
"Hallo Andien!"
"Assalamualaikum mas Reza!" Apakah kalian sudah tiba di Jakarta?"
"Iya sayang, kami bahkan sudah bertemu dengan ayah dan mami." Ucap Reza tidak lupa menjawab salam istrinya.
"Alhamdulillah. Apakah anak-anak menyusahkan mu?"
"Tidak sayang, justru aku selalu dihibur sepanjang jalan. Tuh, sekarang lagi sedang bercanda dengan kakek neneknya. Apakah kamu ingin bicara dengan mami atau ayah?" Tanya Reza hati-hati.
"Tidak sopan bicara sama orang tua ditelepon disaat hati kami belum siap untuk menyatu. Aku mohon mas Reza memberiku waktu untuk bisa menerima semuanya." Pinta Andien.
"Baiklah sayang. Aku tidak akan memaksamu, terserah bagaimana dirimu bisa menerima semuanya atau tidak." Ucap Reza terlihat pasrah.
"Sampaikan salam hormatku pada ayah dan mami." Ucap Andien sambil menahan tangisnya.
"Terimakasih sayang!" Apakah kamu tidak merindukan aku?"
"Aku ngantuk mas Reza. Assalamualaikum?" Andien tidak bisa lagi meneruskan kata-katanya karena mengenang kembali perkataan mertuanya untuk mengugurkan kandungannya.
"Kalian sekarang sedang menjilat ludah kalian sendiri. Sesuatu yang ingin kalian singkirkan, sekarang malah menjadi pelipur lara kalian di saat kalian memasuki usia senja." Gumam Andien lirih.
Ia membenamkan wajahnya di bantal, menumpahkan lara yang yang masih tersisa dan tak ingin lenyap di hatinya.
"Andien!" Aku tahu saat ini kamu sedang berperang dengan hatimu karena orangtuaku. Semoga Allah menyembuhkan sakit hatimu agar kamu dapat membuka pintu maaf untuk kedua orangtuaku Andien." Gumam Reza lalu menyeka air matanya.
Keempat anaknya sudah dibawa masuk oleh kedua orangtuanya. Dan saat ini saling berbagi cerita.
"Ayo kakek ingin dengar nama lengkap kalian masing-masing!" Pinta kakek Handoyo.
"Nama aku Sultan Al-farizi."
"Nama Aku Pangeran Al-Ghifari."
"Nama Aku Ratu Camilla."
"Nama Aku Putri Calista."
"Namanya sangat bagus. Sekarang kalian sudah kelas berapa?"
"Kami sudah kuliah kakek, nenek dan tahun depan kami sudah wisuda sarjana strata satu dengan jurusan yang berbeda-beda kecuali Calista yang mengambil dua jurusan sekalian.
__ADS_1
"Hahh?" Keduanya memandang putra mereka Reza.
Reza hanya mengangkat kedua bahunya seakan mengatakan apa yang dikatakan putra putrinya adalah kebenaran.
"Reza, apa ayah tidak salah dengar?" Apakah kalian sedang bercanda dengan kakek ya.. kakek senang kalian senang bercanda, tapi saat orang yang lebih tua bertanya, tolong jawab yang serius sayang." Ucap Tuan Handoyo terlihat kecewa.
"Fariz!" Calista meminta saudara kembarnya untuk memutarkan liputan mereka selama mengikuti perkuliahan yang selalu mereka liput sendiri.
Fariz yang mengerti langsung memasang flashdisk di laptopnya dan menyambungkan ke infokus yang terdapat di atas meja bufet milik kakek mereka.
"Tolong perhatikan itu kakek, nenek!" Titah Camilla.
Keduanya langsung menyaksikan kegiatan perkuliahan keempat cucu mereka di kelas yang berbeda-beda dengan tubuh gemetar dan air mata yang terus mengalir karena bangga.
Bahkan keempat cucunya diundang diberbagai perusahaan untuk menyelesaikan masalah mereka dan semua ada di dokumenter itu yang sekarang tersaji di depan layar lebar itu.
"Ya Allah!" Ini tidak mungkin!" Ucap nyonya Susan sambil mengusap air matanya berulang kali.
Bahkan profesor Brooklyn yang menjadi salah satu pengajar yang mengajar keempat cucu mereka.
"Reza..?" Gumam tuan Handoyo lirih.
"Cucu ayah tidak pernah berbohong ayah. Saksinya nyonya Brooklyn sahabat karib mami dan tayangan itu sebagai buktinya.
"Apakah kakek dan nenek masih meragukan kemampuan kami?" Tanya Calista.
"Bukan ragu sayang, tapi ini suatu yang sangat luar biasa yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata." Ucap tuan Handoyo meralat perkataan Calista.
"Kakek, kalau mau tanyakan apapun, tidak perlu cari di google karena Calista mampu menjawabnya dengan mudah." Ucap Al.
"Tapi Calista seorang anak yang cacat kakek, nenek. Calista menderita spektrum Autisme. Inilah kekurangan Calista yang tidak bisa tampil normal seperti ketiga saudara kembarku." Ucap Calista membuat Reza terlihat sedih.
Reza menggendong putrinya dan menciumnya sesaat." Calista adalah anak ayah yang terbaik dan sempurna." Juga kebanggaan kakek dan nenek." Timpal Kakek Handoyo.
Suasana yang awalnya ceria berubah menjadi muram karena ucapan Calista.
"Sudah.. sudah!" Sekarang kita makan siang bersama." Ucap nenek Susan.
Pelayan segera siap melayani tamu kehormatan keluarga Handoyo. Semuanya duduk ditempat mereka masing-masing setelah mencuci tangan mereka.
Reza membisikkan sesuatu kepada orangtuanya agar jangan pernah berbicara di saat sedang makan karena itu aturan Andien yang sudah diterapkan kepada keempat anak mereka. Kedua orangtuanya paham dan duduk ditempat mereka masing-masing.
__ADS_1
Reza mulai mengangkat tangan dan diikuti semuanya untuk berdoa. Lauk pauk yang tersaji ada masakan khas Indonesia dan juga luar negeri.
Anak-anak mulai mencoba rendang, ayam goreng, dan ikan bakar. karena itu yang sering dimasak mama mereka kalau Andien sudah libur.
Semuanya mengucapkan hamdalah usai makan lalu memakan buah yang tersaji di meja.
"Terimakasih nenek, masakannya sangat lezat." Ucap Camilla.
"Tidak perlu terimakasih sayang, ini sudah kewajiban nenek untuk menjamu kalian." Ucap nyonya Susan.
"Setiap kebaikan harus diberi apresiasi karena itu adalah bagian dari bentuk penghargaan. Itu yang dikatakan mama." Ucap Calista.
"Baiklah!" Kalau boleh nenek tahu, berapa lama kalian berlibur di Indonesia?"
"Kami ingin menjalani ibadah puasa ramadhan di Indonesia selama satu bulan dan insya Allah akan lebaran di sini juga, tapi kami ingin kedua keluarga ini harus adil.
Dua pekan kami puasa Ramadhan bersama kakek dan nenek di Jakarta dan sisanya di kampung mama supaya tidak ada yang saling iri untuk berebut kami." Ucap Fariz.
"Alhamdulillah, terimakasih cucu-cucu kakek yang hebat ini. Ya Allah nikmat Tuhan mana lagi yang aku dustakan." Ucap Kakek Handoyo disambut Calista dengan membaca dua puluh ayat pertama surat Ar-Rahman itu beserta artinya.
"Ayat yang disebutkan kakek itu di ulang sebanyak 31 kali terdapat di surah ke 55 dan berjumlah 78 ayat terdapat di dalam juz ke 27." Ucap Calista dengan cepat.
Lagi-lagi, Tuan Handoyo dan nyonya Susan hanya termangu mendengar ocehan para cucu-cucunya.
"Bagaimana kalian bisa menghafalnya?" Tanya kakek.
"Diantara kami berempat sudah menghafal tiga puluh juz Alquran hanya saja Calista yang mampu menghafal tafsirnya dengan cepat tanpa ada kesalahan." Ucap Camilla.
"Bagaimana kalian bisa melakukannya?" Tanya nenek.
"Usia dua tahun, mama memanggil guru ngaji ke rumah. Di saat usia kami empat tahun kami sudah menghafalnya dengan sempurna.
Di tambah lagi, setiap melakukan kesalahan, mama selalu menghukum kami dengan menghafal surah ini dan itu.
Itulah sebabnya kami jadi getol menghafal Alquran yang awalnya karena takut dihukum sama mama tapi saat kami tahu keutamaan seorang hamba membaca Alquran, di situlah kami mulai rajin mengulangi hafalan kami karena ingat janji Allah bagi siapa yang putra putrinya menjadi seorang penghafal Al-Qur'an, maka akan memakaikan mahkota kepada kedua orangtuanya nanti di Yaumil akhir.
Dan dapat memberikan syafaat kepada keluarganya saat masuk ke surga. Itulah motivasi kami menghafalkan Al-Qur'an untuk menyelamatkan keluarga kami dari neraka termasuk kakek dan nenek juga Oma dan opa. Kami tidak ingin masuk surga sendiri." Ucap Fariz
"Masya Allah!" Reza....Ayah makin menyesal dengan perbuatan ayah pada nak, Andien. Ayah malu Reza.... hiks...hiks..!" Semuanya pada menangis termasuk si kembar empat.
"Kenapa kita ikut menangis?" Apa yang kita tangis kan?" Tanya Fariz.
__ADS_1
"Kakek dan nenek kenapa menyesal?" Apa yang kakek nenek lakukan pada mama?" Tanya Calista.
Deggg....