
Tiga hari sudah Andien berada di rumahnya. Ia harus mengambil cuti panjang karena tubuhnya tidak memungkinkan untuk dia bisa beraktivitas lagi.
Di tambah lagi ia harus menjalani perawatan untuk seminggu ke depan. Untuk leukemia agresif, pengobatan termasuk kemoterapi yang kadang-kadang diikuti dengan radiasi dan transplantasi sel induk.
Pagi itu keempat anaknya sedang menghadapi ujian semester pertama mereka sebelum datangnya musim libur menjelang Natal. Itu berarti sebentar lagi akan ada musim salju.
Pagi itu Reza ingin sekali mengantar anak-anaknya ke sekolah untuk pertama kalinya. Anak-anak sudah siap berangkat dengan tas ransel yang sudah tergantung di punggung mereka.
"Ayo sayang sarapan dulu!" Titah Andien yang sudah duduk di meja makan.
Anak-anak itu menempati bangku masing-masing. Tidak lama kemudian Reza datang sepagi itu dari hotelnya menginap hanya untuk mengantar anak-anaknya ke sekolah.
"Assalamualaikum mama Andien!" Sapa Reza mengikuti gaya keempat anaknya memanggil ibu mereka.
"Waalaikumuslam mas Reza!" Ujar Andien terlihat bahagia dengan matanya langsung berbinar cerah walaupun senyum belum seindah matahari pagi.
"Waalaikumuslam ayah Reza!" Ujar keempatnya lalu bangkit untuk menyalami Reza tapi di cegah oleh Reza.
"Duduk saja sayang!" Biar ayah yang menghampiri kalian." Ujar Reza lalu menyalami anaknya satu persatu.
"Ayah belum bersalaman sama mama Andien!" Seru Camilla.
Keduanya kebingungan dan saling menatap. Reza dengan cepat mencium kepala Andien untuk menyenangkan keempat anaknya. Kalau dalam keadaan sengaja menyentuh Andien, Reza tidak berani melakukannya karena hati Andien sulit ditebak olehnya. Lebih baik mencari aman, itu yang ada di benaknya walaupun dirinya spontan nekat melakukan ciuman dadakan.
"Silahkan sarapan bersama kami mas Reza!" Pinta Andien.
Fariz langsung pindah tempat agar ayah bisa duduk dekat dengan ibunya. Reza mengerti atas pengorbanan putranya.
Seperti biasa pagi itu mereka menyelesaikan sarapan tanpa ada suara hingga tandas. Reza meminta ijin pada Andien untuk mengantar keempat anaknya ke sekolah. Andien hanya mengangguk tanpa ada kata yang terucap dari bibirnya.
Reza menarik nafasnya dalam." Andien, kamu tidak berubah sama sekali, wajahmu tetap datar dan bicaramu terlalu sedikit, seakan semua perkataan tersalurkan melalui sikap dinginmu itu." Batin Reza merasa menjadi lelaki bodoh di hadapan Andien.
"Reza... Reza!" Kamu yang memulai semua ini, jadi kamu harus terima konsekuensinya." Reza bermonolog.
"Mama Andien kami berangkat dulu, muuacch, assalamualaikum!" Kecupan manis serta salam yang selalu Andien terima setiap kali mengantar anaknya ke sekolah.
__ADS_1
Semua sudah duduk di mobil dan Reza menjadi sopir pribadi untuk keempat anaknya.
"By mama!" Lambaian tangan meninggalkan ibu mereka yang masih terlihat pucat.
Mobil Reza sudah bersaing dengan para pengendara lain untuk mencapai tujuan mereka masing-masing.
"Di mana sekolah kalian?" Tanya Reza yang belum mengetahui letak lokasi sekolah anak-anaknya.
"Ayah!" Jangan berpikir kami sekolah sesuai dengan usia kami." Ucap Fariz.
"Maksudnya apa Fariz?" Tanya Reza tidak mengerti.
"Ayah, kami sudah kuliah tingkat pertama dan ini adalah ujian pertama kami sebagai mahasiswa." Timpal Al, membuat ayahnya sangat syok hingga menekan pedal rem mendadak.
"Ada apa ayah?" Apakah kita menabrak seseorang?" Tanya Fariz yang ingin turun melihat apa yang terjadi. Tapi langsung dicegah Reza dengan menahan pundak putranya.
"Apa...?" Mana mungkin kalian sudah mencapai jenjang pendidikan setinggi itu dengan usia yang baru menginjak tujuh tahun lebih." Tanya Reza merasa tidak masuk akal.
"Ayah!" Kecerdasan kami sudah membantu banyak perusahaan yang datang kepada kami untuk mengatasi masalah mereka.
Hanya dia yang berani mengambil dua jurusan dalam perkuliahan ini. Kalau kami kuliah sampai siang saja, tapi Calista kuliah sampai sore." Ucap Camilla.
"Ayah, buruan! kami sudah telat." Pinta Calista yang tidak ingin terlambat.
"Ok sayang!" Reza melanjutkan perjalanan mereka dengan banyak pertanyaan di kepalanya.
Ia tidak menyangka, ia memiliki anak-anak jenius yang sudah diperlakukan dewasa oleh orang-orang yang mempunyai kepentingan.
Lagi-lagi, Reza semakin tidak berharga di hadapan Andien. Penyesalan tidak cukup melekat pada dirinya. Setiap kejadian berharga yang ia lihat pada Andien dan keempat anaknya, seperti hukuman cambuk untuknya. Hatinya selalu meringis kesakitan karena tidak adanya kiprahnya dalam setiap pertumbuhan anak-anaknya.
"Mungkin di dunia ini, akulah lelaki paling bodoh dan terkesan seperti pembunuh yang tega menyuruh Andien membunuh keempat nyawa mereka.
"Andien, harusnya aku yang mengalami sakitnya kamu, bukan kamu sayang. Melihatmu sakit saja, aku merasa lebih menderita daripadamu." Air mata itu lolos begitu saja dipipinya.
"Ayah!" Mengapa ayah tiba-tiba menangis?" Apakah ayah sakit?" Tanya Fariz yang duduk di sebelah ayahnya.
__ADS_1
Ketiganya langsung melihat wajah ayah mereka dengan cemas.
"Ayah, itu kampus kami!" Ucap Al.
Mobil itu masuk ke area kampus untuk mencari tempat parkir yang aman. Keempatnya turun dari mobil diikuti Reza. Mereka menyalami ayahnya.
"Sampai jumpa lagi ayah!" Ucap keempatnya serempak, diikuti ucapan salam sebagai bentuk doa.
Reza tidak lekas beranjak dari tempat itu, ia memperhatikan keempat anaknya yang sudah menjauh dari tempatnya berdiri.
Para mahasiswa yang sudah remaja menghampiri keempat anaknya. Reza melihat itu tersenyum getir antara bahagia dan sakit.
Reza tidak sadar ada seseorang yang memperhatikan tingkahnya dan orang itu turun dari mobil lalu menghampirinya.
"Permisi Tuan!" Sapa nyonya Brooklyn yang merupakan dosen di kampus itu.
Reza membalikkan tubuhnya dan ia sedang mengingat wajah yang tidak asing baginya.
"Nyonya Brooklyn?" Tebak Reza di sambut anggukan nyonya Brooklyn.
Reza menyalami sahabat ibunya itu saat masih kuliah.
"Apakah kamu sedang merasakan penyesalan saat ini, anak muda?" Tanya nyonya Brooklyn pada putra sahabatnya ini.
Reza mengangguk dengan menahan air matanya.
"Penyesalan selalu datang terlambat Reza. Dulu aku begitu menyayangkan sikap kedua orangtuamu yang begitu arogan kepada Andien yang saat ini sedang membawa perutnya yang sudah membesar walaupun usia kandungannya masih tiga bulan karena mengandung anak kembar.
Mereka ingin Andien melakukan aborsi atau melahirkan dan membesarkan anak itu tanpa ada tuntutan apa pun padamu atau kedua orangtuamu.
Andien menyanggupinya dan menambahkan isi perjanjian itu, bahwa jika anaknya lahir dan sudah besar nanti, jangan pernah mengakui anaknya sebagai cucu mereka karena anaknya hanya miliknya saja.
Tidak di sangka, berjalannya waktu aku mengetahui kelebihan keempat anak itu yang telah mewarisi kejeniusan kalian.
Dan lucunya, aku harus mengajar keempat bocah itu yang menjadi mahasiswaku saat ini. Bagaimana reaksi kedua orangtuamu, jika mengetahui apa yang pernah terjadi di masa lalu kini menghukum mereka dengan cara yang menyakitkan dan itu juga berlaku untukmu bukan?"
__ADS_1
Sekarang nikmatin saja sesal seumur hidupmu Reza, karena kamu telah mengabaikan hal yang berharga dalam hidupmu, yaitu Andien.