami, Reza masih lelah." Ucap Reza sambil menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Biarkan saja mami, mungkin dia lagi banyak pikiran." Ucap tuan Handoyo.


Reza mengingat kembali kejadiannya yang sedang melakukan pemanasan cinta bersama Andien walaupun belum sempat menyatukan tubuh mereka.


"Andien, mengapa aku tidak sabar setiap kali bertemu denganmu." Gumam Reza lirih.


Sementara itu, Andien kembali meminta Adam untuk menjemputnya di hotel bandara menuju hotel yang sudah ia booking dekat dengan rumah sakit jantung Jakarta.

__ADS_1


Hampir satu jam perjalanan mereka menuju hotel itu, tapi Andien langsung pamit kepada Adam untuk menjenguk ibunya bersama keempat anaknya.


"Ya Allah, aku sampai lupa dengan tujuan awalku yang harus menjenguk ibuku di rumah sakit saat ini, malah menyenangkan lelaki sialan itu. Aku benar-benar perempuan tidak tahu malu. Sudah pernah dicampakkan malah mau melakukan lagi kebodohan yang sama." Andien lalu beristighfar sebanyak mungkin untuk menghilangkan sesal di dadanya.


"Mami, apakah Oma sedang sakit?" Tanya Camilla..


"Iya sayang!" Ucap Andien sambil menggandeng kedua tangan Calista dan Camilla sedangkan Adam berjalan bersama Al dan Fariz.


Pintu kamar itu dibuka secara perlahan agar ibunya Andien, yaitu nyonya Yuni tidak merasa terganggu dengan kehadiran mereka.


Kebetulan nyonya Yuni sedang makan disuapi oleh Agam. Ketika melihat Andien dan cucunya, nyonya Yuni langsung histeris.


"Andieeennnn!" Nyonya Yuni merentangkan kedua tangannya. Lalu memeluk putrinya itu dengan erat. Keduanya menangis haru melepaskan kerinduan mereka.


"Mengapa kamu baru pulang nak?" Apakah kamu begitu tersinggung dan sakit hati dengan kata-kata ibu?" Ucap nyonya Yuni.


"Seorang ibu hanya marah dan kecewa hanya sesaat nak, tapi setelah itu cintanya lebih besar untuk anak-anaknya. Kamu akan merasakan hal yang sama seperti yang saat ini ibu rasakan padam karena kamu sudah menjadi ibu sekarang. Dan itu adalah cucuku yang kembar empat?" Tanya nyonya Yuni beralih pada empat bocah tampan dan cantik sedang berdiri menyaksikan adegan antara Oma dan mereka dengan bahasa Indonesia yang sangat sedikit mereka mengerti kecuali Calista yang mengusai bahasa ibunya itu.


"Assalamualaikum Oma!" Sapa mereka serentak, lalu bergantian mencium tangan nenek mereka lalu memeluk tubuh kurus itu.


"Waalaikumuslam, oh cucu-cucu Oma." Tangis nyonya Yuni makin menjadi karena terkuras emosi kerinduannya yang telah mengalahkan harga dirinya selama ini.


Cucunya yang harus membayar atas kegagalannya menjadi seorang ibu yang tidak berhasil mendidik satu-satu putrinya, Andien.


"Semoga cepat sembuh Oma. Maafkan mama baru mengajak kami bertemu dengan Oma di Indonesia." Ucap Al-Ghifari.


"Kalian tidak salah, tapi Oma yang salah karena terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga lupa kalau Oma punya cucu-cucu hebat dan tidak bisa menyediakan waktu untuk mengunjungi kalian di Kolombia." Ucap Nyonya Yuni.


Oma Yuni mulai terhibur dengan ocehan keempat cucunya dan penyakitnya seakan hilang dari dadanya yang sering terasa sesak karena menderita sakit jantung.

__ADS_1


Andien duduk di samping kedua saudara kembarnya ikut mendengarkan celotehan keempat anaknya yang pintar menyemarakkan suasana.


🌷🌷🌷🌷


Sudah tiga hari mereka berada di Indonesia. Pagi itu sesuai penjadwalan dokter bedah jantung, nyonya Yuni melakukan operasi bypass pagi itu sekitar jam delapan pagi.


Andien yang sedang menunggu ibunya di depan kamar operasi ikut mengawasi keempat anaknya yang terlihat tenang dengan buku dan ponsel milik mereka. Sementara dua saudaranya saat ini sedang tidur di hotel karena semalaman menjaga ibu mereka di rumah sakit. Kini giliran Andien yang bertugas menunggu ibunya yang sedang di operasi.


"Ya Allah, mudahkan operasi ibu hamba." Tutur Andien dalam doanya. Karena terlalu lelah Andien meminta ijin kepada anak-anaknya untuk mencuci mukanya terlebih dahulu.


"Bisa ibu tinggal kalian sebentar?" Tanya Andien.


Keempatnya hanya mengangguk karena sedang serius membaca buku dan main game.


Andien menitipkan kepada keluarga pasien yang sedang menunggu keluarga mereka di kamar operasi.


Karena haus, Fariz mengajak ketiga adiknya untuk jajan di kantin. Keempatnya turun menggunakan lift menuju kantin rumah sakit.


Karena banyaknya para pembeli yang ngantri di depan kasir, keempat anak ini sabar berada dalam antrian. Calista yang memiliki matanya yang cukup jeli melihat seseorang mengambil dompet seorang kakek dengan menutup jaketnya untuk melindungi aksinya.


Saat kakek itu hendak membayar belanjaannya, ia pun tidak mendapatkan dompetnya. Dengan polosnya Calista mengatakan kepada satpam itu kalau dompetnya kakek itu telah di copet seorang pemuda.


Satpam langsung menghadang orang itu dan meminta dompet yang diambilnya. Setelah diinterogasi dan diancam di bawa ke polisi, pemuda itu mengembalikan dompet kakek itu pada satpam.


"Kakek, orang itu mencuri dompet anda." Ucap satpam itu.


"Astaga, aku hampir gila mencari dompetku, Alhamdulillah ternyata anda yang menemukannya." Ucap kakek tua itu.


"Bukan saya kakek, tapi gadis kecil itu yang sedang makan es krim." Tunjuk satpam itu ke arah Calista yang sedang makan bersama ketiga saudara kembarnya.

__ADS_1


__ADS_2