
Keadaan Ratih di dalam sana masih belum jelas hingga kini. Keluarga sudah berkumpul seperti Reza dan istrinya Andien. Pasangan Rania dan Jody sudah menunggu di depan ruang operasi dengan hati cemas tak menentu.
Sekitar satu jam kemudian, pintu kamar operasi juga di buka oleh dokter Wenny. Serentak keluarga berdiri menunggu ucapan dokter dari hasil operasi pada kepala belakang Ratih.
"Bagaimana dokter?" Tanya Rendy dengan sigap.
"Alhamdulillah. Operasinya lancar, kita hanya menunggu kesadaran pasien sekitar dua puluh menit lagi, jika obat biusnya sudah hilang dari tubuhnya.
Pasien akan dipindahkan ke ruang VVIP. Dan semoga ia tidak lagi mengalami trauma yang hampir membuatnya gila." Timpal dokter Hera yang merupakan dokter psikiater Ratih.
Keluarga bernafas lega. Mereka akhirnya menuju ke ruang VVIP sambil menunggu kedatangan Ratih yang keluar dari kamar operasi.
Setibanya di kamar operasi, Ratih masih tidur dengan kepala yang dibalut perban. Reza yang melihat keadaan adiknya menjadi kesal dengan ulah Rendy yang terlalu berlebihan memperlakukan Ratih hingga membahayakan nyawa Ratih.
Andien memohon kepadanya agar tidak menambah masalah dan memaklumi sikap spontan Rendy yang sedang panik saat itu melihat putrinya Dewi tidak sadarkan diri.
Sepuluh menit kemudian, Ratih merasakan kepalanya sedikit berat dengan pandangan matanya sedikit kabur. Jari jemarinya mulai digerakkan agar orang disekitarnya tahu kalau dia sudah sadar.
Andien yang melihat Ratih yang sudah siuman segera mendekati adik iparnya itu.
"Ratih!" Senyum Andien diselingi air mata haru.
"Mbak Andien!" Sahut Ratih membuat yang lainnya ikut terpana.
"Alhamdulillah. Ratih sudah mengenali kita lagi." Ucap Rania lalu mencium pipi saudara kembarnya.
"Ratih!" Apakah kamu mengingat kami semua?" Memastikan kesadaran penuh Ratih.
"Iya mbak Andien. Emangnya apa yang terjadi denganku?"
"Tidak apa-apa, kepalamu hanya terluka." Ujar Andien.
"Di mana bayiku?" Aku ingin melihat mereka."
"Bayi kembar kita sudah besar, sayang, sekarang si kembar sudah berusia satu tahun. " Ujar Rendy.
"Kenapa mereka sudah sebesar itu? Kenapa aku tidak mengetahuinya?" Tanya Ratih makin bingung.
"Nanti saja ceritanya sayang, yang penting kamu sudah sembuh." Ujar Andien.
Ratih kembali memejamkan matanya karena masih terpengaruh dengan obat penenang. Keluarga yang lain pamit pulang karena mereka sudah lama meninggalkan bayi kembar mereka begitu lama. Sekarang yang tersisa hanya Rendy yang menemani istrinya saat ini.
Tapi sebelum keluar dari kamar inap Ratih, Reza menegur adik ipar sekaligus asistennya Rendy.
__ADS_1
"Aku kira, adikku akan bahagia dan aman bersama denganmu, ternyata kamu dan bajingan sialan Rama itu tidak lebih dari binatang pemangsa yang lebih mengedepankan emosi dari pada nurani. Jika kamu tidak bisa menjaganya tinggalkan adikku Ratih karena dia tidak pantas denganmu!" Ancam Reza lalu meninggalkan kamar itu.
Rendy nampak terkesiap mendengar Ancaman keras bosnya itu. Ia juga menyesali perbuatannya pada istrinya.
...----------------...
Sementara di mansion tuan Handoyo, Camilla merasakan perutnya begitu sakit. Gadis ini hanya menangis memanggil kedua orangtuanya.
Nyonya Susan sedikit kewalahan mengurus Camilla yang terlihat sangat pucat.
"Kamu makan apa Camilla, sampai perutmu sesakit ini?" Nenek sudah memanggil dokter keluarga untuk memeriksa keadaanmu sayang." Ucap nyonya Susan sambil mengusap perut dan punggung Camilla dengan minyak kayu putih.
Andien dan Reza yang baru datang, diberitahu oleh Calista tentang keadaan Camilla. Reza yang mendengar itu langsung lari melihat putrinya.
"Sayang!" Kenapa bisa sakit perut?" Tanya Reza cemas.
"Tidak tahu ayah. Bukan hanya perutnya yang sakit tapi pinggangnya rasanya sangat pegal."
"Ayah gendong ya, biar berkurang sakitnya." Ucap Reza lalu menggendong putrinya ini.
Nyonya Susan meninggalkan kamar cucunya dan membiarkan putra dan menantunya mengurus Camilla.
Andien tersentak saat melihat bokong putrinya terdapat noda darah.
"Astaga Camilla!" Kamu sedang mengalami menstruasi, sayang."
Belum reda rasa kagetnya, datang Calista mengeluhkan hal yang sama pada mamanya.
"Mama!" Apakah Calista sedang haid?" Tanya Calista sambil memperlihatkan roknya yang berdarah kepada kedua orangtuanya.
"Iya sayang, sama seperti Camilla saat ini." Ujar Andien menenangkan dua putrinya agar mereka bisa menerima perubahan hormon mereka yang sudah memasuki usia dewasa.
"Mas Reza!"Tolong tinggalkan kami!" Ini urusan wanita." Titah Andien pada suaminya yang sedang membaringkan Camilla.
Andien segera mengambil pembalut wanita miliknya dan mengajari kedua putrinya cara penggunaannya dan membersihkan tempat sensitif mereka agar tetap nyaman selama masa haid.
"Sayang!" Mulai detik ini dosa kalian sudah dicatat oleh malaikat. Jagalah akhlak kalian terutama panca indera kalian untuk lebih hati-hati dalam bertindak. Intinya jagalah Allah, maka Allah akan menjaga kalian." Ucap Andien bijak.
"Iya mama. Terimakasih atas nasehatnya." Ucap Calista.
Keduanya masuk ke kamar mandi untuk memakai pembalut. Andien membantu putrinya Camilla karena tubuh gadis ini masih terlihat lemah.
Di Bogota Colombia, nasib buruk terjadi pada pangeran Fatih yang harus di rawat di rumah sakit. Ratu Julia Zhulaikha dan Raja Hasan mendatangi putra mereka bersama adiknya pangeran Fatih yaitu Putri Noralia.
__ADS_1
Wajah cemas ketiganya menatap tubuh pangeran Fatih yang sudah lemah ditopang oleh selang oksigen dan infus yang menancap di punggung tangan kirinya.
Matanya terlihat sendu dengan binar redup menyimpan rindu yang begitu besar pada guru kecilnya Calista.
Gairah hidupnya hilang bersama sosok yang mengagumkan itu yang biasa menghiasi hari-harinya.
"Ummi!" Sapa Fatih tersenyum getir menatap wajah ibunya yang terlihat menegang.
"Sayang, mengapa tiba-tiba jatuh sakit usai pulang dari Maroko?"
"Aku merindukan seorang gadis ummi." Ucapnya dengan susah payah.
"Gadis...?"
Maksudnya, kamu memiliki seorang kekasih?" Tanya ratu Julia.
"Iya ummi!"
"Jangan bermimpi untuk bisa mendapatkan gadis itu prince!" Ingatlah kalau ayah sudah menjodohkan kamu dengan putri raja Sulaiman dari Yordania yaitu Filza Githa Hannania." Ucap raja Hasan yang tega menyakiti hati putranya yang sedang terbaring lemah.
"Ayah! kalau bukan dengan gadis pilihan Fatih, lebih baik Fatih tidak akan menikahi gadis manapun." Protes pangeran Fatih dengan suara yang terdengar parau.
"Jika kamu tetap menginginkannya, jadikan dia selir mu bukan calon ratu Maroko selanjutnya. Karena selama ini, setiap keturunan raja Maroko tidak mengambil menantu dari rakyat jelata." Tegas raja Hasan lalu meninggalkan kamar inap putranya.
Pangeran Fatih mengusap air matanya yang terasa sangat panas. Ia menatap wajah cantik ibunya.
"Apakah ummi dulu menikah dengan ayah karena cinta atau karena hierarki kerajaan?"
"Fatih!" Cinta bisa datang belakangan, yang penting menyatukan dua kerajaan untuk memperkuat kekuasaan kerajaan. " Ucap ratu Julia.
"Dengan mengorbankan perasaan kalian masing-masing untuk menyenangkan rakyat Maroko dengan para menterinya yang merupakan keluarga bangsawan yang rata-rata adalah penjilat?" Tanya pangeran Fatih dengan menahan amarahnya yang mulai berkobar di dadanya.
"Fatih!" Inilah bagian dari peran kehidupan yang harus kamu mainkan suka atau tidak, kamu tidak diberikan pilihan untuk memilih berdasarkan keinginanmu."
"Kalau begitu, aku menolak untuk menjadi putra mahkota kerajaan Maroko. Aku ingin menghabiskan hidupku dengan wanita yang aku sayangi." Ujar pangeran Fatih membuat ratu Julia kelabakan mengatasi putranya yang sama kerasnya dengan suaminya.
"Sayang!" Apakah kamu tega memutuskan penerus pemimpin kerajaan Maroko selanjutnya?" Keluh ratu Julia.
"Aku tidak mau hidup berdasarkan keinginan ayahku raja Hasan." Ucap pangeran Fatih lalu mencabut selang infusnya begitu saja hingga darahnya muncrat ke mana-mana.
"Fatiiiihhh!" Pekik ratu Julia ketakutan.
"Kakakkk!" Putri Noralia ketakutan melihat abangnya langsung pingsan dengan darah yang mengalir dari pembuluh darahnya.
__ADS_1
....
Makasih ya udah kasih kopi dan like juga vote. See you tomorrow.🙏🤗