
Ratih segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter segera mengambil tindakan untuk melakukan operasi sesar untuk menyelamatkan ketiga nyawa bayi pasangan Rendy dan Ratih itu.
Rendy segera menghubungi keluarga istrinya.
"Mami!"
Tolong segera ke rumah sakit karena saat ini Ratih sedang menjalani operasi sesar."
"Lho!" Tadi mami baru pulang dari apartemen kalian, Ratih baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba Ratih menjalani operasi sesar?"
"Rendy akan menceritakan semuanya pada mami, kalau mami sudah tiba di rumah sakit."
"Baiklah!" Mami segera berangkat ke rumah sakit Rendy."
Sementara di rumah sakit, tim dokter masih berjibaku dengan kandungan Ratih untuk mengangkat ketiga bayi Ratih yang belum cukup usia untuk hadir ke bumi.
Rendy merasa sangat konyol saat ini karena ia sendiri yang meminta Ratih untuk tinggal di apartemennya, sementara istrinya sudah menolak untuk tinggal di apartemen setelah melahirkan ketiga bayi mereka karena butuh perhatian maminya.
"Ratih!" Maafkan aku sayang!"
Jika saja aku lebih mendengarkan kamu!" Mungkin kamu tidak akan mengalami ini semua." Keluhnya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Nyonya Susan dan tuan Handoyo beserta tiga orang pelayan menghampiri ruang operasi di mana Rendy duduk dengan wajah mendongak ke atas seakan sedang memohon pertolongan Allah untuk keselamatan istri dan ketiga anaknya.
"Nak Rendy!" Sapa tuan Handoyo yang melihat wajah muram Rendy yang menyimpan sesuatu.
"Mami, ayah!" Rendy langsung bersimpuh sambil menangis.
"Ada apa Rendy?" Kenapa dengan Ratih?"
"Ratih di aniaya oleh mantan suaminya Rama, mami."
Degggg..
"Apaaa....?!" Keduanya terlihat syok.
Rendy menceritakan kronologi kejadian tersebut hanya sedikit berdasarkan apa yang ia saksikan dan selebihnya belum mendapatkan informasi lebih banyak dari Ratih karena gadis itu sudah keburu pingsan.
"Dasar lelaki laknat!" Penjarakan dia ayah!" Titah nyonya Susan penuh amarah.
"Ya Allah, lindungi putri dan ketiga cucuku." Lirih tuan Handoyo.
"Rendy!" Urus bajingan itu agar membusuk di penjara." Titah tuan Handoyo.
Entah mengapa, tuan Handoyo tiba-tiba ingat kepada Andien. Ia pernah meminta Andien mengugurkan kandungannya, sekarang kandungan putrinya malah bermasalah karena ulah mantan suaminya, Rama.
Tiga jam berlalu, dokter keluar dengan wajah kusut lagi lelah. Keluarga itu mendekat lalu menanyakan keadaan Ratih.
"Dokter, bagaimana dengan anak dan istri saya dokter?"
__ADS_1
"Alhamdulillah ibunya selamat, namun kami hanya bisa menyelamatkan dua bayinya saja. Keduanya sepasang. Laki-laki dan perempuan, sementara bayi satunya lagi meninggal dunia berjenis kelamin perempuan.
Tengkorak bayinya retak, mungkin penyebabnya saat ibunya jatuh dan mendapat benturan keras, mengenai bayinya.
Bayi perempuan itu sudah meninggal sebelum operasi sesar dilakukan." Ucap dokter Risna dengan penuh penyesalan karena tidak dapat melakukan apapun.
"Innalilahi wa innailaihi rojiuun!" Seru ketiganya terlihat syok.
"Dua bayinya di rawat di inkubator. Tuan Rendy bisa mengumandangkan azan pada keduanya, dan tolong bawa pulang jenasah bayi perempuannya agar segera di makamkan oleh keluarga.
Satu jam lagi nyonya Ratih akan di pindahkan ke ruang inap pasien setelah siuman dari obat bius. Permisi, saya ke dalam dulu." Ucap dokter Risna lalu menutup lagi pintu ruang operasi itu.
Duka keluarga Handoyo hari itu sulit untuk dilukiskan dengan kalimat apapun. Mereka segera memakamkan jenazah putrinya.
Ratih yang terlihat sudah mampu segar, ia pun lalu menanyakan keadaan bayinya kepada suaminya Rendy.
"Rendy!" Bagaimana dengan bayi kita sayang?"
"Alhamdulillah saat ini mereka ada di inkubator."
"Alhamdulillah, aku bisa melindungi ketiga bayiku." Ucap Ratih haru.
"Tapi sayang." Rendy memeluk istrinya dan membawa kepala Ratih dalam dekapannya.
"Ada apa Rendy?" Tanya Ratih gugup.
"Satu bayi kita meninggal karena tengkoraknya retak." Ucap Rendy sambil menangis pilu.
Rasa syok yang dialami Ratih hingga ia tidak mampu lagi berkata-kata.
Nyonya Susan segera menyadarkan putrinya, tapi Ratih seperti patung hidup yang hanya memandang kosong tanpa ekspresi.
Nyonya Susan segera memanggil dokter melalui nurse call.
Dua suster dan dokter Risna segera memeriksakan keadaan pasien.
"Mengapa di sampaikan berita duka ini sekarang, Tuan?" Di saat pasien masih mengalami trauma. Harusnya kalian berkoodinasi dulu dengan kami agar kami bisa mendatangkan dokter psikiater yang lebih ahli dalam menyampaikan berita duka ini."
Ucap dokter Risna yang menyayangkan sikap keluarga pasien yang kurang sabar menyatakan berita kematian bayinya pada seorang ibu yang baru mengalami trauma percobaan pelecehan sek*sual.
"Maafkan saya dokter!" Saya pikir istri saya cukup kuat untuk menerima berita duka ini."
"Yah, mau diapain lagi, sekarang sudah terjadi. Kami akan berkoordinasi dengan dokter psikiater untuk menangani pasien Ratih. Biarkan nyonya Ratih istirahat dan tidak usah banyak cerita padanya."
Dokter Risna meninggalkan kamar inap Ratih dengan raut wajah kecewa.
Flash back off
Nyonya Susan menceritakan keadaan saudara kembarnya Reza yang sampai saat ini belum sadar dari traumanya.
__ADS_1
Reza juga sama syok nya, mendengar cerita maminya. Keduanya mengakhiri percakapan mereka dengan menceritakan Andien yang sudah melahirkan cucu kembar empat mereka, agar kedua orangtuanya sedikit terhibur.
Reza kembali ke kamarnya dengan wajah terlihat sedih. Ia juga tidak tega menyampaikan kepada Andien tentang keadaan Ratih.
"Bagaimana mas Reza, kabar mami?"
"Alhamdulillah Ratih juga sudah melahirkan dua hari yang lalu melalui operasi sesar."
"Usia kandungannya belum cukup, apakah ada masalah?"
"Tidak sayang!" Semuanya baik-baik saja." Ucap Reza dengan tenang.
"Alhamdulillah!" Anak-anak, nanti kita video call dengan Tante Ratih untuk ucapkan selamat atas kelahiran baby kembar tiganya." Ucap Andien pada keempat anaknya.
"Jangan!"
"Ada apa sayang?"
"Nanti saja kalau bayinya sudah keluar dari inkubator. Kita bisa melakukan di rumah kalau baby kembar empat sudah di perbolehkan pulang oleh dokter." Cegah Reza.
"Mas Reza!" Kamu tidak lagi menyembunyikan sesuatu dari aku bukan?" Memastikan.
"Tidak ada sayang!" Aku mungkin terlalu bahagia mendapatkan hadiah dari Allah dengan memiliki empat bayi sendiri dan tiga keponakan kembar dalam waktu bersamaan." Reza berdalih.
"Apakah hanya itu?" Tidak yang lainnya?" Selidik Andien.
"Tidak sayang!"
"Baiklah!" Itu ada empat botol ASI untuk Ade kembar empat, tolong antarkan kepada Suster jaga di ruang bayi.
"Baik."
Reza mengambil keempat botol yang sudah di isi ASI milik Andien untuk keempat buah hatinya.
Reza berjalan menuju ruang bayi sambil mengusap air matanya karena sangat sedih mengingat keadaan saudara kembarnya di sana.
"Ya Allah."
Apakah ini sebuah karma untukku?" Dulu aku memperkosa istriku sendiri Andien hingga hamil dan sekarang saudaraku harus menerima karma karena diriku. Walaupun Rama tidak sempat melakukannya tapi akibat dari perbuatannya bajingan itu, saudaraku harus kehilangan satu keponakanku.
Ya Allah, apakah ini hukuman untukku?" Jika aku menodai putri orang lain maka suatu saat nanti keluargaku akan diperlakukan sama seperti yang aku lakukan pada putri orang lain. Ampunilah aku ya Allah." Gumam Reza lirih.
"Suster!" Tolong berikan ASI ini untuk keempat bayiku." Pinta Reza seraya menyerahkan wadah yang berisi botol ASI itu kepada suster jaga di ruang bayi.
"Baik Tuan." Keempat bayi anda sangat tenang. Mereka tidak merepotkan kami sama sekali. Mungkin dua hari lagi mereka sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Itu yang di katakan dokter Manuella padaku." Ucap Suster Belle.
"Terimakasih suster."
Reza segera ke kamar Andien untuk berkumpul bersama keluarga kecilnya.
__ADS_1
....
Maaf say baru up, author masih belum sehat.🙏