
Lambaian tangan keluarga kecil Reza melepaskan kepergian keluarga Andien pagi itu membuat kabut tebal menyelimuti wajah-wajah yang ditinggalkan.
Reza tetap memeluk istrinya sambil melihat mobil yang membawa ibu mertua dan dua adik iparnya menghilang dari pandangan mereka.
"Ayah...!"
"Mama....!"
"Sayang!" Kita masuk yuk!" Di luar sangat dingin.
Ajak Reza pada keluarga kecilnya."
Keluarga kecil itu duduk di depan perapian sambil menikmati bubur kacang ijo yang dibuat oleh nyonya Yuni tadi subuh, sebelum berangkat untuk keluarga kecil putrinya.
"Ayah!" Kami sudah bertemu dengan keluarga mama. Tapi kami belum bertemu dengan keluarga ayah, walaupun kami pernah bertemu dengan kakek secara tidak sengaja dan kembali melihat mereka saat melakukan video call dengan mereka. Kapan kami bisa bertemu dengan keluarga ayah?" Tanya Calista.
Uhuk....uhuk!" Andien tersedak saat mengetahui jika keempat anaknya bertemu dengan ayah mertuanya.
"Sayang!" Minum dulu!" Titah Reza lalu membatu Andien minum air hangat untuk melegakan tenggorokannya.
"Apa maksud kamu Calista?" Kapan kamu bertemu secara langsung kakek kalian?" Tanya Andien heran.
"Momen yang tidak di sengaja tapi sudah diatur Allah untuk membuat kakek cukup menyesal dengan perbuatannya.
Deg.....!"
Reza terkesiap mendengar ocehan putrinya tentang ayahnya.
"Apa maksudmu berkata seperti itu Calista?"
"Kakek itu pernah kecopetan dan Calista meminta satpam untuk membekuk pencopet itu dengan mengembalikan dompet kakek.
Sayangnya kakek membalas kebaikan seseorang hanya dengan uang walaupun ia sudah mengucapkan terimakasih kepadaku. Belakangan kami baru mengetahui ternyata kakek itu ada ayah dari ayah kami, suami anda mama." Ucap Calista membuat Andien menghela nafasnya berat.
Reza menceritakan segalanya pada Andien dan istrinya cukup terkejut dengan pertemuan itu.
__ADS_1
"Sejak bertemu dengan Calista, ayah sangat merindukan Calista walaupun saat itu dia belum mengetahui Calista cucunya dan dia mengetahui setelah mereka menonton siaran langsung liputan acara peresmian aplikasi ciptaan Calista dan ketiga saudaranya." Ucap Reza terlihat resah melihat guratan wajah Andien terlihat kecewa pada suaminya yang melakukan apapun tanpa sepengetahuannya.
"Satu persatu tabir yang sengaja ditutupi malah Allah tunjukkan dengan caranya untuk mempertemukan nasab antara keempat anaknya dengan Reza dan ayahnya." Batin Andien.
"Ayah!" Jawab ayah!" Kapan kami bisa bertemu dengan keluarga ayah?" Tanya Fariz.
Reza melirik istrinya yang hanya diam." Tergantung mama sayang." Ucap Reza seakan meminta pendapat istrinya yang saat ini masih belum move on dengan masa lalu.
"Insya Allah anak-anak. Kita masih punya banyak waktu untuk mengenal keluarga ayah. Sekarang kalian boleh melakukan aktivitas apapun di sisa liburan musim salju. Setelah kembali ke kampus fokus kembali pada pelajaran kalian!"
Andien pamit ke kamarnya untuk beristirahat karena tubuhnya belum begitu pulih. Reza menemani isterinya di kamar.
Kembar empat sedang bermain game online bersama.
🌷🌷🌷
Kembali beraktivitas.
Pagi itu Reza ingin mengantar istri dan anak-anaknya ke kampus dan kantor. Semuanya sudah siap, tinggal menunggu sang istri yang belum muncul juga.
Andien mematut lagi dirinya di depan kaca untuk melihat lagi penampilannya yang terlihat cantik dengan tubuh yang kembali fresh. Kali ini Andien menggunakan stelan blazer marun dengan rambut yang digulung ke atas hingga memperlihatkan leher jenjangnya.
"Mengapa secantik ini?" Apa tidak menganggu fokus mata rekan kerjanya yang lelaki untuk menikmati kecantikannya." Batin Reza mulai posesif.
"Wah!" Tumben nyonya Reza terlihat sangat cantik pagi ini. Biasanya malas dandan." Puji Camilla.
"Mama lagi genit sama ayah." Timpal Fariz sambil cekikikan.
"Kan genitnya sama suami sendiri." Reza merengkuh pinggang istrinya menuju mobil yang sudah siap menunggu.
Dua mobil pengawal sudah siap menjemput Andien untuk mengawal dirinya menuju kantor. Reza mengerti akan posisi penting istrinya di tempat Andien bekerja.
"Selamat pagi nona Andien !" Beberapa prajurit angkatan udara menyambut gadis itu dengan sikap hormat pada Andien yang hanya mengangguk hormat tanpa ekspresi.
"Dia bisa merubah wajahnya dalam sekejap. Pantas saja tidak ada yang berani mendekatinya dengan tampilan wajah sedingin bongkahan es itu." Batin Reza lalu masuk ke mobil dan duduk di samping istrinya.
__ADS_1
Keempat anak mereka duduk di belakang. Sementara pagi itu Rendy yang akan mengantar keluarga itu sekaligus menjemput Reza untuk melakukan pertemuan bisnis dengan beberapa koleganya yang ada di Bogota Kolombia.
"Pagi ini kamu sangat cantik sayang." Puji Reza seraya mengecup pipi istrinya.
"Apakah kamu mau aku menghapus makeup ku?" Tanya Andien yang tidak ingin melihat suaminya cemburu.
"Nanti saja kalau kamu sudah di ruang kerjamu, sekarang biarkan aku menikmati kecantikan mu sendiri." Ucap Reza.
Tiba di kampus si kembar empat. Kedua orangtuanya turun sebentar mendampingi keempat anak mereka untuk masuk ke kampus. Reza dan Andien mengecup pipi anak-anak mereka dan saling melambaikan tangan.
Kini giliran Andien yang akan ke kantor. Entah mengapa hati Reza mulai terbakar rasa cemburu saat mobil itu sudah masuk ke halaman perusahaan dan ternyata pagi itu ada penyambutan untuk Andien dengan beberapa personil prajurit yang sudah siap berdiri mengawasi sang jenius memasuki lobi gedung pemerintahan itu yang begitu megah.
Ketika Andien hendak turun. Reza menahan tubuh istrinya untuk tidak buru-buru meninggalkannya. Dalam sekejap Reza melu*t bibir sensual istrinya hingga Rendy harus keluar untuk menahan para prajurit itu mendekati mobil itu.
Tuan Edgar yang memahami ada adegan romantis di dalam sana, sabar menunggu di tempatnya.
Andien pun tidak bisa protes karena tubuhnya sudah menjadi milik suaminya.
Dalam lima menit, lipstik itu sudah terhapus oleh bibir nakal Reza.
"Aku sudah membantumu menghapus bagian terpenting di wajahmu sayang." Ucap Reza tanpa dosa.
Andien bercermin sebentar dan merapikan sekitar bibirnya dengan bedak compact powder miliknya.
"Aku pamit kerja dulu ya mas Reza!" Andien mencium punggung tangan suaminya dengan takzim dan pintu mobil itu di buka oleh Andien sendiri.
Reza melihat sekilas acara penyambutan istrinya oleh segenap rekan kerja Andien berlangsung khidmat. Reza tidak ingin membaur untuk menjaga karir istrinya di departemen bergensi itu.
Reza terlihat murung setelah berpisah dengan istrinya.
"Apakah tuan baik-baik saja?" Tanya Rendy sambil melirik Reza yang duduk dibelakang lewat spion mobil.
"Apakah aku harus menghubunginya?" Kenapa aku jadi rindu lagi pada istriku?" Tanya Reza lirih.
"Rindu atau nggak rela bos?" Lihat istri bersama dengan
__ADS_1
orang -orang hebat di sekitarnya?" ledek Rendy.
"Kau...ini!" Mau cari mati ya!" Geram Reza dengan wajah memerah menahan malu pada asistennya.