PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4

PENYESALAN AYAH SI KEMBAR 4
132. Suasana Istana


__ADS_3

Pintu gerbang tinggi nan megah nampak berdiri kokoh mencerminkan kekuatan berlapis dari kejayaan istana yang mempertahankan keangkuhannya dari kerajaan lain yang ingin menyaingi istana ini.


"Sang pangeran tiba!" Teriak kepala istana ketika melihat pangeran Fatih turun dari mobil dengan baju kebesarannya yang sudah ia kenakan saat turun dari pesawat.


Semua penghuni istana keluar dari istana itu dengan sikap hormat. Raja Hasan beserta ratu Julaikah dan juga putri Noralia yang baru menunaikan sholat subuh berjamaah di mesjid istana segera menghampiri putra mahkota yang sudah membawa ratu dengan calon pewaris mereka yang masih berada di rahim Calista.


Upacara penyambutan kedatangan calon ratu istana dilakukan secara sederhana dengan memanjatkan doa untuk pasangan ini. Calista tidak merasa canggung melalui semua proses adat dalam penyambutannya sebagai ratu Maroko walaupun ia belum di daulat secara resmi.


Calista sudah mempersiapkan dirinya jauh-jauh hari dengan mempelajari tradisi istana di kerajaan Maroko. Melihat perangai Calista, raja dan ratu sangat bangga dan haru karena apa yang mereka kuatirkan pada gadis ini yang berasal dari rakyat jelata mampu membuat mereka terpesona.


Setelah memberi penghormatan kepada kedua mertuanya, Calista baru duduk tenang di samping suaminya. Wajah cantik Calista sangat mendukung bahwa gadis ini pantas menjadi seorang ratu.


Kharisma Calista dengan auranya yang kuat mampu memikat hati siapa saja yang menatap wajah teduhnya. Tutur katanya yang belum begitu banyak di sampaikan gadis ini kepada kedua mertuanya kecuali basa basi singkat saat menanyakan kabar mereka masing-masing.


Suasana pagi itu cukup menguntungkan bagi keluarga kerajaan dalam menyambut kedatangan putra dan menantu mereka, sebelum kedatangan para menteri kerajaan yang akan merusak kemesraan keluarga inti itu. Raja dan ratu berbicara santai tanpa terkesan formal di hadapan Calista.


"Calista! Kamu sangat cantik dan terimakasih kamu telah mengandung calon pewaris kerajaan ini." Ucap ratu Julaikah dengan senyum merekah indah.


"Alhamdulillah Ummi, Allah telah memberikan kesempatan kepadaku sebagai ibu dan pendamping putra anda sebagai istrinya. Mohon restunya yang mulia ayahanda dan Ummi." Ucap Calista santun.


"Mohon maaf atas perlakuan prajurit istana yang telah merusak liburan keluargamu beberapa hari yang lalu, menantu." Ucap raja Hasan tulus.


"Saya juga meminta maaf pada ayah karena saya, putra mahkota bersikap lancang pada kerajaan ini dan niat pangeran untuk menikahi saya diluar sepengetahuan saya Ayah." Calista meluruskan kesalahpahaman tuduhan yang tidak mendasar kepadanya yang dilayangkan oleh anggota istana.


"Kami sudah mengetahuinya dan kami juga sudah menelusuri bibit bebet bobot keluargamu, Calista." Timpal ratu Julaikah membuat Calista kembali tercekat.


"Jika mereka mengetahui aku adalah anak di luar nikah, maka tamatlah riwayatku." Batin Calista yang mulai memucat.


Pangeran Fatih menggenggam tangan istrinya yang terasa dingin karena gugup, namun Calista tetap menjaga emosinya.


"Keluargamu memiliki reputasi yang sangat baik di negaramu. Kamu memiliki seorang ibu yang hebat yang memiliki kedekatan dengan beberapa petinggi dari berbagai negara yang sudah mempercayakan kejeniusannya dalam menangani urusan dunia.


Begitu pula ayahmu, bukanlah orang sembarangan, karena beliau adalah pengusaha hebat. Namun yang paling menarik dari semua itu, kalian adalah keluarga kembar yang membuat aku menjadi seorang kakek dari cucu kembar empat. Itulah mengapa aku mau menerimamu menantu." Imbuh raja Hassan walaupun bukan itu alasan sebenarnya yang ada dalam dasar hatinya.


Calista tersenyum lega karena apa yang ia kuatirkan tidak disinggung oleh raja Hasan.


"Permisi ratu, sarapan pagi sudah disiapkan. Apakah mau sarapan sekarang?" Tanya kepala dapur istana.


"Baik. Sebentar lagi kami akan ke ruang makan." Ucap ratu Julaikah.

__ADS_1


Ratu Julaikah mengajak keluarganya ke ruang makan. Saat anggota keluarga itu duduk di meja makan, raja Hasan mengangkat tangannya dan mulai berdoa dan diikuti oleh anggota keluarga yang lain.


Pangeran Fatih mencoba makanan milik istrinya terlebih dahulu untuk memastikan kalau makanan itu tidak mengandung racun.


Calista mengerti akan hal itu, setelah melihat raut wajah suaminya biasa saja, ia baru menikmati makanan khas Maroko yang tersaji begitu banyak di atas meja makan untuk mereka berlima.


Ada Couscous, Msemen, Harira, Tagine, dan Rfisa. Beberapa makanan itu sudah pernah di makan oleh Calista saat dirinya menjadi guru untuk pangeran Fatih sebelas tahun silam dan sekarang sudah menjadi istri dari muridnya tersebut.


Calista yang mengingat kenangan indah itu tersenyum sendiri. Raja Hassan tidak ingin bertanya arti senyuman menantunya karena sedang menyantap makanan.


Rupanya di keluarga pangeran Fatih memiliki aturan yang sama seperti keluarga Calista sehingga klop rasanya berada di keluarga mertuanya yang tidak boleh bersuara saat makan kecuali dentangan sendok dan garpu yang terdengar sayup.


Usai sarapan, ratu menanyakan salah satu jenis makanan yang disantap Calista begitu banyak pagi ini karena Calista sedang mengandung, jadi porsi makannya lebih banyak apalagi gadis ini tidak mengalami mual dan muntah, membuatnya bisa menikmati makanan apa saja.


"Apakah kamu menyukai Couscous, Calista?"


"Iya Ummi, aku sangat menyukainya. Lagi pula sudah lama aku tidak menyantap makanan ini."


"Apakah kamu mengetahui bahan apa saja yang di ada di dalamnya?"


"Iya Ummi, aku mengetahui komposisi bahannya walaupun aku belum pernah memasaknya."


"Baik Ummi."


Calista diam sejenak dan mengatur nafasnya dengan baik, setelah itu mulai menjawab pertanyaan mertuanya.


"Couscous adalah salah satu makanan khas Maroko yang dibuat dari tepung gandum atau jagung dalam bentuk butiran kecil. Cara memakannya yaitu dengan sendok atau dengan tangan. Kuliner ini dimasak dengan uap serta diberikan tambahan daging, sayuran, mentega, kacang hijau, susu, dan gula halus, bergantung selera dan acara.


Di Maroko, hidangan ini dibuat dengan jenis daging 'halal', terong, lobak dan labu merah. Oleh karena itu, hidangan ini disajikan dengan kaldu. Sementara untuk couscous dengan susu, yang dinamakan 'Saikok' dihidangkan tanpa kaldu atau sayuran, hanya terdiri dari couscous dengan susu saja." Ujar Calista degan fasih, membuat raja Hasan dan putrinya Noralia termangu.


"Hahh..?"


Mereka tersenyum penuh kekaguman kepada Calista. Baru satu jenis makanan khas Maroko saja sudah membuat mereka kagum, bagaimana dengan hal lainnya.


Kini Calista beralih kepada sang suami yang saat ini sedang merasa bangga membawa pulang istrinya yang hebat ini ke istananya yang penuh dengan permainan politik.


"Sayangkuh, mana permintaanku yang sudah kamu janjikan?" Tanya Calista yang saat ini sedang ngidam.


"Astaga! Maaf sayang aku sampai lupa." Ucap Fatih sambil menepuk jidatnya.

__ADS_1


"Apa yang kamu inginkan sayang?" Tanya ratu Julaikah terlihat panik.


"Calista mau makan ruthob ummi. " Ujar pangeran Fatih.


"Di belakang istana ada ruthob. Pengawal! Petik ruthob untuk menantuku!" Titah raja Hassan.


"Apa yang kamu inginkan lagi menantu?" Tanya ratu Julaikah.


"Kue pastila."


"Apakah kamu sudah mempelajari seluk beluk Maroko hingga kamu mengetahui jenis makanannya?"


"Tidak juga ummi. Dulu aku sering memakan makanan itu saat mengajar putramu. Suamiku yang memperkenalkan berbagai jenis makanan khas Maroko. Jadi sekarang aku mengidam makanan itu." Ucap Calista apa adanya.


Tidak lama pengawal sudah membawa sekeranjang ruthob untuk Calista. Lagi-lagi, pangeran Fatih mencobanya terlebih dahulu sebelum di makan Calista.


Wajah Calista sangat berbinar saat melihat ruthob di hadapannya. Ia kemudian menikmatinya bersama sang suami.


Baru saja keluarga itu menikmati kebersamaan mereka, tidak lama panglima Khalid membisikkan kepada raja Hassan bahwa para menteri sudah datang dan sedang menunggunya di ruang pertemuan istana.


"Apakah mereka sudah mengetahui kedatangan putra dan menantuku?" Tanya raja Hasan cemas karena sebentar lagi akan ada perang ajang pendapat di kalangan menteri atas kehadiran menantunya Calista.


"Mereka sudah mengetahuinya yang Mulia."


"Baiklah, sepuluh menit lagi aku akan ke sana. Jaga keamanan istana dan perkuat penjagaan pada menantuku." Titah raja Hassan.


"Siap yang Mulia."


Panglima Khalid kembali lagi ke ruang pertemuan istana.


"Menantu! Persiapkan dirimu untuk menghadap para menteri. Kami tidak bisa membela dirimu karena statusmu bukan dari kalangan bangsawan.


Aku hanya bisa memberimu wewenang untukmu dalam membela hakmu sebagai istri putraku Fatih." Ucap raja Hassan lalu meninggalkan meja makan menuju ruang pertemuan kerajaan.


Tidak ada raut ketakutan di wajah Calista saat mendengar ucapan ayah mertuanya. Justru adrenalinnya cukup tertantang untuk berhadapan dengan para bandit istana berkedok menteri dengan jabatan mereka masing-masing.


....


Vote dan like nya cinta 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2