
"Biasa aja dong!" Emangnya aku salah ngomong begitu?" Ucap Ratih dengan angkuh.
"Jelas saja kamu salah!" Siapa yang membenarkan atas sikapmu seperti itu." Timpal Rania.
"Ratih!" Jangan biarkan kerumitan hidupmu makin mempersempit hati nuranimu!" Ujar nyonya Susan.
"Apakah saat ini kalian sedang menghujat ku?" Hanya gara-gara wanita liar ini kalian membuangku. Kemarin empat anak haramnya di manja oleh keluarga ini, sekarang ibunya yang menjadi pusat perhatian dan terus di agung-agungkan keluarga ini." Menjijikkan!"
"Kau..!" Reza hampir menampar saudara kembarnya itu, namun langsung di cegah oleh Andien dengan menarik lengan suaminya.
"Mas Reza!" Andien menggelengkan kepalanya agar suaminya tetap bersikap tenang menghadapi situasi Ratih.
"Dia harus diberi pelajaran!" Ucap Reza dengan wajah kelam menahan amarah.
"Ayah!.. puasa ayah! walaupun ini sudah malam tapi nilai pahala tetap dicatat oleh malaikat.
Jangan biarkan setan mengendarai hati dan pikiran ayah!" Apa yang dikatakan oleh Tante Ratih adalah senjata untuk menghancurkan dirinya sendiri karena berlawan dengan hati nuraninya." Ucap Calista dengan so tahunya.
Calista bisa mengatakan itu karena dia yang paling paham bahasa Indonesia.
Ratih langsung masuk ke kamarnya dengan menutup pintu kamar itu dengan sangat kencang membuat semua orang tersentak.
"Nak, Andien!" Maafkan sikap putriku sayang!" Ucap nyonya Susan.
"Tidak apa mami!" Lagi pula apa yang dikatakan oleh Ratih benar adanya mami, aku sama sekali tidak tersinggung dengan perkataannya.
Orang seperti Ratih sengaja dititipkan Allah untuk mengugurkan dosa kita karena dialah bagian dari ujian hidup kita untuk kita bisa lewati.
Mungkin dosaku masih menumpuk hingga amal ibadahku belum cukup untuk menghapuskan dosaku hingga setiap bekas dosa itu dibersihkan oleh adanya Ratih asalkan kita ikhlas menerimanya." Ucap Andien bijak sesuai dengan ilmu yang dipelajarinya setiap bulan ketika ada kajian dari para syekh yang ada di mesjid besar di Bogota Kolombia.
"Jangan pernah takut menghadapi hidup ini dan jangan pernah takut membuat kesalahan karena dari kesalahan kita mengetahui adanya kebaikan." Imbuh Calista.
"Masya Allah!" Puji nyonya Susan pada menantu dan cucunya Calista.
Setelah melepaskan kerinduan mereka dengan saling berbincang tentang agama, mereka pamit untuk berangkat tidur karena waktu sudah menunjukkan tepat pukul 12 malam.
Reza mengantarkan dua putranya ke kamar tidur mereka dan Andien pun pada putrinya.
"Apakah kalian sudah gosok gigi dan wudhu sayang?" Tanya Andien pada keempat anaknya.
"Belum mama." Ujar mereka serempak lalu masuk ke kamar mandi masing-masing.
Andien dan Reza menunggu keempatnya melakukan ritual sebelum tidur.
__ADS_1
Reza memeluk istrinya dari belakang dengan meletakkan dagunya diatas bahu Andien.
"Aku beruntung memilikimu Andien sayang. Dampak dari didikan ibumu terlihat jelas di mataku saat ini. Betapa kerasnya dia mendidik mu yang terdengar mengerikan olehku saat itu.
Tapi setelah menikah denganmu, aku baru mengerti orangtuamu tegas pada anak-anaknya bukan untuk menzolimi kalian, melainkan justru untuk menyelamatkan kalian dari api neraka." Ucap Reza.
Andien membalikkan tubuhnya menghadap ke arah suaminya dan mencium kedua tangan Reza yang ada dalam genggamannya.
"Kita baru menyadarinya belakangan setelah menjadi orangtua." Tawa kecil Andien menatap wajah tampan suaminya.
Reza yang ingin mencium bibir istrinya dikejutkan oleh anak-anak.
"Mama sudah mama." Ucap Camilla lalu mencium ayahnya.
"Semoga mimpi indah bidadari ayah." Kecupan kedua pipi pada putrinya begitu lama.
"Ayah!" Kalau Camilla sudah besar pingin punya pacar seperti ayah." Ucap Camilla yang sudah berbaring di tempat tidurnya.
"Oh ya, kenapa begitu sayang?" Tanya Reza sambil mengernyitkan dahinya.
"Karena ayah terlalu tampan dan mempesona membuat mama sulit membenci ayah."
Reza terlihat salah tingkah mendengar pujian putrinya Camilla.
"Sudahlah kamu tidur nak." Reza meninggalkan kedua putrinya bersama Andien yang masih duduk.
Ketika memastikan kedua putranya tidur dengan tenang, Reza menyelimuti keduanya lalu membaca selawat tiga kali di ubun-ubun putranya seperti yang di ajarkan oleh Andien padanya agar Allah senantiasa menjaga keempat malaikat kecilnya.
"Ayah tidak tahu, apa jadinya ayah, jika tidak bertemu dengan kalian." Sesal Reza lalu meninggalkan kamar putranya.
Reza menjemput istrinya mengajak ke kamar mereka yang sudah dirapikan oleh pelayan. Ketika kamar itu dibuka oleh Reza betapa terkejutnya mereka karena kamar itu sudah di rias seperti kamar pengantin atas idenya Rania.
Di atas tempat tidur itu tertulis, selamat datang kakak ipar Andien ke dalam keluarga Handoyo Diningrat." Tulisan yang sangat indah nan bermakna di hati Andien.
Di atas kasur empuk itu sudah bertebaran kelopak bunga mawar. Reza tersenyum penuh arti melihat wajah cantik istrinya yang menatapnya.
Sambil memainkan matanya dengan melirik ke arena pertempuran mereka.
"Cih!" Dasar suami mesum." Ujar Andien lirih tapi tidak bisa menolaknya karena ini adalah perintah yang wajib dilakukan olehnya karena jika menolak, maka akan dilaknat oleh malaikat sampai pagi menjelang.
...****************...
Dua hari kemudian, bertepatan dengan malam Nuzulul Qur'an, Alfarizi dan Calista di undang oleh dekan mesjid menjadi Qoriah dan saritilawah di acara berharga bagi umat Islam di dunia.
__ADS_1
Nyonya Susan sibuk dandanin keempat cucunya di bantu oleh Rania karena Reza dan Andien sedang ngobrol dengan ustadz Adi sebagai penceramah di mesjid itu, yang sengaja di undang Tuan Handoyo untuk berbuka puasa bersama di kediamannya bersama para pengurus mesjid sebelum acara dimulai.
Setelah rapi, keluarga besar itu berangkat bersama ustadz ke mesjid yang dekat dengan mansion tuan Handoyo.
MC acara sudah mulai membuka acara Nuzulul Qur'an tersebut usai menunaikan ibadah tarawih.
Pangeran Al-Ghifari dan Putri Calista sudah duduk di tempat mereka dan siap melantunkan ayat suci Alquran tanpa membaca Alquran karena sudah menghafalnya yang disaksikan puluhan jamaah mesjid.
Enam ayat pertama dari surat At-tahrim dilantunkan dengan suara yang sangat indah oleh Al kemudian di susul pembacaan artinya tanpa membaca teksnya oleh Calista.
Hampir semua jamaah sibuk membuka ponsel mereka saat Calista membaca artinya dalam bahasa Indonesia tanpa ada kesalahan sedikitpun.
"Masya Allah!" Itulah pujian mereka untuk kedua anak Reza ini. Apa lagi mereka baru mengetahui kedua anak itu adalah kembar empat yang saat ini menetap di Bogota Kolombia dan tercatat sebagai anak jenius yang sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi ternama di Kolombia dalam usia yang masih tergolong muda.
Dalam semalam keempat cucu tuan Handoyo menjadi selebriti yang langsung di kerumuni oleh para jamaah yang ingin foto dengan kembar empat.
Usai acara, keluarga ini kembali ke mansion dengan perasaan bahagia.
"Anak ayah hebat semuanya!" Peluk cium Reza pada keempat anaknya yang diikuti oleh keluarganya yang lain ketika sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Ayah, kapan kita pulang ke kampung mama di Solo?" Tanya Camilla yang sudah tidak sabar bertemu dengan Oma dan kedua paman tampannya.
Reza melirik istrinya untuk meminta pendapat. Sementara wajah nenek dan kakek langsung berubah muram.
Andien meminta ijin kepada kedua mertuanya untuk membawa kembar empat pulang kampung bersama mereka.
"Mami, ayah!" Apakah Andien boleh membawa mereka mudik lebaran?"
"Sesuai perjanjian awal dengan keempat cucuku, memang sudah saatnya kami harus berbagi kembar empat dengan keluargamu nak, Andien, walaupun hati kami sangat sedih untuk berpisah dengan cucuku." Ucap tuan Handoyo dengan wajah sendu.
"Alhamdulillah, akhirnya rumah ini bisa tenang lagi." Sambar Ratih sinis.
"Tante Ratih!" Kelihatannya Tante memiliki pendidikan tinggi tapi sayang hati Tante belum terdidik dengan sentuhan agama karena Allah telah mengunci hatimu hingga yang terlihat oleh Tante hanyalah kedengkian." Ucap Calista menohok.
"Tante Ratih akan merindukan kami besok karena darah tante bisa berubah anemia karena kekurangan cinta di hati Tante." Timpal Camilla.
Semua yang ada di situ pada mengulum senyum kecuali Andien yang tidak suka kedua putrinya jadi kurangajar sama orang yang lebih tua dari mereka.
Calista, Camilla masuk kamar kalian dan kerjakan apa yang menjadi hukuman kalian!" Ucap Andien dengan wajah dingin.
"Tapi mama, ...?" Protes Calista dan Camilla.
Andien langsung menatap sendu wajah kedua putrinya yang menandakan ia saat ini sedang kecewa pada keduanya.
__ADS_1
Visual Camilla dan Calista